Bab 9

1137 Words
Rina mengangguk-angguk.”Oke...oke aku paham, terus...” “Ya kamu tahu sendirilah, kalau hubungan aku sama Nara memang bukan selayaknya Daddy dan anaknya, sejak kecil dia tinggal sama Ibu dan Bapak. Bahkan Ibu juga dulu sangat melarang aku berlama-lama sama Nara, jadi ya...sekarang kita nggak bisa akur,”cerita Saka. “Saka, Nara itu kan masih muda, emosinya belum stabil.” “Dia sudah dewasa, Rin, bahkan dia udah kuliah, loh, semester empat,”balas Saka cepat. “Aku tahu, tapi, di usia itu kan harusnya dia baru selesai sekolah menengah atas. Dia masih butuh dibimbing, Saka...kamu harus menjadi temannya. Kalau dimarah-marahin atau dikekang dengan banyak aturan sih, dia bakalan membangkang.” Rina tertawa geli. “Kata siapa aku marahin dia?”kata Saka tidak terima. “Ya kataku aja, soalnya entah kenapa aku merasa kamu baru marahin Nara, terus kasih aturan yang nggak disukai dia,”balas Rina lagi, ia sudah kenal Saka cukup lama. Bahkan ia tahu kalau Saka pecinta sesama jenis, tapi, ia sendiri cukup salut dengan perjuangan Saka untuk kembali ke jalan yang lurus, meski belum sepenuhnya berhasil. “Terus nanti aku ngapain ke dia?” “Ya udah biarin aja dia melakukan apa yang dia mau, kamu cukup mengawasinya. Kalau sudah lewat dari batas, baru kamu ingatkan. Kalau masih batas wajar, ya biarkan saja, Saka. Kasihan loh, kamu harus sadar kalau kamu itu memang orang asing buat dia, meskipun kamu Daddy-nya.” Saka mengusap wajahnya dengan kasar.”Nara benci banget sama aku, Rin, soalnya dia tahu masa lalu aku. Masalah aku dan Abie. Ibu udah ceritakan semuanya sebelum sakitnya parah.” “Ka...” Rina menepuk pundak sahabatnya itu.”Kamu tahu kan, apa yang kamu lakukan itu memang salah. Manusia diciptakan berpasangan, laki-laki dan perempuan. Jika kamu kecewa dengan apa yang sedang terjadi sekarang, kamu harus terima dan jalani dengan ikhlas, bisa saja itu merupakan akibat dari perbuatan kamu. Nara sudah besar, kalau aku jadi Nara, aku pasti merasakan hal yang sama. Di saat teman-teman seusianya menikmati kasih sayang dari orangtua yang lengkap dan normal, dia hanya bisa melihat dari kejauhan, di usianya yang muda ia harus ikhlas kalau ternyata dia hanya tinggal dengan kakek dan neneknya, apa kamu pernah mikir ke sana?” Saka menggeleng lemah. “Kamu dan Abie mengadopsi Nara, tapi, tidak bertanggung jawab atas Nara, materi saja tidak cukup, Saka. Dengan fakta yang seperti ini, itu sangat menyakiti hati Nara,”kata Rina mengakhiri kalimat panjangnya. Entah sahabatnya itu mengerti atau tidak. “Jadi, aku harus menuruti kemauannya yang tinggal sendiri?” “Hadeh....” Rina memutar bola matanya.”Kesel deh, kemana kepintaranmu itu, hah. Capek banget jelasinnya. Hilangkan sikap egoismu, mulai meyayangi Nara, dengarkan setiap ucapannya, tanggapi dengan bijak. Makanya kalau nggak bisa ngurusin anak dan bertanggung jawab, nggak usah ngadopsi,”balas Rina dengan ketus. “Heh?” Saka melotot pada Rina. “Apa...apa?”Rina membalas tatapan Saka. “Udahlah, semua udah terjadi.” Saka menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, ia sudah pasrah. Rina membuka ponselnya, kemudian sibuk membalas pesan dari teman-temannya. Saka menoleh, kemudian mengambil ponsel wanita itu. “Apaan, sih, Ka!” “Ke sini cuma mau main hape?” Aku ke sini mau ngasih tahu aja kalau aku udah balik, terus kasih oleh-oleh. Udah gitu aja. Kenapa? Bosen ya?” Rina melirik tajam. “Nanti Nara lihat, dia pikir kita pacaran.” Rina tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Saka. Sungguh ia tidak pernah melihat Saka sepanik itu.”Loh bukankah seharusnya bagus ya? Dengan begitu dia mikir kamu udah normal.” “Aku udah normal!” balas Saka cepat,”kamu lupa kalau aku pernah menyewa beberapa perempuan?” “Oh ya?” goda Rina.”Tapi, burungmu itu tetap susah hidup, kan? Mamu teyap membayangkan berhubungan sama laki-laki, kan?” “Setidaknya aku bisa o*****e pas berhubungan sama mereka,”sanggah Saka. “Ya ya ya, lumayan lah, seharusnya kamu nggak berhenti berhubungan dengan wanita. Dan...” Rina menggantung ucapannya, kemudian melirik foto-foto di dinding yang menyebabkan Nara dan Saka bertengkar.”Kamu buang itu foto!” “Nggak bisa!” Saka menggeleng kuat. Rina berdiri, merapikan dressnya kemudian merebut ponselnya kembali dari tangan Saka.”Ya terserah kamu aja, baik atau tidaknya hubungan kamu sama Nara tergantung seperapa kuat niat kamu untuk kembali ke jalan yang benar. Kecuali...Nara mau menerima kondisi kamu sekarang. Ya udah deh, aku mau ke coffe shop di bawah, kalau mau ...ntar nyusul aja.” “Rin!”panggil Saka. “Kenapa?” “Nanti mau kenalan nggak sama Nara?” “Boleh, tapi, jangan dalam waktu dekat, Ka. Biarkan Nara tenang dulu ya. Nanti dia makin tambah bingung kalau kamu punya teman seseksi aku,”kekehnya dengan centil.”Ya udah, aku pamit, bye!” Saka tersenyum, kemudian menutup pintu setelah Rina keluar. Sebenarnya ia ingin ikut ngopi dengan Rina, wanita itu pasti memiliki banyak hal baru yang ingin ia ceritakan. Tapi, Saka merasa berat meninggalkan Nara sendirian di kamar dalam keadaan sedih. Kemudian ia duduk kembali, menyalakan televisi, menunggu perasaan Nara membaik dan ia akan berusaha menjadi Ayah sesungguhnya untuk Nara. Ini sudah malam, Nara masih mendekam di dalam kamar padahal seharian ini belum makan. Saka jadi khawatir. Seharian ini ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mondar-mandir, mengetuk pintu kamar Nara, begitu tidak ada jawaban, ia kembali menonton televisi. Ia tidak bisa tenang. Kali ini, ia kembali berdiri di depan pintu kamar Nara, berharap anak gadisnya mau keluar. “Nara, kita makan dulu yuk!” Saka sudah membeli makan malam mereka, ia yakin kalau Nara pasti kelaparan. Tapi, ada hal yang tidak ia tahu bahwa anak seusia Nara, jarang merasa lapar, apa lagi jika ia sedang sedih. Pintu terbuka, Saka terkejut. Nara terlihat sudah mandi, rambutnya lembab, wajahnya terlihat dipoles dengan bedak tipis-tipis, tapi sayangnya mata gadis itu membengkak. “Ayo kita makan, Daddy udah siapin makan malam kita.” Nara mengangguk, ia melihat meja makan sudah penuh dengan makanan. Sebenarnya ia sudah lapar sejak siang, tapi, ia gengsi untuk keluar. Ia duduk, aroma ayam goreng favoritnya semakin membuat perutnya keroncongan. Apa lagi, di sana ada kulit ayam krispi dari restoran cepat saji langganannya, pasti sangat enak dimakan dengan nasi hangat. “Silakan dimakan, sayang. Daddy ambilkan, ya.” Saka mengambilkan nasi, dan mengambilkan beberapa potong kulit ayam goreng, ia tahu kalau itu makanan kesukaan anak gadisnya. Tanpa sadar, Nara tersenyum, ia benar-benar lapar, dan melahap apa pun yang ada. Saka bisa bernapas lega sekarang, meski galak dan pemarah, ternyata Nara mudah untuk diluluhkan. “Habis ini mau keluar nggak?”tanya Saka. “Kemana?” Ke super market, kayaknya bahan makanan di kulkas harus diisi, apa lagi sekarang kan ada kamu. Kamu bisa belanja apa aja yang kamu. Kamu juga belum belanja peralatan kuliah, kan?” Saka terlihat begitu bersemangat setelah mendapat tanggapan dari Nara. “Beneran apa aja?”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD