Bab 17

958 Words
Setelah berkelana mencari bahan masakan, Bara dan Nana ikut mengantre di depan kasir. Namun entah mengapa sejak pertama kali menginjakkan kaki di dalam supermarket ini, Bara merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Tidak tahu apa penyebabnya namun rasanya sakit dan gelisah. Bukan, Bara tidak ada riwayat penyakit hati secara fisik, ini seperti tekanan batin. Dia merogoh kantong celananya, menyortir bahan belanjaan, mencari sesuatu yang hilang namun tidak ditemukan. "Na, rumah udah kamu kunci?" "Kan ada Ragil di rumah, ngapain dikunci?" "Iya juga, tapi kok aku gelisah gitu ya." Kini giliran Bara dan Nana yang harus membayar belanjaan. "Kira-kira kamu gelisah kenapa?" tanya Nana sembari membantu kasir mengambil barang belanjaan dari stroller ke atas meja. "Aku juga gak tahu, tiba-tiba aja gitu. Kayak firasat buruk, tapi semoga tidak terjadi apa-apa." Nana menepuk lengan Bara pelan, "kamu mah, Bar, jangan buat parno gitu dong." "Rasanya itu hampir mirip kayak kejadian kemarin yang aku nungguin kamu pulang. Tapi ini bener-bener buat aku gak bisa berpikir konsen." "Mungkin karena kamu kecapean, yaudah nanti kamu gak usah masak, istirahat aja biar aku suruh Ko Ragil pesan makanan di restoran aja." Bara menggeleng, dia kemudian menghela napas. "Udah nggak usah, aku aja yang masak. Kayaknya aku cuma butuh ngeteh." Nana memberi sejumlah uang dan mengoper beberapa tas belanjaan kepada Bara. "Yaudah nanti aku buatkan teh melati." Setelah menyelesaikan urusan dengan kasir, mereka beranjak dari supermarket. Ketika tepat di depan pintu keluar ponsel Bara berdering, ada nomor kantor yang tidak ia kenali. Mungkin saja penting, pikirnya. "Bar, tumben hari ini kamu belanja banyak banget. Emang mau masak apa sih?" tanya Nana sembari memandangi bon belanja. Tanpa sadar Bara tidak menjawab pertanyaan Nana dan berjalan mendahuli gadis itu. Kata pertama yang dilontarkan oleh si penelepon bernada suara perempuan, Bara merasa lega karena itu bukan nomor asing yang sering sekali menerornya soal kejadian pemerkosaan itu. Kini Bara sudah menyebrang jalan dan meninggalkan Nana yang masih terdiam memandangi bon belanjaan di ujung jalan. "Halo, apa benar dengan Bapak Barastra?" "I-iya benar, kenapa?" jawab Bara sedikit ragu. "Perkenalkan nama saya Hana, suster dari Ibu Kaluna." DEG! Bara terdiam ketika perempuan itu menyebut nama ibunya. Pikiran Bara semakin liar berpikir hal-hal buruk apa yang terjadi pada ibunya dan dia mengaitkan itu dengan perasaan gelisah yang sejak tadi memenuhi hati dan pikirannya. Apa mungkin ada kaitannya dengan tadi? "Ada apa dengan Ibu saya?" tanya Bara dengan nada suara sedikit tinggi. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban pasti dari sang suster, kecemasan Bara semakin meningkat. Jantungnya berdetak hebat, keringat mulai membasahi pelipis dan jemari. "Saya meminta maaf sebelumnya karena sudah lalai dalam bertugas. Hal ini juga mengejutkan seluruh rumah sakit karena ini tidak pernah terjadi sebelumnya—" ucapan Suster Hana dipotong oleh Bara. "IBU SAYA KENAPA, SUS?" "Maaf, Ibu Kaluna mengalami pendarahan hebat, dia melakukan percobaan bunuh diri. Tolong segera kemari." Mendengar kabar buruk tersebut, langkah kaki Bara terhenti. Tas belanjaan spontan terlepas dari tangannya, kakinya bergetar hebat. Sungguh dia seperti kehilangan stamina. BRAK! Dia terjatuh di atas aspal, kantung matanya yang cekung tidak dapat menahan air mata. Bara benar-benar merasa terpukul. Harapan hidupnya di ambang kematian, maju satu langkah akan meninggalkan Bara menjadi seorang yatim piyatu. Bara mendongakkan kepala, melihat langit yang kelabu. Tampak semesta ikut turut berdukacita atas apa yang terjadi. Bara berharap Tuhan memberikan satu kesempatan untuk keluarganya kembali utuh, namun harapan itu hanya sebatas angan. Yang terjadi maka tidak bisa diputar kembali, semua akan habis telan waktu. Bara menghela napas sembari berteriak keras, membuat semua orang memperhatikannya. Dia bangkit dan kemudian berlari secepat mungkin, tidak peduli pada tas belanjaan dan ponselnya yang tertinggal. Tidak ada kata maaf yang terlontar dari mulutnya kala dia menabrak orang-orang yang menghalangi jalan. Dia tidak dapat berpikir jernih kali ini, kakinya seolah diperintah untuk terus bergerak menuju RSJ. Sesampainya di jalan besar dia menyetop sebuah taksi untuk mengantarnya ke RSJ Pelita Hati. Tidak banyak yang bisa dia perbuat selain merasa gelisah dan ketakutan. Seluruh tubuhnya bergetar dan napasnya bergemuruh. ~oOo~ Di sisi lain, Nana masih berdiam diri di area teras supermarket sembari mengecek harga dan bahan makanan yang dibeli oleh Bara, hal ini biasa mereka lakukan sebelum pulang ke rumah. Nana tidak mau jika nanti ketika sampai di rumah, masih ada bahan makanan yang belum dibeli, itu merepotkan baginya. Namun kali ini tidak biasanya mereka belanja sebanyak ini, bahkan Nana rasa ini cukup berlebihan. "Bar, tumben hari ini kamu belanja banyak banget. Emang mau masak apa sih?" tanya Nana sembari memandangi bon belanja. Bara tidak menggubris pertanyaan dari Nana. "Lah, lauknya sampai ada empat macam. Kesambet apa kamu, Bar? Apa karena Uppah mau datang kamu jadi masak banyak gini?" Nana menoleh ke depan, rupanya Bara sudah berjalan seraya menerima telepon, mungkin itu alasan mengapa pria itu tidak menjawab pertanyaannya. Nana mengikuti Bara berjalan dari belakang. Dia benar-benar harus memastikan jika Bara tidak melupakan sesuatu yang penting. Kertas bon yang panjang serta tulisan yang sangat kecil membuat Nana harus ekstra konsentrasi agar dapat membacanya dengan jelas. "Tumben kamu gak beli s**u, Bar, emang persediaan s**u kamu masih banyak?" Lagi-lagi Bara tidak menjawab pertanyaannya. Hasil dari tidak melihat ketika berjalan, Nana sampai tidak sadar jika dirinya sudah berada di jalan raya. Hingga di persimpangan lalu lintas, ada mobil yang melaju sangat cepat sampai tidak sempat menginjak rem ketika melihat seorang gadis berjalan di atas zebra cross padahal sedang lampu merah untuk pejalan kaki. Nana terpental sangat jauh, tulang rusuknya terasa seperti mau patah. Dia bahkan kehilangan suaranya untuk berteriak kesakitan. Darah dari kepala mulai mengalir membasahi aspal. Orang-orang berteriak histeris, diantara suara itu Nana mendengar suara teriakan yang ia kenali, itu suara Bara. Samar-samar dia melihat Bara bangkit dari duduknya kemudian berlari menjauh, tidak menghampirinya untuk menolong. Sampai tubuh Bara ditelan persimpangan jalan, pandangan Nana mulai menghitam dan sedetik kemudian dia tidak sadarkan diri. Semuanya gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD