Meidinda Rajingga Hapsari Sepertinya aku harus mengubah sudut pandangku tentang pak Alan. Dua hari dua malam dia merawatku dengan telaten di Pulau Pasi kemarin. Dia tidak marah saat aku muntah dan mengenai bajunya. Dia juga tidak merasa jijik membersihkan bekas muntahanku. Begitu pula saat perjalanan kembali ke Biak. Aku tidak berhenti muntah hingga capek dan lemas. Padahal saat itu sudah dimasukkan obat ke dalam cairan infus. Tidak ada kemarahan di matanya. Aku justru melihat kecemasan dan ketakutan di sana, meskipun mulutnya tak mengucapkan apa-apa kecuali mengajakku istighfar dan terus berdzikir. Aku bisa melihat sisi pak Alan yang lain. Benarkah itu kepribadian yang sesungguhnya? Ari, Pak Alan dan Wiwid yang ada di sekelilingku. Mungkin benar kata teman-teman dan ibuku

