Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata
Ketika kita berdua ...
Hanya aku yang bisa bertanya
Mungkinkah kau tahu jawabnya?
Di pagi hari yang tenang Nana duduk santai di atas hamok sembari menikmati pemandangan hamparan laut dari balik jendela besar. Lagu Payung Teduh bertajuk Berdua Saja melengkapi atmosfer damai ini.
Sedangkan pria di balik kitchen island tersenyum menatap seorang wanita yang tidak lain adalah Nana tengah memejamkan mata dengan earphone tersumpal pada telinganya.
"Na ...," panggil Bara dengan volume suara pelan.
Pendengaran yang sangat tajam, Nana menoleh kemudian melepas benda kecil yang menyumpal telinga. Dia meraih dua gelas keramik yang dipegang Bara sementara pria itu mencoba ikut duduk di atas hamok yang sama.
Tanpa pikir panjang Bara menumpu tubuhnya dengan sebelah kaki menahan beban pada kain hamok namun mereka hilang keseimbangan dan berakibat terjatuh dengan wedang jahe hangat membasahi baju keduanya. Tidak berteriak merasa panas namun mereka tertawa terbahak.
"Lu gak, apa?" tanya Bara masih tertawa geli.
Nana menoleh ke kanan, melihat Bara tengah mengusap sudut matanya. Merasa diperhatikan Bara membalas tatapan Nana.
Nana menggerakan kepalanya mendekati Bara, nyaris tidak memiliki jarak di antara keduanya. Bara salah tingkah, ia membaringkan badan hingga fokusnya menatap langit-langit. Nana mendekatkan bibirnya pada telinga Bara, embusan napas membangunkan gejolak darah yang mengalir deras serta detak jantung tidak seirama.
"SAKIT g****k!" pekik Nana menyadarkan Bara dari pejaman mata.
Gendang telinga Bara seakan pecah mendengar teriakan Nana, ia mengusap telinga menahan perih. Nana refleks ikut membantu mengusap dan mengembus telinga Bara agar kembali normal.
"Maaf, maafin gua."
Diam-diam Bara menilik raut khawatir Nana, ia menyukai ekspresi itu. Bara mengulum senyum, rupanya Nana seperhatian ini.
Gerak tangan Nana berhenti saat menyadari dirinya diperhatikan oleh Bara. "WOI!"
Nana berdiri dan kemudian diikuti oleh Bara. Keduanya saling menatap dan salah tingkah. "Ganti baju dulu, habis itu ketemu di balkon lantai dua aja biar kita mulai terapi pertamanya."
~oOo~
Sejak tadi Bara sudah menunggu Nana di balkon sembari membaca novel, sampai akhirnya sebuah tepukan menyadarkan Bara. Ia menutup novelnya, dia tersenyum melihat Nana yang dibalut kaus merah muda dengan celana jeans sepaha.
Ada dua kursi santai dan satu meja bulat di atas balkon. Nana meminta Bara membenarkan posisi kursi agar saling menghadap. Setelahnya mereka mengambil posisi masing-masing dengan duduk bersila.
"Ini wedang jahe sebagai pengganti yang tumpah tadi."
"Makasih." Nana menyesap.
"Kita mulai dari mana?" tanya Bara usai meletakan gelas miliknya.
"Oke, kita mulai dari lu menceritakan apa pun yang terjadi baik itu di masa lalu atau masa sekarang." Nana meraih telapak tangan Bara. "Tentu ada sebab dan akibat. Peristiwa kelam apa yang buat lu sampai trauma kayak gini. Di sini gua cuma minta lu jujur sama gua, nggak ada yang perlu lu tutupi. Semuanya akan berjalan lancar kalau lu dan gua bisa membangun kepercayaan."
Bara diam, retina mata menyusuri area sekitar sembari mengigit bibir bawah. Bara sengaja tidak ingin menatap Nana barang sejenak, dia ingin mengumpulkan keberanian dan mental untuk meluapkan semua yang terjadi.
Sampai sorot mata keduanya saling bertemu, Bara menghela napas panjang. Ia meraih telapak tangan Nana dan menggenggam erat.
"Waktu itu gua umur dua belas tahun, kejadiannya pada malam hari dan sedang hujan deras. Gua bingung bagaimana caranya mereka bisa masuk padahal ada banyak penjaga dan pekerja Ayah yang mengawas. Tapi mereka kecolongan, seluruh pekerja tewas dibunuh."
Sorot mata Bara tampak berair, genangan air yang semula masih bisa ditampung kelopak mata merembas basahi pipi. Bara kembali terdiam, genggamannya semakin erat.
Tentu saja ini adalah kondisi yang sangat sulit, cerita buruk yang selama ini ia pendam terpaksa keluar dari mulutnya dan didengar oleh orang lain. Perlahan kepingan reminisensi terputar kembali.
Di mana Bara dan keluarga sedang berduka namun ada pihak lain yang mengambil kesempatan ini untuk kepentingan pribadi, seperti media dan rival kerja Nugraha.
"Gua waktu itu terbangun saat dengar bunda teriak dan gua yakin kalau itu adalah sinyal ketakutan saat ayah dibunuh oleh mereka."
"Mereka? Berarti lebih dari satu?" tanya Nana.
Bara mengangguk. "Mereka ada sepuluh orang, setelah ayah dibunuh, bunda diikat dan diperkosa secara bergilir oleh mereka sampai bunda nggak sadarkan diri. Gua melihat itu semua dilakukan dengan kejam." Jemarinya mengusap air mata, Bara lagi-lagi menghela napas. "Tentu gua dilanda rasa kecemasan dan ketakutan, gua langsung lari ke kasur. Tubuh gua gak bisa bergerak sama sekali dan yang bisa gua lakukan hanya sembunyi di dalam selimut. Gua pengecut, seharusnya gua tolong nyokap saat itu."
Telapak tangan Nana yang lain mengusap rembasan air pada pipi Bara. Dia tersenyum kecil. "Lu bukan pengecut, Bar."
"Nggak berhenti di situ aja, mereka juga memperkosa gua secara bergilir. Gua disodomi. Lu tau apa yang gua rasakan saat itu? Gua minta sama Tuhan untuk cabut nyawa gua tapi percuma, Tuhan nggak dengar doa gua sekali pun gua anak yang religius. Tuhan membiarkan gua disiksa. Bahkan gua pinta sama mereka untuk dibunuh saja, tapi emang dasarnya mereka mau ngebunuh mental dan psikologis gua."
Refleks Nana memeluk Bara. Ia mengusap punggung badan pria itu sebagai sinyalir penenang. Bara masih histeris, benar bahwa emosinya sulit untuk dikontrol. Nana bisa merasakan sakit yang diderita, bahasa nonverbal tidak bisa membohongi pesan.
Terasa seperti disayat kala mendengar cerita Bara. Tidak seharusnya Nana sebagai psikolog terbawa suasana, jika Nana ikut merasakan sedih lantas siapa yang akan menenangkan Bara.
Nana melepas pelukannya, dia menatap Bara yang masih menangis sesenggukan dengan badan bergetar. Nana menarik napas kemudian mengusap lengan Bara.
Bara mencoba melepas pelukan Nana, pupil matanya menatap Nana sejenak hingga kemudian menelan saliva.
"Gua pikir peristiwa buruk berhenti di situ, namun justru gua merasakan penderitaan sepanjang hidup. Gua jadi anak panti dan tidak ada yang ingin angkat gua jadi anak karena berita buruk soal keluarga gua. Hidup gua hancur, bahkan kejadian itu buat gua jadi hilang perasaan terhadap makhluk hidup.."
Dengan tangan bergemetar Bara meraih gelas wedang miliknya, ia menenggak minuman hangat itu. Kaos yang dia kenakan basah akibat sisa air wedang yang tumpah dari balik bibirnya.
Setelah merasa tenang Bara kembali menghela napas. Sedikit demi sedikit beban yang dipikulnya selama ini berkurang. "Maksud gua, karena kejadian itu gua kayak kehilangan orientasi seks. Gua terjebak pada hasrat ingin mencintai diri sendiri secara berlebihan."
Baik Bara dan Nana terdiam dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Nana memberi sedikit waktu agar Bara merasa tenang terlebih dahulu.
Genggaman mereka terlepas, jemari Nana bergerak untuk menghapus sisa air mata. Membenarkan anak rambut pria itu hingga wajahnya tampak lebih baik. Sejurus kemudian Bara tersenyum kecil.
"Bagaimana perasaan lu sekarang?"
"Jauh lebih baik dan ini untuk pertama kalinya gua cerita peristiwa itu dengan orang lain, gua lakukan ini karena gua kasih kepercayaan penuh sama lu. Tolong jangan kecewakan gua."
Nana mencengkeram kedua tangan Bara, menilik pria itu dengan serius. "Terimakasih, gua sangat menghargai kejujuran dari lu dan tolong katakan pada gua kalo lu bakal bisa berubah menjadi versi Bara yang lebih baik, tolong izinkan gua untuk mengambil alih diri lu untuk terapi selanjutnya dan tolong kasih gua kesempatan untuk saling membangun kepercayaan antara kita."
Bara mengangguk tanda setuju. "Kemudian apa yang akan kita lakukan?"
"Mungkin akan kita mulai dengan terapi edukasi seks, karena masalah kompleks yang lu hadapi saat ini berhubungan dengan hasrat dan orientasi."
"Yaudah gua masuk dulu."
Nana menarik kaos Bara. "Tunggu, belum selesai."
"Ada lagi?" Nana mengangguk.
"Gua ada rahasia tentang bagaimana kita bisa menang melawan masalah."
"Gimana?"
"Lu tadi bilang kalau setidaknya beban lu perlahan berkurang dan gua mau menuntaskannya sekarang. Menghilangkan seluruh beban yang lu pikul."
"Caranya?"
Nana tersenyum kecil, ia menarik lengan Bara agar mengikutinya ke ujung balkon. Sesampainya di sana, Nana naik ke atas tembok pembatas balkon.
"WOI TURUN!" teriak Bara dengan spontan. "Lu kira bunuh diri bisa mengatasi masalah apa?"
Nana menoleh ke belakang. "Ini bukan bunuh diri bego, lagi pula di bawah itu kolam renang. Udah buruan naik."
Dengan ragu-ragu Bara sesekali melihat ke bawah, memang benar kalau pun terjatuh mereka tidak mungkin akan meninggal. Setelah banyak hal yang dipikirkan namun Bara kalah dengan tatapan memohon dari Nana. Dia mencoba untuk naik dan mensejajarkan diri dengan Nana.
"Yang pertama lu lakukan adalah teriak sekencang mungkin." Nana menoleh ke samping, menatap Bara sembari meraih telapak tangan pria itu. "Siap?"
"AAAAAAHHHH!!" teriak mereka bersamaan.
Sampai akhirnya Nana dengan sengaja menarik tangan Bara untuk lompat bersama ke dalam kolam berenang. Spontan volume teriakan Bara semakin besar.
Deburan air meluap ke atas, berhambur membasahi lantai taman belakang. Sedangkan dua insan yang tengah berada di dalam air saling berpelukan. Seketika Nana tersadar akan ucapan Nana bahwa ada ketenangan di dalam air, ia benar-benar bisa mendengar dirinya baik itu suara detak jantung, aliran darah bahkan isi pikirannya. Mereka saling bersitatap dan tersenyum lebar.