TTU | 6

1401 Words
Renata tak menangis. Terlalu banyak air mata yang dia jatuhkan hanya karena seorang lelaki yang kini tertidur pulas di sampingnya. Wajahnya sembab dengan tatapan kosong mengarah pada pakaiannya yang tergeletak di lantai bersama pakaian yang dikenakan lelaki di sampingnya itu, Riko. Dia bergegas menuruni tempat tidur dan memungut pakaiannya. Dengan perasaan yang entah seperti apa hancurnya, dia melangkah keluar kamar dan membersihkan tubuh lengketnya di kamar mandi setelah mengambil baju ganti. Di dalam kamar mandi, ada sekelebat keinginan untuk bunuh diri. Namun, dengan cepat akal sehatnya mengambil alih sehingga membuatnya tersadar, tak seharusnya dia terpuruk seperti ini. Tapi, kelakuan b***t Riko semalam membuatnya tak sanggup menjalani hari-harinya karena dia yakin, setelah ini tak ada lagi ketenangan dalam hidupnya. Selesai membersihkan diri, Renata langsung ke belakang rumahnya dengan membawa keranjang yang berisi pakaian kotor. Dia akan mencuci pakaiannya yang sudah menumpuk karena dua hari tak mencucinya. Selesai mencuci baju, dia menjemurnya. Ringisan sesekali keluar dari bibirnya ketika merasakan mulas di perutnya. Satu tangannya menekan pinggangnya ketika merasakan nyeri di perut bagian samping dan satu tangannya lagi menggantung pakaian ke besi penjemuran pakaian. hanya tiga helai baju dan itu tidak butuh waktu lama. Dirasa semua telah selesai, dia bergegas masuk ke rumah dan berencana membersihkan rumah. Juga, mengusir lelaki yang mungkin masih terlelap di kamarnya itu. Namun saat dia melangkah menuju pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti melihat lelaki yang dia kira masih terlelap di kamarnya kini berdiri di ambang pintu sambil bertelanjang d**a. Tatapan lelaki itu selalu tajam setiap kali menatapnya. Membuatnya tidak bisa menyelami apa arti tatapan lelaki itu. Mencoba mengabaikan, dia memilih melewati lelaki itu dan segera menuju dapur untuk memasak karena anaknya butuh asupan gizi darinya. Saat dia hendak menghidupkan kompor, tiba-tiba tangan kekar membalikkan tubuhnya hingga menghadap lelaki itu, Riko. "Urusanmu telah selesai, silakan tinggalkan rumah ini dan jangan pernah temui aku lagi," Renata menatap Riko dengan tatapan datar. Katakan saja dia bodoh karena tidak bisa berbuat kasar pada lelaki yang telah menyakitinya. Tapi apa daya, dia benar-benar lelah pada semua yang dialaminya. Pergi pun percuma karena dia tahu, Riko tidak akan tinggal diam apalagi melihatnya yang kuekeh mempertahankan anak dalam kandungannya ini. "Aku akan pergi tanpa harus kamu usir. Tapi jangan harap aku melembut hanya karena kejadian semalam. Tidak akan. Sampai kapan pun, aku akan tetap melenyapkan anak itu. Tunggu waktu yang tepat saja dan setelah itu, kamu menjadi milikku seutuhnya." Plak "Breng ...." Cup "Aku pergi, tunanganku membutuhkanku. Jaga anak itu sebelum aku melenyapkannya. Aku memberimu banyak waktu untuk mengukir kenangan bersama anak itu." "Kamu ...." Terlambat. Riko melangkah menjauhinya, meninggalkannya dengan luka baru. Luka yang membunuhnya secara perlahan. Dengan tubuh gemetar, dia memeluk perutnya. Rasa takut kehilangan melumpuhkan sel sarafnya. Dia tidak mau kehilangan anugerah yang telah Tuhan berikan padanya. Tapi keadaan membuatnya harus memilih, melepas atau mempertahankan. Mengusap kasar air matanya, dia melangkah gontai ke pintu kontrakannya dan menatap kepergian Riko dengan tatapan hampa. Dalam ingatannya terbayang-bayang wajah tampan lelaki itu ketika menanam benih dalam rahimnya. Menghancurkannya dalam satu malam yang selalu dia ingat betapa menyakitkannya. Menunduk, dia mengusap perutnya dan berbisik kepada anaknya jika sampai kapan pun, dia tetap menyayangi anaknya. Entah dengan cara apa anaknya hadir. Tak peduli sekeras apa Riko melenyapkan anaknya. ... Memberanikan diri, Renata keluar rumah karena tiba-tiba menginginkan rujak buah yang letaknya jauh dari kontrakan. Mengenakan baju hamil terusan sebatas lutut yang dibalut cardigan, Renata melangkah keluar kontrakan. Renata memilih berjalan kaki karena akhir-akhir ini dia jarang berolahraga. Sebelum benar-benar meninggalkan kontrakannya, dia menatap sekitar. Takut jika lelaki b***t itu ada di sekitar kontrakannya dan mengawasinya. Beberapa detik mengawasi sekitar, Renata bernafas lega ketika merasakan tidak ada hal yang mencurigakan. Terus melangkah hingga sampai di depan kompleks, Renata dikejutkan dengan sebuah mobil hitam yang berhenti di sampingnya. Mengerut kening, Renata menatap heran mobil yang berhenti di sampingnya hingga kaca mobil terbuka dan memperlihatkan Riko dengan kacamata hitamnya menatapnya tak berekspresi. Untuk sesaat dia tertegun dan nyaris melarikan diri andai sebuah suara yang tak asing baginya membuatnya tersadar jika di sini, bukan hanya ada dia dan Riko. Melainkan ada sosok lain yang saat ini bertakhta di hati Riko, Diana. "Kamu mau ke mana panas-panas begini, Re?" tanya Diana yang berdiri di sampingnya sembari memegang bahunya. Dengan raut yang tidak dapat dideskripsikan, dia menatap Diana dan Riko bergantian sebelum akhirnya menggeleng. Menatap Diana, dia tersenyum tipis. "Aku hanya ingin membeli kebutuhan sehari-hari di supermarket depan sana," kilahnya. Diana mengerut kening, "Supermarket? Bukankah kamu sudah melewati supermarket." Renata termenung, dia kontan menatap sekitar dan untuk sesaat dia memaki dirinya sendiri. Supermarket telah dia lewati dan dengan bodohnya dia ... argh! Memalukan. "Ah ... ehmm ... aku ...." "Katakan, kamu mau ke mana? Kamu menginginkan sesuatu? Katakan padaku," dengan senyum teduhnya, Diana menatap Renata dalam membuat Renata terenyuh akan kebaikan hati Diana. "Aku ...." "Re, kamu sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Melihatmu melakukan segala sesuatu sendirian, aku tak tega melihatnya. Jadi, aku mohon, katakan ke mana kamu akan pergi." Renata menatap Diana dalam sebelum akhirnya mengatakan ke mana tujuannya. "Aku ingin membeli rujak yang berada dekat taman kota," ujarnya dengan senyum tak enak. Diana tersenyum lembut dan mengusap bahunya. "Baiklah, ikut aku dan aku akan mengantarmu membeli rujak yang bayimu inginkan." Diana menarik Renata memasuki mobil. Renata menolak namun Diana memaksa membuatnya terpaksa memasuki mobil dan kembali berhadapan dengan sesosok yang dia hindari, Riko. Selama perjalanan, Renata terus memandang keluar jendela karena dia tahu jika Riko diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Renata tak nyaman berada di situasi seperti ini dimana dia merasa serba salah. Mengutuk diri karena tak kuasa menolak ajakan Diana dan membiarkan diri kembali bertemu Riko yang membuatnya kembali teringat kejadian kelam yang dilaluinya bersama Riko. "Renata." Renata tersentak ketika mendapat tepukan di bahunya. Menoleh, dia mendapati Diana membuka pintu mobil untuknya dan tersenyum menatapnya. "Ada apa?" tanyanya. "Sudah sampai." Renata kontan menatap sekitar dan benar, dia telah tiba di taman kota, tepatnya di depan penjual rujak yang dia inginkan. Tanpa mengulur waktu, dia menuruni mobil dan dengan mata berbinar mendekati penjual rujak tanpa melihat sekitar jika kakinya nyaris masuk ke selokan andai sebuah tangan kekar tak menahan tubuhnya dari samping. Mengerjap, dia terkejut. Tubuhnya gemetar, andai tidak ada yang menahannya mungkin dia akan terjatuh dan berakhir buruk pada kandungannya. "Re, kamu tidak apa-apa?" seruan Diana membuatnya tersadar dan berdiri tegap meski tubuhnya masih tegang. Dia menatap Diana dan menggeleng pelan. Namun detik selanjutnya tatapannya mengarah pada seseorang yang menahan tubuhnya. Riko. Dia menelan kasar ludahnya dan kembali memandangi selokan yang nyaris melukainya. Terlalu senang karena mendapatkan apa yang dia mau, dia sampai tak memperhatikan sekitar. Tapi tunggu, kenapa Riko menolongnya? Bukankah lelaki itu ingin anaknya lenyap? Bukankah dengan cara ini bisa membuat keinginan lelaki itu terkabul tanpa harus lelaki itu mengotori tangannya sendiri? "Re." Tersentak, dia kembali menatap Diana dan tersenyum menenangkan jika dia tidak apa-apa. Beberapa menit dia mengatasi keterkejutannya, dia mendekati penjual Rujak bersama Diana dan Riko. Melihat penjual rujak yang tengah meracik rujak untuknya cukup membuatnya melupakan kejadian buruk yang menimpanya. Dia justru tersenyum lebar ketika membayangkan rujak itu dia makan dengan lahap dan masuk ke perutnya. Tanpa sadar dia mengusap perutnya dan itu tak luput dari pandangan Riko. Ketika tatapannya bertemu dengan Riko, cepat-cepat dia membuang pandangan. Sebisa mungkin tidak terlibat kontak mata dengan Riko. Hingga saat rujak yang dia pesan selesai, dia hendak membayar rujak itu namun Riko lebih dulu membayarnya. Menatap Riko sejenak, dia memandang penjual yang kebingungan harus mengambil uang siapa. "Saya yang membeli jadi saya yang harus membayarnya," ujarnya membuat penjual itu mengambil uangnya namun lagi-lagi dengan cepat Riko menahan tangannya dan membiarkan penjual itu mengambil uang yang Riko sodorkan. "Kembaliannya ambil saja," ujar Riko dan menggenggam erat tangannya. "Lepas!" Sentaknya karena Diana yang menatapnya dan Riko. "Ayo, pergi." Dia terus berontak agar genggamannya dilepaskan namun lelaki itu enggan melepaskan. Lelaki itu justru terlihat santai, seolah Diana tidak keberatan jika lelaki itu menggenggam tangannya. Ketika dia menatap Diana, Diana justru tersenyum. "Biarkan Riko menggenggam tanganmu, Re. Riko menganggapmu sebagai adiknya." Dia tidak habis pikir dengan Diana. Tunangannya menggenggam tangan perempuan lain, Diana tak marah. Wow! Pantas saja Riko memilih Diana sebagai tambatan hatinya. Rupanya, Diana sesempurna itu. Mengejutkan lagi, Riko membiarkan Diana berjalan sendiri di depannya dan Riko. Hah! Lelucon macam apa ini. "Diam sebelum aku berbuat yang tidak-tidak," bisik Riko disaat dia kembali berontak sebelum akhirnya dia diam dan memandangi punggung Diana yang berjalan di depannya. Nyatanya, hidupnya semenjijikkan ini. Entah bagaimana jadinya jika Diana tahu siapa yang telah menghamilinya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD