Renata menggeleng dengan wajah muram.
"Jika aku mencari tahu, percuma saja karena Riko sudah ada yang punya."
Denis menghela nafas panjang dan menatap Renata lekat. Penuh keberanian, Denis mencengkeram pelan bahu Renata hingga tatapannya bertemu dengan Renata.
"Re, kamu tidak tahu siapa sebenarnya yang Riko mau. Aku tidak ada bukti untuk ini, tapi percayalah, aku bisa merasakan jika kamu yang Riko mau."
Renata berdecih.
"Jika aku yang Riko mau, seharusnya dia tidak melalukan sesuatu seburuk ini! Jika aku yang Riko mau, seharusnya dia tidak bertunangan dengan dokter kandunganku!"
Denis tersenyum tipis sebelum akhirnya menatap ke belakang tubuh Renata dimana sosok yang sejak tadi dia hubungi telah tiba.
"Maaf jika aku lancang, tapi sebaiknya kamu bicarakan langsung dengan orangnya."
Renata mengernyit.
"Maksudnya?"
Denis tersenyum dan menunjuk ke belakang Renata dengan dagunya membuat Renata turut menatap ke arah yang Denis maksud.
Setelah tahu apa yang Denis maksud, kontan dia berdiri dan bergegas melarikan diri. Tapi terlambat, tangan kekar itu menahannya dengan kuat. Dia berontak namun kekuatannya kalah kuat dengan kekuatan lelaki itu.
"Apa melarikan diri adalah keahlianmu?" ujar lelaki itu setelah membawa Renata duduk di kursi taman yang sebelumnya ditempati Renata dan Denis.
Denis? Lelaki itu telah pergi dan memberikan ruang untuk Riko dan Renata menyelesaikan masalahnya.
"Lepas!"
"Re, apa aku seburuk itu untuk kamu tatap?"
Renata membuang pandangan dan berdecih mendengar nada lirik yang Riko ucapkan.
"Re ...."
"Pergi!"
"Re, pilihannya ada dua, bertahan atau kehilangan."
Renata kontan menatap Riko tajam.
"Sampai kapan pun, aku tetap mempertahankan anak ini. Aku tidak peduli tentangmu."
Riko menggeleng lesu yang justru membuat Renata bertanya dalam hati setelah melihat perubahan dari lelaki itu. Entah ini perasaannya saja atau tidak, dia melihat tatapan terluka di mata Riko.
"Kamu bersungguh-sungguh memilih anak itu daripada aku?"
Renata mengangguk cepat.
"Tentu saja. Anak ini segalanya bagiku. Kamu? Hanya lelaki b***t yang seenaknya ingin melenyapkan anak ini."
Riko menggeram membuat Renata berusaha melepas cekalan Riko di tangannya. Melihat itu, Riko kontan menghela nafas panjang dengan menggelengkan kepala menatap Renata lurus.
"Kamu tidak tahu apa-apa! Aku punya alasan untuk itu!" ujar Riko penuh penekanan.
"Apa? Alasannya apa? Alasan kamu itu tidak masuk akal. Apa masuk akal seorang ayah membunuh darah dagingnya? Itu gila namanya!"
"Gila? Seharusnya kata itu kamu ucapkan untuk nenekmu. Kata untukku, mungkin lelaki bodoh paling tepat."
Renata terperangah ketika Riko meremas tangannya sebelum akhirnya membawanya entah ke mana.
"Lepas! Aku mau pulang!"
Riko menghentikan langkahnya.
"Pulang ke mana jika aku adalah tempatmu untuk pulang."
"Tidak! Kamu adalah neraka bagiku."
Riko menggeleng.
"Kamu ingin tahu apa alasanku? Ikut aku dan jangan berontak. Setelah kamu tahu, aku tidak akan membiarkanmu terus melarikan diri dengan permasalahan yang masih mengambang."
Renata berontak. Dia tidak mau ikut Riko meski ada dorongan dalam hatinya untuk ikut Riko agar dia tahu apa alasan Riko. Tapi ....
Terlambat! Dia mengikuti kata hatinya. Dia mengikuti langkah Riko memasuki mobil dan mobil yang Riko kendarai itu membelah jalanan ibu kota. Entah pergi ke mana, yang jelas dia berharap semoga setelah tahu semuanya, hidupnya tenang. Dan Riko, dia tak ingin berharap lebih. Hanya saja, ijin kan dia bertindak bodoh dengan menginginkan lelaki itu berada di sisinya menjadi tempatnya berpulang, seperti yang lelaki itu katakan sebelumnya.
Mobil yang Riko kendarai mengarah pada suatu tempat yang sukses membuat jantung Renata berdetak lebih cepat. Wajah yang semula merona kini berubah pucat pasi, seperti tidak dialiri oleh darah. Kedua tangan Renata saling meremas dengan tubuh terpaku kala mobil yang Riko kendarai terparkir di tempat parkir.
Ketika Riko membuka sabuk pengaman, Renata menatap Riko tajam dengan mata berkaca, menyiratkan kekecewaan.
"Apa maksud semua ini?" Lirih, Renata berucap dengan tatapan lurus ke Riko yang terpaku mendengar pertanyaannya.
Renata tidak bodoh. Dia tahu maksud dan tujuan Riko membawanya ke klinik kandungan untuk apa. Dilihat dari luar, klinik itu terlihat klinik seperti biasanya -menangani masalah kandungan. Tapi sisi lain, dia tahu makna terselubung dari tempat ini. Terbukti saat Renata tak sengaja melihat seorang wanita keluar dari klinik itu bersama seorang lelaki. Yang menjadi sorotan Renata adalah, raut wanita itu yang menahan sakit dengan satu tangan berada di perut. Sudah dipastikan apa yang telah wanita itu lakukan di dalam sana.
"Re, aku bisa jelasin nanti. Tapi tolong, ikuti apa yang aku katakan. Ini demi kebaikan kalian."
Renata membuang pandangan untuk menutupi air matanya yang mulai mengalir tanpa seizinnya.
"Aku sempat berharap kamu memberiku penjelasan kenapa kamu tidak menginginkan anak ini. Aku salah, kamu tetap kamu, selalu memaksakan kehendak. Terlalu berambisi, sekalipun itu merenggut nyawaku."
"Re, aku mohon. Jangan sekarang, aku tidak mau semua kacau hanya karena kamu yang keras kepala. Ikuti aku dan perlahan, kamu tahu semuanya."
Renata kembali menatap Riko, membiarkan lelaki itu melihat air matanya yang kian mengucur deras.
"Aku tahu semuanya setelah aku kehilangan anak ini, kan? Jang---"
"Renata!"
Renata mendadak bungkam ketika Riko memotong ucapannya dengan nada suara naik satu oktaf. Dia terkejut dan bahkan, dia terisak dengan kedua tangan memukul d**a bidang Riko yang langsung Riko tahan. Riko menggenggam kedua tangannya dan menatapnya sendu.
"Re, percaya sama aku, semua akan baik-baik saja jika kamu menuruti ucapanku. Aku bisa jelaskan setelah kita masuk ke dalam klinik."
"Kamu akan menjelaskan setelah anak ini selesai di aborsi, kan? Iya kan? Riko, harus berapa kali aku bilang, melenyapkan anak ini sama dengan membunuh aku. Dia hidup aku, dia sumber kebahagiaanku dan kamu, nerakaku."
Riko diam. Tatapannya terpaku pada setiap inci wajah Renata. Namun dalam sekejap Riko membuka sabuk pengaman Renata dan keluar dari mobil. Riko memaksa Renata untuk turun dan Renata menolak. Riko yang merasa tidak punya waktu banyak akhirnya mengambil tindakan dengan menggendong Renata, membawa Renata ke dalam klinik dengan penuh berontakan dari Renata.
Tiba di dalam klinik, Renata menangis histeris. Ketakutan menguasainya ketika Riko membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan yang diisi satu brankar. Riko membawa tubuhnya ke brankar dan mengunci pintu ruangan itu setelah berbincang sejenak pada petugas klinik. Yang jelas, Renata tidak tahu apa yang Riko katakan pada petugas itu.
Riko mendekat pada brankar dimana Renata berada dengan tangis yang menyayat hati bagi siapa yang mendengarnya.
Tepat saat Riko berdiri di samping Renata, Riko langsung mendekap tubuh bergetar Renata dengan tatapan sendu.
Tak lama kemudian, sesuatu yang mengejutkan diucapkan oleh Riko membuat Renata menghentikan tangisnya dengan tubuh menegang. Renata melepas pelukan Riko, menatap Riko dalam.
"Maaf."