Malam hari, di kediaman keluarga pendiri perusahaan asing ternama – Reygold, seorang pemuda sibuk menata berkas-berkas yang ia bawa dari kantor tadi sore. Beberapa berkas itu merupakan berkas lamaran kerja milik tiga orang wanita yang lolos sampai ke tahap wawancara.
Tiga map berwarna coklat telah terpampang di depan mata Reno, sang Wakil Presiden Direktur Reygold Corp. Reno menghela nafas panjang. Ia ingin sekali pergi tidur karena anggota badannya sudah protes ingin diistirahatkan. Akan tetapi, berkas-berkas itu juga telah siap diperiksa olehnya.
“Baiklah. Aku akan periksa ini dulu baru tidur.”
Map pertama dibuka. Ia langsung bisa membaca nama yang tertera di berkas lamaran itu. Sofi Prita Ariska. “Boleh juga,” gumamnya.
Map kedua diambil dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan sibuk mengambil kopi yang terletak si meja sebelah kanan.
Sluurp! Bunyi yang dikeluarkan Reno saat menyeruput kopi hitamnya.
Dibukanya map coklat kedua yang berisi berkas lamaran Rayna. Lembar pertama ia baca. Sebuah nama wanita yang tidak asing baginya. Rayna Husna.
Dahi Reno berkerut. “Rayna?” lirihnya seraya mengingat nama itu. “Rayna... Rayna... Sepertinya nama itu tidak asing bagiku. Tapi... Di mana aku mendengar nama Rayna?”
Ingatan Reni lumayan buruk. 20 menit ia mengingat nama Rayna.
“Ah, itu...tidak perlu. Hanya tumpangan sebuah payung. Tidak perlu dipikirkan. Pakai saja. Hati-hati di jalan. Saya pamit.”
Tiba-tiba Reno ingat kata-kata itu. Mulutnya terbuka sedikit, ia melongo kemudian melihat berkas Rayna sekali lagi. Dilihatnya pas foto milik Rayna yang berada di bagian atas pojok kanan.
“Di, dia... Rayna?”
Ya, benar. Rayna yang memberikan tumpangan payung berharga untuknya adalah Rayna yang sama dengan yang melamar pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaannya. Ternyata dunia sesempit daun kelor, pikir Reno.
“Baiklah, Rayna. Kita akan bertemu besok pagi.” Seulas senyum menghiasi wajah tampan Reno yang ramah. Dia akan menunggu kedatangan Rayna di kantornya besok pagi.
.....
Hari ini merupakan hari yang penting bagi seorang Rayna Husna. Pasalnya, hari ini ia akan melakukan tes wawancara agar dapat diterima bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Reygold Corp. Sedari Subuh, Rayna sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan ibunya. Pagi ini, jam 9 nanti, dia harus sudah tiba di kantor perusahaan ternama itu.
“Mau masak apa, sih?” tanya Ibunya seraya membelai rambut panjang Rayna yang terurai lurus di punggungnya.
Rayna menoleh sedikit. “Rayna masak sop buntut, sambal tomat, tempe krispi, dan telur dadar, Bu.”
“Apakah perlu Ibu bantu?” tanya ibunya lagu.
“Tidak usah, Ibu...” Rayna mengambil telur dari tangan ibunya. Wanita paruh baya itu hendak membuat telur dadar demi membantu sang anak kesayangannya. “Rayna bisa sendiri kok, Bu. Ibu tunggu aja di kamar sambil nonton TV atau membaca Al Quran, mungkin...”
“Iya, deh...” Ibunya pun menuruti kemauan Rayna.
Dilihatnya wanita yang telah melahirkannya itu berjalan pelan, masuk ke dalam kamar yang berukuran cukup sempit. Rayna tidak ingin membuat ibunya susah, sedih atau apapun yang buruk terjadi pada wanita penyabar itu. Keluarga yang dimiliki Rayna hanya ibunya seorang, tidak ada sanak atau saudara yang berada sekota dengan mereka.
Dentang jam menunjukkan pukul enam pagi. Makanan yang dimasak Rayna sudah tersaji semua di atas meja makan berbentuk bundar dengan tiga kursi di sekelilingnya.
“Makanan sudah siap.” Rayna senang karena telah berhasil memasak makanan enak pagi itu. Ini bukan pertama kalinya ia memasak. Sebenarnya, gadis cantik itu tergolong gadis yang pandai memasak. Hanya saja, Rayna sering masuk kerja pagi hari. Jadi, jarang memiliki waktu luang untuk menyiapkan makanan.
Makanan sudah siap disantap. Sekarang saatnya Rayna memanggil ibunya di kamar.
Tot tok!
Rayna mengetuk pintu kamar ibunya pelan. “Ibu...”
“Ya... Oh, Rayna.” Ibunya yang semula pada posisi tidur miring ke kanan, kini telah bersiap berdiri. “Sudah selesai?”
“Sudah, kok, Bu. Ayo kita sarapan. Rayna harus bergegas untuk wawancara nanti.”
Ibunya tersenyum bangga melihat Rayna antusias melakukan tes wawancara itu.
“Ibu, doakan Rayna, ya. Supaya Rayna bisa bekerja di tempat itu. Jadi, ekonomi keluarga kita sedikit meningkat. Rayna janji akan bekerja dengan sangat rajin ketika memang benar-benar diterima.”
“Ibu selalu mendoakanmu, Nak. Apapun yang terbaik untukmu. Jangan lupa, berdoalah sebelum melakukan segala sesuatu. Supaya diridhoi Allah dan senantiasa dilindungi, ya.”
Rayna memegang kedua tangan ibunya. Meletakkan kedua telapak tangan kasar itu pada pipi kanan dan kirinya. “Rayna akan selalu berusaha membuat ibu bangga.”
.....
Pagi ini Rayna janjian lagi dengan teman karibnya, Sofi. Mereka berangkat menuju kantor perusahaan Reygold Corp bersama-sama. Kali ini warna kostum mereka berbeda. Keduanya memang memakai rok pendek sedikit di atas lutut. Tapi masih terlihat sopan dan tidak ketat.
Tiga orang calon sekretaris, tiga orang calon asisten manajer, dan tiga orang calon kepala staf umum telah berkumpul di sebuah ruangan berukuran besar. Ruangan itu biasanya dipakai untuk rapat pemegang saham atau rapat dengan investor.
Sudah sepuluh menit, 9 orang calon pegawai perusahaan Reygold Corp menunggu sang wakil presdir yang tidak lain adalah Reno. Pria paling tampan di perusahaan itu.
Beberapa orang memasuki ruangan dan mengambil tempat masing-masing sesuai tugas mereka. Kemudian di belakang mereka ada empat orang dalam satu rombongan. Rombongan itu dipimpin seorang pemuda berpostur tubuh jangkung dengan setelan jas dan celana berwarna hitam.
Ketika rombongan itu memasuki ruangan, semua orang yang ada di dalam langsung menundukkan pandangan mereka, tanda hormat pada sang pemimpin yang sudah hadir dalam acara wawancara staf baru.
Empat orang dalam rombongan itu telah mengambil tempat duduk yang telah disediakan.
Pak Anang bertugas membuka acara dan mengenalkan calon pegawai baru satu per satu ketika mereka akan dites via wawancara.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuh... Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Pagi ini, sesuai dengan rencana, kita akan melakukan tes wawancara untuk memilih satu orang sekretaris wakil presdir, satu orang asisten manajer, dan satu orang kepala staf umum. Ada 9 orang calon pegawai yang sudah hadir di ruangan ini. Untuk lebih menyingkat waktu, saya perkenalkan dulu para pimpinan yang akan mengetes kalian satu persatu.” Pak Anang berjalan mendekati meja pimpinan.
“Baiklah, kita mulai dari bapak-bapak yang duduk di sebelah kiri. Ada Pak Heri, manajer senior di perusahaan ini. Lalu yang paling kanan ada Pak Anam, Direktur Keuangan. Yang paling ditunggu-tunggu. Sosok yang sangat dihormati, Pak Reno, wakil Presdir perusahaan ini.”
Deg!
Rayna mendengar nama Reno ketika kepalanya tertunduk, melihat kakinya yang terasa sedikit kesemutan. Ia mengangkat kepala, melihat sosok pemuda yang tak asing di matanya. Ya, Reno. Ada Reno, seorang pemuda yang pernah minta tumpangan payung padanya. Rayna terkejut melihat Reno. Ternyata benar bahwa orang yang dilihatnya tempo hari adalah Reno yang sama dengan....
Rayna berusaha menyembunyikan ekspresi kagetnya agar tidak ketahuan.
Reno menyadari bahwa Rayna melihat dirinya dan berusaha menyembunyikan ekspresi itu darinya. Reno tersenyum kecil melihat eskpresi Rayna.
“Peserta pertama. Rayna Husna.”
Deg!
Ya Allah kenapa harus aku yang dipanggil pertama, pikir Rayna.
Rayna agak ragu maju ke depan dan duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia. Kursi di tengah ruangan itu seperti kursi terdakwa dalam sebuah persidangan pidana.
.....
Bersambung