Bab 18

1222 Words
Penuh peluh keringat dan air mata Bara turun dari dalam taksi, langkahnya terasa berat memasuki gerbang rumah sakit. Seperti tidak siap menerima kenyataan bahwa semua ini telah terjadi. Dia telah kehilangan semua orang yang tersayang, Nugraha, para suster yang dulu menjaganya, Pak Limbo supir pribadi yang akrab sekali dengannya dan kini apakah dia harus kehilangan Kaluna juga? Tuhan seakan memberi cobaan yang tak kunjung berhenti, nyaris 16 tahun dia memikul beban berat ini semua. Bahkan dia tidak punya keberanian dan penghasilan yang mapan hanya untuk membiayai Kaluna tinggal bersamanya. Benar jika dahulu Nugraha adalah seorang jendral tentara yang sangat mapan, namun kekayaannya tersebut tidak bisa bertahan lama. Bara harus merelakan harta milik ayahnya dirampas sebagian besar oleh keluarga Nugraha yang serakah. Bahkan mereka mengantarkan Bara ke dalam panti asuhan setelah masa satu tahun perawatan. Untuk biaya perawatan Kaluna untung saja ditanggung oleh pemerintah karena kasus mengerikan yang terjadi pada keluarganya. Saat langkah pertama memijak tanah RSJ Pelita Hati, reminisensi akan memori lama terputar kembali. Waktu itu, siang sebelum peristiwa itu terjadi. Nugraha mengajak seluruh asisten rumah tangga dan para pekerjanya untuk makan bersama di restoran besar atas merayakan kenaikan pangkatnya. Tentu Bara merasa bahagia sekali, di sana ia dapat merasakan sebuah kehangatan keluarga. Gua janji akan seperti ayah di masa depan nanti, batin Bara kecil ketika mengamati Nugraha memperlakukan pekerjanya dengan baik. Saat itu Nugraha membebaskan para pekerja untuk memesan makanan apa pun yang mereka suka, tentu saja itu menjadi kebahagiaan bagi mereka. Kapan lagi mencicip makanan di restoran bintang lima. "Terimakasih banyak ya, Pak," sahut Mang Ujang selaku tukang kebun. "Iya, Pak, saya gak pernah makan di tempat besar kayak gini," sambung Bi Surti dengan logat Jawa yang kental. Nugraha hanya tersenyum semringah. Dan kemudian satu hal yang Bara sadari kalau itu menjadi senyuman terakhir Nugraha, bahkan seluruh pekerja lainnya. Bara tidak menyangka kebahagiaan itu semua direnggut dalam satu malam. Di dalam lobi Bara bertemu dengan para staf kesehatan RSJ yang sudah menunggu kehadirannya sejak tadi. Mereka semua menunduk tanda penghormatan, Bara yang melihat itu juga menundukkan kepalanya. "Kami semua turut berduka cita atas kepergian Ibu Kaluna, pendarahan terjadi cukup lama hingga kita mengalami kewalahan. Maafkan kami tidak bisa menyelamatkan Ibu Kaluna. Maafkan kami karena sudah lalai dalam bertugas," ujar suster Hana. Kaki Bara mati rasa. Dia terduduk sembari menatap para staf kesehatan dengan pandangan penuh air mata. Yang dia takutkan terjadi, Bara tidak bisa berkata apa pun selain menahan sesak yang sejak tadi menyiksa. Tidak ada yang berani membantu Bara, semuanya memberikan sedikit ruang agar Bara merasa lebih tenang. Bara berteriak histeris melepaskan semua keresahannya. "Bundaaa ...," pekiknya. Suster Hana menghampiri Bara, dia membantu pria itu bangun dan menuntun Bara menuju kamar mayat. Langkah kakinya tertatih, berat sekali melangkah lebih jauh dari ini. Tidak kuat rasanya jika harus melihat kondisi Kaluna saat ini. Di depan kamar mayat, langkah kaki Bara terhenti. Dia menatap palang di atas pintu, apakah mungkin ibunya berada di dalam kamar ini, apakah mungkin semua ini akan menjadi awal dirinya menjadi seorang yatim piatu. Pada siapa dia akan pulang dan berkeluh kesah setelah ini. "Sus, saya tidak sanggup." Suster Hana mengelus punggung Bara, "tenangkan dulu diri kamu, saya tidak ingin memaksa namun juga tidak mau nantinya kamu menyesal setelah ini." "Apa yang terjadi pada ibu saya?" tanya Bara dengan tatapan sendu. Kelopak matanya sudah bengkak dan hidung memerah. "Bagaimana bisa dia bunuh diri? Apa saya kurang memberikan perhatian dan kasih sayang pada beliau?" "Kami semua tidak tahu kalau Ibu Kaluna mengurung dirinya di dalam kamar, kami sudah memaksa untuk membuka pintu karena Ibu Kaluna sudah telat tiga jam minum obat." Suster Hana menghapus ujung matanya. "Sampai akhirnya kami semua mencoba untuk mendobrak pintu, Ibu Kaluna tidak dapat diselamatkan karena terlalu banyak darah yang habis akibat besitan pisau pada pergelangan tangannya. Dia mencuri pisau dari dapur tanpa sepengetahuan kami. Tidak Bara, kamu adalah anak yang berbakti selama ini, jangan merasa seperti itu." Bara menggelengkan kepalanya dengan tangis yang pecah. Dia berteriak mencoba mengurangi sesak di d**a, tidak terima rasanya mendengar Kaluna meninggal dalam keadaan seperti itu. Kakinya tidak kuat menahan berat badan ini, ia terjatuh di atas lantai. Lantas suster Hana ikut duduk di atas lantai guna menenangkan Bara, ia terus mengusap punggung Bara sembari mengucapkan kalimat-kalimat positif. "Kamu jangan bersedih seperti ini, kamu harus kuat menghadapinya. Jika tahu kamu lemah begini hanya akan menjadi penyesalan bagi mereka di surga sana, kamu harus bisa bangkit dari semua ini demi ketenangan mereka." "Tapi sus, saya tidak tahu harus melakukan apa pun setelah semua ini terjadi. Saya sudah kehilangan satu-satunya harapan hidup saya." "Kamu jangan berkata seperti ini, tentu kamu harus tetap hidup demi melanjutkan kehidupan mereka. Kamu harus melakukan sesuatu yang buat kamu dan orang lain bahagia, kamu bisa beribadah agar beban pikiran berkurang atau kamu bisa datang kapan saja kemari jika butuh tempat untuk bercerita, karena kami semua siap untuk itu." "Lalu untuk apa Tuhan menciptakan saya jika harus tumbuh dalam kubangan masalah?" "Untuk menjadikan kamu kuat, jika kamu bisa melewatinya dengan ikhlas dan bersyukur pasti Tuhan akan selalu berikan kamu jalan keluar." Bara menoleh, dia tersenyum getir melihat suster Hana. "Saya sudah siap, sus." "Ayo hapus air mata kamu, tunjukan ekspresi bahwa kamu baik-baik saja. Ibu Kaluna akan pergi dengan tenang setelah itu." Suster Hana membantu Bara untuk berdiri dan membukakan pintu kamar mayat. Dia melangkah masuk ke dalam kamar yang sangat dingin, ada beberapa mayat yang belum dijemput oleh keluarganya di dalam sana. Suster membuka kain putih yang menutupi wajah Kaluna, wanita itu tampak pucat dengan warna kulit sedikit membiru. Bara menyentuh wajah Kaluna yang sudah dingin dan kaku, kemudian dia mengecup dahi ibunya. "Maafkan Bara jika tidak menjadi anak yang seperti Bunda dan Ayah harapkan, maafkan Bara jika selama ini meninggalkan Bunda di sini. Bara tidak tahu bagaimana membalas budi yang selama ini Ayah dan Bunda berikan, tapi Bara berjanji akan terus hidup demi kalian, akan menjadi anak yang dapat dibanggakan." Di belakang sana suster Hana tersenyum kecil. Dia bahagia mendengar Bara kembali memiliki semangat hidup. Untuk terakhir kalinya Bara memeluk Kaluna cukup lama, tidak tahu kapan lagu dia bisa memeluk ibunya jika dilanda rindu. Ini adalah kesempatan terakhir. "Biarkan Bara untuk bersedih untuk sementara ini, ya, Bun." Suster Hana menyentuh pundak Bara. "Bar, Ibu Kaluna harus segera dikebumikan." "Tolong kubur ibu saya di samping makan ayah, karena ibu dulu sudah mempersiapkannya jika nanti dia akan menyusul kepergian ayah." ~oOo~ Sore itu adalah hari terburuk yang Bara lewati setelah 16 tahun berlalu. Melihat mayat Kaluna dibalut kain kafan dan dikubur di dalam tanah menambah sesak di d**a. Tidak ada yang bisa dipeluk kali ini dikala sedih selain mengunjungi makam sembari melontarkan ayat-ayat suci. Satu per satu para suster dan staf rumah sakit pergi meninggalkan pemakaman, suster Hana menghampiri Bara. "Saya pamit dulu, ya, Bar." Bara tersenyum kecil dan menerima pelukan hangat dari suster Hana. Kini tinggal dia sendirian di antara makam ibu dan ayahnya. Bara terduduk lesu sembari menatap haru kedua nisan bertuliskan nama orangtuanya. "Hai, ayah, bunda ... hari ini Bara resmi menjadi seorang yatim piatu bahkan tidak ada satu pun keluarga yang sudi menampung Bara. Tapi percayalah kalau Bara pasti kuat menghadapi ini, suster Hana tadi bilang akan selalu ada jalan keluar di setiap masalah." Bara mencabuti beberapa rumput yang memenuhi kuburan Nugraha. "Doakan Bara, ya ... semoga cepat bangkit dari semua ini." Dia mencium batu nisan kedua orangtuanya sebelum pergi meninggalkan pemakaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD