Bab 12

1044 Words
"NANA, BARA! WOI!" teriak Ragil hingga volume tertinggi. Suara bariton yang menggelegar seantero rumah berhasil membangunkan Nana dan juga Bara dari tidur nyenyak mereka. Menilik jam yang terpajang pada dinding, baru pukul enam pagi dan Ragil sudah membuat keributan. "BURUAN KELUAR!" Suara itu seakan komando dari rasa malas yang menjalar pada tubuh mereka. Dengan tidak bersemangat Nana terpaksa menyingkap selimut dan menurunkan kakinya dari kasur. Ketika menyentuh ubin bersuhu dingin hal itu mengejutkan Nana, ingin sekali kembali ke atas kasur. Langkah tertatih membawanya pada ambang pintu, kala pintu terbuka baik Nana dan Bara saling terkejut. Mengingat kamar mereka saling berhadapan sehingga hal pertama yang dapat dilihat adalah pintu kamar satu sama lain. Mereka saling bersitatap, semburat merah meradang pipi keduanya. Salah tingkah karena membuka pintu secara bersamaan, di balik itu juga ada rasa malu dengan penampilan seperti ini. Pillow face. "Duluan," kata Nana. "Lu aja, ladies first." "Bareng aja kalo gitu?" tawar Nana. "Setuju." Kemudian mereka berjalan berdampingan menuju sumber suara yang sedari tadi tidak bisa diam. Arah suara datang dari garasi rumah, di sana mereka melihat Ragil tersenyum sembari mempersembahkan dua sepeda baru bewarna merah dan biru. Sontak Nana langsung berlari menghampiri Ragil dan mencium saudara lelakinya penuh kasih. Raut bahagia Nana sungguh menghangatkan hati, meski tidak bisa membantu banyak namun yang paling penting Nana merasa bahagia. "Makasih, ya, Ko." "Sorry, ya, Koko gak bisa bantu banyak." "Udah lebih daripada cukup." "Untuk apa sepeda?" interupsi Bara. Nana melepas pelukannya. "Untuk kalian berdua," ucap Ragil. "Tapi gua rasa jalan kaki jauh lebih menyenangkan." Ragil menepuk pundak Bara. "Ada sedikit masalah dengan kaki Nana kalau terlalu sering berjalan, jadi gua—" "Bar, main sepeda, yuk!" seru Nana sengaja memotong pembicaraan Ragil. Ia tidak mau Bara mengetahui masalah engsel kaki Nana yang pernah dioperasi. Bara menggelengkan kepala. "Ayo ...," bujuk Nana. "Nanti sore aja, gua mau hibernasi lagi." ~oOo~ Di atas pasir yang kasar, deburan ombak membasahi permukaan menyebabkan laju sepeda kian melambat. Daerah lembab membuat siapa pun sulit bergerak bebas, salah satunya adu kecepatan yang dilakukan Bara dan Nana pada bibir pantai. Kompetisi tanpa label ini dilatarbelakangi oleh seruan tawa bahagia dan hembusan angin sepoi-sepoi di sore hari. Nana sangat bahagia menunggangi sepeda barunya, teringat masa kecil yang menyedihkan. Semangat kompetisi menjadikan Nana berada di garis depan, tidak sadar bulir keringat menyebabkan beberapa helai rambut menempel di wajahnya. Sore ini menyenangkan sekali. Bara adalah orang yang berhasil membuat dirinya melupakan soal Raja dan masalah lainnya. Bugh! Mendengar suara gaduh refleks memaksa Nana untuk meraik pedal rem. Dia menoleh ke belakang, ada Bara yang terjatuh. Keduanya bersitatap lalu tertawa girang. Bara menyingkirkan sepedanya dan berbaring di atas pasir yang lembab. Nana melihat itu ikut melakukan hal yang sama. Berbaring di samping Bara sembari memandang langit sore. Deburan ombak menyelimuti tubuh mereka, melebur menjadi satu dengan alam adalah cara bagi mereka yang kesepian. Meski dalam keadaan basah namun mereka merasakan kehangatan—kekuatan magis sebuah alam. Sebentar lagi magic hour akan dimulai. Langit yang semula bewarna biru perlahan kian berubah menjadi jingga. "Tau, langit apa yang paling indah?" tanya Bara. Nana mengalihkan pandangan pada Bara. "Senja?" "Lembayung." "Gua baru dengar." Bara yang sebelumnya berbaring mengubah posisi tidurnya dengan terlungkup. Mereka saling menatap dengan senyum kecil menghiasi sudut bibir. "Lembayung itu sangat jarang terlihat, kemungkinan besar hanya terjadi pada pegunungan dan pantai." "Emang seberapa spesial?" "Kamu bakal jatuh cinta saat pertama kali melihatnya." "Kamu?" "Eh, lu—maksudnya." "Tapi aku lebih suka dengarnya." Semburat merah menjalar dengan hebat, memenuhi kulit wajah hingga Bara memutuskan untuk kembali berbaring. Langit jingga kian melebur dengan warna merah, perpaduan yang indah itu menciptakan warna ungu yang tidak terlalu kentara. "Itu namanya lembayung, hanya terjadi saat cuaca sedang kemarau." "Langit ungu kemerahan itu?" "Iya, gimana?" "Cantik banget." "Sama cantik dengan kamu." "Gimana?" tanya Nana memastikan ucapan Bara yang terdengar samar. Bara tidak menjawab, dia memilih untuk duduk dengan memeluk kedua lututnya. "Kamu suka baca cerita dongeng?" "Lumayan." "Dari kisah manis yang ada di dongeng, kejadian seperti apa yang sangat ingin terjadi dalam hidup kamu?" Nana ikut duduk, hanya saja dia mengambil posisi bersila sembari menghadap Bara. "Dansa yang diiringi musik." Lantas Bara menarik lengan Nana untuk berdiri. "Aku bakal wujudkan itu sekarang." "Kenapa harus sekarang?" "Konon katanya kalau melakukan permintaan di bawah langit lembayung harus diwujudkan dengan segera." "Tapikan aku nggak minta." Bara tersenyum lebar, "kalau begitu aku yang minta." Satu persatu penerangan di area pantai perlahan hidup, ada cahaya remang yang semakin mendukung suasana. Semesta benar-benar mendukung aksi yang dilakukan Bara saat ini. Sebelum dansa dimulai, Bara menyetel satu lagu dari Payung Teduh bertajuk Mari Bercerita. Kemudian ia meletakkan ponselnya di atas pasir lalu mendekap Nana di dalam pelukan. Langkah kaki perlahan bergerak maju dan mundur, Bara melingkarkan kedua tangannya pada pinggul Nana, sedangkan wanita itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Bara. Retina binar saling menatap sendu sembari tersenyum semu. Bara dapat merasakan ketegangan yang dirasakan Nana, namun kian perlahan keduanya mulai terbiasa dan merasa nyaman. Sesungguhnya berbicara denganmu Tentang segala hal yang bukan tentang kita Mungkin tentang ikan paus di laut Atau mungkin tentang bunga padi di sawah Sungguh bicara denganmu Tentang segala hal yang bukan tentang kita Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja ~ Sebelah tangan Bara bergerak mengelus pipi Nana bagian kiri. "Maaf untuk segala perbuatanku di awal pertemuan kita." "Tidak perlu minta maaf, kita saling melakukan kesalahan." Jemari Bara kini merapikan helai rambut Nana yang berantakan, ia selipkan di balik daun telinga. "Aku hanya kesepian saat itu dan kondisi sosial yang sangat buruk." "Mungkin Tuhan sengaja menciptakan takdir agar dua yang buruk ini bertemu untuk menjadi baik." "Tolong bantu aku dan jangan pergi meninggalkan." Nana mengangguk. Sungguh merasa tersentuh, ternyata Bara tidak seburuk apa yang dipikirkannya. Dia menjadi pria yang menjengkelkan hanya karena butuh teman untuk bercerita namun dengan cara yang salah. Tanpa sadar jarak kian menipis, tubuh saling merapat, sentuhan yang diberikan Bara menenangkan jiwa Nana yang sedang tidak baik. Terhanyut pada suasana membuat Nana mendekatkan kepala dan menempelkan bibirnya pada bibir Bara, ia diam sejenak menunggu sebuah respon, namun tidak disangka ternyata Bara membalas ciuman itu dengan lembut. "ADEGAN CIUMAN, CEKREK!" teriak Ragil menginterupsi mereka. Lantas keduanya melepaskan ciuman dan pelukan. Canggung dan salah tingkah adalah gambaran yang tepat untuk apa yang terjadi saat ini. Nana menunduk, "maaf." Kemudian dia pergi meninggalkan Bara dan Ragil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD