Kelopak mata terbuka sayup, sosok besar berdiri dengan gagah membelakangi sinar matahari yang menerobos masuk melalui ventilasi. Kala mata terbuka dengan sempurna Bara mendapati Ragil yang sedang memakai kemeja.
Tampaknya Ragil sedang bersiap untuk pergi bekerja. Jarak yang jauh dari rumah pantai menuju kantor mengharuskan Ragil untuk berangkat pagi sekali.
Di rumah pinggir pantai ini memiliki empat kamar tidur namun menurut Ragil jika setiap orang tidur di kamar yang berbeda rasanya kurang nyaman. Maka dari itu dia memutuskan untuk satu kamar dengan Bara sedangkan Nana berada di kamar yang terletak bersebrangan.
Bara menguap lebar sembari merenggangkan otot tubuh. Ragil yang melihat itu tertawa kecil, menurutnya Bara terlihat bak bayi kecil di pagi hari.
"Kenapa ketawa lu?" tanya Bara setelah duduk di pinggiran kasur.
"Bayi besar." Ragil mengacak rambut Bara. "Sono mandi lu, bau."
"Gil, nanti gua sama Nana mau belanja untuk minggu ini ke supermarket."
"Terus?"
"Lu nanti mau makan apa?"
"Emang lu bisa masak?" Ragil menilik Bara melalui pantulan cermin.
"Selama lu tinggal di sini, itu semua gua yang masak."
"Oh." Ragil berbalik badan, dia menghampiri Bara. "Pakaikan dasi, Bar. Seumur hidup baru kali ini gua pakai dasi, kalo bukan karena Uppah malas banget."
"Lu perhatikan ...."
"Bar, lu nggak usah bicara. Napas lu bau banget."
Lantas Bara menarik dasi hingga Ragil tercekik, kemudian dia berjalan menuju kamar mandi.
"WOI, Bar! Belum kelar."
"Bodo amat."
~oOo~
Nana memperhatikan sejak tadi Bara hanya menatap kosong pada piring yang berisikan nasi dan telur dadar. Porsi makannya tidak berkurang sama sekali.
"Bar," panggil Nana sembari menyentuh pundak Bara.
Pria itu tersadar, dia melihat Nana sedang menatapnya penuh pertanyaan. Lantas Bara mengantisipasi agar tidak terlalu mencurigakan, dia melihat piring Nana yang hanya menyisakan pinggiran telur dadar.
"Lho, kok pinggiran telurnya gak dimakan?"
"Mending, daripada punya lu sama sekali belum dimakan."
Bara tidak mengindahkan perkataan Nana, dia langsung mengambil sisa telur milik Nana dan memakannya dengan lahap. Kemudian Bara tersenyum sembari menatap Nana dengan binar.
"Mulai saat ini, sisa pinggiran telur bekas lu akan jadi makanan favorit gua."
Tanpa diketahui sang pria yang berkata, Nana menahan gejolak aneh pada jantungnya. Perkataan Bara sukses membuat Nana merasakan darahnya menghangat dan menimbulkan semburat merah pada pipi.
"Na, siap-siap. Setelah ini kita belanja."
~oOo~
Rak terakhir yang mereka susuri adalah bagian buah dan sayur. Nana mengambil beberapa buah apel dan dua ikat anggur, sedangkan Bara masih memilah sayur apa yang akan mereka santap selama satu minggu ke depan.
"Na, kira-kira Om Praha suka sayur apa?"
"Sayur asem."
Lantas dengan cepat Bara mengambil beberapa keperluan untuk membuat sayur asem dan sop ayam. Tidak lupa sayur favorit Bara bayam dan kangkung.
"Udah, yuk." Bara meraih tangan Nana dan menggandengnya menuju kasir.
Sesampainya di kasir Bara bermain mata tanda Nana harus membayar semua belanjaan hari ini.
Hari ini benar-benar luar biasa bagi Nana, ada banyak hal baru yang dilakukannya. Sebut saja belanja mingguan. Bahkan sejak dulu hingga kini Nana tidak pernah berpikir untuk pergi ke supermarket dan belanja keperluan pribadinya. Ada asisten rumah tangga yang selalu menangani keperluan tersebut.
Namun kehadiran Bara membawa satu warna yang berbeda. Kini Nana tahu bagaimana rasanya letih dan bingung dalam memilih barang dengan fungsi yang sama namun harga berbeda. Bahkan sejak belanja bersama Bara, Nana merasa malu sebagai perempuan karena tidak mengetahui perbedaan kunyit, jahe dan lengkuas.
Hal kecil seperti ini tidak seharusnya luput dari kehidupan, bisa saja terlihat sederhana tetapi siapa yang menyangka jika ada terdapat banyak makna.
"Kamu mau es krim rasa apa? Coklat atau mangga?" tanya Nana.
"Mangga."
Menikmati setiap senti tapak kaki menyusuri aspal menuju rumah. Berjalan kaki adalah pilihan terakhir untuk Nana jika tidak ada kendaraan atau dipaksa oleh Bara. Namun kali ini ada perasaan berbeda saat berjalan, bukan nyeri di kaki yang biasa Nana rasakan tetapi secercah bahagia memenuhi d**a. Tidak disangka kalau berjalan kaki dengan Bara terasa amat romantis.
Rintik hujan mulai turun secara perlahan, Bara langsung menarik lengan Nana dan mengajaknya untuk berlari. Tetesan air hujan semakin deras, Nana menghentikan langkah. Wanita itu tersenyum lebar dan kemudian berputar.
"HUJAAAAAN!" teriak Nana dengan antusias. "Ayo kita menari."
"Ini hujan orang meninggal, nanti lu sakit."
"Itu cuma mitos masyarakat lama."
Kaos polo yang Bara kenakan tidak menyisakan bagian kering. Mereka sudah dalam keadaan basah kuyup. Bara khawatir jika salah satu di antara mereka akan sakit karena hujan ini.
"Bar, hujannya unik. Padahal ada matahari."
"Udah, ah, ayo pulang. Ini hujan penyakit." Bara langsung menarik lengan Nana dan melanjutkan berjalan menuju rumah. Sudah terlanjur apabila mereka berteduh.
"Tapi Bar, gua suka hujan."
"Hujan itu jahat."
"Kenapa gitu? Bukannya hujan menenangkan jiwa-jiwa mereka yang bersedih."
"Ada beberapa alasan kenapa gua benci hujan, nanti lu akan tahu sendiri."
~oOo~
Sesampai di rumah Bara langsung menyuruh Nana untuk segera mandi dan mengeringkan badan. Setelah sepuluh menit membersihkan diri, Bara keluar dari kamar namun dia belum melihat Nana.
Bara pergi ke dapur dan menyusun beberapa barang belanjaan ke dalam lemari es. Beberapa bahan untuk masak sop Bara sisihkan dan kemudian dia terhanyut dalam hobi memasaknya.
Nana hadir di saat Bara selesai memasak. Dua mangkuk sop disajikan Bara di atas meja makan. Nana tersenyum kala aroma sop menyeruak ke pernapasan.
"Wah, enak nih."
Tanpa tunggu perintah oleh Bara, Nana langsung menyantap dengan lahap.
Sementara Nana sedang makan, Bara mengambil alih sisir yang diletakkannya di atas meja. Sontak Nana terkejut ketika menyadari Bara sedang menyisir rambutnya dari belakang.
Semburat merah memenuhi wajah Nana, untung saja Bara berdiri di belakang. Sesak adalah kata yang tepat menggambarkan keadaan Nana, bak ribuan kupu-kupu berputar memenuhi perutnya.
"Bar."
"Hm?"
"Jangan lupa besok sesi terapi selanjutnya."
"Na."
"Hm?"
"Badan lu kok gemetaran? Kedinginan?"
Salah tingkah, woi! Batin Nana.