Mobil sedan bewarna hitam baru saja sampai di parkiran sebuah kafe—tempat di mana Bara akan berkencan—di dalam mobil terdapat Ragil, Nana dan Bara. Tepat di kursi penumpang, air muka Bara begitu tegang.
Di dalam lubuk hatinya seperti ada letupan gunung merapi, terguncang dan panas. Beberapa kali dia menggigit kuku dan memukul pahanya.
Nana menoleh ke belakang, keringat Bara mengucur membasahi wajahnya padahal pendingin mobil berada pada jarum maksimal.
"Ya ampun, Bar, gini aja kamu keringatan," ucap Nana.
"Na, please, Na, batalkan kencannya, ya ...."
"Ya, nggak bisa dong, Bar. Demi lu, gua sampe izin kerja," seru Ragil.
"Tapi, Gil—"
"Gak, lu harus kencan."
Bara menarik napas dalam-dalam, membuka satu kancing kemeja untuk merasa lebih relaks. Bergetar, iya seluruh tubuh Bara bergetar. Guncangan itu semakin menjadi, merebut seluruh keberanian yang sudah dipersiapkan Bara dengan matang.
"Yakin, nih? Gak ada terapi lain?"
Ragil kembali menoleh sembari memberikan sekotak tisu untuk mengelap keringat Bara. "Dengar, ya, Bar, karena salah satu cara menghilangkan traumatis lu itu, ya dengan lu harus terbiasa dengan situasi ini jadi tidak akan ada ketakutan-ketakutan untuk memulai suatu hubungan yang baru."
Nana pindah ke kursi belakang, memakaikan Bara bedak tipis agar terlihat lebih segar, menyisir rambut Bara dengan rapi dan membenarkan kemeja yang mulai kusut.
"Ini foto wanita itu, dia baru aja kirim." Nana memberikan ponselnya. "Ingat, ya, Bar, nickname dia Kupu Malam. Bahkan dari situ kamu bisa mengembangkan sebuah pembicaraan yang menarik."
"Itu dia, yang duduk di outdoor yang sedang merokok."
Bara dan Nana menoleh ke arah wanita yang ditunjuk Ragil, semakin gugup ketika mengetahui wanita tersebut cantik sekali dengan rambut pendek sebahu dan gaun mini yang sedikit terbuka di area d**a.
"Tangkapan yang bagus, Bar, beruntung lu."
Nana memberikan alat penyadap suara, "pakai ini biar kami bisa tahu bagaimana perkembangannya." Kemudian Nana mendorong Bara agar keluar dari dalam mobil.
~oOo~
Di belakang punggung wanita yang belum diketahui namanya secara pasti ada Bara yang tersenyum getir. Pria itu sedang memantapkan diri sebelum menyapa Kupu Malam.
"Misi, Kak," ujar Bara.
Wanita itu menoleh, "Iya, kenapa, Mas?"
Suara lembutnya menggetarkan jiwa Bara. Dia semakin menjadi salah tingkah. "Kakak, udah pesan?"
"Oh, sudah, Mas, saya lagi nunggu teman saya. Kalau dia sudah datang nanti saya panggil untuk pesan lagi."
Di dalam mobil Nana dan Ragil tertawa terbahak mendengar itu. Sedangkan Bara merasa malu bukan main. Kulit wajahnya padam, seakan seluruh darah mengalir dengan cepat ke otak.
"Maaf, maksud saya, kamu Kupu Malam, bukan? Saya yang di aplikasi itu."
Kupu Malam yang tengah mengisap rokoknya spontan terbatuk atas pernyataan yang dilontarkan Bara. Spontan dia berdiri dan mengamit tangan Bara.
"Maaf, maafkan saya, sumpah saya tidak tahu kalau kamu orang yang saya tunggu."
Wanita itu mempersilakan Bara duduk dan kemudian keduanya saling diam membisu, masih beradaptasi dengan atmosfer yang membuat keduanya merasa malu. Saat Bara ingin mencuri pandang ternyata wanita itu melakukan hal yang sama sehingga mereka bersitatap.
Malu yang semakin menjamur memberanikan Kupu Malam untuk memecahkan keheningan yang terjadi beberapa saat. "Mau rokok?"
Bara tersenyum sembari menggeleng kecil, "saya tidak merokok."
Lantas wanita itu langsung mematikan rokoknya. "Maaf, saya tidak tahu."
"Tidak apa."
Keduanya kembali terdiam.
"Saya Ambar," ucapnya seraya menjulurkan tangan.
"Bara."
"Ambar dan Bara, namanya hampir sama."
Bara hanya tersenyum kecil. "Kenapa nickname kamu Kupu Malam?"
"Karena saya pelacur."
Bara terdiam, bola matanya membulat sempurna. Air liurnya menjadi kering kerontang seperti padang pasir, membuat dirinya menenggak minuman milik Ambar tanpa sadar.
"Kenapa? Kamu jijik dengan profesi saya?"
Cekatan Bara menggelengkan kepala, "tidak, tidak masalah, saya hanya terkejut saja."
"Belum pernah bertemu atau kenalan dengan p*****r?"
"Belum."
"Terus apa pendapatmu setelah tahu kalau saya pelacur."
"Keren."
"Keren kenapa?"
"Karena kamu berani jujur."
Jantung Ambar seakan-akan lepas dari sarangnya, ini pertama kalinya dia mendapatkan jawaban yang berbeda dari setiap pria yang dikencaninya. Biasanya para pria lain jika mengetahui profesi Ambar yang sebenarnya maka mereka modus agar dapat making love dengan gratis.
Tidak tahu apakah ini bisa disebut love at the first sight? Karena Ambar langsung menyukai Bara dalam waktu sesingkat ini.
"Kenapa? Ada yang salah dari ucapan saya?" tanya Bara merasa tidak nyaman melihat Ambar terdiam dengan sorot mata sendu.
Ambar terkesiap dari lamunannya, ia menatap Bara sembari tersenyum lebar. "Nggak, justru saya jauh merasa lebih baik sekarang."
"Merasa lebih baik kenapa?"
"Karena kamu."
Bara terdiam.
"Sekarang gantian, saya yang mau bertanya. Kenapa nickname kamu Kelam?"
"Karena saya hidup dan besar di lingkaran masalah yang tak kunjung selesai."
"Oke, saya tidak akan bertanya lebih jauh jika itu akan membuatmu sedih, tapi saya siap jika kamu butuh teman cerita. Karena saya juga tumbuh dan besar dalam lingkaran masalah."
Hingga keduanya terjebak dalam pembicaraan yang sangat seru, menyebabkan Bara lupa akan keberadaan Nana dan Ragil yang menunggunya di mobil selama kurang lebih dua jam.
Nana dan Ragil memutuskan untuk masuk ke dalam kafe dan memenuhi kebutuhan cancing di perut yang sedari tadi berontak.