Nayla arindya prameswari

212 Words
Di bawah pohon yang menjulang tinggi, duduk seorang gadis desa yang baru lulus sekolah menengah atas. Ia sedang menunggu hasil seleksi untuk masuk ke universitas jurusan kedokteran. Arin—begitulah panggilan sayang dari bunda, ayah, juga teman-temannya di desa. Pak Agus dan Bu Ajeng, orang tuanya, memiliki sawah yang cukup luas. Hasilnya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak semata wayangnya, Nayla Arindya Prameswari, yang bercita-cita menjadi seorang dokter. Setiap hari, Pak Agus dan Bu Ajeng pergi ke sawah untuk mengolah panen. Bahkan, Pak Agus masih sempat memelihara sapi dan kambing. s**u perahan sapi dijual ke UMKM, sementara kambing piaraannya biasanya laku dijual saat Idul Adha. Pagi yang cerah itu, seperti biasa, Nayla—gadis yang riang dan murah senyum—ikut membantu ayah dan ibunya di sawah. Sesekali, ia bermain di tengah pematang sambil melihat orang tuanya bekerja. “Arin… Arin!” panggil ibunya. “Iya, Bu. Ada apa?” jawab Arin sambil berlari kecil. “Bantu Ibu, yuk, Nak. Ambil sayuran yang sudah bisa dipetik. Nanti kita masak untuk makan siang Ayah.” “Baik, Ibu. Arin akan bantu metik sayur, lalu ikut masak buat Ayah.” “Terima kasih, Nak. Anak Ibu yang cantik dan baik hati.” “Hehe…” Arin tersenyum malu sambil mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD