“Boleh tidak kalau aku panggilnya jadi Papa atau Ayah aja.”
“Kenapa?” Saka menaikkan sebelah alisnya.
“Agak ribet sih nyebut 'Daddy' apa lagi kita kan orang Indonesia, agak males sok kebarat-baratan,”balas Nara.
Saka menggeleng tidak setuju, itu adalah panggilan yang tepat untuknya.”Nggak, panggil Daddy. Sejak kecil juga kamu panggil itu kok.”
“Itu kan masih kecil, aku masih belum tahu kalau itu norak!”balas Nara tanpa sungkan lagi, ia tidak merasa takut Saka akan marah, mungkin itu akan lebih baik, apa lagi jika Saka langsung mengirimkannya ke asrama atau kost.
“Norak ya?”Saka menatap Nara dengan intens.
“Iya, norak. Tapi, ya udahlah...apa pun itu, asal Daddy senang. Dimana kamarku, Dad?” Nara berjalan ke sudut lain apartemen ini.
“Di sana!”tunjuk Saka ke pintu bewarna hitam.
Nara mengangguk, ia berjalan menuju pintu tersebut, dibukanya perlahan. Kamar yang cukup besar untuknya seorang diri, tapi, kamar ini didominasi dengan warna cokelat s**u dan abu-abu. Ia sedikit mengerutkan kening, warna itu adalah warna yang tidak ia sukai, kamarnya seakan suram dan gelap.
“Dad, kita kembali ke rumah saja, di sana kamarku lebih cantik,”kata Nara sambil menatap Saka.
“Kamar itu nggak cantik? Semua perabotnya kualitas bagus loh. Harganya juga mahal-mahal,”kata Saka menyombongkan diri.
“Aku kurang suka warnanya,”balas Nara.
“Kamu harus suka, karena itu kamar kamu,”balas Saka. Laki-laki itu pun berjalan ke ruang tamu.”Sini, kita harus bicara dulu, Nara.”
Nara mendecak sebal, ia menutup pintu kamar lalu menuju ruang tamu. Ia duduk di hadapan Saka.”Ada apa, Dad?”
“Mulai saat ini kita akan tinggal bersama, selamanya sampai kamu menikah mungkin...jadi kita harus membuat beberapa kesepakatan penting.” Saka terlihat serius.
“Baik, silakan...” Jantung Nara berdegup kencang, tapi, ia berusaha menenangkan hatinya. Saat ini ia berhadapan dengan Daddy, kan, bukan dengan hantu atau monster.
“Baik, Daddy akan memberi tahu sama kamu beberapa hal. Pertama...kita nggak pakai asisten rumah tangga di sini. Untuk urusan bersih-bersih rumah, biasanya ada orang khusus yang datang dua hari sekali ke sini, jadi, kalau untuk urusan cuci piring dan ruangan yang berantakan, kita akan bersihkan sendiri jika tukang bersih-bersihnya belum waktunya datang. Untuk cuci baju, sudah ada laundry,dan untuk makan...biasanya Daddy makan di luar.”
“Oleh karena itu...Nara juga harus makan di luar? Nggak sehat, Dad, udah gitu pemborosan. Nenek paling nggak suka yang namanya pemborosan,”balas Nara.
“Ya...Daddy sibuk dan nggak sempat masak, kurang enak juga sih,”aku pria empat puluh tahun itu.
“Aku masak sendiri aja, Dad, kalau Daddy mau makan di luar silakan aja. Daddy kasih aja uang belanja, aku bakalan belanja ke pasar. Lagi pula fasilitas masaknya juga lengkap tuh.” Nara memerhatikan dapur Saka dari jauh.
Saka menarik napas panjang.”Baiklah kalau kamu maunya begitu, tapi, kalau capek kamu bisa beli aja ya.”
Nara mengangguk mengerti.”Baik. Terus apa lagi?”
“Dilarang pakai pakaian seksi di sini!”lanjut Saka.
Nara membelalakkan matanya, memangnya kenapa kalau ia pakai baju seksi di kamarnya sendiri, kalau di rumah rasanya lebih nyaman mengenakan celana pendek, tank top, atau hanya sekedar pakaian dalam. Coba saja ia tidak tinggal dengan Daddy, ia bebas melakukan apa saja, tidak perlu diatur bahkan untuk cara berpakaian saja.”Nggak setuju, kalau di rumah ...aku lebih suka berpakaian kayak gitu, lagian nanti Daddy kan jarang di rumah. Pasti pulangnya malam terus, kenapa harus dilarang, Dad?”
“Karena...” Saka menggantung kalimatnya. ”Sudahlah jangan membantah.
“Terserah, Daddy, ternyata di sini banyak aturan yang nggak masuk akal,”omel Nara.
“Ini demi kebaikan bersama.” Saka tersenyum penuh arti.
“Kebaikan Daddy.” Nara mengedarkan pandangannya. Tatapannya terhenti pada sisi dinding yang penuh dengan frame, di sana ia melihat sang Daddy menggendong bayi, di sebelahnya ada seorang pria yang tidak kalah tampan pula. Mendadak hati Nara menjadi pilu, jadi, ia tidak bermimpi, itu pasti foto dirinya dan pria yang dikatakan Saka adalah Ibunya. Saka melihat Nara yang fokus pada foto di dinding, ia berusaha menahan untuk tidak berkomentar. Ia ingin tahu reaksi Nara.
“Tolong buang foto itu, Dad!”ucap Nara spontan.
Saka tersentak.”Kenapa? Itu foto kamu masih bayi, Nara.”
“Kalau Daddy masih mau aku tinggal di sini, tolong buang foto-foto itu,”kata Nara sedikit keras.
“Kamu tinggal ya tinggal aja di sini, nggak perlu urusin segala apa yang ada di sini. Tugas kamu itu cuma kuliah yang bener, jangan campuri urusan Daddy!”kata Saka membentak.
Nara memegang dadanya, terasa sesak dan perih. Ternyata begini sikap sang Daddy, bahkan pria itu terlihat tidak menyayanginya. Daddy-nya lebih sayang pada orang yang sudah meninggal itu, yang katanya Ibunya Nara. Nara menjadi jijik, ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Ibunya seorang laki-laki. Gadis itu menangis, ia ingin kembali ke rumah Nenek. Ia ingin Nenek dan Kakeknya hidup kembali, lalu hidup normal seperti dulu, dibesarkan dengan penuh kasih sayang.
Nara tidak berkata apa-apa lagi, ia menangis di depan Saka beberapa saat. Kemudian ia meninggalkan Saka di sana dan masuk ke dalam kamar. Percuma berdebat dengan Saka, pria itu egois, Nara tidak boleh mengutarakan pendapatnya. Nars mengunci pintu kamarnya, kemudian menangis terisak-isak di atas tempat tidur.
“Nara...,”gumam Saka sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia bingung bagaimana cara menghadapi gadis seusia Nara.
Ponsel Saka berbunyi, telepon dari Rina, sahabatnya. Pria itu mengembuskan napas panjang, memilih untuk mengabaikannya karena saat ini perasaannya sedang tidak stabil. Ia berdiri, berjalan pelan ke kamar Nara dan mengetuknya.
“Nara, Daddy minta maaf!”
Tentu saja Nara tidak akan menjawab, gadis itu akan tetap mendekam di dalam kamarnya. Saka terlalu cepat meminta maaf, harusnya menunggu Nara sedikit lebih tenang. Tapi, ia juga tidak tahu bagaimana caranya menghadapi wanita, bahkan Ibunya saja sering terluka oleh kata-kata dan tindakannya.Bel berbunyi, Saka mendecak sebal, entah kenapa di saat seperti ini justru ada yang datang bertamu
Pria itu membuka pintu, wanita cantik dan seksi berdiri di hadapannya dengan senyuman penuh arti.
“Kejutan!”
Saka memutar bola matanya.”Masuk, kupikir siapa.”
“Astaga...kamu ini ya, aku baru pulang, disambut yang riang gitu loh. Kita udah berapa lama nggak ketemu...hmmm empat atau enam bulan ya.” Wanita itu terkekeh sambip meletakkan paper bag berisi oleh-oleh ke atas meja.
“Malas, kamu datang di waktu yang nggak tepat!”balas Saka.
“Loh kenapa?” Rina menatap Saka heran.
“Nggak apa-apa, ada masalah sedikit aja sama anakku.”
Rina menaikkan sebelah alisnya.”Anakmu? Hmmm maksudnya...Nara?”
“Iya, aku lupa cerita kalau setelah Ibu meninggal, Nara tinggal sama aku sekarang. Baru tadi sih aku bawa dia ke sini.”