Setelah selesai mengambil obat dibagian farmasi rumah sakit ternama dibilangan barat wilayah Bekasi, Jelita dan Wira berniat kembali ke apartemen yang ditempati Jelita dan ibunya.
"Sudah pahamkan apa yang sudah diperintah dokter? Kamu tidak bisa sembarangan menjaga kesehatanmu," ucapan pemecah kebekuan dari Wira. "Jangan egois, kalau ini sudah menyangkut kehamilanmu."
"Baik, Pak."
Selama perjalanan dari berangkat sampai kembali ini, percakapan inilah awal dari kedekatan penuh keterpaksaan keduanya.
Suasana kembali hening, Jelita membuang muka keluar dengan menggigit bibir bawahnya, sedangkan Wira memainkan setir mobil MPV-nya ini dengan menepuk-nepuknya seolah sedang mengikuti alunan musik.
"Satu hal lagi." Wira memulai lagi, meskipun masih saja terjadi kekikukan diantara keduanya.
"Iya, Pak?" Sedikit saja Jelita menoleh, itupun hanya sekedar menghormati Wira.
"Laporkan saja setiap keluhan atau semua hal yang kamu butuhkan, selama proses kehamilanmu ini. Mengerti?"
"Iya, saya mengerti."
"Apa kamu...begitu membenciku?"
Deg.
Jelita pegang tali tasnya lebih erat. Sekarang benar-benar merasakan dampak dari ucapannya sendiri saat beradu argumen dengan ibunya tadi.
Kesengajaan agar Wira juga mendengarkan, dan sekarang harus Jelita pertanggungjawabkan didepan orang yang dia maksudkan.
"Saya tidak bermaksud seperti itu."
"Lalu seperti apa?"
"Saya tidak bermaksud--" Jelita berhenti berucap, sangat sulit sekali bila benar-benar harus berbicara dengan Wira secara langsung seperti ini.
"Tapi kamu jelas-jelas tadi itu kamu tujukan padaku!"
Tanggapan keras Wira ini, hanya bisa buat Jelita terdiam.
"Ingat. Lain kali jangan bicara sembarangan soal diriku, karena kamu belum sepenuhnya mengenalku. Camkan itu!" Wira tancapkan kearogansiannya
"Iya, Pak. Maafkan atas kelancangan saya."
"Hmm. Kali ini kumaafkan, tapi jangan ulangi lagi."
"Baik."
Wira menoleh sekilas pada Jelita. Tak diketahui Jelita, kalau Wira seringkali diam-diam memperhatikannya.
"Jadi, kamu belum pernah berpacaran?" Wira beralih pada topik bahasan lain, berupa kesimpulan setelah mengetahui soal keadaan Jelita yang masih perawan.
"Belum, Pak," sahut Jelita dengan gelengan kepala.
"Para pria itu? Aku seringkali melihatmu bersama pegawai-pegawai laki-laki secara bergantian, jadi kukira diantara mereka adalah pacarmu."
"Bukan, Pak. Mereka hanya saya anggap sebagai teman biasa."
"Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Wira selanjutnya.
"Ehm...tidak pernah."
"Bohong!" tanggapan lantang Wira yang mengagetkan Jelita.
"Maaf?"
"Tidak mungkin bila melihat situasimu dengan para pria itu, kamu tidak tertarik atau berniat memilih salah satu dari para pria itu." Wira percaya diri akan penilaiannya.
"Karena diantara para pria itu tidak ada yang seperti ayah."
"Mendiang ayahmu?"
"Iya. Hati dan cinta saya masih milik ayah, dan tidak akan saya berikan pada pria manapun, sampai figur ayah itu saya temukan padanya."
Wira tertampar dengan jawaban dan pemikiran dari Jelita ini. Memang benar dugaannya, Jelita sangat berbeda dengan para wanita pemujanya.
Para wanita itu akan dengan suka rela memberikan tubuh untuknya, hanya karena inginkan status dan kekayaan yang ia miliki.
Berbeda dengan Jelita yang mencari cinta dengan menyapadankan dengan ayahnya, Wira justru berusaha mengesampingkan perasaan cinta itu karena pernah sakit hati akan pengkhiatan sang mantan kekasih.
Tak ada lagi obrolan setelahnya. Baik Wira maupun Jelita kembali ke sikap secara profesional antara atasan dan pegawai mereka seperti sedia kala.
"Saya titip kesehatan kehamilan Jelita, Nyonya," pinta Wira sekaligus berpamitan. Kedatangannya ke Bekasi ini, memang hanya dijadwalkan sebentar saja, hanya untuk memastikan Jelita dan Sarah dalam keadaan baik-baik saja.
"Baik, Pak," sahut Sarah didepan pintu, bersiap menutup setelah Wira pergi.
Wira sempatkan menatap Jelita yang selalu merunduk ketika posisinya berhadapan dengannya.
"Selamat siang," pamit Wira dingin, lalu berlalu menuju parkiran, tanpa menoleh lagi ke belakang.
Bukannya segera melajukan mobilnya, Wira sengaja rehat sejenak, sembari menatap ke arah balkon dari unit apartemen miliknya itu.
"Pria seperti ayahmu?" gumamnya, mengingat ucapan Jelita. "Aku jadi penasaran," lanjutnya, sebelum akhirnya melajukan mobilnya dengan pikiran yang masih tertinggal.
Wira masih tak habis pikir dengan dirinya. Kenapa selalu saja sulit melupakan Jelita begitu saja. Walaupun sudah mengetahui, kalau istri kontraknya itu sangat membencinya.
Secara spontan, diambil ponsel yang diletakkan di dashboard, diabaikan setiap notifikasi panggilan dan pesan lain yang masuk, hanya untuk menghubungi Jelita.
"Iya, Pak?" sambut Jelita diujung telpon, datar.
"Aku lupa, surat kontrak pernikahan kita sudah selesai, tinggal kamu tanda tangani nanti setelah ritual didepan pengacaraku dilakukan. Kamu paham?" Kebiasaan memberi perintah Wira pada tiap pegawainya, berlaku juga pada Jelita.
"Paham, Pak."
"Ehm..." Wira mencoba mencari bahan pembacaraan lagi. "Aku maunya minggu depan."
"Baik, Pak."
"Terus...ehm..." Wira mendadak jadi gugup. "Cari sendiri gaun pengantin yang kamu mau."
"Apa perlu memakai pakaian seperti itu, Pak? Tamu undangan saja tidak ada, kan?"
"Eh iya, kamu benar. Jadi, kamu tidak mau pakai gaun pengantin? Bukankah ini akan jadi pernikahan pertama buatmu? Biasa, para gadis akan membuatnya jadi momen spesial."
"Ehm...kemungkinan tidak. Saya ingin memakai pakaian resmi saja seperti ke kantor."
Kedua alis Wira hampir bertaut. Entah kenapa, keputusan Jelita ini langsung menyinggung perasaannya, seperti telah meremehkan dirinya yang punya segalanya, sehingga membuatnya mengeluarkan keputusan yang tidak akan dia biarkan Jelita patahkan.
"Cari gaun pengantin seperti yang kamu mau, dan aku yang akan membayarnya, berapapun harganya!"
"Tapi, Pak. Ini hanya formalitas saja, dan saya rasa--"
"Tidak ada alasan lagi, apapun itu. Segera lakukan sekarang juga, dan jangan membantah!"