Wina Menemui Jelita

865 Words
Sehari setelahnya, Wina segera lancarkan aksinya untuk melaksakan apa yang sudah ia rencanakan. Meskipun tanpa persetujuan Wira sepenuhnya, tapi dengan kesan buruk pada Jelita, bahkan sebelum mengenalnya, Wina putuskan menemui Jessica, tampa sepengetahuan Wira. "Apa yang Kakak Wina bilang ini serius, kan?" terkejutnya Jessica, sampai-sampai ternganga, dan terus memegangi dadanya, karena berita yang diberikan Wina sungguh mengejutkan, sekaligus menyakitkan. "Tentu saja aku serius, Jess. Masa aku berani bohong sama kamu, sih?" sahut Wina lantang. Ada nada ketidakterimaan dari jawabannya. "Iya aku percaya. Memang malam saat aku ke apartemen Wira, aku melihat sendiri wanita nggak tahu diri itu." Tatapan Jessica memicing, kedua tangannya mencengkeram, seolah ingin melukai Jelita, bilaman gadis itu didekatnya saat ini. "Tapikan itu juga atas andil kesalahanmu, Jess. Jadi menurutku, kamu harus all out, lakukan segala cara apapun, agar bisa menyingkirkan gadis itu, dan merebut hati Wira untuk lanjutkan pernikahan kalian." Jessica mengambil cangkir kopi dihadapannya, lalu diangkat setinggi pandangan untuk memulai suatu kesepakatan. "Baiklah. Aku akan jadi partnermu untuk itu, dan cepat katakan padaku, apa yang kau inginkan? Agar tidak katakan kalau aku menaruh bubuk obat perangsang diminuman Wira pada kedua orang tuaku." Jessica tahu siapa itu Wina, yang mempunyai karakter tidak jauh beda dengannya. Mereka berdua sama-sama posesif bilamana sudah menjatuhkan pilihan pada seorang pria, tanpa peduli orang tersebut baik ataukah tidak, bagi mereka adalah sebuah gengsi dan harga diri akan nilai kepemilikan. Wina tersenyum, semakin mengakui kalau Jessica bukanlah wanita yang bodoh. Keinginan tersembunyi dirinya, ternyata bisa dengan mudah dibaca oleh Jessica. "Kamu memang hebat, Jess," ucap Wina, lalu mengikuti gerakan Jessica, sehingga 2 cangkir mereka yang hampir bersentuhan. "Kamu seperti bisa membaca pikiranku." "Aku sudah sering bertemu orang sepertimu, Kak. Kalau saja bukan karena aku sudah terlanjur jatuh cinta pada Wira, tentu aku tidak bersedia bekerjasama denganmu." Otak culas bertemu dengan jalan pikiran yang sam. "Ok. Sebenarnya aku memang menginginkan sesuatu, yaitu agar kamu selalu membantuku membuat Mario hanya mencintaiku, dan para wanita itu yang gila-gilaan menggodanya." "Hmm. Ternyata kamu juga cinta buta." "Yes, dan satu lagi." "Apa itu?" "Soal bisnis. Bisakah kamu berikanku satu proyek saja, agar aku tidak selalu jadi bahan lelucon karena putri pengusaha tapi tidak satupun torehkan prestasi yang bisa kasih kontribusi hasil kekayaan untuk perusahaan keluarga," permintaan sekaligus curhatan Wina. Jessica tersenyum smirk, Wina ternyata benar-benar seperti cerminan dan tidak jauh beda dengan dirinya. Dengan anggukan kepala, lalu dentingkan gelas kopinya pada milik Wina, Jessicapun berikan persetujuan. "Baiklah. Bukan hal kecil, tapi kalau sama-sama menguntungkan, tentu aku nggak akan menolak kesepakatan semacam ini. Deal!" Wina tersenyum puas, seraya menyahuti, "Deal!" *** Sedangkan Jelita, merasa kelelahan setelah pulang dari rumah sakit, untuk lakukan pemeriksaan kehamilan pertama kalinya. Dalam posisi tertidur, Sarah, sang ibu, membelai kepalanya, karena merasa perlu meluruskan sesuatu dengan keinginan tiba-tiba dari putrinya ini. "Cari kerja? Apa kamu sudah memikirkannya dengan baik-baik?" tanya Sarah memulai obrolan. "Iya, Ma," sahut Jelita menerawang. "Mama sudah dengar sendiri, kan apa kata dokter tadi. Selain menanyakan suamiku mana, dokter juga bilang kalau aku nggak boleh hanya berdiam diri saja, harus bergerak." "Tapi kan Pak Wira sudah beri kamu uang yang untuk ukuran kita sudah sangat berlebih?" "Pak Wira cuma berikan uang 1 miliar itu, tapi ternyata tidak beri uang bulanan." "Bagaimana kamu tahu?" "Aku sudah dikirimin surat kontrak pernikahan itu, Ma. Minggu depan acara penandatanganan akan dilakukan didepan pengacaranya. Mama tahu apa akibatnya itu?" "Apa itu?" "Itu artinya, aku hanya seperti baby maker, Ma. Aku hanya wanita yang dititipkan benih, tapi akan diusir kalau anak ini sudah ku lahirkan." "Jadi, anak ini akan diambil Pak Wira, lalu kamu tidak boleh mengurus dan menganggap dia anakmu?" Jantung Sarah berdegup kencang. Rasa sakit itu sudah terasa, meskipun belum kejadian. Jelita anggukkan kepala membenarkan. "Iya, Ma. Jadi rencanaku mencari kerja ini, agar saat anak ini lahir, aku akan membawanya pergi. Uang dari Pak Wira itu, sebagian besar akan aku gunakan untuk kita dan masa depannya, untuk beli rumah, dan semua yang kita butuhkan asalkan kita bisa melarikan diri." "Kenapa nggak kamu lakukan sekarang saja?" cetus Sarah. "Jangan, Ma. Masih terlalu riskan, karena kita terlanjur mengikuti keinginan Pak Wira, dan kita belum tahu banyak kota Bekasi sini. Sambil memikirkan langkah selanjutnya, untuk sementara ini, kita disini saja dulu." Sarah jadi ikut menerawang, membayangkan kenyataan yang begitu pahit untuk putrinya ini. "Jelita. Kalau kamu cari kerja, Mama juga harus melakukan hal yang sama juga. Mama kira, Pak Wira itu pria baik, meskipun terlihat dingin, tapi ternyata tega dan jahat seperti penampakan ekspresinya itu." "Berarti mulai besok kita sama-sama cari kerja. Kita nggak bisa terlalu berpangku tangan pada Pak Wira dan uang pemberiannya, Ma." "Iya, kamu benar. Mama akan tanya-tanya orang apartemen sini, seperti tukang bersih-bersih itu, kali saja ada kenalan yang butuh tukang masak kayak Mama." Tekad Sarah dan Jelita ini begitu menggebu. Hampir satu mingguan saling mencari pekerjaan, akhirnya Sarahlah yang terlebih dulu mendapatkan pekerjaan sebagai koki di sebuah rumah makan, sehingga Jelita harus berada di apartemen tersebut seorang diri. Bel berbunyi, Jelita segera melangkah ke arah pintu dan membuka, namun rantai kuncinya masih terpasang. "Iya? Siapa ya?" tanyanya pada seorang wanita cantik yanh tidak dikenalnya ini. Pintu baru terbuka setengah, tapi Jelita pastikan kalau wanita tersebut datang seorang diri. "Hai. Kamu pasti Jelita. Aku kakaknya Wira. Aku ingin bicara denganmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD