TTU | 8

1359 Words
Tubuh Renata bergetar setelah memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Air matanya jatuh begitu saja kala suara yang telah lama tak dia dengar kini kembali terdengar. Jika boleh jujur, dia merindukan Riana, perempuan yang telah merawatnya dari kecil. Namun, rasa kecewanya pada perempuan itu mengalahkan rasa sayang yang sempat tumbuh dalam hatinya. Masih tidak habis pikir jika perempuan yang masih dia sayangi itu memiliki rencana busuk, rencana busuk yang membahayakan anak dalam kandungannya. Meremas ponselnya, dia terduduk dengan ketakutan luar biasa. Takut jika suatu saat Riana berhasil melenyapkan anak dalam kandungannya mengingat Riko yang akhir-akhir perlahan tapi pasti mulai semena-mena padanya. Dia menunduk, mengusap pelan perut buncitnya. Rasa sayang itu, tumbuh begitu saja membuatnya tidak mau dan tidak ingin kehilangan anak dalam kandungannya sekali pun ayah dari anaknya ini tiada henti menyakitinya. Entah, seperti apa lagi nasibnya dan anak dalam kandungannya dikala keadaan yang seolah-olah tak berpihak padanya. "Sayang, mama yakin kamu kuat," gumamnya lirih dengan tangis pilu. Berharap, sesuatu yang saat ini dia lakukan dikala dirinya tak bisa apa-apa selain berpasrah pada takdir. Berharap semoga sang pencipta masih melindunginya dan mengizinkan anaknya terlahir ke dunia. ... Pagi-pagi sekali Renata terbangun dari tidurnya. Namun ketika kedua matanya terbuka, dia langsung terkejut mendapati dirinya terbangun di atas tempat tidurnya. Seingatnya, kemarin dia menangis sambil bersandar di pintu dengan kedua tangan yang memeluk perut buncitnya hingga tak sengaja tertidur di sana. Dia ingat betul jika dia sama sekali tak beranjak dari posisinya itu. Lalu, siapa yang membawanya ke kamar? Tidak mungkin dia bangun tengah malam lalu tanpa sadar berjalan ke kamar. Itu tidak mungkin, dia percaya itu. Lalu ... siapa? Atau ... kakaknya datang ke rumahnya tanpa memberitahunya? Ah, rasanya tidak masuk akal. Kedua kakaknya tengah sibuk mengurusi kedua keponakannya yang menggemaskan itu. Lalu .... "Ah, sudah bangun rupanya." Renata tersentak dari pikiran bercabangnya. Menoleh ke sumber suara, dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendapati Riko yang melangkah mendekatinya dengan setelan kantornya dan yang menarik perhatiannya adalah, rambut lelaki itu basah serta handuk yang menggantung di bahu kanannya. Tak hanya itu saja, wajah lelaki itu tampak segar seperti baru selesai mandi. Tunggu ... selesai mandi? Dia kontan membulatkan kedua matanya dan menatap Riko tajam nan menuntut. Bagaimana bisa lelaki itu masuk ke rumahnya? Seolah mengerti apa yang dia pikirkan, Riko mengambil duduk di sampingnya dan dengan lancangnya tangan lelaki itu mengusap puncak kepalanya yang langsung dia tepis. Dia mundur, memberi jarak namun dengan cepat Riko menahan lengannya dan berkata, "Aku semalam menginap di sini." Terkejut? Pasti. "Bagaimana bisa kamu memasuki rumahku dan ... dimana kamu tidur semalam?" Suara Renata tercekat. Masih terkejut dan tidak bisa mengendalikan dirinya mendengar pernyataan dari Riko. "Apa yang tidak bisa aku lakukan jika itu berhubungan denganmu? Ah, kamu tidak mengingat jika semalam aku tidur di sebelahmu dan memelukmu memberi kehangatan." Riko menyungging senyum tipisnya melihat ekspresi Renata dengan wajah memucat. Namun di balik senyum tipisnya, ada sesuatu menyakitkan yang dia rasakan melihat perempuan yang dicintai takut berdekatan dengannya. Apa yang salah dengannya? Menurutnya, dia sudah benar, melenyapkan anak dalam kandungan Renata demi cintanya pada Renata serta ... ah, sepertinya dia harus lebih pandai menutup rapat rahasia terbesarnya karena saat ini yang harus dia pikirkan adalah, bagaimana caranya dia berhasil melenyapkan anak dalam kandungan Renata. Memajukan wajahnya hingga berada tepat di depan wajah Renata, dia menatap iris mata Renata yang menatapnya takut-takut. Perempuan itu mendorong dadanya dan memukulnya pelan. "Pergi kamu! Tempatmu bukan di sini," lirih Renata yang berusaha menjauh dari Riko namun Riko lebih dulu menahan pinggang Renata sehingga kini Renata berada di bawah kuasa Riko. "Berbulan-bulan aku mencarimu, setelah aku berhasil menemukanmu, apa ini yang pantas aku dapatkan darimu?" Napas Renata tercekat. Matanya berkaca-kaca kala tatapan intimidasi Riko seolah membunuhnya secara perlahan. "Seharusnya kamu sadar kenapa aku menjauh darimu. Kamu berbahaya untukku dan anakku. Kamu adalah satu-satunya orang yang paling tidak aku harapkan kehadirannya dalam hidupku. Aku ... membencimu lebih dari apa pun," desis Renata kembali melepaskan diri dari kungkungan Riko. Namun, usahanya kembali gagal karena kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Riko. "Membenciku? Apa kamu yakin untuk itu? Lalu, apa kabar dengan seseorang yang berada di balik semua kerumitan dalam hidupmu? Apa ... kamu tidak membencinya seperti kamu membenciku?" Renata tahu siapa yang Riko maksud. Riana, neneknya. Jika ditanya benci atau tidak, sebenarnya dia sama sekali tidak membenci neneknya itu. Hanya saja, dia kecewa, sangat. Tangannya yang bergetar perlahan menyentuh lengan kokoh Riko. Banyak yang ingin dia katakan pada Riko. Namun sayangnya, semua tertahan di tenggorokannya dan ditelan oleh rasa sesak di dadanya. "Aku membencimu yang bersikeras melenyapkan anakku. Aku membencimu yang semena-mena padaku tanpa memikirkan perasaanku. Kamu pikir, aku mainan? Riko, kamu sudah memiliki tunangan. Yang berarti selama ini kamu berhasil meraih kebahagiaanmu. Sedangkan aku? Aku berbeda jauh darimu. Jadi tolong, menjauh dariku. Biarkan aku hidup tenang dan bahagia bersama anakku kelak. Aku mohon ...." Dug "Akhh ...." Renata meringis ketika kening Riko membentur keningnya. Kepalanya berdenyut seketika karena benturan kening Riko yang kasar. Ketika dia hendak menegur Riko, tiba-tiba saja tangan kekar lelaki itu mengapit kedua pipinya sehingga bibirnya menyembul ke depan. Jangan tanya lagi semenakutkan apa tatapan lelaki itu. Yang jelas, dia merasa saat ini dia berada di posisi tak mengenakkan. Dia tak masalah jika Riko menyakitinya, asal jangan menyakiti anaknya, itu saja. "Gampang sekali kamu mengatakan itu. Apa kamu tidak berpikir apa dampak dari ucapanmu itu? Seharusnya kamu mengerti aku kenapa aku bersikeras melenyapkan anak itu. Anak itu adalah penghalang bagiku untuk bersamamu. Anak itu adalah ancaman bagimu, terutama nyawaku." "Maksudmu? Ancaman?" "Aku tahu kamu mencintaiku. Tidak usah munafik karena aku bisa melihat sendiri dari tatapan matamu. Tapi yang harus kamu tahu, ragaku milik Diana, tapi hatiku milikmu. Aku mencintaimu, bodoh! Jadi kumohon, gugurkan kandunganmu demi cinta kita. Gugurkan kandunganmu dan bebaskan aku dari semua ini!" Renata menggeleng tak percaya. Riko benar-benar gila. Menggugurkan kandungannya sama saja membunuhnya secara perlahan. Dengan rasa kecewa yang tak terbendung, sekuat tenaga dia mendorong Riko menjauh darinya dan berhasil ... dia terbebas dari kungkungan Riko. Dia segera berdiri dan menatap Riko dengan rasa benci dan kecewa menjadi satu. Melihat Riko yang hendak kembali mendekatinya, Renata segera meraih gunting di meja riasnya dan mengacungkan gunting tersebut ke arah Riko. "Menjauh dariku. Demi apa pun, aku membencimu, sangat membencimu!" Teriaknya dengan rasa sakit yang benar-benar menghancurkan seluruh harapannya agar Riko bisa menerima anaknya. "Hanya dengan menggugurkan anak itu, Re! Hanya itu yang bisa membebaskanku dari semuanya dan cara satu-satunya untuk kita bersatu. Juga, demi kebahagiaanmu." Renata menggeleng keras. "Tidak! Bukan demi kebahagiaanku, tapi demi keberhasilan rencana busukmu dan nenekku." "Re ...." "Aku tidak mempercayaimu!" Riko menggeram. Dengan cepat lelaki itu mengambil gunting di tangan Renata dan langsung memenjarakan tubuh Renata di dinding. Tatapannya tajam dengan emosi yang menggebu-gebu. "Renata, dengar aku baik-baik. Aku tidak membutuhkan anak itu. Yang aku butuhkan hanya kamu! Terserah, sekeras apa pun kamu mempertahankan anak itu, aku tetap pada pendirianku, melenyapkan anak itu." Setelah mengatakan itu, Riko berlalu meninggalkan Renata yang terkulai lemas di lantai dengan air mata yang jatuh dari kelopak matanya. Ini keterlaluan dan ... menyakitkan. Dia tidak bisa terus-menerus tersakiti seperti ini. Dia ingin bahagia dan cara satu-satunya untuk bahagia adalah, mengasingkan diri, lagi. Ya, mengasingkan diri seperti yang dia lakukan beberapa bulan lalu. Semua sudah jelas, Riko tidak benar-benar mencintainya. Jika lelaki itu mencintainya seharusnya lelaki itu bisa menerima anaknya, darah daging lelaki itu. Sudah! Tidak ada yang harus dia harapkan dari lelaki itu. Keputusannya untuk pergi sudah benar. Dia harus kembali menjauh, bahkan sangat jauh dengan keluarganya. Dan, cara satu-satunya yang bisa membawanya pergi dari kota ini adalah, kedua kakaknya. Ya, dia butuh bantuan kedua kakaknya untuk itu. Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, dia menghubungi kakak laki-lakinya, Ali. Mengutarakan keinginannya tanpa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Biarlah, ini menjadi masalahnya sendiri. Dia tidak mau membebani kedua kakaknya. Beruntungnya, kakak laki-lakinya langsung mengabulkan permintaannya untuk pindah di tempat terpencil yang dia yakin tidak dapat Riko jangkau. Sekarang, yang dia lakukan adalah, menyiapkan keperluannya di tempat baru yang dia harapkan membawa kedamaian dalam hidupnya dan anaknya tanpa bayang-bayang Riko, lelaki b***t yang sialnya mengisi ruang kosong dalam hatinya. Mungkin, ini sudah saatnya dia memaksakan diri jika anaknya terlahir tanpa seorang ayah dan dia hidup serta merawat seorang anak tanpa seorang suami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD