Kringgg...
Bunyi alarm jam weker di atas meja nakas terdengar nyaring, membangunkan seorang gadis.
Arin mengeliat sambil mengusap wajah.
“Huuu, sudah pagi aja ya… Cepat sekali. Ayo lah, Arin! Semangat! Hari ini kita mulai kuliah pertama. Semangat!”
Di depan kelas, Arin bertemu sahabat barunya.
“Pagi, Caca!” sapa Arin.
“Pagi juga, Nay. Yukss, kita masuk kelas pertama. Semoga dosennya baik ya, nggak killer-killer amat,” jawab Caca sambil cengengesan.
Tak lama, seorang dosen muda masuk ke kelas.
“Halo semua, apa kabar? Perkenalkan, nama saya Rian Atmaja. Panggil saja Rian.”
Senyum manisnya membuat sebagian besar mahasiswi tersipu malu.
Caca menyikut Arin pelan.
“Duh, Nay… dosen cakep banget, ya? Kira-kira masih single apa sudah sold out?” bisiknya.
Arin tertawa kecil. “Nggak tahu, tuh. Coba aja loe tanya, Ca, siapa tahu beruntung.”
“Sial loe, Nay! Gue dikira apaan coba?” Caca manyun.
Mata kuliah pun berlangsung dengan suasana hidup. Rian begitu pandai membawakan materi, membuat kelas jadi menyenangkan.
---
Sementara itu, di sebuah kantor...
Seorang CEO muda tampak sibuk dengan tumpukan dokumen.
“Siang, Bos,” ucap Revan, asisten pribadinya, masuk ke ruangan.
“Ada apa, Van?” tanya sang CEO tanpa mengalihkan pandangan dari berkas.
“Sudah waktunya makan siang. Bos mau pesan apa, atau makan di luar?”
“Hmm… pesenin aja deh. Lagi tanggung sama dokumen-dokumen ini. Banyak banget kerjaan dari loe.”
Revan nyengir. “Ehehe, makanya, Bos, jangan sering izin. Datang tiap hari dong, biar kerjaan nggak numpuk.”
“Sialan loe, Van! Asisten kurang ajar. Hati-hati, gue potong gaji loe ntar.”
“Ehh, sabar, Bos. Santai aja,” jawab Revan dengan wajah jail.
“Udah, loe tolong pesenin aja. Abis ini gue harus balik ke rumah sakit. Ada jadwal operasi sore.”
“Oke, siap Bos. Pesan seperti biasa, ya.”
---
Waktu berlalu...
Tak terasa, semester pertama berakhir.
“Nay...” panggil Caca.
“Ya, Ca, kenapa?”
“Liburan besok loe balik nggak?”
“Kayaknya balik, deh. Kangen banget sama Ayah dan Ibu. Kalau loe gimana?”
“Sama, Nay. Gue juga balik, tapi cuma sebentar. Masih ada kerjaan ngajar les.”
“Oh ya, Ca. Semester depan gue juga mau ambil les anak-anak sekolah. Lumayan kan buat tambahan jajan.”
“Serius? Ntar gue tanyain ke temen gue ada loker nggak.”
“Makasih ya, Ca.”
Mereka pun berpisah sementara. Arin pulang naik bus, sementara Caca pulang naik kereta.
---
Sesampainya di rumah...
“Assalamualaikum, Ibu, Ayah! Arin pulang...” seru Arin begitu sampai di depan rumah.
Ibunya menyambut dengan mata berbinar.
“Waalaikum salam, Nduk. Ya Allah, akhirnya kamu pulang juga. Ibu kangen banget sama anak cantik Ibu ini.”
“Arin juga kangen Ibu...” jawab Arin sambil memeluk ibunya erat.
“Ayah masih di ladang ya, Bu?” tanya Arin.
“Iya, Nduk. Lagi ngurus sapi-sapi perah.”
“Oh iya, Bu. Alhamdulillah kuliah lancar. Kan baru semester satu, masih pelajaran dasar. Tapi, Bu, mungkin semester berikutnya Arin nggak bisa pulang kalau liburan. Soalnya kegiatan kampus bakal padat. Maafin Arin ya, Bu.”
Ibunya tersenyum lembut.
“Nggak apa-apa, Nduk. Ibu mengerti. Yang penting kamu jaga kesehatan. Jangan lupa istirahat kalau sudah lelah.”
Arin memberi hormat. “Siap, Komandan!”
Ibunya hanya geleng-geleng melihat kelakuan putrinya.