“Tentu saja Daddy punya! Kamu nggak tahu, ya, siapa Daddymu ini,”jawabnya sambil duduk di sisi tempat tidur. Digenggamnya tangan sang Mama.”Buk, ini Saka...”
“Nenek udah nggak bisa bicara sejak dibawa ke sini,Dad,”jelas Nara yang kini ikut menatap wajah Neneknya dengan sedih.
Saka menatap Nara.”Sudah berapa lama Nenek sakit?”
“Seminggu ini Nenek sakit, tetapi cuma demam biasa. Baru hari ini parahnya,”jelas Nara.
“mengapa kamu baru nelpon sekarang?”tatap Saka tajam.
Nara menundukkan wajahnya, menghindari tatapan tajam itu.”maaf, Dad, tetapi...Nenek bilang jangan hubungi Daddy.”
Saka tertawa lirih,”Nenekmu itu selalu saja begitu, kayak Daddy ini bukan anaknya saja.”
“Lagi pula...Daddy yang memang jarang pulang, nggak mikirin kalau Nenek itu hidup susah,”komentar Nara tanpa sadar.
Saka menarik napas panjang,dia turun dari tempat tidur dan menghampiri Nara.”Baik, karena kondisi Nenek seperti ini, mulai saat ini Daddy akan ambil alih semuanya, mulai sekarng Nenek dan kamu adalah tanggung jawab Daddy. Daddy akan bawa kamu dan Nenek untuk tinggal bersama di rumah Daddy.”
Wajah Nara terangkat, mulutnya terbuka lebar, dia sungguh tidak ingin hal ini terjadi. Ketakutan Nenek tidak boleh terjadi.
“Daddy, kata Nenek, sebisa mungkin aku harus mandiri,”balas Nara.
Alis Raka tertaut,”mengapa begitu? Daddy tahu kamu mandiri, tetapi, bukan berarti harus tinggal sendiri, kan? Bahaya, Nara.”
Nara meremas tangannya sendiri, dia tertunduk bingung.”i-iya, Dad.”
Saka mengangguk tenang karena Nara tidak membantah lagi.
**
Malam harinya, Nara dan Saka masih berada di ruang rawat Rianti. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tidak ada percakapan penting yang terjadi usai perdebatan mereka saat baru bertemu. Nara menggaruk tangannya berkali-kali, gatal, karena sejak pagi belum mandi. Bangun tidur dia mendapati sang Nenek seperti itu, langsung ke rumah sakit.
“Kamu gatal-gatal, pasti belum mandi,ya?”komentar Saka.
“Iya., Dad, aku memang belum mandi sejak pagi,”balas Nara dengan senyuman manisnya.
“Pantes baunya nggak enak pas dipeluk,” balas Saka.
“Dad!” Nara menatap Saka kesal, dia merasa malu sendiri. dia sendiri saja bisa mencium aroma tubuhnya ini, dan tidak enak, apa lagi Saka yang jelas-jelas terlihat selalu rapi dan wangi. tetapi, harusnya Saka tidak langsung terus terang, pura-pura tidak tahu saja.
“Kamu mandi sana, jangan sampai Nenek keracunan aroma badan kamu,”kata Saka dengan santai, tanpa ekspresi.
“Daddy! Aku nggak bawa pakaian, apa aku harus pulang ke rumah?” Nara tampak berpikir keras, jaraknya cukup jauh dan ini sudah malam pula.
“Buang-buang waktu, kamu pergi ke hotel di perempatan sana aja. Biar Daddy pesankan kamar,”kata Saka sambil membuka ponselnya.
“Untuk apa?”
“Mandi.”
“Mandi aja di hotel? Habis itu chek out? Buang-buang duit, Daddy!” Nara menggaruk kepalanya yang gatal karena belum keramas sejak kemarin.
“Memangnya kamu mau mandi di situ?”tunjuk Saka ke arah kamar mandi.
“Iya. Cuma aku nggak bawa pakaian,”jawab Nara, memangnya ada apa dengan kamar mandi itu, ini kamar VVIP, bersih dan fasilitas lengkap.
“Nggak jijik mandi di situ?” Tanya Saka sambil bergidik ngeri.
“Nggak, memangnya mengapa, Daddy? Bersih kok.” Nara menggeleng-gelengkan kepalanya heran. tetapi, kemudian dia sadar, yang berbicara adalah Rhisaka Abyandana, pria yang baru dia tahu sangat pembersih. Buktinya seharian tadi, setiap ingin duduk, dia selalu membersihkannya dulu dengan tisu.Sehabis menyentuh sesuatu, dia akan membersihkan tangannya dengan cairan pembersih tangan atau tisu basah.
“Ya udah Daddy pesankan baju, nggak usah pulang. Kamu mandi aja di hotel sana.” Saka pun tampak menghubungi seseorang.
Nara memutar bola matanya.”Terserah!” dia sudah merasa lelah, dia butuh mandi dan merilekskan tubuh.
“Kamu pergi ke hotel sama sopir, sudah Daddy pesankan kamar. Nanti ada yang datang ke sana antarkan pakaian untuk kamu,”kata Saka tanpa melihat Nara yang semakin geram.
“Katanya ke sini pakai Heli, kok ada sopir. Jadi, aku ke hotel naik Heli?”
“Nggak, naik mobil. Ayo Daddy antar ke depan!” Saka bangkit dari kursinya.
“Kok bisa?”gumam Nara sambil berpikir keras, apakah Saka memang sekaya itu, tetapi, dia dan Neneknya hidup biasa-biasa saja meskipun mereka memang tidak pernah kekurangan. Nenek bilang, Daddy-nya selalu mengirim banyak uang, tetapi sang Nenek memilih menyumbangkannya sebagian untuk anak yatim, kamu duafa, dan fakir miskin. Nenenknya itu memang memiliki hati yang mulia. Kelak, Nara ingin seperti Neneknya.
Saka menarik tangan Nara, mengantarkannya ke depan rumah sakit di mana sopirnya menunggu. Langkah Saka terhenti di depan sebuah mobil mewah sudah. Sang sopir keluar dan membukakan pintu.
“Masuk, Nara!”perintah Saka
“Dad, aku nggak bawa kartu identitas, gimana masuknya?” Nara kebingungan.
“Masuk aja, kamar atas nama Rhisaka Abyandana, kamu masih ingat nama Daddy-mu, kan?”tatap Saka tajam.
Nara hanya bisa cengengesan.”Ingat, Daddy.”
“Ya udah, hatihati, ya.”Saka mengusap puncak kepala Nara sebelum gadis itu melangkah masuk ke mobil.
“Silakan, Nona.” Sopir itu tersenyum ramah.
Nara menoleh ke arah Saka yang menatapnya tajam, memaksanya segera masuk. Mau tidak mau Nara masuk, dia tidak mau mendapat tatapan seperti itu terus-terusan, ternyata Saka itu menyebalkan. Nara duduk di dalam mobil dengan tenang, kemudian sopir membawanya ke hotel bintang lima yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. dia segera ke resepsionis dan meminta kunci kamar sesuai instruksi Saka. Benar saja, dia mendapatkan kunci dan segera menuju kamar itu.
Nara berbaring di tempat tidur, mendesah lega karena bertemu dengan kasur yang empuk. Baru beberapa menit dia bersantai, bel kamar berbunyi. dia membuka pintu, seorang wanita dengan pakaian rapi memiliki lambang hotel ini, tersenyum.
“Dengan Nona Priscanara Batari?”tanyanya sopan dan lembut.
“Iya, saya sendiri.” Nara bingung.
“Ini pesanannya.” Wanita itu menyodorkan beberapa paper bag.
“Pesanan apa, Mbak?”
“Pesanan pakaian.”
“Oh iya, makasih, Mbak.” Nara masih bingung, namun, dia menerimanya saja karena tadi Saka juga mengatakan kalau dia sudah memesankan pakaian.
“Permisi.”
Nara mengangguk, dia menutup pintu kembali, diletakkannya paper bag ke atas tempat tidur dan menumpahkan isinya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, dia hanya butuh satu pasang baju dan pakaian dalam, tetapi, sepertinya Saka memberikan pakaian untuk satu minggu, dan semuanya mahal.
“Daddy...” Nara menepuk jidatnya. Diletakkannya paper bag itu ke atas tempat tidur, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Usai mandi, Nara mencoba pakaian yang diberikan Saka padanya. dia coba satu persatu, semuanya cocok. dia memakai yang casual saja, lagi pula dia hanya di dalam kamar nantinya. dia pun merapikan pakaian-pakaian itu, lalu bel kamar berbunyi. dia membuka pintu, ternyata hotel mengantar makanan, Saka memesankan makan malam untuknya. Baik sekali laki-laki itu, Nara terkekeh, kemudian dia menjawab pertanyaannya sendiri, tentu saja, dia kan anak kesayangan Saka. Nara pun makan dengan lahap, setelah selesai, dia berbaring sejenak sebelum menghubungi Saka minta dijemput. tetapi, gadis itu justru ketiduran.