Bab 5

1150 Words
Sementara itu, di rumah sakit, Saka duduk menatap sang Ibunda terbaring lemah. Perlahan ia melihat kelopak mata Rianti bergerak, tanda wanita itu siuman.”Bu...” “Sa...Saka?”ucap Rianti, suaranya terdengar lemah sekali. “Iya, Bu, ini Saka.” Saka menggeser duduknya lebih dekat lagi ke telinga Rianti. “Nara mana?”tanyanya cemas. Saka menggenggam tangan Rianti.“Nara lagi pulang, Bu, mandi dulu, dari pagi dia belum mandi karena bawa Ibu ke rumah sakit. Apa yang Ibu rasakan sekarang?” Rianti menggeleng.”Nggak tahu, rasanya lemas aja. Mungkin hidup Ibu nggak lama lagi, Saka.” Saka langsung meneteskan air mata, mencium tangan sang Ibu.”Jangan begitu, Bu, dokter akan mengusahakan yang terbaik untuk kesehatan Ibu. Ibu pasti sembuh.” “Saka, semua orang bakalan meninggalkan dunia ini, hanya saja nggak tahu waktunya kapan.” Rianti menarik napas dengan berat.”Bagaimana dengan hidup kamu sekarang, Saka? Apa kamu sudah berubah?” “Saka terus berusaha, Bu.” Rianti menatap Saka dengan sedih dan kecewa.“Anak kamu sudah dewasa, Saka, mungkin dia juga akan mengenal apa itu cinta, mengenal lawan jenis. Kamu harus mengawasinya, itu sudah kewajiban kamu sebagai orangtua, kamu harus bertanggung jawab karena kalian sudah mengadopsi Nara.” “Iya, Bu, Saka tahu itu.” Rianti menatap wajah Saka lekat-lekat, anak semata wayangnya itu sangat tampan, seandainya Saka memilih jalan yang lurus, pasti ia diperebutkan banyak wanita, dan tentu ia akan menimang cucu kandungnya. Mungkin ia akan bahagia. Tapi, ia mencoba berdamai dengan keadaan, ia menerima Nara selayaknya darah daging Saka sendiri. Ia sayang pada Nara  melebihi dirinya sendiri.”Saka, kamu harus berjanji...jangan berhubungan dengan laki-laki lagi.” Saka menarik napas panjang,“Bu, bukankah selama ini Saka sudah menepati janji Saka?” Saka memang belum sepenuhnya sembuh, tapi, ia belajar untuk tidak memiliki hubungan dengan sesame jenis. Awalnya berat, namun, ia terus berusaha menjalani terapi dan cara-cara lainnya. Apa saja Saka coba untuk berubah, termasuk mendekatkan diri pada Tuhan. Rianti menggelengkan kepalanya lemah.“Ibu nggak yakin kalau kamu sembuh betul, Saka, buktinya saja kamu nggak menikah sampai sekarang...” Air mata Rianti menetes, rasa lelahnya sudah memuncak, bertahun-tahun ia menunggu kabar baik itu tiba nyatanya tidak pernah ada. “Bu, Saka sudah hipnoterapi, semua itu butuh proses,”kata Saka. “Proses itu delapan belas tahun, ya?” Rianti tertawa lirih, hatinya perih sekali.”Kamu mau ya Ibu mati dalam keadaan berdosa, nggak bisa mendidik anak, nggak bisa membawa anak melakukan kebaikan, ke dalam hal-hal yang dekat dengan Tuhan. Jika Ibu bertemu Tuhan, apa yang harus Ibu katakan, Saka?” “Ibu...”Air mata Saka menetes. “Jika kamu seperti ini terus, bagaimana nasib Nara?” “Bu, Saka akan bertanggung jawab sepenuhnya atas Nara. Nara, kan anak Saka, Bu.” “Saka, jangan sampai Nara terkena imbas atas perbuatan kamu,”kata Rianti, suaranya mulai serak dan napasnya terasa sesak. “Iya, bu, Saka akan memberikan yang terbaik untuk nara. Nanti, Saka akan menguliahkan Nara ke Universitas paling bagus. Cita-cita Nara akan tercapai, Bu. Ibu jangan khawatir, ya.” “Saka....” Rianti menatap Saka dengan linangan air mata. “Iya, Bu?” “Tolong bahagiakan Nara, ya? Jangan sekali pun kamu menyakiti apa lagi membuatnya menangis. Kamu harus jaga dan lindungi Nara dari apa pun.” “Iya, bu.” “Nara harus menjadi orang sukses,”lanjut Rianti. “Iya, Bu.” “Jodohnya harus lelaki yang baik dan dia cintai. Pokoknya Nara harus bahagia karena kita sudah membuatnya berada dalam kondisi ini.” “Iya, Bu.” “Dan kamu…menikahlah.”Tangis Rianti pecah. “Iya, Bu, Saka akan menikah.” “Ibu sayang sekali sama kamu,”ucap Rianti dengan napas tersenggal. “Saka juga sayang banget sama Ibu,”isak Saka. “Saka...kamu...” Tiba-tiba Rianti memegang dadanya yang terasa sakit dan semakin sesak, lalu tidak sadarkan diri. Saka langsung memencet bel memanggil perawat, kondisinya sudah gawat. Perawat datang, melihat kondisi itu, mereka langsung memanggil dokter dan Saka dipersilakan keluar dari ruangan. “Kondisi pasien kritis, Pak, harus dirawat di ICU.” Saka mengangguk lemah mendengar ucapan dokter setelah dilakukan pemeriksaan. Rianti dipersiapkan untuk masuk ke ruang ICU.”Ibu!!” Kaki-kaki Saka lemah, tidak sanggup berjalan mengikuti perawat yang membawanya pergi. Saka terduduk di depan ruangan ICU, menunduk sedih, sendiri, sunyi, ia tidak punya siapa-siapa lagi. Kemudian pria itu menangis terisak-isak.”Bu, aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi, semua itu nggak mudah, Bu, tolong Ibu mengerti! Aku nggak mau ditakdirkan seperti ini, aku juga sudah berusaha, Bu, tanpa sepengetahuan Ibu,aku berusaha menjadi normal. Tapi, sampai saat ini aku belum berhasil.” Ucapan Saka itu dirasa sia-sia karena Rianti tidak bisa mendengar, wanita itu sudah terbaring lemah dengan alat-alat yang terpasang di badannya. Saka berusaha menguatkan diri untuk berjalan dan meminta izin masuk menemui sang Ibu. “Bu, sembuh ya, Bu, Saka janji akan sembuh juga.” Saka terus menggenggam tangan Rianti dengan rasa bersalah yang begitu besar.   **   Nara terbangun dari tidur, badannya terasa begitu segar. Ia membuka mata, kemudian memejamkannya lagi karena masih ingin berbaring sebentar sebelum beraktivitas. Ia langsung membuka matanya kembali dengan cepat saat menyadari ia berada di tempat yang tidak seharusnya. Ia masih di hotel. “Mati aku! Jam berapa ini!” Nara mencari ponselnya.”Jam tujuh pagi.” Ia sudah tidur selama itu dan tidak terbangun sedikit pun. Dengan panik ia menghubungi Saka. “Daddy!”kata Nara panik.”Aku masih di hotel, kenapa Daddy nggak cariin aku?”kata Nara begitu suara Saka tersengar. “Kamu kan istirahat.” “Daddy, Nara kan jadi nggak  bisa jagain Nenek. Pokoknya sekarang Nara mau ke rumah sakit,”kata Nara dengan kesal. “Ya udah kamu mandi cepetan, setengah jam lagi dijemput,”kata Saka dengan sabar, suaranya terdengar tidak bersemangat, bahkan sedih. “Iya, Dad.” Nara memutuskan sambungan, saat ini ia tidak tahu kalau kondisi sang Nenek sedang kritis. Ia segera bersiap-siap dan turun, mencari mobil jemputannya. “Nara!” Saka muncul di pintu masuk, ia memang sengaja menunggu gadis itu datang. Langkah Nara terhenti, menatap Saka heran.“Daddy? Mau pergi?” “Nggak, nungguin kamu,”jawab Saka dengan mata yang basah. “Daddy kenapa?” Perasaan Nara mulai tidak enak. “Ayo kita temui Nenek.” Saka menarik tangan Nara dengan cepat. Nara bingung kemana Saka akan menbawanya karena ini bukan jalur menuju ruang rawat inap sang Nenek. Langkah mereka terhenti di depan ruang ICU. Kenapa ke sini, Dad?”tanya Nara bingung. Kemudian pintu ICU terbuka, perawat menarik sebuah tempat tidur dengan jenazah yang ditutup selimut di atasnya. Mereka berhenti di depan Saka dan Nara. “Dad?” “Buka,”perintah Saka. “Nggak mau, ah...serem.” Nara menolak. “Buka saja,”kata Saka lagi Nara kembali menggeleng. Saka membuka penutupnya, wajah pucat sang Ibu ada di sana, terbujur kaku tak lagi bernyawa.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD