Bab 10

1158 Words
Saka mengangguk kuat, agar anaknya yakin kalau ia serius dengan ucapannya.”Iya dong...” “Biar pun ngabisin uang Daddy?” “Semua uang Daddy punya kamu, sayang. Kamu mau apa aja, kalau memang itu baik, ya pasti Daddy kabulkan.” “Oke...” “Ya udah makan yang banyak ya. Habis ini kita langsung belanja.” “Dad, maaf...tadi Nara udah ngomong kasar sama Daddy. Maaf, Nara masih belum terbiasa dengan keadaan ini, Nara juga belum terbiasa tanpa Nenek dan bersama Daddy,”kata Nara sambil terus makan. Gerakan Saka mengambil makanan terhenti, pria itu berdehem,”Daddy juga minta maaf ya, selama ini sudah banyak mengabaikan kamu. Sebisa mungkin, Daddy akan berubah. “Aku juga akan belajar menjadi anak yang baik,”jawab Nara, tapi, entah dirinya sendiri tidak yakin akan menjadi anak yang baik di mata Saka.Untuk sementara ia akan ikuti aturan Daddy-nya itu, nanti ia bisa melanggarnya jika sudah merasa bosan. “Besok kamu udah bisa registrasi ulang ke kampus ya, sayang. Daddy antar...” “Jangan , Dad, aku sendiri aja.” Nara tersenyum manis, entah apa maksudnya. “Beneran? Nggak takut?” Nara menggeleng.”Aku kan sudah kuliah, kalau cuma registrasi gitu aja gampang, bisa nanya-nanya. Tapi, Daddy antarkan aku ya?” “Iya.” Saka hanya bisa mengiyakan, padahal besok ia tetap akan ikut mengantarkan dan membantu Nara sampai selesai registrasi dan mendapatkan jadwal kuliahnya. “Tadi...aku dengar ada tamu...perempuan. siapa, Dad?”tanya Nara. “Oh itu temen, kok kamu nggak keluar aja, mau Daddy kenalin, tapi, takutnya kamu masih marah.” “Oh...” “Dad...” “Ya?” Saka menoleh. “Daddy nggak ngerasa aneh kita tinggal berdua begini?” Saka menggeleng, ia menatap Nara heran.”Nggak tuh, memangnya kenapa?” “Aku ngerasa aneh dan nggak nyaman, sih, tapi ya udahlah. Aku akan berusaha bersikap biasa aja. Mungkin...memang belum terbiasa.” Nara kembali fokus pada makan malamnya. “Nara...” Saka meraih tangan Nara dan menggenggamnya. Gerakan Nara langsung terhenti, ia menatap Saka sambil menahan napasnya. Apa yang akan dilakukan Saka, kenapa tiba-tiba bersikap mengerikan seperti ini. Ia ingin segera menarik tangannya, tapi sudah terlanjur digenggam erat. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. “A...ada apa, Dad...” “Daddy sayang kamu, tolong...jangan sering marah, jangan ngambek, Daddy takut...Daddy bingung harus bagaimana.” Nara tersenyum tipis, perlahan ia menarik tangannya.”I...iya, Dad.” “Mulai sekarang, kita kita harus saling terbuka. Apa pun, harus kita bicarakan agar tidak terjadi salah paham. Kita berdamai, kan?”kata Saka sedih. Nara tertawa kecil.”Jangan gitu, kita baru tinggal bareng, Dad, berselisih paham itu hal biasa. Mulai sekarang kita berdamai!” Saka tersenyum lebar, kemudian ia bangkit dan menghampiri Nara di seberangnya. Ia memeluk Nara dengan erat. Nara membatu, jantungnya berdegup kencang.   **   Pagi harinya, Nara bangun dengan badan yang sedikit pegal. Semalam, selesai makan, ia dan Saka pergi belanja, mengelilingi super market dan mencari banyak bahan makanan, juga kebutuhan di rumah. Saka membebaskannya membeli apa pun yang ia mau, sampai hal-hal tidak begitu penting pun Nara beli. Ternyata Daddy-nya sebaik itu, entah kalau suatu saat akan berubah. Nara merasa tenggorokannya kering, ia harus segera minum. Nara membuka pintu kamar,dan sepagi ini matanya sudah terkontaminasi oleh pemandangan yang tidak biasa. Saka sedang berdiri di tepi jendela memegang secangkir kopi, hanya memakai celana dalam yang mirip dengan boxer, tapi, bagi Nara itu adalah celana dalam, ketat dan sangat membentuk, yang paling penting juga, hampir melorot. “Hei kamu sudah bangun?” sapa Saka saat menyadari Nara ada di dekatnya. Mata Nara terbelalak, d**a bidang yang membentuk kotak-kotak seperti roti sobek, lalu di bawah ada tonjolan besar yang membuat napasnya tertahan.”Daddy...kenapa nggak pakai celana!” pekik Nara sambil menutup matanya. “Apanya?” Saka melihat dirinya sendiri.”Ini kan celana.” “Daddy, aku ini udah dewasa, harusnya Daddy jangan gitu!”omel Nara sambil menutup mata dan berjalan ke dapur Saka meletakkan cangkir kopinya ke atas meja, lalu mengambil handuk dan memakai di pinggangnya. Ia terkekeh melihat Nara yang selesai minum, dan tetap menutup matanya saat melintasinya. “Sudah pakai handuk!”kata Saka. Nara membuka matanya, kemudian bernapas lega.”Daddy melarangku berpakaian seksi, tapi, Daddy sendiri...nggak sopan!” “Oke, ini yang terakhir,”balas Saka tersenyum geli.”Eh...tapi, ini seksi ya?” “Bukan! Porno!”kata Nara ketus sambil masuk kamar. Saka mengangkat kedua bahunya, kemudian ia membuatkan sarapan untuk Nara, sebisanya. Semoga saja Nara mau makan masakannya. Ia hanya bisa membuat nasi goreng, itu juga memakai bumbu instan. Sementara itu, Nara segera mandi, kemudian memakai stelan pakaian yang dibelikan Daddy-nya semalam. Setelah itu ia meraih tasnya dan keluar. “Sudah siap?”tanya Saka sambil memerhatikan penampilan Nara. “Sudah, Daddy belum berpakaian?” Nara melihat Saka masih memakai handuknya. “Sarapan dulu,”balas Saka sambil melirik jam dinding,ia duduk dan segera makan. Nara duduk, kemudian menikmati nasi goreng yang dibuat oleh Saka.”Mulai besok aku aja yang bikin sarapan, Dad.” “Kenapa?” “Sarapannya nggak enak,”kata Nara jujur, tapi, sebagai bentuk penghargaan, ia akan menghabiskannya. Saka tertawa.”Ya kalau begitu bagus dong, nggak sia-sia Daddy punya anak gadis, mulai besok bisa makan enak dong.” “Daddy kan banyak duit, pasti bisa banget dong beli sarapan enak.” “Lebih enak dan sehat kalau masak sendiri, sayangnya Daddy. Nanti Daddy tambah uang jajannya kalau kamu masak.” Saka mengedipkan sebelah matanya, kemudian ia segera menghabiskan makan paginya, kemudian segera mandi. Nara menghabiskan sarapannya, merapikan meja dan mencuci piring. Setelah itu ia duduk di depan televisi sambil menunggu Saka selesai bersiap. Sekitar lima belas menit, akhirnya Saka muncul dengan stelan kerjanya.”Sudah, sayang?” “Udah...” Nara berdiri, menyandang tasnya kemudian berjalan ke arah pintu diikuti oleh Saka. Saka menyetir mobilnya menuju kampus baru Nara, sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, besok-besok Nara bisa pergi sendiri jalan kaki atau naik ojek, atau jika jadwalnya kebetulan pagi, maka ia pasti akan mengantarkannya, sekalian berangkat kerja. Mobil memasuki parkiran kampus, Nara melihat keluar jendela, sepertinya ini akan menjadi tempat bekajar yang nyaman dan entah kenapa ia merasa kampus ini cukup mahal karena berada di kawasan yang cukup elit. “Ayo turun!” Saka mematikan mesin mobil. Nara turun begitu saja, tapi keningnya berkerut saat Saka ikutan turun.”Kenapa Daddy turun?” “Daddy antar ke dalam,”katanya sambil memeluk pundak Nara Nara sedikit menjauh, tidak mau dipeluk seperti itu di depan umum.”Kan aku udah bilang, aku bisa sendiri.” “Sebagai orangtua, Daddy harus memastikan semuanya aman. Kalau semuanya udah beres, Daddy bakalan langsung pergi. Yuk, nanti telat!” Saka menarik tangan Nara menuju gedung utama,pusat administrasi. Nara pasrah saja, Saka yang mengurusi semuanya sampai beres. “Sudah, sekarang kamu lihat jadwal kuliah kamu sana. Kamu udah tahu kelasnya apa, kan?”kata Saka setelah mereka selesai, dan kini hendak melihat papan pengumuman dimana jadwal kuliah ditempelkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD