“Nenek!”teriak Nara histeris, dipeluknya Rianti erat-erat.”Kok pergi tapi nggak bilang Nara, Nek, Nara ketiduran...Nenek!!”
Saka mematung di tempat, menyaksikan Nara menangisi Rianti. Tapi, sehancur-hancurnya hati Nara ditinggalkan sang Nenek, lebih hancur lagi hati Saka saat ini. Ibunya langsung kritis setelah bicara padanya, memintanya untuk segera menikah. Menikah adalah hal mudah bagi Saka, ia punya uang, ia punya segalanya, wanita juga banyak mengantri dan tentunya sangat bersedia menjadi istri Saka. Tapi, apakah hatinya semudah itu menerima, tentu tidak. Ia tidak ingin terikat dengan sebuah hubungan pernikahan, apa lagi ia juga tidak nyaman berlama-lama berada di dekat wanita.
Sepanjang proses pemakaman, Saka tidak bisa lagi menangisi kepergian sang Ibu, hanya saja ia menyesali apa yang sudah ia perbuat pada Rianti. Saka hanya melakukan apa yang ia senangi, tapi, sayangnya itu menyakti sang Ibu. Orang-orang berbaju hitam yang tadi mengerumuni makam Rianti, kini satu persatu pergi dengan mengucapkan bela sungkawa pada Saka. Saka menanggapi sekadarnya saja,ia tidak bisa begitu fokus pada hal lain. Kini tatapannya tertuju pada Nara yang masih duduk di sebelah makam. Ia pun menghampiri gadis itu.”Nara...”
Nara menoleh,ia tidak bisa melihat sosok Saka dengan jelas karena matanya tertutup air mata.
“Ayo kita pulang,”ucap Saka.
“Aku pulang kemana, Dad? Di rumah sudah tidak ada Nenek, aku enggak punya siapa-siapa lagi,”isaknya.
“Kau masih punya Daddy, tentu aja kamu pulang ke rumah Daddy,”jawab Saka.
Nara terdiam, ia terlihat ragu, sang Nenek menyarankan agar ia tidak tinggal bersama Saka, tapi, jika tidak dengan Daddy-nya bagaimana ia melanjutkan hidup, sementara sang Nenek juga tidak meninggalkan harta apa pun untuknya.
“Ayo, ini udah sore,”kata Saka lagi.
“Aku tinggal sendirian saja di rumah Nenek, Dad.”
“Jangan macam-macam, setelah ini rumah Nenek mau kujual, mau tinggal dimana, eh?”kata Saka.
Nara meremas tangannya sendiri, ia bangkit pelan-pelan sambil menatap pusara, ia masih belum bisa mengikhlaskan semuanya, tapi, kematian adalah hal yang pasti, semua yang bernyawa akan mendapatkan gilirannya.
“Ayo!” Saka menarik tangan Nara meninggalkan pemakaman, sementara Nara pasrah, ia belum bisa melakukan penolakan apa pun karena masih berduka.
Nara dibawa ke sebuah rumah yang sangat besar dan mewah. Gadis itu terpukau dengan keindahannya. Gadis itu menghela napas berat, ia enggan turun, mana bisa ia tidur di rumah sebesar ini, apa lagi tanpa Nenek. Ini kali pertama ia tidur tanpa Nenek dalam satu rumah.
“Ayo turun.” Saka membuyarkan lamunan Nara, ia tahu kepergian Rianti sangat membuat Nara terpukul, sejak bayi ia tinggal bersama.
“Iya.” Nara menjawab pelan, ia turun dan berjalan menuju teras rumah. Ternyata bila dilihat dari dekat, rumah ini jauh lebih luas, terasnya saja sebesar ini, memakan waktu untuk masuk ke dalam.
“Ayo, untuk malam ini kita tinggal di sini, sampai rasa duka hilang. Setelah itu kita pindah ke apartemen saja,”jelas Saka sambil terus berjalan.
“Memangnya ini rumah siapa?”
“Rumah yang Daddy belikan untuk Nenek dan kamu, tapi, Nenek menolak,”jawab Saka dengan hati terluka. Penolakan Rianti waktu itu benar-benar membuat hatinya hancur dan sempat tidak nafsu makan selama sebulan.
Nara menunduk, ia mengikuti kemana Saka pergi. Rumah ini sangat besar, tentu akan menyenangkan bila ia dan Nenek ada di sini, tentunya dengan Daddy-nya juga. Tapi, semua tidak terjadi sesuai dengan apa yang diinginkan Nara. Saka melangkah ke anak tangga, menuju lantai dua dimana kamar-kamar berada.
“Yang ada di rumah ini siapa saja, Dad?”
“Beberapa asisten rumah tangga, tapi, mereka nggak tinggal di sini. Hanya datang tiga hari sekali untuk bersih-bersih.”
“Dad!” Langkah Nara terhenti.
Saka ikut menghentikan langkah, membalikkan badannya.”Ada apa?”
“Aku nggak mau tidur di kamar, aku tidur di sofa sana aja,”kata Nara,rumah ini terlalu besar, dan sunyi. Ia takut.
“Memangnya ada apa?”
“Aku takut, ini pertama kalinya nggak ada Nenek. Rumah ini seram,”balas Nara dengan tatapan permohonan.
“Saka mendecak, ia tidak suka dengan ucapan Nara barusan. Semua ruangan dan perabot rumah harus digunakan sesuai dengan fungsinya. ”Sofa itu untuk duduk, bukan tidur.”
“Apa pun itu, ya, aku mau tidur di sofa!”kata Nara ngotot.
“Memangnya kenapa? Rumah ini aman-aman saja, kamu nggak perlu khawatir!”Saka mulai kesal. Ia menuruni anak tangga, menarik tangan Nara dengan tak sabar, kemudian membawa gadis itu ke kamarnya. Ia menyalakan lampu.
“Daddy!” Nara kesal sekali diperlakukan ini, tapi, begitu lampu menyala, kekesalannya langsung hilang. Sebuah kamar bewarna pink pastel, dilengkapi perabot bewarna putih. Nara tertegun, kamar ini begitu cantik dan membuatnya ingij berlama-lama di sini.
“Ini kamarmu!”
“Oke!”jawab Nara cepat,”silakan Daddy pergi.”
“Kamu berani mengusir Daddy?”tatap Saka tajam.”Kamu nggak boleh lakukan itu.”
“Aku nggak suka Daddy!”teriak Nara yang kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.
“Apa-apaan ini?” Saka melongo, Memangnya apa yang sudah ia lakukan sampai-sampai Nara tidak suka padanya. Saka memegangi keningnya, mungkin Nara masih kesal karena ketiduran di hotel, andai Nara di rumah sakit, pasti gadis itu sempat bicara dengan Rianti untuk yang terakhir kalinya. Tapi, siapa yang menyangka jika ternyata ajalnya sudah tiba, andai Saka tahu, ia akan berusaha untuk menikah, dengan siapa saja asalkan Ibunya bisa meninggalkan dunia ini dengan lega.
“Nara!” Saka mengetuk pintu, tapi, Nara tidak menjawab, mungkin saja sedang menangis. Saka pun mengurungkan niatnya untuk mengetuk lagi, ia pergi dari sana, dan duduk di balkon untuk merenung seperti biasanya.
Dua jam berlalu, perut Saka keroncongan, kemudian ia menatap ke arah pintu kamar Nara. Gadis itu belum makan sejak pagi, pasti kelaparan, pikir Saka. Ia punya kunci cadangan, tapi, kamar gadis itu dikunci dari dalam, menggunakan grendel, kuncinya masih tergantung di luar. Saka masuk ke kamarnya, membuka pintu balkon, kemudian melirik ke sebelah. Pria itu tersenyum, kemudian ia melompat melewati pembatas, dan ia sampai di balkon kamar Nara. Ia membuka pintunya dengan kunci cadangan.
Nara terkejut setengah mati saat mendengar pintu balkonnya dibuka dengan kunci. Hampir saja ia mengangkat kursi meja rias dan melemparnya, tapi, ternyata itu Saka. Ia menatap Daddy-nya kesal. ”Itu bukan pintu masuk, Dad!”
“Tetap saja namanya pintu, berfungsi untuk keluar masuk. Lagi pula kamu sombong sekali, nggak mau buka pintu.” Saka berjalan mendekat, kemudian duduk di sisi tempat tidur.
“Terserah.”
“Kamu masih menangis?” Saka melihat bantal Nara basah.
“Memangnya aku ini Daddy yang langsung bisa bersikap biasa aja setelah Nenek pergi!”
“Daddy juga sedih, tapi, biarlah Daddy sendiri yang tahu. Kamu belum makan sejak pagi, ayo kita pergi makan,”ajak Saka.