Bab 11

1205 Words
“Iya, Dad.” Nara berjalan di sebelah Saka, kemudian langkah mereka berhenti di depan sebuah papan besar. “Mana catatan kamu, dicatat yang bener,”kata Saka. Nara membuka tas, mengambil ponselnya dan memotret semua jadwal, kemudian ia tersenyum pada Saka.”Sudah jaman canggih, Dad, nggak perku dicatat. Cukup difoto aja.” “Ah ...dasar anak zaman sekarang!”gumam Saka.”Kamu ada jadwal kuliah hari ini nggak?” “Hmmm...kayaknya ada, siang nanti. Masih lama dong!”kata Nara. “Terus...mau Daddy antar pulang dulu, nggak? Daripada kelamaan nunggu.” Nara menggeleng cepat, aku mau di sini aja, Dad, lihat situasi kampus bagaimana. Nanti kalau kira-kira bosan ...aku bakalan pulang,”kata Nara. “Ya udah, Daddy berangkat kerja dulu. Belajar yang rajin.” Saka mengusap puncak kepala Saka,”oh ya...uang jajan kamu.” Diserahkannya tiga lembar uang seratus ribuan. “Makasih, Dad,”balas Nara dengan senyuman lebar, uang segitu terlalu banyak bila dibandingkan uang jajannya dulu, sewaktu tinggal dengan Nenek, tapi mungkin makanan di sini lebih mahal. “Dah!” Saka melambaikan tangan. Nara membalas lambaian tangan Saka, kemudian membalikkan badannya dan menabrak seseorang yang ada di belakangnya. “Sorry!”kata orang itu. “Nggak apa-apa,”balas Nara yang kemudian tersenyum dan langsung pergi. “Padahal dia yang nabrak, kok kau yang 'sorry'?” Nada terkekeh. “Cantik soalnya,”balas Bian sambil tersenyum penuh arti, tatapannya tak lepas dari Nara yang kini berkeliling kampus barunya. Nara berjalan mengelilingi Fakultas dimana ia akan belajar nanti. Ia juga mencari kelas yang akan ia ikuti nanti pukul dua. Setelah ketemu, ia kembali berkeliling, tidak ada yang ia kenal di sini, mungkin nanti, ketika kelas sudah dimulai. Hari mulai siang, Nara lapar, ia mencari letak kantin. Untunglah belum terlalu ramai, jadi, ia bisa memesan makanan dan minum denhan santai, lalu memilih tempat yang agak di sudut. “Hai!” Seseorang datang saat Nara menelan suapan ketujuhnya. “Hai?” Nara menatap orang di hadapannya dengan heran. “Aku nggak pernah lihat kamu di sini sebelumnya...” Orang tersebut duduk di hadapan Nara. “Oh iya, aku anak baru...memangnya kelihatan banget aku anak barunya, ya? Bisa aja kan aku anak dari jurusan lain,”balas Nara heran. “Iya bisa, sih.” Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal.”Tapi, rata-rata aku hapal sih wajah-wajah penghuni lama di sini.” “Oh gitu...” “Oh ya, kenalin...Bian.” Bian mengulurkan tangannya. Gadis itu meletakkan sendoknya.”Nara,”balas Nara.”Kamu jurusan apa?” “Fotografi,”balas Bian.”Kalau kamu?” “Desain interior...nanti jam dua aku ada kelas.” “Sudah tahu dimana kelasnya? Mau kubantuin nyari?” Bian menawarkan. “Sudah tahu kok, tadi sempat keliling sini, akhirnya dapat juga.”Nara tersenyum senang karena mendapat teman pertamanya. “Karena kamu lagi makan, aku ikutan makan di sini juga boleh nggak?” “Silakan!” “Oke...aku pesan dulu ya.” Bian beranjak dari kursinya, setelah lima menit, ia kembali membawa makan siangnya. “Kamu tinggal dimana, Nara? Baru pindah juga dari kota lain? Atau pindah kampus aja?” Bian mulai makan. Nara hanya tersenyum, ia masih keberatan untuk menjawab pertanyaan seperti itu, menurutnya sebaiknya tidak dipertanyakan.”Aku tinggal di dekat sini juga kok.” “Oh...” Bian mengangguk-angguk saja. Setelah itu keduanya terdiam, Nara juga tidak terbiasa bicara dengan lawan jenis, ia tidak pernah pacaran sebelumnya karena sang Nenek melarang. Tapi, memang menurutnya pacaran tidak begitu penting, buang-buang waktu dan energi. Lebih banyak yang tidak baiknya, ketimbang manfaat yang bisa kita dapatkan. Contoh, salah satu temannya bahkan ada yang pernah sampai tidak masuk sekolah, karena telat bangun, semalaman ia menangis habis diputuskan sang pacar. “Bian, kucariin juga!” Nada menepuk pundak Bian dengan keras, orang tersebut nyaris tersedak. “Apaan sih, lagi makan juga,”omelnya. Nada terkekeh, kemudian dia tersenyum pada Nara.”Hai...!” “Hai...” “Nara, ini Nada, sepupuku,”kata Bian memperkenalkan Nada. Nada mengulurkan tangannya dengan ramah pada Nara.”Nada.” “Nara...” “Kita kayak anak kembar aja ya, Nada dan Nara.” Gadis itu terkekeh.”Kamu anak baru kan?” “Iya, baru masuk hari ini.” Nada mengangguk-angguk, sedikit heran karena semester genap ini dimulai tiga minggu lalu, Bahkan mereka sudah memiliki tugas-tugas dari dosen, tapi, Nara bisa mulai masuk hari ini. Ia jadi penasaran siapa Nara sebenarnya sampai bisa masuk dengan cara yang mudah di kampus ini. “Kamu jurusan apa, Nar?” “Desain Interior.” “Wah, sama!” Nada membelalakkan matanya tak percaya.”Semester berapa?” “Empat.” “Kelas apa?” “Kelas A,”balas Nara lagi Nada bertepuk tangan.”Wah...wah, kita satu kelas dong.” “Oh ya? Nanti ada kelas kan jam dua?” Nara memastikan. “Iya ada. Nanti kita barengan aja,”kata Nada bersemangat. “Mau dong...satu kelas juga,”kata Bian yang sedari tadi hanya bisa diam karena dua wanita di sekitarnya asyik ngobrol sendiri. “Halah, nggak usah sok ikut-ikutan. Modus!”cibir Nada. “Kamu nggak makan, Nad?”tanya Nara. Nada menggeleng.”Aku udah makan tadi. Lanjut aja makannya, habis ini kita bareng ya ke kelasnya. Duh seneng dapat temen baru.” “Syukurlah, jadi, nggak nguntititin aku kemana-mana,”sahut Bian yang dibalas dengan pukulan keras di lengannya oleh Nada. Nara tersenyum melihat tingkah keduanya, ia pikir akan sulit menemukan teman baru di sini karena ia sendiri adalah anak anti sosial, bukan karena ia tidak suka bergaul, hanya saja ia mudah merasa lelah berada di keramaian. “Udah selesai, ya? Yuk!” Nada mengajak Nara. “Oke.” “Eh, Nara...” Bian menghentikan Nara. “Kenapa? “Boleh minta kontaknya nggak?”tanya Bian memberanikan diri. Nara mengambil ponselnya,”eh mati nih,”katanya sambil menunjukkan ponselnya. “Ya udah catat di sini aja,”kata Bian menyodorkan ponselnya. “Oke.” Nara mengetikkan sejumlah angka dan mengembalikan pada Bian. “Makasih, ya, nanti kuchat.” Bian mengedipkan sebelah matanya. “Ya udah kami masuk dulu. Dahh!” Nada menarik tangan Nara. Saka turun dari mobilnya, lalu masuk ke dalam gedung. Ia baru saja selesai makan siang. Kemudian ia teringat dengan Nara, apa yang sedang dilakukan anak gadisnya itu. Sambil terus berjalan ke ruangannya, Saka menghubungi Nara, tapi,nomornya tidak aktif. Pria itu mengerutkan keningnya, mencoba menghubungi lagi, tapi, sayang sekali, hasilnya tetap sama, tidak aktif. Saka mengembuskan napas berat, tidak seharusnya ini terjadi di saat seperti ini. Ini hari pertama Nara, ia takut terjadi apa-apa. Ia melirik jam tangannya, sudah setengah dua, setengah jam lagi Nara masuk kelas, dan setengah jam lagi juga ia harus meeting. Jika ia menuju kampus Nara sekarang, mungkin tidak sempat. Ia jarus bersabar sampai meeting selesai, lalu menghubungi telepon di apartemen, jika Nara di rumah, pasti dia akan mengangkatnya.   **   Saka keluar dari kantornya sambil menelpon ke telepon di apartemen. Berkali-kali nada hubung terdengar tapi tidak ada yang mengangkat. Saka melihat jam tangannya sudah pukul lima sore. Pria itu mendengus, kemana anak gadisnya itu bahkan sampai sekarang ponselnya pun nggak aktif. Saka segera pulang, mungkin saja Nara ketiduran. Tapi, begitu sampai di rumah, tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD