TTU | 5

1004 Words
Ali mengangguk setuju. Tidak memaksa Renata karena dia tahu Renata pasti kesepian dan bosan sendirian di kontrakannya. "Raihan sama Reyno gimana kabarnya? Kangen aku sama mereka. Pengen ketemu, tapi gak bisa." Ali dan Prilly tersenyum cerah. "Mereka baik-baik aja. Raihan juga udah belajar naik sepeda dan makannya makin lahap. Si kecil Reyno sekarang makin rewel dan mirip banget sama bapaknya. Kakak gak kebagian apa-apa di Reyno." Renata dan Ali terkekeh melihat raut kesal Prilly saat menceritakan tentang Reyno, anak kedua Ali dan Prilly. "Bukannya bagus kalau mirip Kak Ali, kalo semisal Kak Ali bepergian jauh dan kakak lagi kangen, kakak tinggal tatap aja Reyno." Prilly mengubah raut kesalnya menjadi senyum tipis. "Iya iya. Setidaknya kakak kebagian di Raihan." "Impas kan, yang," sahut Ali yang diangguki Prilly dan mendapat tatapan haru dari Renata. Haru karena tak menyangka kehidupan kedua kakaknya akhirnya sebahagia ini. Tak seperti hidupnya yang suram dan tak tentu arah. *** Tiga hari lamanya Renata dirawat di rumah sakit dan kemarin kedua kakaknya langsung bertolak ke kota yang mereka tinggali. Dan sekarang, dia kembali sendiri ditemani sepi. Jauh dari keluarga dan dibelenggu oleh masalah. Dari kemarin, sejak kedua kakaknya pulang, dia tak berani keluar kontrakan. Dia masih takut untuk keluar. Bayangan pada saat itu masih menghantuinya membuatnya ketakutan dan tak ingin itu terjadi kembali. Riko berbahaya dan selamanya akan seperti itu. Dia tak boleh berharap banyak pada lelaki itu. Karena pada kenyataannya, Riko tetap akan melenyapkan anak yang dikandungnya. Entah apa alasan dibalik semua ini, yang jelas dia tak habis pikir dengan apa yang Riko pikirkan. Lama termenung di ruang tamu, dia tersentak ketika pintu kontrakannya diketuk. Dia langsung bergegas membukakan pintu karena dia tahu jika yang mengetuk pintu adalah Diana, dokter kandungan yang Ali pilihkan untuknya. Ketika pintu terbuka, dia tersenyum cerah melihat Diana berdiri di depan pintu dan menatapnya teduh seperti biasa. "Ayo, masuk," ujarnya membuka pintu lebar-lebar untuk Diana. Diana menggeleng pelan membuatnya mengernyit pelan. Mengerti apa yang ada di pikiran Renata, Diana pun menjelaskan kenapa dia tak langsung masuk. "Aku diantar tunanganku. Dia masih ambil tasku yang ketinggalan di mobil. Boleh kan, aku bawa tunanganku masuk?" tanya Diana yang langsung diangguki oleh Renata. Sambil menunggu tunangan Diana mengambilkan tas Diana yang tertinggal di mobil, Renata mengajak Diana duduk di kursi teras. Banyak yang Renata tanyakan pada Diana tentang kehamilan dan sesuatu yang akhir-akhir ini terjadi pada kandungannya, seperti tendangan-tendangan kecil dari dalam perutnya dan makanan apa saja yang baik untuknya di usia kandungan tujuh bulan. "Itu dia tunanganku," ujar Diana yang langsung berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan tunangannya. Renata ikut berdiri. Tubuhnya membeku setelah melihat siapa tunangan Diana. Seketika, keringat dingin keluar dari pelipisnya. Bayangan kejadian beberapa hari seketika muncul membuatnya mundur beberapa langkah dan nyaris terjatuh andai tunangan Diana tak menarik tangannya hingga tubuhnya membentur lengan kekar tunangan Diana. "Renata, ya ampun! Apa yang kamu lalukan? Hampir saja kamu jatuh andai tunanganku tidak sigap menangkapmu," Diana menatapnya khawatir dan merangkulnya memasuki kontrakannya diikuti tunangan Diana. "Ak ... aku ...." "Ada apa, Re? Apa perutmu sakit lagi?" tanya Diana menggenggam erat tangannya yang dingin. Dia menggeleng dengan ekor mata yang sesekali melirik lelaki yang duduk tenang di single sofa dengan tatapan tajamnya. "Aku ... tidak apa-apa. Aku ... aku hanya butuh istirahat. Ya, aku butuh istirahat, itu saja." Diana bernafas lega. "Ya sudah, kalau begitu aku akan memeriksamu supaya kamu cepat istirahat," Diana tersenyum padanya sebelum akhirnya menatap tunangannya dan berkata, "Riko sayang, tolong ambilkan tas berukuran sedang yang ada di dalam tas itu," ujar Diana menunjuk tas Diana yang berada di pangkuan lelaki yang sukses membuat Renata lemas, Riko. Ya, Riko. Tunangan Diana adalah Riko. Lelaki yang ingin dia jauhi. Dan sekarang...takdir menempatkannya di keadaan yang sama sekali tidak dia inginkan. Kenapa dunia sesempit ini?! *** Setelah kepergian Riko dan Diana, Renata langsung mengunci pintu kontrakannya. Dia berdiam diri di kamar hingga malam menyapa. Melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh malam, dia tersentak dan sadar jika dia belum makan dan belum minum s**u hamilnya. Cepat-cepat dia menuju dapur dan mendesah panjang karena lupa jika bahan makanan di dapurnya habis. Dia resah. Jika dia keluar kontrakan, dia takut kembali bertemu dengan lelaki mimpi buruknya. Jika dia tak membeli makanan, dia khawatir terjadi sesuatu pada anaknya. Berperang dengan pikirannya, dia tersentak saat mendengar ada yang mengetuk pintu kontrakannya. Tanpa pikir panjang, dia mendekati pintu dan tanpa merasa curiga apa pun, dia membuka pintu. Pintu terbuka dan detik itu pula tubuhnya seperti mati rasa saat tahu siapa yang mengetuk pintu. Tanpa mengulur waktu, dia kembali menutup pintu dan sayangnya, dia kalah cepat dengan si pengetuk pintu sehingga pengetuk pintu itu dengan cepat masuk ke kontrakannya, mengunci pintu dari dalam dan menyimpan kunci pintu di saku celananya. "Pergi kamu!" pekiknya yang berusaha menjauh dari si pengetuk pintu. Riko. Riko merengkuh pinggang Renata dan mengecup singkat bibir Renata membuat Renata semakin dilanda rasa takut. "Calm down, baby. Kedatanganku tidak untuk membuatmu takut. Kedatanganku hanya untuk bersenang-senang denganmu," bisik Riko di telinganya yang demi apa pun sukses membuat tubuhnya membeku dan was-was apa yang akan Riko lakukan. "Pergi, Riko! Pergi atau aku teriak supaya semua orang menangkapmu." Riko terkekeh mendengar ancaman Renata yang sama sekali tidak membuatnya takut. "Teriak saja jika kamu ingin mempermalukan dirimu sendiri." "Apa maksudmu?" "Hamil tanpa adanya suami dan tiba-tiba ditemukan seorang lelaki tak dikenal berada di kontrakanmu. Kamu pikir, tetanggamu akan menganggapmu wanita baik-baik?" Renata diam. Tertohok mendengar ucapan Riko. Benar, apa nantinya komentar tetangganya melihat laki-laki tak dikenal berada di kontrakannya. Meskipun dia menjelaskan yang sebenarnya, yang namanya manusia percaya apa yang dilihat oleh mata, tanpa tahu kebenarannya. "So, let's having fun baby," bisik Riko yang langsung mengecup bibirnya dan membawanya memasuki kamar. Dia berontak ketika Riko mulai melakukan kembali kejadian pada saat itu yang membuatnya seperti sekarang, hamil di luar nikah. Ketika dia berontak, tanpa perasaan Riko mengikat kedua tangannya dengan dasi dan menahan kedua kakinya dengan kaki Riko. Dia terpenjara di antara tubuh Riko. Sekarang, yang dia lakukan hanya menangis dan pasrah atas apa yang Riko perbuat padanya. Riko lelaki b******k. Itu lah faktanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD