Hari ini akan menjadi sejarah baru dalam hidup Nana, tidak lain dan tidak bukan adalah berada di dalam dapur untuk memasak. Benar sekali, ini kali pertama Nana akan memasak dengan bermodalkan resep dari internet.
Tentu dia memasak bukan karena keiinginan dari hati dan nurani, melainkan semalam Raja mengajaknya untuk bertemu. Mengingat ini adalah momen yang tepat agar Nana dan Raja bisa bersatu kembali, maka dia harus memberikan first impression yang baik setelah sekian lama tidak pernah bertemu.
Bakwan, kue tradisional yang disukai oleh Raja. Mengingat setiap kali pria itu mengajak Nana untuk sarapan lontong sayur, pasti Raja selalu memesan bakwan sebagai toping pendukung. Katanya citra rasa lontong sayur akan jauh lebih nikmat dengan bakwan panas.
Sudah ada beragam sayur di hadapannya, seperti kol, wortel, daun bawang dan pelengkap masak lainnya. Menurut dari panduan yang diberikan, hal pertama yang harus Nana lakukan adalah mengiris tipis daun kol.
Seluruh titik pandang dipusatkan pada pisau yang dipegangnya, berhati-hati kalau sampai melukai jemarinya. Tidak tahu apakah potongan dari kol ini sudah sesuai atau justru salah.
Sampai kehadiran seseorang dari belakang memutuskan pusat perhatian Nana. Betapa terkejut ketika ada yang memegang rambutnya. Teriakan Nana membuat Bara tertawa geli.
"Kamu emang hobi banget, ya, kagetin orang seperti itu," seru Nana dan kembali mengiris sayur.
"Lagian tumben banget, kamu masih pagi udah di dapur. Emang mau masak apa?"
"Bakwan."
Kali ini Bara menyanggul rambut Nana, membuat gadis itu terkesiap dan tersenyum kecil. Semburat merah mulai terasa panas pada pipinya, perasaan aneh itu kembali datang. Nana menghela napas agar pikiran itu menghilang dari kepalanya.
"Kalo mau masak, rambutnya diikat biar gak jatuh ke makanan."
"Makasih."
"Emang mau buat siapa, sih? Sampai kamu rela bangun pagi dan masak seperti ini?"
"Untuk Raja, dia ajak aku bertemu hari ini. Jadi aku pikir ini momen yang tepat agar kami bisa balikan."
"Pantesan anak gadis ini jadi rajin," seru Bara meledek.
Bak memeluk Nana dari belakang—kedua tangan Bara memegang tangan Nana—membantunya mengiris sayur dengan benar, namun tetap saja bagi Nana itu seperti pelukan. Kehangatan yang selalu dia rindukan setiap kali Bara melepaskan pelukannya.
"Kalau potong sayur untuk bakwan itu harus kecil dan tipis agar tidak susah saat memasaknya nanti," ujar Bara.
Deru napas dan getaran suara Bara dapat dirasakan oleh Nana. Daun telinganya menjadi saksi betapa intimnya posisi mereka. Tentu saja situasi ini semakin membuat Nana tidak bisa fokus.
"Na, oi Nana. Kok malah bengong, ntar tangan kamu kena pisau kalau kaku begini."
Gua kaku karena elu, Bar. Buset mana napas lu wangi banget lagi. Pekik Nana di dalam hati.
"Semua sayur yang diperlukan kamu iris tipis dan kecil, kalau wortel kamu irisnya pakai pisau parutan aja. Nah aku bantu kamu buat saus kacangnya."
Bara melepaskan dekapannya yang berhasil membuat napas Nana tersengal, sedari tadi dia mencoba menahan napas agar mengurangi perasaan gugup.
"Kamu kenapa, Na?"
Nana berbalik dan kemudian menggelengkan kepala. "Nggak, gak apa-apa. Cuma bingung aja, ini masaknya pakai panci kan?"
Mendengar itu spontan membuat Bara tertawa geli. "Ya ampun Nana, panci itu untuk masak sop, mi instan, bukan goreng bakwan." Bara mengambil penggoreng dari dalam rak. "Pakai ini ya, cantik, bukan panci."
Nana menggerutu kesal pada Bara. Ini pertama kalinya dia memasak, wajar dong kalau tidak tahu perihal perbedaan panci dan penggoreng.
"Iya."
Bara mencubit pelan kedua pipi Nana. "Gemesin banget deh."
"Apaan sih, Bar. Ganggu mulu nih."
Bara tersenyum kecil kemudian memberikan Nana celemek agar piyama yang dipakainya tidak terkena percikan minyak.
"Ini apa?"
"Celemek."
"Untuk apa?"
"Biar piyama kamu gak kotor."
"Terus cara pakainya gimana?"
"ALLAHUAKBAR, NANA, pakai celemek pun gak tau?"
Gadis itu tersenyum sembari menggelengkan kepala. Bara membantu Nana memakai celemek dan perbuatannya itu berhasil membuat Nana kembali salah tingkah.
"Yaudah selebihnya kamu masak sendiri, ya, kan udah ada tuh petunjuk resep yang kamu baca."
~oOo~
Nana sudah selesai menggoreng bakwannya dan Bara juga sudah selesai dengan tugasnya, hanya saja dia jaga-jaga membuat bakwan baru jikalau punya Nana tidak berhasil. Mereka duduk di meja makan, menatap hasil masakan keduanya.
Bakwan buatan Nana tampak menarik karena warna dan aromanya cukup menggugah selera begitu juga punya Bara.
"Punya siapa duluan yang kita cicip?" tanya Nana.
"Punya kamu."
Keduanya mengambil satu bakwan dan saling menatap satu sama lain kemudian mencoleknya dengan saus kacang agar terasa lebih nikmat.
Ketika gigitan pertama berhasil merobek bakwan, baik Nana dan Bara langsung memuntahkannya. Ini yang disebut cantik di luar namun hancur di dalam.
Bara tidak bisa berkata apa-apa karena ternyata bakwan buatan Nana belum masak sama sekali. Warna kulit memang sudah tepat namun dalamnya belum matang.
"Ih, kok gini jadinya, Bar?"
"Kamu pas masukin bakwan minyaknya terlalu panas, ya?"
"Tapikan di panduan katanya masukan setelah minyaknya panas."
"Iya, tapi jangan terlalu panas, jadinya gini."
Gak terima akan usahanya yang gagal total membuat Nana semakin penasaran. Dia mengambil bakwan milik Bara dan segera mencicipinya. Sontak bola mata terbuka lebar, Nana sampai kehabisan kata-kata atas kenikmatan dari bakwan ini.
"Na, kenapa? Gak enak juga?"
"BARA KAMU HARUS BANTU AKU BUAT BAKWAN KAYAK GINI."
Hingga pagi itu dilewati dengan cukup panjang demi mendapatkan bakwan seenak milik Bara.
~oOo~
Saat sore datang langit menjadi kelabu, tak ada sedikit pun cahaya yang menyisip masuk menyinari rumah tepi pantai. Sejak kepergian Nana saat jam makan siang hingga sekarang sudah jam enam sore, gadis itu belum memberi kabar apa pun pada Bara.
Tentu dia sangat khawatir akan Nana, bagaimana gadis itu akan pulang di tengah hujan lebat seperti ini. Nana tidak menaiki mobil melainkan mengayuh sepeda. Sudah jelas tidak ada yang bisa melindunginya dari hujan.
Jika harus berteduh maka Nana akan menunggu sangat lama, karena jika dilihat dari intensitas air hujan yang turun dapat dipastikan ini akan berhenti di penghujung malam.
Dengan perasaan cemas, Bara beberapa kali berjalan ke sana dan ke sini untuk mengurangi pikiran-pikiran buruk yang memenuhi isi otaknya. Sudah coba menghubungi Nana namun tidak ada balasan hingga akhirnya ponsel Nana tidak bisa dihubungi kembali.
Bara merasa kesal sebab duduk diam di teras juga tidak membuahkan hasil, namun jika dia menyusul Nana juga tidak tahu di mana lokasi mereka bertemu. Entah mengapa rasa gelisah terus menyelimuti perasaannya, padahal jika dipikir-pikir sudah pasti Raja akan mengantar Nana pulang jika kondisi hujan seperti ini.
Seperti ada perang batin dan pikiran yang Bara rasakan, batinnya mengatakan ada sesuatu yang buruk akan menimpa Nana tetapi pikirannya memiliki pendapat lain. Bara semakin gelisah. Tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa, dia hanya sendirian di rumah dan Ragil tidak pulang sejak kemarin.
Waktu dua jam yang dihabiskannya untuk menanti kepulangan Nana akhirnya berbuah hasil, terlihat bayangan seorang wanita tengah mengayuh sepeda di balik kabut dan rintikan hujan.
Nana tidak diantar pulang oleh Raja adalah fakta pertama yang harus diterima oleh Bara dan yang kedua adalah Nana pulang dalam keadaan basah kuyup disertai raut wajah sendu.
Tepat di depan pagar, Nana terjatuh dari sepedanya. Tidak mencoba untuk berdiri justru dia pasrah sembari berteriak dan menangis. Melihat itu menggerakan kaki Bara untuk segera berlari menghampiri Nana dan menggendong gadis itu masuk ke dalam rumah.
Setelah membantu Nana duduk, Bara langsung mengambil handuk dan piyama yang berada di walk in closet. Begitu cekatan dia membantu Nana agar tidak sakit akibat basah kuyup seperti ini.
Dia mengeringkan rambut Nana menggunakan handuk dan memakaikan piyama agar mengurangi menggigilnya, kemudian Bara membantu Nana berjalan menuju kamar mandi.
Nana masuk ke dalam bathup yang sudah terisi air hangat sedangkan Bara duduk di pinggiran bathup seraya membantu Nana untuk mengeramasi rambutnya.
Tidak ada kalimat apapun yang terucap dari keduanya sejak peristiwa Nana terjatuh di depan pagar. Setelah selesai mandi Bara memberikan pakaian kering dan kemudian meninggalkan kamar mandi.
Dia menghabiskan waktu cukup lama untuk membuat wedang jahe, Bara membawanya ke dalam kamar Nana. Minuman ini adalah pilihan paling tepat untuk menghangatkan badan.
Nana menyesapnya perlahan namun yang dapat dilihat oleh Bara adalah tubuhnya semakin bergetar tanda kalau gadis itu masih merasa kedinginan. Intuisi menghantarkan Bara memeluk Nana dengan erat. Mungkin pelukan bisa menjadi pilihan kedua pikir Bara.
"Sebenarnya kamu kenapa, Na? Apa yang terjadi?"
Nana terdiam, dadanya naik-turun seperti hendak menahan tangis. Hingga akhirnya tangisan itu pecah dan membuat Bara memeluknya semakin erat. Nana butuh sedikit waktu untuk merasa tenang agar bisa menjawab pertanyaan dari Bara.
"Raja mau menikah dengan perempuan lain," jawabnya dengan sesenggukan.
Mendengar pernyataan itu entah mengapa Bara merasa terpukul, emosinya meluap hingga dia tidak bisa mengendalikan diri, dia melepaskan pelukan dari Nana dan kedua tangannya mengepal dengan mantap.
"Di mana orang itu?!" tanya Bara dengan nada suara tinggi. "Di mana dia, Na? Pertama dia udah nggak bisa menghargai kamu, bahkan sekadar antar kamu pulang ke rumah agar tidak kehujanan seperti ini. Kemudian dia udah menyakiti kamu seperti ini, di mana dia, Na? Biar aku kasih pelajaran!"
"Bar ...."
"Na, kamu itu terlalu berharga buat aku. Jadi siapa pun yang sakiti kamu seperti ini rasanya aku juga tersakiti. Apalagi melihat kamu menangis."
"Bar ...."
"Di mana b******n itu, Na?!" teriak Bara sembari menangis. "Biar aku cari dia di sekitar pasar. Kamu tunggu di sini, kemungkinan dia masih di sana."
Ketika Bara hendak pergi keluar dari kamar, Nana langsung lari menghampirinya dan memeluk Bara dari belakang. "Jangan, Bar, tolong ... jangan."
"Tapi dia sudah menyakiti kamu, Na."
"Aku akan merasa jauh lebih sedih kalau kamu pergi, jadi tolong temani aku di sini. Lupakan soal dia, lupakan."
Bara menenangkan diri sejenak, menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Dia tersadar kalau emosinya hanya akan membuat Nana semakin sedih, gadis itu butuh kehadirannya di sini, menjaga dan menemani.
"Aku semakin yakin kalau hujan itu elemen paling jahat." Bara melepaskan lingkaran tangan Nana dari perutnya dan berbalik badan. Dia kembali memeluk Nana, terdiam sejenak lalu mengecup kepala Nana. "Hujan datang di saat takdir merampas kehamornisan keluargaku dan kali ini dia datang untuk merampas kebahagiaan kamu. Kehadiran hujan selalu membawaku pada memori buruk tentang kesedihan."
"Kali ini aku sepakat dengan kamu kalau hujan adalah elemen paling jahat."
Bara menangkup wajah Nana dengan kedua tangannya, dia menatap Nana dengan senyuman kecil. "Bagaimana kalau kita buat kertas harapan? Jadi tidak ada lagi tangis karena masih ada harapan-harapan yang menjadi tameng untuk kita tetap terus bahagia."
Nana menganggukan kepala tanda sepakat atas penawaran Bara.
~oOo~
Di malam hari, tepat pukul sebelas malam tidur nyenyak Bara dan Nana terkesiap kala Ragil berteriak sangat keras dari arah ruang tamu.
Spontan Bara dan Nana langsung bangkit dari kasur, namun ternyata kepala Nana terasa sakit tak tertahankan. Gadis itu merintih, menyadarkan Bara kalau dia tidak tidur di kamarnya.
Dia memegang dahi Nana, suhu tubuhnya sangat panas. "Na, mending kamu tidur lagi biar aku aja yang lihat Ragil di luar."
"ANJING EMANG! p*****r LU PADA!" teriak Ragil.
Bara segera bergegas mendatangi sumber suara, Bara melihat Ragil terkulai lemas di atas sofa sembari bergumam tidak jelas. Lantas Bara menghampirinya, namun suhu tubuh Ragil tidak kalah panas dari Nana.
Pria ini sudah di bawah pengaruh alkohol, baunya sangat menyengat sekali. Dengan sedikit tertatih Bara membopong Ragil menuju kamar Nana agar dia lebih mudah merawat keduanya.
Ia membaringkan tubuh Ragil di atas kasur, membuka kemeja kotor pria itu perlahan agar tidak mengganggu tidurnya. Setelah itu menggantikannya dengan kaus bersih.
Bara keluar kamar untuk mengambil kompres air hangat. Kain yang sudah dibasahinya diletakkan tepat di atas dahi Ragil dan Nana. Setelah mengompres dan menyelimuti mereka, Bara menarik kursi belajar dan duduk di samping kasur.
Dia memijit lengan Ragil dengan sangat pelan, urat pria itu terlihat tegang dan tidak bagus jika dibiarkan. Titik pandangnya dipusatkan pada kakak-beradik yang tengah jatuh sakit.