Chris bergerak di atas Alesha yang mengerang kecil saat tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Chris. Entah bagaimana saat ini dirinya bersama dengan suaminya di dalam kamar Chris. Chris yang sedari tadi menciumi lehernya hingga Alesha menggeliat dan mengerang seakan tidak sabar untuk segera melepaskan gaun tipis bahan sutra yang dikenakan Alesha.
“Kamu menggodaku, Alesha.” bisik Chris di telinga Alesha.
“Aku tidak pernah menggodamu.”
Alesha mendengar Chris menggumamkan sesuatu yang kasar dan kuat dalam bahasa Spanyol.
“Kamu membuatku gila!” Chris melepas kemejanya dengan gerakan tergesa-gesa.
Chris bisa merasakan kendali dirinya lepas.
“Lakukan, Chris.” tekanan pada permohonan Alesha membuat Chris tidak ingin membuang waktu.
“Kamu mau?” tanya Chris.
Alesha mengangguk. “Aku milikmu.”
“Oke, kita lakukan malam ini di kamarku.”
Namun sebelum Chris melepas celananya, seorang wanita cantik dengan rambut merah membuka kamarnya.
“Chris!” pekiknya mengejutkan Chris dan Alesha.
Chris menggumamkan nama wanita itu dengan tidak jelas. Wanita itu berlari sembari menangis dan Chris mengejarnya. Dia mengabaikan Alesha yang sudah siap. Alesha seketika merasa terabaikan dan bingung.
Dia menyusul Chris yang menghilang entah kemana bersama menghilangnya wanita itu. Alesha terjatuh di tangga. Dia merasakan kesakitan pada tubuhnya saat tubuhnya jatuh menuruni tangga.
Alesha membuka matanya lebar. Dia dengan gerakan mirip robot memutar matanya ke kanan dan ke kiri. Menyentuh lengannya dan memperhatikan baju yang dikenakan dan tempat dimana dia sekarang berada.
“Mimpi?” gumamnya tidak percaya dengan apa yang dirasakannya hanyalah mimpi.
“Ini hanya mimpi?” gumamnya lagi kurang yakin.
“Mimpi macam apa itu? Astaga...” Alesha memiringkan tubuhnya dan memeluk bantal guling.
Tiga puluh menit kemudian, Alesha dan Chris berada di meja makan. Mereka melahap sarapannya dengan tidak berselera. Bukan karena tidak enak tapi Alesha masih memikirkan mimpinya dan Chris—hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang ada di pikirannya.
Alesha ingin mengutarakan mimpi panasnya sekaligus mimpi anehnya itu kepada Chris. Tapi apakah dengan menceritakan mimpi itu Chris akan menganggap kalau Alesha menginginkannya meskipun tidak bisa dipungkiri juga.
“Chris, tadi malam aku mimpi ada di atas ranjang bersamamu.”
“Chris, aku mimpi kamu, lho, hot banget deh!”
“Tahu tidak, aku bermimpi kita berdua panas-panasan.”
Alesha menggeleng, menghempaskan kalimat-kalimat ngawurnya yang mungkin malah menjatuhkan harga dirinya di depan Chris.
“Sepertinya, malam ini aku pulang malam di atas jam dua belas.”
“Kenapa?” tanya Alesha dengan nada mendesak.
Chris menatapnya aneh.
“Maksudku—apa ada hal penting di kantor?” Alesha tidak tahu kenapa dia malah tidak ingin Chris lembur di kantor.
“Tidak. Aku ada urusan lain.” jawab Chris ringan.
“Oh,” Alesha kembali memfokuskan diri pada makanan.
“Kalau mau keluar kemana-mana panggil Dave, Jack dan Oliver. Dan kalau ada orang asing datang ke rumah segera hubungi aku. Jangan ijinkan Leon dan Kathlyn masuk rumah. Bilang saja pada Naomi kalau aku dan kamu sedang berada di luar.” Pesan-pesan yang diluncurkan kedua daun bibir Chris membuat Alesha bingung.
“Kenapa sih? Leon kan temanmu.”
“Kamu tidak mengerti, Alesha.”
“Bagaimana mau mengerti kalau kamu saja tidak memberitahu.” Kalimat itu terasa cerdas bagi Alesha sendiri.
“Turuti saja kataku.” Chris selalu bersikap otoriter.
“Oh ya, hari ini aku mau keluar dengan sahabat-sahabatku boleh kan?”
“Boleh, tapi bawa Dave, Jack dan Oliver.”
“Ya, oke.” sahut Alesha.
“Aku—“ Chris membiarkan kalimatnya menggantung.
“Apa?”
“Semalam aku mimpi aneh.”
Pernyataan Chris seakan menyadarkan sesuatu dalam diri Alesha.
“Mimpi apa?” tanya Alesha penasaran.
“Aku lupa tapi mimpinya agak aneh. Ada kamu di sana.” Chris mencoba mengingat-ngingat mimpinya.
“Mimpi di atas ranjang bersamaku tidak?”
Chris langsung memusatkan tatapannya pada Alesha dengan dahi mengernyit heran. Pertanyaan macam apa itu?
***
Meskipun sekarang Alesha sedang bersama sahabat-sahabatnya yang tertimpa sedikit ujian hidup dan mereka tentu saja kegirangan dengan barang-barang pemberian Alesha tapi, Alesah merasa sepi. Dia menyesali pertanyaannya pada Chris pagi itu.
Mimpi di atas ranjang bersamaku tidak?
Itu pertanyaan paling menjijikan yang pernah diluncurkan kedua daun bibirnya pada seorang pria. Lebih menjijikan daripada bertanya, apa kamu melihat jempol kakiku yang besar?
Kenapa otaknya menyamakan mimpinya dan mimpi Chris. Chris saja lupa tentang mimipinya bersama Alesha dan mimpi itu kata Chris aneh. Sudah tentu berbeda dengan mimpi Alesha yang menggairahkan kan meskipun belum mencapai puncaknya tapi tetap saja mimpi bersama Chris adalah mimpi pertama yang begitu sensual yang diingat Alesha tentang mimpinya bersama seorang pria.
Dave, Jack dan Oliver hanya berdiri di belakang Alesha sambil mengamati teman-teman Alesha yang wajahnya seperti diberi cahaya lampu neon. Menyala tapi tidak terang benderang.
Amy yang peka menyenggol lengan Clara dan menunjuk Alesha yang bertopang dagu dengan matanya.
“Alesha, kamu kenapa?” tanya Clara yang tidak bisa membendung pertanyaannya. Pengangguran kelas kakap ini memiliki hobi menghabiskan waktu di klub malam dan suka mengenakan pakaian seksi.
Clara selalu menjadi pusat perhatian mata lelaki meskipun wajahnya biasa saja tapi tubuhnya lumayan molek. Berbeda dengan Alesha, Clara menarik nyaris semua lelaki. Tapi hanya sebatas tertarik sedangkan Alesha tentu saja hanya laki-laki yang tidak menilai perempuan dari keseksiannya. Malah kebanyakan yang menyukai Alesha adalah pria-pria introver.
“Tidak. Aku tidak apa.” Alesha meniup poni rambutnya yang mulai memanjang.
“Kamu yakin, Alesha? Sepertinya ada masalah—“ terka Joe.
Alesha menggeleng. “Aku hanya bertengkar kecil dengan Chris. Itu saja—“
“Karena kamu membelikan kami barang-barang ini?” tanya Amy takut-takut.
Alesha menggeleng. “Bukan—aku terlambat menyediakannya air hangat untuk mandi.” Dusta Alesha. Oke, dia sudah berbohong kedua kali. Pagi ini tidak ada pertengkaran dengan Chris dan tidak ada keterlambatan menyediakan air hangat untuk Chris mandi.
“Chris selain over protektif juga galak ya,” canda Clara.
“Hahaha!” Amy terbahak. “Bayangkan saat Chris b*******h pada Alesha di malam hari tapi Alesha menolaknya dan Chris marah—“ Joe membungkam mulut Amy.
“Tutup mulutmu, Amy!” Joe menegur Amy dengan galak.
Amy memberengut kesal. “Aku hanya mengatakan apa yang aku bayangkan.”
“Simpan imajinasi liarmu untuk dirimu sendiri.” kata Joe masih galak.
“So, apa yang akan kita lakukan dengan para bodyguarmu itu, Alesha?” Clara bertanya menatap para bodyguard satu per satu secara bergantian.
Clara membisikkan sesuatu pada Alesha.“Aku ingin kita menghabiskan malam ini di klub malam waktu kita kuliah dulu dan mereka tidak boleh ikut. Sekali-kali buat Chris khawatir padamu.”
Alesha tersenyum senang mendengar ide Clara. Toh, Chris juga akan lembur kan malam ini. Dan lagi, Chris belum tentu mengkhawatirkannya. Ada Naomi dan para pelayan di sana.
“Bagaimana?” tanya Clara pada Alesha.
“Idemu selalu seru.” Alesha mengedipkan mata pada Clara.
Amy mengangkat dagu sekan bertanya ‘apa?’ pada Clara dan Alesha.
Mereka mementingkan kesenangan mereka sendiri tanpa tahu alasan sebenarnya Chris menyewa ketiga bodyguard demi bisa melindungi Alesha. Dan Alesha yang tidak tahu apa pun soal Chris, Natalia dan Damian menganggap ide Amy hanyalah hiburan semata.
“Chris malam ini pulang malam.” kata Alesha memberitahu.
“Banyak pekerjaan ya di kantor?” tanya Joe yang mencoba berpikir positif.
“’Sepertinya sih begitu,” sahut Alesha.
Alesha bangkit dari kursi kayu kafe. “Aku mau ke toilet dulu ya.”
Ketika Alesha menuju wastafel dia bertemu dengan wanita yang menjadi alasan Chris memeluk pinggannya dan bermesraan dengannya. Kathlyn. Wanita itu mengenakan blazzer navy yang di bagian belakangnya mengembang. Dia menatap Alesha dan seakan menyadari keberadaan Alesha. Bahkan dia tidak tampak kaget.
“Kathlyn,” sapa Alesha ramah.
“Halo, Alesha.” Senyum manis yang ganjil dari wajah Kathlyn membuat Alesha ngeri.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini.”
“Oh ya, malam ini Chris ada di rumah kan?” tanya Kathlyn.
“Emm—dia lembur di kantor.”
Sebelah sudut bibir Kath tertarik ke atas.
“Kenapa?”
Kathlyn menggeleng sembari menebarkan senyum misteriusnya menciptakan kecurigaan pada Alesha.
***