“Jangan sok baik sama aku!”kata Nara dengan tatapan tajamnya, biar pun ia sangat lapar, ia tidak boleh terpengaruh oleh ucapan Saka. Ia harus berhati-hati, sesuai dengan nasehat Nenek.
“Wah begitu ya, padahal Daddy mau ngajak kamu makan steak paling enak di sini. Kamu boleh makan sepuasnya supaya nggak sedih lagi,”kata Saka merayu.
“Nggak!”ucap Nara keras, tapi sayangnya perut tidak bisa diajak kompromi. Perutnya berbunyi begitu keras sampai Saka menahan tawa.
“Ya sudah kalau enggak mau. Daddy makan sendiri saja.” Saka berjalan ke pintu.
“Dad, ikut!”teriak Nara spontan, bagaimana ia bisa menolak steak, ia sangat tergila-gila dengan daging, makanan favoritnya, tapi, Nenek melarangnya makan daging terllalu sering. Sekarang ia bisa makan sepuasnya.
“Tunggu!” Saka menghentikan Nara.”Daddy nggak mau penampilan kamu seperti ini!”
“Daddy malu?” Nara melotot.
“Daddy nggak malu, tapi, kamu yang malu kalau sudah sampai di sana.
“Baik, aku ganti baju!”Nara mendecak sebal, baru beberapa jam ia tinggal bersama Saka, sudah membuatnya emosi saja. Ia jadi benar-benar merindukan kehadiran sang Nenek, satu-satunya yang mengerti tentang dirinya.
**
Seminggu berlalu, perlahan Nara mulai bisa mengurangi rasa kesedihannya. Hidup di rumah besar dan mewah serta fasilitas yang lengkap membuatnya sedikit terhibur. Tapi, ia sudah rindu dengan kamar tidurnya di rumah yang lama, ia juga rindu kuliah, bertemu dengan teman-temannya. Tapi, sangat disayangkan, Saka tidak mengizinkan Nara pergi dari rumah ini sementara waktu.
Sore ini, Nara baru saja selesai mandi, mengenakan tanktop berwarna pink muda dan celana pendek sepaha berbadan katun. Ia duduk bersila di atas tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya. Pintu tiba-tiba saja terbuka, Nara dan Saka sama-sama mematung.
“Dad, ketuk dulu,”protes Nara.
Saka masuk ke dalam kamar dengan santai.”Kenapa pintunya nggak dikunci? Itu salahmu.”
“Oke...semua salahku,”gumam Nara.
Saka duduk di kursi dekat meja rias, kemudian memberikan map pada Nara.”Ini...surat-surat kepindahan kamu.”
Gerakan Nara yang sedang mengeringkan rambutnya terhenti.”Pindah? Pindah kemana?” Dengam cepat ia meraih map itu, kemudian ia menatap Saka tak percaya.”Daddy...aku dipindahkan kuliah? Kok nggak minta persetujuan aku dulu?”
“Kamu pasti menolak, kan?”
“Ya!”balas Nara cepat, ia tidak mau pindah dari kampus tercinta, di sana ia sudah punya banyak teman
“Nara, yang kamu punya sekarang cuma Daddy, dan Daddy...harus kerja buat menghidupi kita berdua. Daddy nggak bisa ikutan tinggal di sana karena itu terlalu jauh,”balas Saka.
“Ya udah, aku ngekost aja di sana, Dad. Aku nggak keberatan tinggal sendirian, kan nanti juga ada Ibu Kostnya.”
“Nggak.” Saka menggeleng kuat.”Sudahlah, Nara, kamu tinggal sama Daddy, jangan membantah apa pun, Daddy berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu.”
Nara membuang pandangannya, tangannya terlipat di d**a sebagai bentuk rasa kesal pada sang Ayah yang mengambil keputusan seenaknya saja. Ia sudah besar, harusnya diajak diskusi, baik menurut Saka belum tentu baik menurut Nara. Ia juga berhak mengatakan kalau ia tidak suka dengan apa yang dilakukan Daddy-nya.
“Besok kita sudah bisa pindah ke apartemen Daddy,”lanjut Saka, mengabaikan rasa kesal Nara
“Kenapa harus di apartemen, di sini aja. Aku udah nyaman di sini!”protes Nara.
“Apartemen itu lebih dekat sama kampus kamu dan kantor Daddy,”kata Saka, kali ini membuat Nara ingin menonjok wajah tampan Daddy-nya itu saking kesalnya.
Nara melipat kedua tangannya di dada.“Jadi, Daddy juga udah nentuin dimana nanti aku kuliah?”
“Ya. Kampus ternama dan pastinya memiliki akreditasi yang bagus. Kamu akan berkembang dengan baik di sana,”jelas Saka.
Nara menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya perlahan. ”Sudahlah, terserah Daddy saja.” Mengalah lebih baik, ia capek menanggapi ucapan Saka yang tidak akan pernah bisa dibantah.
“Nah, begitu kan enak. Kita nggak perlu berdebat nggak penting seperti ini.” Saka terkekeh.
“Ya ya ya.” Nara memutar bola matanya. ”Tapi, ingat ya, Dad...aku mau kamar sendiri kalau di apartemen nanti.”
“Iya, memangnya kamu nggak mau satu kamar sama Daddy? takut ya?” Saka terkekeh.
“Nggak tuh, cuma nggak nyaman aja tidur sama Daddy, aku kan udah dewasa,”balas Nara ketus.
“Masa sih,”balas Saka dengan nada menggoda.
“Iya, kan Daddy juga nggak suka sama cewek jadi...aku nggak perlu setakut itu,”balas Nara lagi, tapi, kali ini ia tidak memperhatikan ekspresi Saka yang berubah.
“Saka terdiam, memperhatikan Nara. Pria itu melangkah mendekati anak gadisnya.”Tadi...kamu bilang apa?”
“Bilang apa?” Nara melirik, dari ekor matanya ia menangkap bayangan Saka berjalan ke arahnya. Ia menggeser badannya mundur perlahan.
“Kamu yang bilang, coba ucapkan sekali lagi soal...Daddy tidak suka wanita. Dapat informasi murahan dari mana?” Saka tersenyum sinis.
Nara menyipitkan matanya.”Itu bukan informasi murahan, Daddy! Daddy sudah menghina orang yang memberi informasi itu, padahal Daddy yang murahan!”
“Memangnya siapa yang kasih informasi itu, hah?”tatap Saka dengan mata yang merah.
“Nenek,”jawab Nara.
“Dan kamu percaya?”
“Ya!”balas Nara dengan nada menantang.
“Apa Daddy harus buktikan, bahwa Daddy ini masuh suka perempuan? Daddy bisa buktikan sekarang!”katanya dengan penekanan.
Nara tertawa sinis.”Jangan gila, Dad! Aku nggak perlu itu. Nenek udah cerita semuanya, bagaimana asal mulanya aku ada di tangan kalian. Aku memiliki dua orang Ayah,mereka mengadopsiku ketika aku bayi.”
“Daddy nggak begitu, Nara!”sanggah Saka dengan suara lemah.
“Jika nggak begitu, sampai sekarang Daddy belum menikah juga, kan? Bahkan Nenek pun meninggal dalan keadaan tidak tenang karena hal ini.” Nara menyeka air matanya yang jatuh.”Sudah, Daddy, aku akan turutin semua kemauan Daddy. Pindah kampus, pindah apartemen, dan semua yang Daddy atur untuk hidupku.”
Saka menelan air ludahnya, apakah langkah yang ia lakukan saat ini pada Nara adalah salah. Tapi, ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Nara, ia tidak mungkin membiarkan Nara hidup sendiri.
“Sekarang aku mau sendiri dulu, Dad...tolong keluar dulu.”
“Ba-baiklah.” Saka meninggalkan kamar Nara dengan luka dalam yang sakitnya tidak bisa ia ungkapkan.
**
Hari ini, Nara dibawa ke apartemen Saka, cukup mewah, dan letaknya tidak begitu tinggi. Nara tidak suka ketinggian. Gadis itu berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar. Karena apartment ini tidak berada di lantai teratas, pemandangan kota tidak begitu terlihat, tapi, pemandangan jalanan dan langit serta matahari terbenam sudah cukup bagi Nara. Ia bisa menghabiskan waktunya di sana.
“Gimana?”tanya Saka.
Nara menoleh.”Apanya?”
“Pemandangannya, memang sih nggak terlalu kelihatan, karena Daddy kurang suka berada di lantai teratas,”kata Saka.
“Ini udah cukup, aku nggak suka ketinggian. Lagi pula, begini aja udah cukup kok,”respon nara.
“Kalau kamu kurang puas, kita bisa pindah ke lantai lain kebetulan ada yang sedang dijual, tempatnya strategis, pemandangannya indah,”jelas Saka.
“Nggak perlu, Dad,”balas Nara cepat.
“Oke.”