Selesai sarapan Ragil pergi terlebih dahulu ke kantor untuk mengurus izin cuti Bara selama satu bulan di divisi kepegawaian, sedangkan Nana dan Bara sudah bersiap pergi menuju rumah pantai.
Monica masih juga belum sembuh dari lukanya sebab mencari sparepart mobil antik sangatlah sulit, namun untuk tiruan bumper Ford Coupe Sedan 1948 cukup banyak ditemukan hanya saja Bara tidak sejahat itu mengkhianati Monica dengan barang tiruan.
Jadilah mereka pergi ke rumah pantai menggunakan mobil Honda Civic milik Nana. Hal mengejutkan lainnya Nana yang notabene sangat malas mengendarai mobil harus menurut karena Bara tidak mengetahui alamat rumah pantai. Jika dikaji kembali, di zaman modern seperti ini tentu saja ada GPS yang siap membantu.
Nana tidak bisa menolak saat Bara pinta dirinya untuk menjadi sopir, anggap saja ini sebagai bentuk balas budi Nana terhadap Nugraha yang sudah membantu keluarganya di masa tersulit.
"Boleh hidupin musik?" tanya Bara memecah keheningan di antara mereka yang sudah berlangsung selama sepuluh menit.
Nana menoleh sejenak ke arah Bara dan tersenyum kecil. "Boleh dong, biar gak sepi-sepi amat."
"Kalau pake playlist gua?"
"Boleh ...." Nana menelan saliva sebagai tanda bahwa ia sedang gugup saat ini. "Kalau boleh tau emang playlist lu dominan lagu yang gimana?"
"Kumpulan lagu Payung Teduh, entah kenapa setiap gua dengar lagu mereka itu kayak merasa teduh, sendu. Gimana, ya, lu bakal ngerasa kalau mereka ciptain lagu pakai cinta."
Nana kembali melihat Bara yang tengah sibuk menyambungkan kabel audio pada ponselnya. "Berarti lu penyuka kopi senja? Hiya ... hiya ...." Nana tertawa kecil, tanpa sepengetahuannya Bara menyukai suara tawa itu.
"Mungkin lagu ini bakal buat lu bertanya-tanya, judulnya Resah."
Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu ...
"Ini lagunya tentang ungkapan cinta seseorang terhadap orang yang dia kagumi? Kaya misalnya lu itu secret admirer dan lu mau ngajak orang yang lu kagumi untuk dating romantis di malam hari?" tanya Nana ketika musik sudah memasuki reff.
Aku menunggu dengan sabar
Di atas sini melayang-layang
Tergoyang angin menantikan tubuh itu
Bara yang sebelumnya terpejam menghayati makna lagu membuka matanya dan menatap Nana secara intens. Setitik bulir air mata mengalir, Nana terkejut namun dipatahkan oleh Bara dengan senyuman.
"Salah."
Dahi Nana berkerut. "Lho, terus apa dong?"
"Ini lagu tentang kematian."
Bara mematikan lagu, dia sudah tidak tahan mendengarnya, lagu ini benar-benar sungguh membuat siapa pun merinding.
"Kok dimatikan?"
"Iya, gak kuat lagi gua dengar lagunya." Bara menghela napas. "Menurut cerita yang beredar, lagu ini menceritakan tentang seorang pria yang ditinggal mati oleh pacarnya. Terus waktu dia lagi naik gunung sama temannya, dia mendadak menghilang sampai akhirnya dia ditemukan dalam kondisi gantung diri, dan temannya hanya menemukan secarik kertas yang isinya beberapa bagian dari lirik lagu ini."
Cengkeraman Nana pada kemudi semakin erat, yang dikatakan Bara benar-benar buat dirinya pilu sekaligus takut.
"Lu tadi ada dengar lirik lagunya; aku menunggumu dengan sabar, di atas sini melayang-layang. Itu menggambarkan tentang si cowok yang gantung diri."
Bara melepas kepalan tangannya, melepaskan satu beban yang dirasakan, jika lagu itu menceritakan tentang pemuda yang bunuh diri karena ditinggal mati oleh sang kekasih, beda pula kasus Bara yang ditinggal keluarga di usia belia.
"Tapi gua gak bisa pastikan kalau cerita itu real atau hoax."
"Bar, boleh gua nanya?"
"Sure."
"Lu kenapa seemosional itu pas dengar lagu Resah?"
"Karena gua paham sakitnya ditinggal mati dan ditinggal pergi."
"Sorry."
Keduanya diam, atmosfer kembali senyap. Bara sedang menetralisirkan emosi sedangkan Nana tidak tahu harus bersikap apa setelah melihat Bara menangis hanya karena mendengar lagu.
Bara menyentuh lengan Nana, membuat sang empunya menoleh. "Na, entah kapan pun itu dan apa pun yang terjadi sama kita nanti. Gua pengin melakukan perjalan kek gini lagi sama lu, diiringi playlist yang isinya tentang apa yang udah terjadi sama kita nantinya."
"Maksudnya perjalanan panjang?"
"Ya, hanya kita berdua."
Tidak mengerti apa yang terjadi Bara, namun Nana tersenyum mendengar ajakan itu. Hanya berdua.
"Na, nanti singgah sebentar di RSJ Pelita Hati, boleh? Yang dekat jalan Sudirman itu."
"Boleh, emang lu mau ketemu siapa?"
"Nyokap gua."
Nana terdiam, dia tidak berani melanjutkan pertanyaannya karena dia pikir ini sudah menjerumus dalam urusan pribadi. Nana tidak mau jika nanti pertanyaannya justru membuat Bara sakit hati.
~oOo~
Kehadiran Bara tepat di jam makan siang, dia cukup senang dengan situasi seperti ini karena kapan lagi dia bisa menyuapi ibunya makan jika bukan sekarang.
Nana memilih untuk menunggu di luar, katanya dia tidak mau mengganggu waktu Bara keep in touch dengan ibunya.
Bara menyuapi suapan pertama, "Bun, hari ini Bara mau terapi."
Kaluna hanya menatap Bara tanpa mengeluarkan suara apa pun. Sorot matanya sendu, tampak jelas ada sejuta kesedihan yang dipendam. Kaluna tidak serupawan dulu, benar-benar menjadi sosok yang berbeda.
"Bara bahagia banget, ternyata Ayah adalah orang yang baik di masa lalu. Dia pernah tolong seseorang dari kesusahan," ujar Bara setelah itu kembali menyuapkan nasi dengan lauk ikan. "Benar kata orang, apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai. Meski bukan Bara yang melakukan kebaikan itu, tapi di kemudian hari justru Bara yang diberi kebaikan itu."
"Minum," ucap Kaluna parau.
Bara memberi segelas air. "Namanya om Praha, meski baru saja bertemu tapi Bara sudah bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang selama ini hilang."
Setetes air mata membasahi pipinya, dia merindukan keluarganya. Kaluna yang melihat itu langsung menghapus air mata Bara dan berteriak histeris.
"Jangan menangis, anakku, jangan menangis. Aku tidak melakukan apa-apa, tolong jangan lakukan itu. Tolong, jangan menangis anakku," seru Kaluna dengan air mata yang ikut mengalir.
Lantas Bara menghapus air matanya dan kemudian tersenyum kecil. "Bara tidak apa Bunda. Hanya rindu dengan ayah."
Setelah Kaluna menyelesaikan makan siangnya dan meminum obat rutin, Bara permisi pulang kepadanya. Dia membantu Kaluna tidur di atas kasur, lalu mencium punggung tangan Kaluna.
"Bara pamit, ya, Bun. Maafkan Bara jika nanti jarang menjenguk Bunda, karena Bara juga sedang berjuang seperti Bunda agar peristiwa buruk itu perlahan bisa Bara lupakan dan menerimanya dengan lapang d**a. Doain Bara agar segera sembuh, ya, Bun ... dan jika nanti Bara sudah siap secara finansial kita akan tinggal bareng lagi. Sampai jumpa Bunda," kata Bara lalu mengecup dahi Kaluna.
~oOo~
Mereka baru sampai di rumah pantai sejak tiga puluh menit yang lalu, hanya saja terlalu malas untuk membereskan barang-barang. Jadilah mereka istirahat sebentar, namun kala Nana terbangun ia tidak melihat keberadaan Bara di sekitarnya.
Tidak mau ambil pusing tentang keberadaan Bara, Nana memutuskan untuk membereskan koper serta perlengakapan lainnya yang memenuhi ruang tamu.
Bercerita sedikit soal rumah pantai, jadi rumah ini berlantai dua dengan view pantai luas yang berada tidak jauh dari rumah. Mata siapa pun yang memandang pantai dari balkon lantai dua akan berdecak kagum. Keindahan pantai dengan air biru terang.
Mungkin Bara sedang bermain di pantai atau mengelilingi seisi rumah untuk melihat-lihat, awalnya Nana berpikir seperti itu. Sampai ketika ia sedang merapikan pakaiannya dari dalam koper, dia dikejutkan oleh Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang d**a. Hanya memakai celana sepanjang paha.
Nana menelan saliva, ia memandang otot tubuh Bara dengan intens. Wanita ini benar-benar kagum dengan tubuh Bara yang nyaris sempurna bak model majalah pria yang sering dilihatnya.
Memiliki d**a berbidang dan enam otot perut yang menonjol dengan jelas. Nana benar-benar tidak bisa melepaskan pandangannya, meskipun dia sering melihat lekuk tubuh Ragil tetapi Bara berhasil menggoyahkan iman.
"Na, lu kenapa?" tanya Bara sembari menggoyangkan tangannya di hadapan wajah Nana.
Wanita itu terkesiap dengan kembali menelan salivanya yang nyaris keluar. "Ha? Gimana?"
"Lu kenapa?"
Nana yang semula duduk lesehan harus berdiri dan memunggungi Bara agar tidak terlihat jelas kulit wajahnya yang sudah merah padam.
"Gua lagi beresin pakaian, takut entar kusut kalau kelamaan di dalam koper."
"Oh, gitu." Bara berbalik hendak berjalan keluar namun langkahnya terhenti. Dia kembali menghadap Nana. "Btw, gua berenang dulu, ya!"
Spontan Nana menoleh ke belakang. "Berenang di mana? Di pantai?"
"Enggak, di kolam aja."
"Gua ikut berenang juga, boleh?"
"Lah ini kan rumah lu, masa gua larang."
Nana tertawa kecil. "Iya juga." Kemudian wanita ini melepas kaus yang dipakainya sejak pagi, dan hanya menyisakan tank top dan celana pendek.
Kemudian mereka berlomba lari siapa yang lebih dulu sampai di kolam renang yang letaknya berada di halaman belakang. Tentu saja Bara yang lebih dulu sampai, lalu keduanya tertawa dengan napas sedikit tersengal.
Keduanya saling berpegang tangan dan melompat bersama ke dalam kolam. Cipratan air mencuat ke atas dan kemudian jatuh bak hujan yang mengguyur.
"Gua dulu suka ngeluapin masalah nyelam di dalam kolam," ujar Bara sesaat mereka mengambil napas dan menepi pada bibir kolam.
"Kenapa gitu?" tanya Nana.
Bara menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari, melihat adegan itu membuat Nana kembali menelan saliva. Entah sudah berapa kali ia menelan saliva karena sikap Bara.
"Ketika lu di berada di dalam kolam, lu gak bisa dengar apa pun selain isi hati dan pikiran, hal itu buat lu lebih berdamai dengan kondisi sulit sekali pun."
Nana mengangkat tubuhnya dengan tumpuan lengan pada bibir kolam, kemudian ia duduk di pinggiran dengan kedua kaki ia biarkan terendam.
"Gua punya peraturan selama terapi."
Ketika sudah berada di ujung kolam, Bara menyembulkan kepala untuk mengambil napas. Ia melihat Nana.
"Pertama, lu harus nurut sama semua yang gua perintah selama terapi."
"Pasti lebih dari satu peraturan." Bara melanjutkan renang ke arah Nana dan ikut duduk di sampingnya.
"Kedua, mau itu gua atau lu, kita gak punya hak untuk ikut campur sama urusan yang benar-benar pribadi jika tidak punya kepentingan." Nana menepuk pundak telanjang Bara. "Dan yang paling penting, jangan ada yang ditutup-tutupi karena itu bisa jadi faktor penghambat terapi lu."
"Terus jadwal terapinya gimana?"
"Untuk jadwal nanti gua sesuaikan sama skala masalah yang lu hadapi, mungkin besok kita udah bisa mulai sesi story-telling."
TING!
Mendengar ponselnya berdenting, Bara bangkit dan berjalan menuju kursi santai—di mana ponselnya berada. Dia melihat ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
'Rasa-rasanya aku terus dihantui kenikmatan anusmu itu. Mau melakukannya lagi?'
Otot tubuh Bara kaku, tubuhnya mematung dengan kulit wajah tegang seperti tertarik. Gemuruh napasnya bekerja tidak normal, Nana melihat gelagat aneh Bara dan langsung menghampiri pria tersebut.
"Bar, lu kenapa?" tidak ada tanggapan, Nana memukul lengan Bara beberapa kali. "Bar, oh Bar. Bara ...."
Dia menoleh dengan tatapan kosong.
"Lu kenapa?"
Bara menggelengkan kepala. "Enggak, cuma pesan dari operator."
"Oh, gitu." Nana menarik lengan Bara. "Masuk, yuk, udah mau sore ntar masuk angin, lagi pula kita belum bebenah."