Renata bernafas lega setelah tiba di tempat tinggalnya yang baru. Meski ada sedikit kekesalan dalam dirinya pada kedua kakaknya itu, namun Renata tetap menerima keputusan kedua kakaknya yang menempatkannya di sebuah apartemen di pusat kota yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal kedua kakaknya. Padahal dia meminta rumah sederhana di pedesaan, tapi kedua kakaknya itu begitu mengkhawatirkannya.
Hidupnya memang semiris ini. Selalu lari dari masalah. Perasaan, baru beberapa bulan dia pindah ke tempat yang jauh dari keluarganya. Kini, dia kembali pindah ke tempat yang dekat dengan keluarganya. Hanya saja, keberadaannya tetap harus dirahasiakan. Berharap sang nenek tidak menemukannya, apalagi Riko.
Selepas membersihkan diri, Renata menata barang-barangnya. Hingga setengah jam berlalu dan terdengar bel berbunyi membuatnya mengernyitkan kening. Bertanya-tanya siapa gerangan yang bertamu ke apartemennya ini. Padahal, dia baru beberapa jam tinggal disini.
Merapikan pakaiannya, Renata mendekati pintu dan membukakan pintu untuk si pengetuk pintu. Saat pintu terbuka, Renata nyaris lupa bagaimana caranya bernafas.
Sosok Denis berdiri di hadapannya dengan senyum lebar dan kepala yang tertunduk sebentar sebagai tanda hormat. Pakaian yang dikenakan lelaki itu begitu formal membuatnya terkejut sekaligus bingung.
"Denis?"
"Aku hanya ingin berkenalan dengan tetangga baru. Tidak apa-apa, kan?" masih dengan senyum manis yang menghiasi wajah tampannya, Denis menatap Renata.
Renata tergagap sembari mengangguk canggung. Renata terkejut mendengar pernyataan yang Denis ucapkan. Lelaki itu juga tinggal disini.
"Ehm, boleh masuk?"
"Hah?"
Renata menoleh ke dalam apartemennya dan menatap Denis. Ragu-ragu untuk memberi ijin pada Denis untuk masuk ke dalam. Bukannya dia enggan menerima tamu, hanya saja dia disini sendiri. Apa kata orang jika dua orang yang tidak terikat berduaan di dalam apartemen. Apalagi kondisinya yang tengah hamil ini.
Mengetahui keraguan Renata, Denis tersenyum.
"Bagaimana kita ke taman dekat sini," ujar Denis memecahkan lamunan Renata.
"Iya?"
"Kita ngobrol santai di taman dekat sini. Hitung-hitung mencari udara segar."
Renata hendak menolak, namun Denis lebih dulu menggenggam tangannya dan membawanya pergi setelah menutup pintu apartemennya.
Hingga disinilah mereka berada, di taman yang Denis maksud. Renata terdiam menatap lurus ke depan, sesekali melirik Denis yang juga terdiam dengan tatapan lurus ke depan.
Canggung, itu yang Renata rasakan. Tak berani membuka obrolan.
"Kenapa jadi pengecut?"
Denis membuka suara membuat Renata kontan menatap Denis yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa?"
Denis tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke depan membuat Renata mengernyit bingung. Masih penasaran dengan apa yang Denis ucapkan.
"Selalu lari dari kenyataan. Apa gak capek?"
Renata meneguk kasar salivanya. Kini, Denis menatapnya lekat membuatnya mengalihkan pandangan dan menunduk, menatap perut buncitnya dengan wajah muram. Mungkin jika ditanya apa keahliannya di dunia ini, dia akan menjawab jika keahliannya adalah, lari dari kenyataan. Terus menjauhi orang-orang yang pernah menggores luka dalam hatinya. Mau bagaimana lagi? Ini demi keselamatannya dan anaknya.
"Jika terus bertahan, sama saja membiarkan aku terus disakiti," jawabnya dengan lirih.
"Bukan masalah bertahan atau tidaknya. Tapi, bagaimana kamu menghadapinya, bukan menghindari. Jika terus seperti ini, masalah tidak akan pernah selesai. Riko dan nenekmu akan terus mengincarmu kemana pun kamu pergi."
Renata terhenyak. Dia tertohok mendengar perkataan Denis yang menurutnya benar. Masalah tidak akan ada ujungnya jika dia sendiri dia tidak mencoba untuk menghadapi. Justru menghindar dengan alasan tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya.
"Setidaknya, kasih Riko kesempatan untuk memperbaiki. Jika tidak demi dirimu, setidaknya demi anakmu. Setidaknya kamu memperjuangkan anakmu agar bisa diterima oleh Riko, entah sekeras apa Riko ingin melenyapkan anak itu. Tapi sebelum itu, lebih baik kamu temui nenekmu. Dia pemeran utama dalam kekacauan ini. Aku tahu Riko seperti apa, dia tidak akan bertindak jika tidak ada sebabnya."
"Tidak bertindak jika tidak ada sebabnya? Maksudmu, Riko melakukan semua ini karena ada alasan tertentu? Apa pun alasannya, Riko tetap salah. Ini tidak bisa dibenarkan!"
Tanpa sadar Renata meninggikan suaranya. Kesal sudah pasti. Bagaimana bisa dia tetap tenang jika secara tidak langsung Denis membenarkan tindakan Riko yang akan melenyapkan anaknya. Anak yang dia kandung tidak berdosa, namun harus menghadapi keadaan yang tidak masuk akal ini.
"Re, setiap sebab pasti ada akibat. Aku tidak ada niatan untuk membela atau membenarkan tindakan Riko. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin membantumu dan Riko agar tidak memiliki hubungan sepelik ini. Sebagai seorang adik dari Riko dan oom untuk anak yang kamu kandung, tentu saja aku ingin yang terbaik untuk kalian."
Renata menepis tangan Denis yang hendak menyentuh lengannya. Nafasnya memburu karena emosi. Dia masih tersinggung dengan perkataan Denis sebelumnya meskipun lelaki itu memberikan alasan yang masuk akal.
"Bagaimana bisa aku mencoba menghadapi jika aku sendiri saja tidak tahu apa alasan Riko ingin melenyapkan anak ini. Aku butuh penjelasan, bukan seperti ini yang membuatku selalu ketakutan. Aku menghindar karena aku ingin hidup tenang bersama anakku. Bukan seperti ini, segala sesuatunya begitu menyesakkan bagiku. Kamu tahu, dulu aku dinyatakan tidak bisa hamil dan setelah mendapati kenyataan jika aku hamil, aku sangat bahagia. Tapi apa? Riko datang dengan kenyataan ingin melenyapkan anak ini dengan alasan agar aku dan Riko bisa bersama. Apa itu masuk akal? Anak ini jelas-jelas darah daging Riko. Tapi lihat, apa perlakuan dia? Dia ingin melenyapkan anak ini!"
Tanpa sadar, Renata terisak membuat Denis terenyak. Lelaki itu hendak mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Renata, namun dengan cepat Denis menurunkan tangannya dan menyembunyikan tangannya ke saku celana. Sehingga yang Denis lakukan adalah, menatap Renata iba.
"Maaf jika ucapanku membuatmu tersinggung. Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiranku saja," ujar Denis pelan menatap lurus ke depan, tak kuasa melihat Renata serapuh ini.
Bukannya tidak mau menenangkan Renata, hanya saja dia merasa tidak berhak.
"Tidak masalah. Toh, bukankah sudah seharusnya seorang adik membela kakaknya sebagai bentuk rasa sayang," sindir Renata menatap Denis dan menghapus kasar air matanya.
Masih dengan tatapan lurus ke depan, Denis menggeleng.
"Aku tidak membela, hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiranku saja. Terserah, mau kamu menerima atau tidak. Tapi setidaknya, pikirkan baik-baik, beberapa bulan lagi anak itu lahir. Apa kamu sanggup menjawab jika suatu saat anak itu menanyakan keberadaan ayahnya?"
"Riko tidak menginginkan anak ini!"
"Maka dari itu, kamu harus mencoba mencari tahu ada apa dan mengapa!" tanpa sadar Denis juga meninggikan suaranya membuat Renata terdiam.
"Re, maaf. Aku tidak bermaksud," ujar Denis menyadari kesalahannya.