Satu kata yang membuat Renata terpaku. Kata yang selama ini tidak pernah Riko katakan padanya. Dan Renata merasa jika kata itu Riko ucapkan sebab sebentar lagi lelaki itu mencapai keinginannya, melenyapkan anak yang Renata kandung.
"Kamu---"
"Aku harap, kamu diam dulu. Di luar sana, seseorang mengawasi kita. Aku mohon, ikuti aku maka kamu akan baik-baik saja."
Renata mengerut. Tidak paham apa yang Riko ucapkan. Seseorang mengawasinya dan Riko? Siapa?
"Siapa yang mengawasi kita? Memangnya, apa motifnya mengawasi kita? Riko, jangan mengucapkan omong kosong jika itu hanya alasanmu agar membuatku tidak berontak ketika bidan mulai mengaborsi anak ini."
Riko menggeleng, menggenggam kedua tangan Renata. Tatapan Riko sendu membuat Renata dilema, harus mempercayai perkataan Riko atau mempercayai pikirannya sendiri yang mengatakan jika Riko hanya mengelabuhinya.
"Mereka adalah orang yang selama ini mengawasi gerak-gerikku. Apa yang aku lakukan dan sekeras apa usahaku menemukanmu."
"Tapi, siapa dia?"
Riko menatap Renata dalam.
"Apakah kamu ingin tahu siapa mereka?"
Mereka? Bukankah itu pertanda jika orang yang Riko maksud lebih dari satu orang? Mendadak kepala Renata pening memikirkan seberapa banyak orang yang mengawasi gerak-gerik Riko. Tapi, dia jangan mudah percaya. Bisa saja ini drama Riko.
Seolah bisa membaca apa yang ada di pikirannya, Riko berkata, "Aku tidak berbohong, Renata."
Renata tersentak. Kesadarannya membawanya pada kenyataan jika Riko tidak sedang berbohong. Lelaki itu bersungguh-sungguh, terbukti dengan tatapan penuh kegelisahan dibalik iris hitamnya.
Perlahan, Renata melunak. Tak lagi berontak, hanya saja dia terus memberondong Riko banyak pertanyaan. Renata tidak mau terlihat paling bodoh disini.
"Siapa mereka?" tanyanya ingin tahu.
"Suruhan nenekmu."
Mendengar itu, rasanya Renata sulit untuk bernafas. Suruhan neneknya? Kenapa sampai seberlebihan ini?
Renata tersentak ketika Riko mendekapnya dengan erat. Dia merasakan satu tangan Riko mengusap punggungnya perlahan sebelum akhirnya dekapan itu terlepas. Tatapannya bertemu dengan Riko dan Renata tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat mata Riko yang memerah, seolah menahan emosinya.
Renata takut, namun ada keinginan dalam dirinya untuk menguatkan Riko yang terlihat rapuh dibalik sikap kerasnya. Bukankah terlihat jelas jika Renata bodoh, bukan? Menaruh simpati pada Riko yang menyakiti hatinya berkali-kali. Tapi, yang Renata lakukan tidak semuanya salah. Renata mencoba berpikir jernih jika setiap sebab pasti ada akibat. Renata yakin, sangat yakin alasan yang Riko miliki meluluh lantahkan jiwa lelaki itu.
"Jelaskan semuanya. Kenapa suruhan nenekku bisa seperti ini? Apa ada hubungannya dengan keinginanmu melenyapkan anak yang aku kandung?"
Riko menatap Renata lama sebelum akhirnya mengacak kasar rambutnya. Dan detik selanjutnya, Riko meremas kuat kedua bahu Renata membuat Renata meringis. Berusaha keras melepas tangan Riko yang meremas kuat bahunya.
Namun, detik selanjutnya Renata menghentikan gerakannya ketika melihat kepala Riko yang mengangguk pelan, sangat pelan dan nyaris tidak menyerupai anggukan sebab lelaki itu dengan cepat mengalihkan pandangan dan menjauhkan tangannya dari bahu Renata.
Mundur beberapa langkah, memberi jarak dengan Renata yang menuruni brankar. Semakin Renata mendekat, semakin cepat pula Riko menghindar.
"Menjauh Renata!" teriaknya saat tubuhnya menabrak dinding dan Renata berdiri dengan raut sedih di depannya.
"Jangan mengelak, apa benar nenekku yang berada di balik semua ini?"
Renata tidak mau ambil risiko, dia menjaga jarak dengan Riko. Jaga-jaga takut kebrutalan Riko muncul disaat-saat menegangkan seperti ini. Dia tidak mau sesuatu yang membahayakan kandungannya terjadi.
Renata mengangguk paham.
"Aku anggap keterdiaman kamu adalah anggukan kepala. Aku mohon, jelaskan apa alasan kalian seperti ini?"
Riko mengabaikan Renata. Lelaki itu memilih mendekati jendela, membuka sedikit tirai dan melihat ke luar. Cukup lama menatap keluar hingga pada akhirnya melangkah mendekati Renata. Meraih tangan Renata dan membawa Renata meninggalkan ruangan itu.
Renata kebingungan namun takut disaat bersamaan. Takut jika sudah saatnya aborsi dilakukan. Langkahnya begitu berat dan Riko tidak berperasaan mempercepat langkahnya. Tangan Renata dingin dan wajahnya kembali pucat dengan air mata yang siap mengalir. Renata merasa tidak ada lagi kesempatan dan dia memilih pasrah.
Larut dalam lamunan buruknya, Renata tak sadar jika Riko menghentikan langkah dan menatapnya lekat.
Detik selanjutnya, Renata tersentak ketika ibu jari Riko mengusap air matanya. Kontan dia menatap ke arah Riko dengan keterkejutan yang tak dapat disembunyikan.
Pada saat dia hendak membuka suara, Riko memotong ucapannya dengan pernyataan yang mengejutkan dan nyaris membuat tubuhnya luruh ke lantai andai Riko tidak sigap menahan tubuhnya.
"Aku akan melindungi darah dagingku."
Renata tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Kalimat itu meluncur tanpa ragu dari mulut Riko. Kalimat yang mampu membuat air mata Renata jatuh begitu saja, air mata kebahagiaan.
Perasaan hangat dirasakan Renata ketika Riko mendekapnya erat. Membisikkan kalimat yang sama, seolah meyakinkan Renata jika Riko sedang tidak main-main dengan ucapannya. Renata membalas pelukan Riko, diusapnya punggung Riko dengan segala rasa yang membuncah.
Riko melepas pelukannya. Lelaki itu menatap Renata lekat dan kemudian turun menatap perut buncit Renata. Tangan bergetar Riko menyentuh permukaan perut Renata dan menunduk, Riko menatap perut buncit Renata dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bertahan di dalam sana," ujarnya dengan suara bergetar yang kemudian mengecup perut buncit Renata.
Renata tersenyum. Senyum tulus dengan tatapan haru. Pemandangan di depannya merupakan sesuatu yang sejak lama dia nantikan. Entah keyakinan dari mana, Renata langsung mempercayai Riko jika lelaki itu saat ini tengah bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Meski kalimat itu tidak menjamin apa pun, mengingat dia dan Riko sedang berada di situasi yang genting. Orang suruhan neneknya berjaga-jaga di luar sana, dia dan Riko mencoba mencari celah untuk pergi. Tapi, Renata tidak setakut sebelumnya dan ini semua karena kalimat menenangkan yang Riko ucapkan.
Lelaki itu kembali menggenggam tangannya, menuntunnya perlahan ke tempat yang terhubung langsung dengan pintu belakang. Genggaman Riko sangat erat membuat pergelangan tangannya sedikit memerah. Namun dia tetap diam dengan harapan mereka bisa keluar dari tempat ini tanpa diketahui oleh orang suruhan neneknya.
Saat hampir tiba di tempat yang Riko tuju, secara tiba-tiba Riko mendorong Renata hingga punggungnya membentur tembok. Renata meringis sekaligus terkejut mendapat perlakuan seperti ini. Namun keterkejutannya tergantikan dengan sikap waspada ketika melihat Riko yang menatapnya khawatir disusul bisikan lelaki itu yang mengatakan jika di pintu belakang ada seseorang yang lelaki itu kenali. Riko mendekapnya dari samping, menghalau seseorang yang Riko kenal tidak melihat dirinya. Siapa lagi kalau bukan orang suruhan neneknya.
Renata menahan sakitnya, dia membalas pelukan Riko sebagai pengalih rasa sakitnya. Sebisa mungkin dia menahan ringisannya agar tidak membuat Riko semakin kalut. Lelaki itu saat ini tengah berusaha keras menyelamatkan diri dan dia tidak membuat Riko kesusahan karena dirinya. Dia hanya berharap anaknya di dalam sana baik-baik saja dan kuat karena ayahnya kini mencoba melindunginya dan anaknya.
"Re."
Renata mendongak, menatap Riko yang menatapnya dalam.
"Apa?"
"Tidak ada cara lain," ujar Riko yang membuat Renata berdegup kencang.
"A ... apa?"
Riko kembali menuntunnya memasuki ruangan yang sebelumnya dimasukinya bersama Riko. Lelaki itu meraih selimut lalu dililitkan ke tubuhnya. Renata menurut dan membiarkan Riko melakukan aksinya.
"Setidaknya dengan ini perutmu tidak terlihat jelas," ujar Riko mendekap Renata dari samping dan menuntun Renata keluar.
Sebelum benar-benar keluar, Riko menyuruh Renata berekspresi sedih, seolah-olah Riko berhasil melenyapkan anak yang Renata kandung. Tidak lupa, Riko mengubah ekspresinya menjadi senyum memuaskan. Saat ini hanya dengan cara memanipulasi yang bisa Riko lakukan.
Riko membuka pintu mobil untuk Renata yang kemudian disusul olehnya. Saat berada di dalam mobil, Riko langsung mendekap Renata, lagi. Lelaki itu mengecupi seluruh wajah Renata dengan segala rasa yang tak mampu Riko ucapkan.
"Maaf atas segalanya," ujar Riko lirih yang mendapat anggukan dari Renata. Renata meraih kedua tangan Riko yang menangkup wajahnya. Kini tatapannya menyiratkan ketakutan luar bisa. Takut jika setelah ini terjadi sesuatu yang lebih bahaya dari ini.
"Bawa aku pergi Riko, secepatnya," lirihnya yang langsung Riko angguki.