Tiga hari berlalu. Rayna sudah mampu menjadi sekretaris yang diandalkan oleh Reno. Tetapi setiap Reno tidak ada di ruangannya, ia merasa takut dan cemas. Bagaimana jika ada seseorang menggodanya?
Ah tidak mungkin, pikir Rayna. Tidak mungkin ada yang seperti itu. Jika dirinya tidak berpakaian seksi maka tidak akan ada yang mengganggunya.
Kriiiing!
Rayna terlonjak kaget. Di saat dia sedang setengah melamun, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Reno tertulis jelas di layar ponselnya. Sejak kapan ia menyimpan nomor ponsel atasannya? Sejak kapan pula Reno tahu nomor ponselnya? Rayna semakin bingung.
Klik!
“Ya, halo, Pak Reno.”
“Na, tolong bawakan berkas ke ruang Direktur Tono. Aku akan menyusul ke sana.” Suara Reno terdengar jelas seakan pria itu ada di depan Rayna.
Direktur Tono? batin Rayna. “Baik, Pak. Saya segera antar berkasnya.”
Secepat mungkin Rayna mencari berkas yang ada di atas meja kerja Reno. Setelah ia mendapatkannya, Rayna terhenti sejenak. Tunggu, Direktur Tono bukannya yang seorang buaya itu? pikir Rayna. Tiba-tiba ia merinding dan takut pergi ke ruangan direktur itu. Tapi di sisi lain, Reno menyuruhnya ke sana. Bahkan dia mengatakan bahwa akan menyusul Rayna.
“Baiklah, tidak perlu takut.” Rayna bicara sendiri seakan menguatkan dirinya sendiri agar tidak takut pergi ke ruangan direktur buaya itu.
.....
Sesampainya di depan ruangan Direktur Tono, Rayna menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Reno.
“Dia bilang akan menyusulku. Sekarang mana batang hidungnya?” lirih Rayna kesal karena ia tidak melihat Reno di sana.
“Kau mencariku?” Reno bicara dari belakang Rayna dan mendekatkan mulutnya pada telinga kiri Rayna.
“Oh, astaga!” Rayna terlonjak kaget. Hampir saja jantungnya copot dari tempatnya. Ia mengelus dada dan menormalkan kembali detak jantungnya.
Bukannya simpati, Reno malah heran melihat Rayna. Dia tidak membentak gadis itu. Tidak juga berbicara dengan nada tinggi. Tapi Rayna nampak sangat kaget.
“Sini berkasnya.” Reno mengambil berkas yang dibawa Rayna begitu saja. Tak lama kemudian, ia membuka pintu ruang kerja Direktur Tono. Rayna pun mengekor di belakangnya.
Ceklek!
Knop pintu berhasil dibuka. Saat hendak menghampiri pria berusia 40-an itu, tiba-tiba Reno membalikkan badan dan menatap Rayna.
Rayna sontak kaget lagi. “A, ada apa, Pak?” tanya Rayna berbisik.
Reno menunjuk pada sebuah cermin yang memantulkan gambar si empunya ruangan. Terlihat lah bahwa Direktur Tono sedang melakukan sesuatu yang vulgar dengan sekretarisnya. Wanita yang menjadi selingkuhannya itu pun sangat menikmati permainan lidah Tono di area sensitifnya. Reno dan Rayna melihat kejadian itu dari cermin yang ada di ruangan Tono. Nampak wanita yang menjadi sekretarisnya itu membuka semua kancing kemejanya beserta bra. Sehingga buah dadanya terpampang nyata di depan mata sang buaya.
Rayna merasa malu melihat adegan itu. Ia menundukkan kepalanya, enggan melanjutkan kegiatan menonton adegan tak senonoh itu.
Reno mengetuk pintuk beberapa kali. Lalu dari cermin itu terlihat bahwa sang direktur dan sekretarisnya kaget. Mereka merapikan baju masing-masing agar nampak normal seperti biasa. Dalam hitungan puluhan detik, Reno masuk menghampiri dua insan yang baru saja melakukan adegan mesum.
“Wah, rupanya ada yang baru saja bersenang-senang,” kata Reno santai.
Bruuuk!
Ia menaruh berkas-berkas yang dibawa Rayna tadi, di atas meja kerja Tono. “Berkasmu sudah ku tanda tangani. Kapan-kapan kau harus mengajariku cara memuaskan wanita.”
Tak berselang lama, Reno pergi dari ruangan itu. Sedangkan Rayna masih mematung di depan pintu. Entah apa yang dipikirkan gadis itu ketika sang atasan sudah pergi dari ruangan itu, ia malah melamun di depan pintu.
Reno berdiri dengan jarak lima langkah dari Rayna. Ia menoleh ke arah sekretarisnya. “Sedang apa di sana? Kembali ke tempatmu!” perintahnya pada Rayna.
Sontak Rayna terkejut, lamunannya pun buyar. Ia berjalan menyusul Reno yang ada di depannya.
“Apa yang kau pikirkan, huh?” tanya Reno yang merasa heran melihat sekretarisnya bertingkah aneh. “Melamun setelah melihat adegan tadi?”
“I, itu... Anu... Ti, tidak. Bukan itu, Pak.”
Reno tertawa geli. Mungkin baru kali ini Rayna melihat adegan syur seperti tadi. “Lalu apa yang kau pikirkan?” tanya Reno santai, sebelum masuk ke ruangannya.
Mereka berdua berdiri di depan ruangan Reno. Pria itu penasaran sekali pada Rayna. Ia menduga bahwa Rayna melamun memikirkan kejadian yang dilihatnya tadi.
“Tidak semua petinggi perusahaan berbuat tak senonoh seperti itu. Bersyukurlah kau mendapatkan atasan sepertiku. Aku tidak berminat melakukan hal yang seperti tadi pada wanita yang bukan istriku. Itu namanya pelecehan seksual,” terang Reno. Otomatis hal itu membuat Rayna merasa lega.
Reno melihat perubahan ekspresi pada Rayna. “Tunggu! Jangan-jangan kamu tadi memikirkan hal yang seperti itu? Kamu mengira kalau aku seperti Direktur Tono?”
Rayna membelalakkan kedua bola mata indahnya. Bagaimana Reno bisa tahu bahwa dirinya sedang memikirkan hal itu? Dia bahkan tidak berani menanyakan hal itu pada Reno. Gadis itu tak bisa menjawab. Dia berdiri layaknya patung es yang telah membeku di depan Reno. Melihat eskpresi Rayna yang menurutnya lucu, membuat Reno tertawa terpingkal-pingkal.
“Jangan memikirkan hal-hal yang aneh. Tugasmu adalah bekerja. Jangan berkhayal. Tidak baik seperti itu,” kata Reno di sela-sela tawanya.
Rayna sedikit kesal pada Reno. Pada akhirnya, dia yang selalu dikerjai oleh atasannya itu.
“Polos sekali,” gumam Reno saat membuka pintu ruang kerjanya.
.....
Bekerja seharian membuat Rayna merasa seperti kerbau yang dipaksa membajak sawah selama dua hari. Badannya terasa pegal-pegal, matanya lelah karena harus menatap layar komputer selama beberapa jam. Meskipun diselingi istirahat. Suasana kantor malam itu cukup sepi. Ada beberapa karyawan yang sengaja kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi hanya satu atau dua orang yang melewati ruangan Reno.
Ceklek!
Suara pintu dibuka dari dalam. Rayna menoleh ke arah pintu itu. Benar saja, tak lama kemudian, Reno melangkahkan kakinya keluar dari pintu itu. Pakaiannya agak lusuh dan dia pun hanya memakai sandal, bukan sepatu pantofel seperti sebelumnya. Melihat sang atasan berpenampilan agak aneh tersebut membuat Rayna bertanya-tanya dalam hati. Apa yang terjadi pada Reno? Apa yang akan dilakukan laki-laki itu?
Rayna ingin bertanya namun ia urungkan niatnya itu sampai waktu yang tepat. Jika salah bertanya, dia takut akan dimarai atasannya atau bahkan dipecat.
"Pak Reno?" panggilnya lirih.
.....
Bersambung