Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Hari di mana Arin—atau Nayla, begitu nama lengkapnya—akan berangkat menimba ilmu di ibukota. Pagi itu, Arin diantar oleh ayah dan ibunya menuju kota untuk mencari tempat kos yang dekat dengan kampus. Mereka menyewa mobil, menempuh perjalanan sekitar tiga jam, dan tiba di siang hari.
Arin sudah memesan kos lewat telepon dan sempat melihatnya di website.
“Huft, akhirnya sampai juga ya, Bu, di tempat kosnya.” Arin menarik napas lega.
“Iya, Nak, kita sudah sampai. Ayo turun, kita lihat kamar yang sudah kamu pesan, Rin.” ucap ibunya.
“Nggih, Bu,” jawab Arin singkat.
Sementara ayah dan ibunya berbincang dengan ibu kos, Arin sibuk membereskan barang-barangnya di kamar.
“Sudah selesai, Rin, beres-beresnya?” tanya ibunya.
“Sudah, Bu. Barang-barangnya sudah Arin taruh di lemari.”
“Ya sudah, Nduk. Ayah sama Ibu harus pamit. Biar nggak kemalaman sampai desa.”
Mata Arin mulai berkaca-kaca. “Ibu… Arin bakal kangen jauh dari Ibu.”
Ibunya memeluknya. “Jaga dirimu baik-baik ya, Nduk. Ingat selalu pesan Ibu.”
“Iya, Bu. Arin akan selalu ingat.” Suaranya bergetar.
“Sudah-sudah, Nduk. Jangan nangis. Ayah sama Ibu pamit pulang dulu. Insyaallah kalau sawah sudah panen, Ayah dan Ibu jenguk kamu. Kalau malam jangan sering keluar kamar ya, tetap di kos saja.”
“Iya, Yah. Arin janji akan jaga diri dan janji belajar biar cepat lulus.”
“Bagus. Kalau begitu, Ayah sama Ibu pamit dulu ya, Nduk.”
“Iya, Ayah, Ibu hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai, kabarin Arin ya.”
“Pasti, Nduk. Nanti Ayah kabari.”
---
Sementara di tempat lain…
Seorang dokter baru saja keluar dari ruang operasi.
“Woi, Dokter Arya! Akhirnya bisa jumpa lagi. Gimana kabar, Bro? Operasi lancar?” sapa rekannya.
“Huft, akhirnya selesai juga.” Arya melepaskan masker operasi.
“Eh, Dokter Rian sudah balik, ya. Enak banget abis honeymoon. Besok gantian, Bro, lu ngajar di kampus. Gue ada meeting di kantor, Papa minta gue gantiin.”
“Oke lah, besok gue gantiin loe ngajar.”
“Thanks, Bro.”
---
Pagi berikutnya.
Arin bangun lebih awal. Hari itu hari pertama ia mengikuti orientasi mahasiswa baru.
“Semangat, Arin! Kamu pasti bisa lewati kegiatan hari ini,” gumamnya di depan cermin.
Sesampainya di kampus, Arin celingak-celinguk mencari tempat sesuai jurusannya.
“Hai! Nama aku Caca, jurusan apa kamu?”
“Hai, aku Nayla Arindya. Jurusan Kedokteran.”
“Wah, sama donk! Aku juga Kedokteran. Yuk, kita cari tempat bareng.”
“Yukss,” jawab Arin sambil tersenyum.
Tak lama, acara dimulai.
“Assalamualaikum. Perkenalkan, nama saya Reno. Saya ketua BEM universitas sekaligus ketua panitia orientasi mahasiswa baru. Harapan saya, semua mahasiswa baru bisa mengikuti serangkaian acara selama seminggu ini dan bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.”
Seluruh mahasiswa baru menyimak sambutan Reno dengan antusias.
---
Hari demi hari berlalu.
Arin dan Caca makin akrab. Orientasi berjalan lancar, hingga akhirnya hari terakhir tiba.
Di kamar kosnya, Arin rebahan kelelahan.
“Huft, akhirnya kelar juga orientasi. Badan rasanya rontok banget… Huuuh, jadi kangen Ibu. Biasanya kalau pegel, Ibu suka mijitin aku. Arin kangen Ibu… hikss.”
Ia menutup wajah dengan bantal.
“Duh, kenapa aku jadi cengeng gini, ya? Semangat, Arin! Besok udah mulai perkuliahan. Harus semangat!” katanya pada diri sendiri, mencoba menghibur hatinya.
---