BAB 5

1357 Words
            Di sebuah klub malam favorit Damian, Leon dan Kathlyn terlihat di sana. Meminta salah satu anak buah Damian untuk mempertemukan mereka dengan Damian. Kathlyn tampak menikmati musik yang kalau Alesha ada di sana, dia pasti akan sesak napas dengan hentakan musik yang menurut Alesha menyiksa. Leon menyalakan pemantik api sembari menunggu Damian datang.             Damian datang mengenakan jaket kulit hitam. Mata gelapnya memancarkan kebencian ke segela arah. Semua orang takut pada Damian kecuali Christian Grey Dean. Pria itu bahkan membawa lari Natalia Smirnova—kekasih Damian. Sebenanrya Damian bisa saja bermain terang-terangan dengan mendatangi kantor Chris dan memukulnya habis-habisan dengan puluhan anak buahnya, tapi itu sama saja dengan cari mati. Karena polisi tentu akan mencarinya. Dan cara itu bukan cara para mafia membunuh musuhnya.             Leon melirik Kathlyn. Mantan kekasih Chris itu tersenyum dengan liciknya. Kathlyn dan Leon diajak ke lantai atas dimana musik tidak bisa menembus pendengaran mereka.             “Apa tujuan kalian?” tanya Damian tanpa basa-basi.             “Santai Damian, kita ke sini hanya untuk mengobrol santai saja.” jawab Kathlyn dengan senyum pemikatnya, Damian menyipitkan mata. Dia tentu saja tidak bodoh. Tidak mungkin Kathlyn dan Leon menemuinya hanya untuk mengobrol masalah makanan, minuman dan film kan?             “Kalian punya misi yang sama untuk menghancurkan Chris?”             Tidak ada jawaban dari Kathlyn dan Leon tapi ekspresi dan senyum mereka menjadi jawaban pasti pertanyaan Damian yang tidak perlu dijawab.             “Kamu pasti tahu kalau Chris sudah menikah kan? Dan dia tidak menikah dengan Natalia.”             Senyum kecut itu terlepas dari bibir Damian. “Semua orang tahu soal pernikahan Chris. Aku sudah menduganya kalau keluarga Chris tidak akan menerima Natalia sebagai calon istri Chris. Dan lagi, Natalia itu hanya wanita bodoh yang tidak tahu kalau Chris hanya mempermainkannya saja.”             “Tidak, Damian. Chris masih menyembunyikan Nat.” kata Kathlyn.             “Mungkin saat dia bosan pada istrinya dia bisa kembali pada Nat.”             “Tidak, Damian, kami mencurigai ada alasan tertentu Chris menikah dengan wanita lain. Chris akan meninggalkan Natalia kalau dia benar-benar menikah dengan Alesha dengan cinta. Maksudku, ini semacam perlindungan untuk Nat sehingga orang-orang tidak mencurigai kalau dia memiliki hubungan dengan Natalia.” Leon berspekulasi.             “Kamu kan temannya seharusnya kamu tahu bukan hanya menebak-nebak saja.” Damian mencemooh Leon.             “Tidak ada yang bisa tahu kedalaman hati Chris.” Leon membalas cemoohan Damian.             “Jadi, apa rencana kalian sehingga kalian menemuiku?”             “Aku tidak membenci Chris tapi aku menyukai istrinya—Alesha.” kata Leon yang seakan meminta bantuan Damian agar dia mendapatkan Alesha.             “Hahaha!” Damian terbahak.                                        “Hanya itu?” tanyanya ketika tawanya terhenti.             “Kami ingin bekerja sama untuk membuat hancur Chris. Membuat dia kehilangan Natalia dan Alesha.” Kathlyn berkata.             Damian menyeringai. “Ternyata kalian menginginkan kehancuran Christian Grey Dean.” ***             “Huaaaa! Aku sangat senang, Alesha. Kamu baik sekali. Betapa Chris memanjakanmu!” pekik Clara di seberang sana.             “Mau bagaimana lagi, kalian itu hidupnya kesusahan sekali. Apalagi kamu yang seorang pengangguran.” Kemudian Alesha terbahak.             “Hei, apa kamu sedang bersama Chris?” tanya Clara yang penasaran.             “Emm, Chris ada di kamarnya.”             “Di kamarnya?”             “Eh, maksudku, dia ada di—“ dan salah satu kekurangan Alesha adalah suka keceplosan. “Di sofa sedang menonton televisi. Ya, begitu.” Nada bicaranya mengandung keragu-raguan yang bisa diraba Clara.             “Alesha...” suara ketukan pintu menganggetkan Alesha dari keheningan antara dia dan Clara.             “Eh, itu, Chris. Sudah dulu ya, nanti kita sambung lagi. Dah!” Alesha mematikan ponselnya tanpa menunggu respons dari Clara.             Dia bernapas lega sekaligus agak takut karena Chris yang seharusnya sudah tidur di jam 12 malam malah mengetuk pintu kamarnya.             “Ya, ada apa?” Alesha membuka pintu mendapati wajah Chris yang terlihat agak tidak biasa. Lebih... lembut.             “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Malam ini kita berjalan-jalan sebentar saja.”             Ini pertama kalinya Chris memintanya menemani berjalan-jalan dengan ekspresi dan nada suara yang berbeda. Dia lebih hangat tapi kesenduan itu masih jelas ada di sana. Di wajah Chris.             “Memangnya kita mau kemana?”             “Hanya berjalan-jalan di sekitar rumah saja.” pandangan Chris tertuju pada gaun tidur yang dikenakan Alesha. “Ganti pakaianmu. Aku tunggu di bawah lima belas menit.” ***             Alesha mengenakan baju kasualnya dengan jeans dan kaus putih panjang dengan tambahan syal yang melilit lehernya. Chris mengenakan jaket kasual, kedua tangannya dibenamkan di saku jaket. Mereka berjalan melintasi jalanan yang sepi. Hanya satu-dua mobil yang lewat.             Chris tidak tahu memulai perbincangannya darimana tapi dia ingin Alesha tahu kalau dia—ada seorang wanita yang membutuhkannya. Mereka terus berjalan, Alesha mencuri pandang ke arah Chris yang otaknya dipenuhi kosa kata.             “Kalau cuma berjalan-jalan begini lebih baik kita tidur di rumah, Chris.” celetuk Alesha.             “Jangan protes. Anggap saja ini olahraga malam.”             “Eh—aku tidak suka olahraga apalagi di malam hari begini.”             “Jadi kamu mau kita pulang ke rumah?” Chris menghentikan langkahnya, menatap Alesha tajam seakan Alesha baru saja melakukan kesalahan.             “Yang mengajakku keluar malam-malam begini kan kamu.”             “Iya, tapi kan kamu tidak menolak.”             Chris heran sendiri di saat dia ingin mengatakan hal serius mengenai Natalia tapi malah Alesha besikap agak kekanak-kanakkan.             Chris memutar bola matanya mencoba menahan diri.             Sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Chris menyipitkan mata. Mobil itu tidak asing. Itu mobil milik Leon. Suatu kebetulan yang sama sekali tidak disukai Chris.             Kathlyn muncul dari mobil disusul Leon.             “Wah, kalian mau kemana?” tanya Kathlyn dengan senyum semringah yang dikenal Chris. Dia tahu watak Kathlyn dan Chris tidak ingin Kathlyn mengacaukan mood yang dibangun untuk membicarakan soal Natalia pada Alesha.             “Butuh tumpangan, Chris?” kali ini Leon yang berbicara.             “Tidak, kami hanya ingin menikmati malam dengan berjalan berduaan saja tanpa gangguan dari orang lain.” Chris meraih punggung Alesha dan meremasnya erat hingga Alesha membelalak. Sentuhan tangan Chris seakan memberi ribuan volt listrik yang mengalir ke darahnya.             “Ow, romantis sekali!” Kathlyn tampak berlebihan menanggapi perkataan Chris. “Tapi, alangkah lebih baiknya kalau kalian ikut kami minum-minum. Di kedai langganan kita dulu, Chris. Kamu masih ingat?”             “Tidak, Kathlyn, terima kasih.” Chris menatap Alesha mengedipkan sebelah mata seakan meminta Alesha untuk menyetujui keinginannya.             Alesha tertawa kecil kemudian berkata, “Aku ingin menikmati malam bersama suamiku. Ma’af, tapi kami memang tidak bisa ikut dengan kalian.”              Alesha tersenyum sembari menatap Kathlyn dan Leon.             “Oh, sayang sekali ya, Leon.” kata Kathlyn dengan nada menyesal.             Leon mengangguk. “Mereka butuh waktu untuk berduaan. Masih dimabuk asmara.”             “Haha, pengantin baru memang begitu. Ya sudah, selamat bersenang-senang ya. Kami pulang dulu.” Kathlyn punya ciri khas gerak tubuh yang lembek dan terkesan licik.             Kath dan Leon masuk ke dalam mobil.             “Sebenarnya aku ingin memanas-manasi Alesha tentang hubunganku dan Chris dulu. Tapi, Chris—“             “Chris tidak ingin mengingat hubungannya denganmu, Kathlyn.” celetuk Leon.             Kathlyn memberengut kesal dengan perkataan Leon meskipun itu memang benar. Dia menurunkan kaca mobil dan melambai pada Alesha yang membalas lambaian tangannya.             Setelah kepergian Leon dan Kathlyn, tangan Chris masih berada di punggung Alesha.             “Lepaskan punggungku, Chris.” pinta Alesha.             “Tidak.” jawab Chris singkat.             “Hah?” Alesha menatap Chris dengan tidak percaya. “Apa-apaan kamu ini. Lepaskan dong!” Chris tidak tahu apa yang dirasakan Alesha saat tangan pria itu berada di punggungnya. Dan Alesha ingin lepas dari ribuan volt listrik yang mengaliri darahnya.             “Ussttt!” jari telunjuk Chris menempel di bibir Alesha.             Wajah Chris begitu dekat dengan wajah Alesha hingga Alesha bisa merasakan embusan napas Chris.             “Mereka pasti masih mengawasi kita. Dan tolong ya, bersikaplah seakan-akan aku dan kamu adalah sepasang suami-istri sungguhan. Kath dan Leon tidak akan pergi begitu saja. Mereka akan menguntit kita.” bisik Chris.             “Terus kita mau kemana?”                        “Pulang lagi. Tapi kita harus berjalan dengan mesra.”             “Maksudmu?” Alesha bertanya hati-hati.             “Kamu kaku sekali saat tanganku di punggungmu. Tegang dan seperti robot. Aku tidak harus mengajarkanmu cara bermesraan kan? Kamu pernah bermesraan dengan pria kan, Alesha?”             Alesha terdiam dengan kedua daun bibir sedikit terbuka. Matanya menatap mata Chris.             “Aelsha—“             “Ya,” sahut Alesha rendah.             “Ayo kita pulang. Tanganmu dipunggungku dan tanganku di atas bahumu, oke?”             Alesha mengangguk. Dengan hati-hati dan sangat lambat saat sebelah lengan Chris menggelayuti bahunya, lengan Alesha sampai di punggung Chris.             “Pegang yang erat bukan mengambang seperti itu.”             “I-iya.” Alesha akhirnya memberanikan diri menggenggam erat punggung Chris.             “Kita akan terus berjalan sampai rumah seperti ini ya.”             “....”             Sesampainya mereka di rumah, Chris baru melepaskan tangannya di atas bahu Alesha. Ya ampun, pria itu tidak tahu perasaan panas-dingin Alesha saat mereka berjalan untuk sampai kembali di rumah dengan gerakan tangan Chris yang bergerak maju-mundur di bahu Alesha. Seperti sebuah belaian yang berhasil menciptakan setruman di tubuh Alesha hingga dia reflek menggerakkan bahunya agar tangan Chris berhenti bergerak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD