"Halo, kenapa, Na?"
"Halo, mas saya dari pihak rumah sakit, pemilik telepon ini mengalami kecelakaan mobil. Apakah Mas adalah keluarganya?"
Gelas yang semula di tangannya terlepas hingga pecah berkeping-keping. Ragil merasa shock mendengar kabar itu. Tidak mungkin semua ini terjadi pada Nana, Ragil meyakini bahwa ada Bara yang menjaga Nana.
"Halo, mas ...."
"Saya akan segera ke sana, di mana lokasi rumah sakit?"
"Rumah sakit Adam Hawa."
TUT ...
Panggilan telepon terputus, Ragil menarik kursi meja makan dan menjatuhkan bokongnya di atas sana. Kakinya lemas sekali, tidak kuat menahan tubuh. Kabar itu sangat mengejutkan, seketika Ragil diingatkan pada peristiwa dimana kaki Nana patah akibat terjatuh dari sepeda. Tentu saja pelakunya adalah Ragil.
Waktu itu Praha baru saja membelikan Nana sepeda setelah permintaan yang menjerumus pemaksaan karena dia merasa cemburu melihat Ragil memiliki sepeda. Hingga sepeda itu sampai di rumah, Nana meminta Ragil untuk mengajarkannya.
Masa kecil adalah masa di mana Ragil dan Nana tidak pernah akrab, Ragil menjadi pribadi yang arogan setelah ditinggal pergi oleh ibunya, berbeda dengan Nana—gadis kecil yang menyebalkan karena terlalu manja. Ragil membenci itu. Dia tidak ingin adiknya menjadi orang yang lemah.
Tanpa sepengetahuan Praha, dengan sengaja Ragil mendorong sepeda Nana hingga gadis itu melewati jalan raya dan ditabrak sepeda motor dari arah yang berlawanan. Tulang kakinya patah dan kepala Nana bocor.
Gadis kecil itu teriak kesakitan, rembesan darah membasahi aspal jalanan. Ragil hanya bisa menyaksikan itu tanpa bisa menolong, lantas dia berlari ke dalam rumah dan meminta pertolongan Praha.
Itu adalah kilas balik di mana Ragil berubah menjadi pribadi yang lebih penyayang dan memberikan perhatian secara penuh baik kepada Nana maupun Praha. Dia sadar jika terus bersikap seperti itu maka akan ada banyak orang yang tersakiti.
Sesampainya di rumah sakit, Ragil bertemu dengan orang yang sudah menabrak adiknya. Raut wajah Ragil terlihat sangat marah, kerutan di wajahnya mencerminkan dendam kesumat.
Kulit wajahnya memerah dengan gemuruh napas terdengar cukup keras. Ragil diselimuti rasa panik dan emosi. Tangannya mengepal mantap menampilkan urat-urat yang menegang.
Ragil menarik kerah baju pria yang menabrak Nana, "b******n lu! Apa yang udah lu lakukan sama adik gua? Di mana mata lu, b*****t!" teriak Ragil memicuh keramaian.
Pria yang merasa tertindas itu melakukan perlawanan, ia menolak tubuh Ragil agar sedikit menjauh dari dirinya. "Gua akan tanggungjawab biaya pengobatannya," balas pria itu tatkal keras.
"Gua gak butuh duit lu, gua juga punya banyak uang untuk biaya pengobatan ini. Tapi apa lu bisa kembalikan adik gua jadi normal kembali? Tidak cacat sedikit pun, ha? b******n!"
Geram melihat air muka sang pelaku yang tidak merasa bersalah, Ragil melemparkan tinjunya hingga pria tersebut terhuyung. Itu adalah pukulan sekuat tenaga, bisa dibayangkan sakit dan nyeri yang dirasa.
Sebelum pertikaian itu semakin hebat, satpam rumah sakit segera melerai mereka.
~oOo~
Dari balik jendela kaca kamar ICU Ragil memandang adiknya yang tengah terkulai lemas di atas kasur, hatinya semakin remuk setelah ia menyadari ada banyak selang yang menyelimuti Nana.
Ragil hanya mengetahui selang infus dan selang oksigen, selebihnya ia tidak tahu untuk apa fungsinya. Ada hal yang lebih menyakiti hati Ragil, yakni balutan perban tebal mengikat kepala Nana dan gips pada lengannya. Ragil mengasumsikan bahwa tulang lengan Nana patah.
"Bara ... di mana anak itu?" gumam Ragil pelan.
Sorot matanya menilik seisi ruangan, tidak ada siapa pun, hanya ada satu kasur di sana dan itu ditempati Nana. Apa mungkin Bara juga mengalami kecelakaan? Dia mencari keberadaan Bara disepanjang lorong kamar ICU.
Seorang suster baru saja keluar dari salah satu kamar, Ragil segera menghampiri suster itu. "Apakah suster tau korban kecelakaan siang tadi? Selain pasien atas nama Nana apakah ada pasien lainnya?" tanya Ragil.
Suster itu melihat dokumen yang berada dipelukannya. "Tidak ada, Pak. Hanya pasien wanita saja."
DEG! Jantung Ragil mendadak terasa nyeri dan kepalanya pusing. Dia mengurut dahi di antara dua mata, setitik pikiran terlintas bagaimana mungkin Bara tidak ada di tempat kejadian saat itu.
Dia kembali berjalan menuju kamar Nana, dari luar dia memusatkan pandangannya pada seorang wanita yang sedang berjuang pada hidup dan kematian. Tidak tega rasanya melihat adik semata wayang harus merasakan sakit seperti itu.
Air mata merembes, dia tidak terima semua ini terjadi begitu menyakitkan. Apakah tidak ada ketenangan yang bisa dia nikmati bersama keluarga kecil ini?
Praha berlari kecil menghampiri Ragil, dia baru saja sampai ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Ragil satu jam yang lalu.
Bagaimana sosok seorang ayah, Praha memeluk anak lelakinya dengan hangat sembari mengelus punggung badan Ragil.
"Tenang, semua akan berjalan dengan normal, Nana akan segera sembuh."
Dengan suara tangis tersedu, "maafkan Ragil karena tidak bisa menjaga Nana dengan baik dan gak bisa menepati janji."
"Sudah tidak apa, Uppah juga salah atas kecelakaan ini. Setelah ini kita harus lebih berhati-hati lagi." Praha melepaskan pelukannya, dia menatap Ragil kemudian melihat ke dalam kamar. "Di mana Bara?"
"Ragil tidak tahu, Uppah." Kemudian pria ini mengelap air matanya. "Uppah, Agil izin ke toilet dulu, ya ...."
~oOo~
Di dalam toilet Ragil mencuci wajahnya, kemudian menatap cermin dengan tatapan kesal, amarah dan sedih. Semuanya bercampur menjadi satu.
Ia mengambil ponselnya dan kemudian menelepon Bara. Karena yang dia ingat sebelum Nana mengalami kecelakaan, Bara sempat mengatakan kalau dia dan Nana akan pergi belanja bulanan dan dia meminta Ragil untuk tetap di rumah.
Tidak ada jawaban dari sambungan telepon, sudah beberapa kali Ragil mencobanya sampai panggilan itu terhubung.
"Bara, lu di mana?"
"Maaf, Mas. Saya temukan hp ini di dekat supermarket kota."
"Kamu tau di mana pemiliknya?"
"Saya temukan hp ini dan juga beberapa belanjaan terjatuh di aspal."
"Yasudah, terimakasih."
Setelah panggilan terputus, secara spontan Ragil membanting ponselnya di atas wastafel hingga retak.