Mulai Nyaman

1209 Words
Author POV 40 menit kemudian. Reno melangkah santai memasuki bar yang terletak di jantung kota Jakarta. Bar yang selalu ramai sampai Subuh itu selalu menjadi langganan Clara, sang,, tunangan, untuk bersenang-senang. Tak perlu memakan banyak waktu untuk menemukan gadis yang selalu menghamburkan uang itu, Reno berdiri di hadapan Clara dengan kostum yang tidak biasa. “What! Apa ini, Sayang?” Clara hampir memuntahkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya ketika melihat penampilan Reno. “Memangnya kenapa?” tanya Reno acuh. “Kau memaksaku datang kemari. Senjatamu selalu ancaman-ancaman tidak masuk akal yang kau jadikan kenyataan. Sekarang, aku bisa juga membuatmu terkejut. Aku bukan budakmu, Clara. Aku juga bukan anak kecil yang selalu kau bodohi.” Clara kesal. Dia melemparkan sebuah gelas anggur ke arah dinding yang menyebabkan beberapa orang terluka terkena pecahan gelas tersebut. “Beraninya kau, Reno!” Reno menatap Clara penuh kebencian. “Pesanlah semaumu lalu bayar sendiri. Lakukan apapun yang kau mau lalu tanggung sendiri akibatnya.” Reno hendak pergi dari tempat ia bertengkar dengan Clara. Namun tiba-tiba Clara menarik tangannya. “Mau ke mana kamu, Reno?” deru nafas Clara terdengar oleh Reno yang berdiri membelaknaginya. “Aku wakil presdir Reygold Corporation. Bukan budakmu. Jadi, terserah aku mau pergi ke manapun. Kenapa? Ada masalah? Mau mengadu ke ayahku? Silahkan!” Reno melepaskan tangannya yang dipegang Clara dengan sangat erat. “Aku sudah muak dengan sikapmu, dengan kelakuanmu setiap hari, dengan semua hal tentangmu, Clara. Mengadu sana!” Reno berjalan menjauhi Clara yang berdiri dengan api emosi menguasai dirinya. Wajahnya yang cantik tampak merah padam. “Kamu tidak akan bisa pergi dariku, Reno. Lihat saja. Aku akan membuat kamu bertekuk lutut di depanku.” Kedua jari-jari tangan Clara mengepal karena kesal pada sikap Reno. ..... Reno kembali ke dalam mobilnya. Kedua manik matanya meneteskan air bening yang disebut airmata. Tangannya mengepal dan memukul kemudi yang terpampang di depan matanya. Ancaman, aduan, tekanan, dan apalah itu. Selalu begitu. Selalu dia yang disalahkan. Keinginan Reno untuk bisa lepas dari Clara sangat besar. Pemuda tampan itu menangis mengingat dirinya yang begitu bodoh diperalat Clara. Ini hidupnya, dia bebas menentukan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Dia berhak memilih pasangan hidupnya, tidak harus dipaksa seperti ini. Sepuluh menit Reno habiskan untuk meluapkan kekesalan di dalam mobil. Ia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Setidaknya di sana dia bisa menenangkan pikirannya, menata kembali hatinya, dan bisa berpikir jernih untuk masa depannya. ..... Malam ini Rayna janjian dengan Sofi dan Prima do sebuah taman. Sofi baru saja membelikan setelan kostum kerja untuk Rayna. Sebuah hadiah dari teman karib karena Rayna berhasilenjadi sekretaris wakil presdir. Sebuah prestasi yang luar biasa. Rayna dan kedua temannya berpisah di dekat sebuah taman kota. Maklum saja, mereka berdua adalah pasangan yang haus kencan. Sebagai teman yang baik, Rayna bisa memahami keinginan mereka. Lagipula, Sofi sudah membelikannya hadiah yang sangat cantik bagi Rayna. Saat sedang berjalan santai, Rayna dikagetkan oleh sebuah mobil warna putih yang berjalan mengirinya. Rayna menghentikan langkahnya. Ia menatap mobil itu. Kerutan di keningnya semakin jelas saat ia mengingat mobil yang ikut-ikut berhenti di depannya. Bukankah ini mobilnya.... “Rayna!” panggil Reno dengan ekspresi wajah datar, malah lebih keliatan murung. Rayna teringat mobil itu adalah mobil Reno yang pernah mogok di tengah hujan lebat. Tapi kenapa raut wajah pemuda itu tidak seperti biasanya? Tidak terlihat dingin. Bahkan wajah Reno nampak sedih. Rayna masih berdiri mematung, menatap seorang pemuda yang duduk di belakang kemudi dengan tatapan iba. Ada apa dengan Reno? tanyanya dalam hati. Reno keluar dari mobil. Barulah tampak jelas ekspresi pemuda super tampan itu berbeda dari biasanya. Rayna merasa kasihan melihat bosnya dengan ekspresi seperti itu. ..... Rayna dan Reno duduk di sebuah bangku di taman yang terbuat dari besi dan dicat warna putih. Suasana hening. Tak ada yang berani membuka obrolan malam itu. Rayna sungkan membuka obrolan karena ia tahu kalau Reno sedang bersedih. Dilihat dari raut wajahnya, Reno tak ingin banyak bicara saat itu. Sedangkan Reno sendiri terlalu malas memulai obrolan. Dia bahkan bingung harus memulainya darimana. “Maaf, Rayna. Lagi-lagi aku membuatmu batal pulang.” Reno memutuskan memulai pembicaraan dengan Rayna. Ia tahu bahwa pasti Rayna merasa tidak enak jika harus memulainya. Rayna melirik Reno dari kedua sudut mata indahnya. “Tidak apa-apa. Jika ada yang ingin dibicarakan, aku sama sekali tidak melarangmu.” Kali ini Rayna tidak memanggil Reno dengan tambahan ‘pak’. Reno menoleh ke arah Rayna. “Kau tahu? Saat ini aku benar-benar sedang down.” “Down?” Rayna heran, ternyata orang kaya juga bisa galau. “Mm... Kalau tidak keberatan, ceritakan aja sekarang. Aku siap menjadi pendengar yang baik.” Reno tertunduk lesu seakan ia enggan hidup lagi. “Kalau kita punya masalah hidup, itu artinya Allah masih sayang dan masih peduli pada kita. Semua masalah yang diberikan oleh Allah adalah takdir yang harus kita terima dengan sabar, dihadapi dengan tabah dan ikhlas. Allah yang memberi masalah maka Allah juga yang akan memberikan jalan keluarnya. Berdoalah memohon pertolonganNya.” Kata-kata yang keluar dari mulut Rayna tidak pernah didengar Reno dari orang selain gadis polos itu. Baru kali ini, ada orang yang berani memberikan nasehat padanya. “Aku beruntung sekali mendengar nsehat seperti itu darimu. Kita baru tiga kali bertemu, kan? Kenapa kamu baik sekali, Rayna?” Rayna bingung mencari kata yang tepat untuk menanggapi perkataan Reno. Menurutnya, apa yang baru saja dia katakan itu sudah sering dikatakan oleh para ustadz yang dilihatnya di channel-channel Youtube. “Biasa saja, jangan berlebihan begitu. Saat di kantor, kamu adalah atasanku. Tapi ketika di luar urusan kantor, kita adalah teman. Hmmm?” Rayna menunggu respon Reno. Reno terdiam. Benar-benar baru kali ini ada orang seperti Rayna. Jika ada orang lain, tidak akan ada yang berani mengatakan hal seperti itu padanya. Alhasil, dia selalu disegani tanpa dianggap sebagai teman. Tapi dianggap sebagai orang yang menakutkan. “Seandainya semua orang sepertimu, Rayna. Maka aku tidak perlu merasa kesepian lagi.” Deg! Kata-kata Reno begitu menyayat hati Rayna. Dia merasa biasa saja, tidak ada yang istimewa darinya. Tapi Reno malah memujinya. “Banyak orang baik di dunia ini. Apa yang kamu lakukan adalah apa yang akan kamu terima dari orang lain. Apa yang kamu katakan adalah apa yang akan kamu dengar dari orang lain.” Rayna memandang Reno yang terdiam kesekian kali. “Apapun masalahmu, hadapi saja dengan sabar. Jangan pernah mengatakan hal-hal buruk pada orang lain, karena hal buruk juga yang akan kamu dengar dari orang lain. Begitu juga dengan sikapmu. Jika ingin dihargai dan dihormati maka kita juga harus menghormati dan menghargai. Di dunia itu ada hukum karma. Siapa yang menyayangi pasti kelak akan disayangi juga.” “Dari apa yang kamu katakan itu... Aku tahu apa yang harus aku benahi. Aku baru sadar bahwa selama ini aku juga salah. Kesalahanku membuat orang-orang di sekitar berbuat salah padaku. Akhirnya tetap aku yang tersakiti." Rayna merasa iba ketika Reno mengatakan kejujuran yang tak ia duga. Mereka baru mengenal bahkan belum sampai tahu sifat masing-masing. Tapi Reno merasa nyaman saat ngobrol dengan Rayna. "Bersemangatlah, Pak!" Reno terkejut mendengar kata 'pak'. Sedari tadi gadis itu tidak menyebut kata 'pak'. Sekarang malah dia memberi semangat dengan memanggilnya pak. "Jangan panggil aku 'pak' kalau di luar seperti ini. Aku masih muda," ketus Reno kesal. Rayna tersenyum karena berhasil membuat Reno kembali kesal padanya. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD