Masih terlalu dini bagi Ragil pulang dari kantor pada pukul dua siang. Sehabis jam istirahat bersama Jayanti, dia memutuskan untuk izin pulang karena ada janji dengan Nana.
Sesampainya di rumah tepi pantai, Ragil memakirkan mobilnya dan mencari keberadaan Bara dan Nana di dalam rumah. Tidak satu pun dia menemukan jejak keduanya. Ragil memutuskan untuk menelepon Nana, lama dia menunggu namun tidak ada panggilan yang diangkat.
Pantas saja, ponsel Bara dan Nana tertinggal di atas sofa. Jika mereka tidak ada di rumah, lantas kemana?
Analisa berpikir Ragil bekerja, dia baru menyadari bahwa pintu utama tidak dikunci saat dia masuk, lalu ponsel mereka ditinggal di sofa begini saja, maka analisanya menyatakan bahwa mereka berada tidak terlalu jauh dari rumah.
"Pantai."
Benar saja, mereka sedang bermain lempar batu ke arah pantai. Sangat kekanakan sekali. Lihat tingkah mereka tidak lebih baik dari seorang anak SD.
"WOI!"
Sontak keduanya menoleh ke belakang. Mereka melihat Ragil bersedekap di d**a dengan sorot mata tajam.
"Lho, kok udah pulang, Gil?"
"Gua pulang bukan disambut, tapi disuruh main petak umpet."
Nana menghampiri Ragil, ia memeluk lengan saudaranya. "Maaf, ya, Ko. Lagian Koko nggak konfirmasi pulang jam berapa." Kemudian sorot mata Nana berpindah pada Bara. "Oh, iya, Koko pulang cepat karena dia bakal jadi pemandu lu dalam terapi kali ini."
"Lho, kenapa Ragil?"
"Udah ikut aja," jawab Ragil sembari menarik lengan Bara untuk segera masuk ke dalam rumah.
~oOo~
Setelah sepuluh menit dihabiskan oleh Ragil untuk mengganti pakaian dengan hanya memakai kaos dan celana pendek, kini mereka berkumpul di ruang keluarga.
Duduk di atas karpet dengan formasi melingkar. Nana sengaja meminta untuk duduk di bawah agar atmosfer terapi terasa lebih nyaman karena tidak memiliki jarak diantara mereka.
"Jadi manusia itu terdiri dari tiga unsur; orientasi, gender dan seks. Banyak masyarakat kita salah dalam memahami hal tersebut." Nana menelan salivanya. "Orientasi itu adalah hasrat, perasaan, pada siapa lu jatuh cinta. Orientasi sendiri terbagi menjadi tiga; hetero atau suka dengan lawan jenis, homo atau suka dengan sesama jenis dan biseks yang menyukai keduanya.
"Gender sendiri adalah kepribadian, ini soal maskulin dan feminin. Biasanya faktor paling besar mempengaruhi adalah lingkungan, tapi ini bisa terjadi karena genetik. Ada seorang pria yang bersikap bak perempuan, mungkin saja ada yang salah pada kromosomnya. Bisa juga karena dia dibesarkan oleh lingkungan yang didominasi perempuan atau diajarkan hak-hak perempuan dan lain sebagainya. Sebagai kasus, banyak artis Indonesia yang seperti ini, dia pria namun pribadinya feminin dan bukan berarti orientasinya homo, banyak dari mereka yang orientasinya hetero."
Bara dan Ragil menganggukan kepala secara bersama seolah menggambarkan bahwasanya mereka paham atas apa yang dijelaskan oleh Nana.
"Dan yang terakhir seks, banyak masyarakat kita memahami kata tersebut sebagai hasrat atau orientasi padahal konteksnya berbeda. Seks sendiri dalam ilmu psikolgi diartikan sebagai jenis kelamin, kita sering temukan pada formulir luar negeri bagian kolom seks diisi sebagai jenis kelamin bukan orientasi. Untuk di Indonesia jenis kelamin hanya ada pria dan wanita, dan fungsinya cuma untuk buang air kecil dan reproduksi anak."
Terlalu banyak berbicara membuat Nana merasa haus, dia mengambil air mineral dan menenggaknya hingga tandas.
"Sampai sini paham?"
Bara dan Ragil kembali menganggukan kepala.
"Karena hari ini kita terapi edukasi seks, setelah teori tentu saja ada sesi menonton video porno dan melakukan m********i, jadi nggak mungkin gua dong ahli terapisnya."
Dahi Bara bekernyit. "Seriusan, Na? Masa gua harus masturbasi."
"Lu perlu tau soal orientasi, salah satu cara cepatnya adalah dengan nonton film porno. Dari sekian banyak kategori yang akan diputar, dari situ lu bisa ngerasakan hasrat lu bergejolak pada kategori apa. Lagi pula soal m********i anggap aja bonus karena lu nggak pernah ngelakukannya selain mimpi basah." Lantas Nana dan Ragil tertawa terbahak.
Kulit wajah Bara memerah dengan sempurna, pernyataan Nana berhasil membuatnya malu dan jiwa maskulinitasnya merasa diragukan.
Ragil bangkit dan meraih lengan Bara untuk membantu pria tersebut berdiri dari lesehan kemudian mereka berjalan ke kamar.
"GOOD LUCK!" teriak Nana.
Di dalam kamar, Ragil menutup gorden dan mengunci pintu. Lampu sengaja dimatikan agar suasana semakin nyaman. Di balik gelap gulita Bara merasakan debar yang berlebihan. Dia tidak tahu harus berbuat apa ketika menonton film porno dengan seseorang.
"Rileks aja." Ragil menekan remot sehingga layar televisi hidup.
Sepanjang film terputar, Bara sesekali menutup matanya karena merasa malu menonton adegan dewasa seperti itu. Berbeda dengan Ragil yang fokus menatap layar televisi sembari beberapa kali mengelus area selangkangannya.
Bara tampak seperti anak kecil yang sedang menonton sinetron dengan orang tua, saat pemeran utama berpelukan atau ciuman lantas menutup mata karena malu sekaligus takut dimarahi.
"Santai aja, nikmati setiap desahan dan adegannya," ujar Ragil seraya melepaskan tangan Bara yang mencoba menutup mata.
"Tapi, kondisi saat ini aneh bagi gua."
"Lu harus bisa nerima, Bar. Gimana, belut lu udah hidup?"
"Gua gak paham kenapa punya gua masih lemas."
"Lu gak lemah syahwat, kan?"
"WOI, enggak lah. Tiap pagi masih hidup kali."
Suara desahan pemeran wanita bergema semakin keras memenuhi ruangan, siapa pun pria hetero pasti menyukai ini.
"Lu resapi, Bar. Lihat betapa enaknya melakukan itu."
Bara menatap Ragil. "Udah, ah, selesai yuk."
"Oh, gua ada ide."
Semula Bara dan Ragil memiliki jarak yang cukup jauh, namun kini entah mengapa Ragil mendekat pada Bara. Semakin dekat hingga paha mereka bersentuhan. Tentu saja Bara menatap Ragil was-was.
"Gil, mau apa lu?"
"Mungkin kasus lu nggak bisa cuma sekadar melihat visualisasi."
"Maksudnya?"
Jemari Ragil kini bersemayam di atas paham Bara. "Mungkin lu butuh sedikit sentuhan secara langsung."
Seketika tubuh Bara menengang, seperti ada sengatan listrik yang menyetrum tubuhnya hingga kaku. Dia tidak bisa berbuat apa pun selain menyaksikan apa yang dilakukan Ragil terhadapnya.
Selain meraba bagian paha, kini Ragil berjalan lebih jauh, dia sengaja menghembuskan napasnya di area leher dan belakang telinga Bara. Terbukti, apa yang dilakukan Ragil berhasil membuat Bara memejam mata menikmati setiap sentuhan.
"Gil, belut gua hidup."
"Good. Buka celana lu sekarang, terus onani."
"Gila, nggak lah, lagian gua nggak tau caranya."
Kesal dengan Bara yang terlalu polos, Ragil mengambil langkah dengan melucuti celananya. Betapa tekerjutnya Bara atas apa yang dilakukan Ragil seolah pria itu tidak punya rasa malu.
"Cepat buka."
Seperti tersugesti, Bara mengikuti perintah Ragil.
"GILA, BELUT LU PANJANG AMAT!" protes Ragil.
Sontak Bara menutupi area k*********a. "Udah ah, malu gua."
"Sorry, jangan ngambek dulu. Udah terlanjur jauh aksi kita." Ragil mulai mempraktikan bagaimana caranya melakukan m********i. "Lu ikutin gua, urut belut lu terus mainkan imajinasi lu. Bayangkan dengan siapa lu main."
"Kaya gini?" tanya Bara.
"Good boy." Ragil tersenyum geli. "Bar, mau tau satu rahasia?"
"Apa?"
"Lu kok bego banget sih, punya belut mantep tapi nggak digunakan dengan baik."
Bara langsung menarik celananya dan kabur dari kamar. Di ruang makan dia bertemu dengan Nana yang sedang bermain ponsel. Bara duduk di samping wanita itu kemudian meminum air mineral milik Nana.
"Lu kenapa?"
"RAGIL m***m!"