TTU | 4

1070 Words
Tepat jam dua belas malam, Renata berhasil keluar dari apartemen Riko. Langkahnya yang tertatih menyusuri jalanan malam yang sepi dengan kondisi tidak baik-baik saja. Beruntungnya Riko tertidur pulas sehingga tak menyadari pergerakannya. Butuh waktu lama baginya bisa keluar dari apartemen Riko setelah memasukkan beberapa password dan ternyata salah hingga pada akhirnya dia berhasil membuka pintu apartemen Riko. Tanggal pertunangan Riko, itulah password apartemen lelaki itu. Ada sesuatu yang menghantam tepat di ulu hatinya. Namun dia menampik itu semua dan menganggap jika sesuatu yang dia rasakan adalah sesuatu yang didorong oleh hormon kehamilan. Dia terus melangkah menuju kontrakannya hingga satu jam lamanya, tubuhnya yang lemah sampai di kontrakannya. Tanpa membuang waktu, dia membuka pintu kontrakannya dan menutupnya kembali setelah mengunci pintu. Pintu telah tertutup dan dikunci. Namun tiba-tiba, tubuhnya merosot ke lantai. Dia mengerang ketika merasakan nyeri itu semakin terasa di perutnya. Kedua tangannya mengusap bahkan mencengkeram perut bagian bawahnya. Dia meluruskan kedua kakinya, berharap dengan cara seperti itu bisa sedikit mengurangi nyeri di perutnya dan sayangnya, tak ada hasil apa pun. Yang ada justru perutnya semakin nyeri diikuti sesuatu yang seperti menusuk-nusuk dan menarik perutnya membuat nafasnya terengah. Dia meraih ponsel dalam tasnya. Dia harus meminta bantuan. Secepatnya, atau terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Menahan sakit, dia mendial nomor kakak laki-lakinya, Ali. Ya, dia harus meminta bantuan pada keluarganya. Hanya keluarganya yang dia percaya dan andalkan. Dia menangis ketika rasa nyeri itu mengoyak perutnya hingga tanpa sadar, panggilannya terjawab. Suara sang kakak laki-laki di seberang sana menghentikan tangisnya. "Ka ... kakak ... tolong," lirihnya. "Re? Apa yang terjadi?" tanya Ali di seberang sana dengan nada suara khawatir. Renata menangis. Bibirnya bergetar hebat, tak sanggup memberitahukan kakaknya apa yang dia alami saat ini. "Kak, sakit ... tolong aku." "Ada apa denganmu, Re?" "Perutku sakit ... Kak." "Tunggu kakak. Kakak akan ke sana." Renata mengangguk meski mustahil untuk dilihat oleh kakaknya. Dia memutuskan panggilan setelah mengatakan pada Kakaknya untuk hati-hati di jalan. Jaraknya dengan kota kelahirannya lumayan jauh. Butuh waktu dua atau tiga jam lamanya. Tapi ... apa dia akan sanggup menunggu kedatangan kakaknya? Perutnya sudah sangat sakit. Bagaimana ... bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya? Menunduk, dia mengelus perutnya, "Anak Mama pasti kuat," bisiknya di keheningan malam dengan lelehan air mata. *** Sementara itu, Ali yang baru saja mendapat panggilan dari Renata langsung bergegas mengganti piyama tidurnya dengan celana jeans, kaos tipis yang dibalut jaket. Saat hendak memasang sepatu, tiba-tiba sang istri terjaga dan menatapnya penuh tanya. "Mau ke mana, mas?" Prilly beranjak dari posisi berbaringnya dan menghampiri Ali yang berada di sofa. Ali meraih tangan istrinya ketika sang istri duduk di sampingnya. Raut khawatir terpatri di wajah tampannya. Ringisan yang dia dengar dari Renata benar-benar mengusik ketenangannya. "Sayang, Renata nelfon aku. Aku harus ke sana, sekarang juga." "Renata? Apa yang terjadi padanya, mas?" kini, raut wajah Prilly juga terlihat khawatir. "Renata bilang, perutnya sakit. Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi padanya. Dia butuh pertolongan. Aku harus ke sana sekarang juga, kamu di sini jagain mama dan kedua anak kita. Aku akan kabari secepatnya setelah sampai di sana." Ali mengecup lama kening sang istri dan menatap lekat mata sang istri. "Aku ikut, mas." Ali menatap istrinya tidak setuju. "Kamu di sini, sayang. Biar aku yang ke sana, sendiri." Prilly tetap pada pendiriannya. Ibu dari dua anak itu menggeleng keras, "Mas, aku khawatir pada Renata. Bagaimana bisa aku tenang sedangkan kondisi adikku tidak baik-baik saja." Menarik nafas panjangnya, dengan sangat terpaksa dia mengangguk, memberi ijin istrinya untuk ikut bersamanya menemui Renata. Kedua anaknya dititipkan pada Risma yang didampingi pembantu rumah tangga untuk merawat kedua anaknya. Awalnya, Risma juga ingin ikut. Namun dengan penjelasan yang memakan banyak waktu, akhirnya Risma mengalah dan berada di rumah dengan rasa khawatir yang membuatnya nyaris tak nyenyak tidur memikirkan Renata. *** Beruntungnya jalanan malam sangat lenggang sehingga butuh waktu dua jam lamanya bagi Ali mengendarai mobilnya ke kontrakan Renata. Menggenggam tangan Prilly, dia berlari menuju kontrakan Renata yang tertutup rapat. Dengan tangan bergetar karena panik, dia mengetuk pintu kontrakan Renata dengan tak sabaran. Hingga tak lama setelah itu, pintu pun terbuka dan memperlihatkan Renata yang berdiri dengan tangan bertumpu pada gagang pintu dan dinding. Wajah Renata begitu pucat membuat Ali dan Prilly dengan sigap memapah Renata menuju kamarnya. Dengan segala kepanikan yang ada, Ali dan Prilly tidak bisa berpikir jernih. "Re, apa yang terjadi?" tanya Prilly dengan suara parau. Renata meringis, "Perutku ... sakit." Prilly menatap Ali yang mondar-mandir menghubungi dokter kandungan kenalannya yang sebelumnya telah Ali jadikan sebagai dokter kandungan untuk Renata. Panggilannya tidak mendapat jawaban dan dia cukup memaklumi karena waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi. Dokter juga manusia, pasti akan tidur dengan nyenyak sebelum matahari terbit. Dan tak lama setelah itu, senyumnya merekah ketika suara parau di seberang sana menerima panggilannya dan mengatakan akan secepatnya menuju ke kontrakan Renata. Renata dilarikan ke rumah sakit. Kandungannya melemah dan beruntungnya tidak terjadi sesuatu yang serius. Hanya saja, Renata kekurangan cairan sehingga harus dirawat jalan karena kondisi tubuhnya yang melemah. Ali dan Prilly senantiasa menjaga Renata sampai Renata sadarkan diri. "Aku di mana?" gumam Renata menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatannya. Ali dan Prilly yang tidak tidur sejak tadi sampai Renata sadarkan diri tepat pada pukul sembilan mendekati Renata dengan tatapan sayunya. "Kamu di rumah sakit. Sekarang, katakan ke kakak, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kandunganmu bisa lemah dan tubuhmu kurang cairan, sedangkan kamu hanya di kontrakan dan rutin cek kehamilan?" Renata diam mendapat pertanyaan beruntun dari kakak perempuannya. Dia enggan untuk memberitahu yang sebenarnya kepada kedua kakaknya. Dia tak mau membuat mereka mengkhawatirkannya. Mereka juga memiliki kesibukan. Sibuk pada pekerjaan dan kedua anaknya. Dia tak mau kedua kakaknya terbebani karena dirinya. "Re ...." Renata tersentak saat tangan Prilly menyentuh lengannya. "Ah, iya Kak?" "Bilang ke Kakak, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" "Gak ada apa-apa, kak. Aku kemarin telat makan jadinya gini deh. Akhir-akhir ini aku mudah kelelahan padahal kerjaannya tiduran sama bersih-bersih kontrakan yang gak terlalu berat. Mungkin efek hamil tua," ujarnya yang diangguki Ali dan Prilly. Renata bersyukur, setidaknya kedua kakaknya itu tidak menaruh curiga padanya. "Oh, gitu. Apa perlu Kakak perkerjakan asisten rumah tangga untuk membantumu bersih-bersih kontrakan?" Tawar Ali yang langsung Renata tolak. Dia tak mau merepotkan kedua kakaknya. Dia ingin mandiri. Cukup dengan dia tidak diperbolehkan bekerja oleh kedua kakak dan keluarganya itu. Jangan sampai dia dilarang melakukan sesuatu yang biasa dia kerjakan. "Jangan, kak. Aku bisa sendiri. Nanti, kalau aku lahiran, baru aku perkerjakan asisten rumah tangga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD