Bab 16

1136 Words
Ada sesuatu yang berat menimpa perut Nana hingga dia sedikit kesulitan bergerak dan bernapas. Perlahan mata itu mengerjap, semula buram dan kemudian dapat melihat dengan jelas langit-langit kamar. Dia melihat siapa yang memeluknya, ternyata ada Ragil yang sedang tidur. Nana meraih sesuatu di atas dahinya, sebuah kain lembab yang Nana yakini adalah kompresan. Dia meletakkan kain tersebut ke dalam baskom yang terletak di atas nakas. Tersadar juga ada Bara di dalam kamarnya, kasihan sekali sepanjang malam Bara harus tidur dengan posisi duduk seperti itu. Pasti tidak nyaman pikir Nana. Dia mengelus rambut Bara perlahan, tersenyum karena dia dikelilingi oleh pria-pria baik seperti Praha, Ragil dan kini ada Bara. Kehilangan Raja tidak akan membuatnya mati, dia harus merasa bersyukur karena masih ada orang yang jauh lebih peduli padanya. "Makasih ya, Bar ..., aku bahagia banget kamu datang ke dalam hidupku," gumam Nana. Tanpa disadari oleh Nana, Bara terbangun dari tidurnya. Pria itu menguap lebar sembari merenggangkan otot tubuhnya. Spontan melihat itu Nana merasa terkejut dan salah tingkah, dia takut jika Bara mendengar ucapannya atau sekadar melihat ekspresi menjijikannya tadi. "Hai sheamat aghi," gumam Bara tidak jelas, kemudian dia tertawa. "Gimana kondisi kamu, sudah enakan?" tanya Bara seraya memegang dahi Nana. "Aku rasa sudah baik, udah gak pusing lagi." "Tapi kamu masih anget badannya." Di samping itu Ragil juga terbangun dari tidurnya, dia tersenyum kecil melihat Bara. "Dari mana aja lu baru balik?" Ragil menarik selimut dan menutupi wajahnya. Dia takut jika Bara akan memarahinya karena tidak ada kabar sejak kemarin, tapi ketika pulang malah mabuk berat. "Ayo bangkit, mandi, biar aku masak sup ayam agar lebih enakan badannya." ~oOo~ Selesai mandi dan berpakaian, Nana dan Ragil segera bergabung di ruang makan. Mereka memandangi Bara yang masih sibuk di area dapur, hanya menunggu kentang-kentang yang ada di sup melunak. Aroma kaldu samar-samar memenuhi antero ruang makan, perut Nana kian memberontak. Sudah bisa dibayangkan bagaimana lembutnya daging ayam dan potongan-potongan kentang serta wortel. "Wih wangi banget," seru Nana antusias dengan sendok dan garpu yang kini sudah berada di genggamannya. Bara menoleh ke belakang, dia tersenyum tipis. Berbeda dengan Ragil, raut wajahnya tampak memikirkan sesuatu, mungkin dia sedang mencari jawaban jikalau nanti Bara mengintrogasinya. Kehadiran Bara di antara keluarga mereka sudah seperti seorang Ibu, yang siap sedia merawat dan menjaga anaknya. Selama mereka tinggal bersama di rumah tepi pantai, urusan memasak, belanja dan sesekali beberes rumah dilakukan oleh Bara. Namun di satu sisi Bara mampu bersikap sebagai seorang Ayah yang memiliki kendali di rumah ini, bersikap tegas jika dirasa ada yang melakukan kesalahan. Seperti yang ditakutkan oleh Ragil saat ini. Lucu jika diingat beberapa tahun belakangan, posisi ketika Bara dan Ragil masih duduk di bangku SMA. Dia selalu bersikap arogan terhadap Bara, menyiksa tanpa alasan, mencaci tanpa tujuan, namun justru kini mereka tinggal satu rumah dan tentu dengan sejuta kebaikan Bara yang mampu memaafkan perbuatan tidak terpuji itu. "Makan! Makan! Makan!" teriak Nana tidak sabar ketika Bara membawa nampan berisikan dua mangkuk sup. "Iya, ini udah siap." Bara menyiapkan sarapan di atas meja, menyusun dengan rapi dan penuh hati-hati. Sungguh perbuatan yang mungkin tidak pernah dilakukan oleh Nana. "Oke, tuan dan nyonya, sarapan sudah saya siapkan, kini giliran saya yang pergi mandi." "Lah, lu juga makan kali. Ntaran aja mandinya selesai makan," sambung Ragil. "Iya Bar, kamu juga butuh makan. Nanti kalau udah selesai, aku yang cuci piring deh, janji." Sontak Bara tertawa geli, mereka sangat kaku sekali pikir Bara. Padahal ucapannya tadi tidak bermaksud untuk menyinggung mereka, dia memang butuh mandi karena sudah gerah. "Lah kenapa kalian jadi serius banget, dah." Dia menarik kursi dan bergabung bersama mereka. "Iya ini aku juga makan." Tidak ada angin, tidak ada hujan, mendadak Ragil tersenyum lebar kepada Bara. "Makasih ya, Bar. Seharusnya dari dulu lu jadi teman baik gua, maafkan perbuatan gua dulu ya, Bar." "Lu sok manis gini karena mau ngalihin pembicaraan kan." "Eh, Bara. Lu mau s**u hangat? Bentar deh gua buat dulu." "Jangan ngeles lu, Gil." Buru-buru Ragil langsung lari ke dapur untuk menghindar dari omelan Bara. "Ragil, woi Ragil!" Nana hanya tertawa geli melihat tingkah mereka. Persis seperti anak kecil. "Abang kamu tuh, ya ... ada aja alasannya." "Bar, kamu mau jadi abang aku juga, gak?" Bara mengernyitkan dahi. "Ha?" "Iya, aku merasa bersyukur banget bisa hidup diantara laki-laki hebat, yang siap sedia melindungi aku, terutama kamu." Kali ini Bara tertawa kecil. "Jadi apa pun yang kamu suka." Tidak berama lama Ragil kembali ke maja makan, kali ini dia membawa tiga gelas s**u hangat. Tampaknya dia sudah mempersiapkan diri dari omelan Bara. "Lu selama dua hari kemana? Kenapa gak ada kabar, gak pulang ke rumah, gua semalaman jaga pintu." Todong Bara ketika Ragil baru saja mendudukan bokongnya. "Paling tempat Siska," singgung Nana. "Siska?" "Pacarnya." Bara memanggut. "Iya, Gil?" "Nggak, gua tempat Jayanti." "Ha? Jayanti? Anak kantor itu kan, yang pakaiannya selalu seksi itu?" "Iya, gua kencan sama dia." Bara tidak percaya mendengar itu, dia menggelengkan kepala. "Lu serius, Gil? Lu kencan sama dia?" Ragil menganggukan kepala. "Dia itu banyak simpanannya, Gil." "Dia juga simpanan gua." Ragil tertawa terbahak. "Jadi kenapa lu semalam mabok? Segala marah-marah bilang p*****r lagi." JLEB! Ucapan Bara barusan seperti sengatan listrik, Ragil langsung terbawa pada realita yang terjadi kemarin malam. Sebuah pertengkaran. Mulutnya terkatup rapat, ragu untuk menceritakannya. "Tapi lu jangan ketawain gua." "Paling ketahuan selingkuh," sindir Nana kemudian tertawa cekikikan. "Ohiya? Bener?" Ragil menenggak s**u hangat itu dalam satu napas, dia butuh energi yang banyak agar siap mental jika nanti diledek oleh Bara ataupun Nana. Mengatur pernapasannya dan mengepal tangannya dengan mantap. "Gua ketahuan selingkuh sama Siska, terus dia berantam sama Jayanti. Karena malu jadi gua coba pisahkan, eh malah gua yang digebuk." Seperti yang sudah diduga oleh Ragil bagaimana reaksi dari Bara dan Nana, mereka tertawa terbahak. Membayangkan itu sangat lucu sekali, badan tegap seperti Ragil digebuk dua orang wanita di tempat keramaian, "Jadi gua mabok karena masih kesal sama mereka, yaudah gitu deh." Baiklah, mereka belum berhenti tertawa. Kulit wajah Ragil sudah memerah menahan malu untuk menceritakan aib seperti ini. Dia tahu kalau itu konyol, tapi bagaimana pun dia juga tidak bisa berbohong dengana Bara yang sudah menjaga adiknya dengan baik. "Kocak banget, gila," ujar Bara setelah mendapatkan kembali suaranya. Dia menyeka ujung matanya. "Lu lagian, maruk amat." "See? Kayanya kita emang ditakdirkan untuk bertemu dengan kamu Bar. Sebelumnya kami sudah lama sekali tidak bisa tertawa dan sebahagia ini," sambung Nana. "Kamu jangan pernah tinggalkan kami, ya." Dari dalam lubuk hati yang paling dalam Bara merasa tersentuh, dia tidak mau terlihat cengeng di depan mereka, menahan sekuat mungkin agar air matanya tidak mengalir karena terharu atas ucapan Nana dan Ragil sepanjang pagi ini. "Oke, besok Om Praha akan datang kemari, jadi nanti kita belanja mingguan ya, Na." Bara mengelap bibirnya dengan tisu, kemudian bangkit dari kursi. "Yaudah, aku mandi dulu ya." Bara segera berlari ke dalam kamar mandi dan menangis bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD