Bab 4

914 Words
Angkot yang ditumpangi Bara berhenti tepat di depan klinik psikolog—alamat tujuan yang hendak Bara kunjungi. Setelah membayar ia melangkahkan kaki memasuki pelataran parkir, kemudian sampai lah di dalam ruang tunggu. Klinik ini didominasi oleh warna putih, mulai dari cat dinding sampai beberapa pajangan interior berwarna sama. Ada banyak orang telah menempati kursi tunggu, seluruh mata terpusat pada Bara yang hanya berdiri di tengah kepadatan sembari mengamati. Kehadirannya begitu mencolok, membuat salah satu pegawai menghampirinya. Wanita itu berambut pendek sebahu, mengenakan kemeja formal berwarna peach yang dipadupadankan dengan rok span hitam. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Viola, pegawai cantik tersebut. Bara terkesiap, ia menelan saliva dan terdiam beberapa saat untuk mengagumi kecantikan Viola. "Saya mau bertemu dengan orang ini," kata Bara sembari memberikan secarik kertas yang dia terima kemarin. Viola tersenyum, lubang kecil menghiasi pipinya. "Oh, Mbak Nana, tunggu sebentar, ya, Pak." "Tapi saya harus segera balik ke kantor setelah jam makan siang." "Mbak Nana sedang ada pasien, mohon tunggu sebentar, lagi pula masih banyak pasien lain yang sedang menunggu." Viola mengambil notes dan pulpen. "Mungkin bapak bisa atur waktu bertemu dengan Mbak Nana terlebih dahulu." "Saya sibuk, panggil dia sekarang." Viola masih tersenyum dan mencoba ramah menghadapi tingkah Bara yang mulai tidak sabar. Pria itu melihat arlojinya sejenak. "Saya tidak punya waktu lebih lama, buruan panggil dia sekarang!" "Maaf, Pak, tapi ini sudah menjadi SOP dari klinik." Bara merebut pulpen Viola kemudian mencampakkannya ke atas lantai hingga pecah berkeping-keping, menimbulkan suara gema yang cukup besar. Para pasien terkejut, raut wajah mereka mengantisipasi atas tindakan Bara yang menakutkan. "DI MANA RUANGANNYA?!" Para pegawai lain mencoba melerai keributan yang dibuat oleh Bara, namun pria itu tetap kukuh ingin bertemu dengan orang yang sudah menyakiti Monica. Dia mendorong para pegawai yang menghalanginya, sampai langkah Bara terhenti saat seorang wanita lainnya berdiri menghalangi. "Saya yang punya klinik ini, ada keperluan apa?" Bola mata Bara mendelik sinis saat melihat Nana berdiri di hadapannya. Sialnya beberapa hari ini ia selalu bertemu dengan Nana namun berakhir tidak baik. "Jadi lu yang tabrak bumper mobil gua?" "Oh, mobil jelek itu punya lu." Nana berbalik badan dan kemudian berjalan meninggalkan Bara. "Ayo ikut gua ke ruangan." Tanpa berbicara, Bara menuruti perkataan Nana, sampai lah ia di sebuah ruangan luas di mana terasa sangat nyaman sekali berada di sana. Jadi begini rasanya berada di ruangan seorang ahli psikologis. "Oh, lu psikolog?" "Terus?" Nana duduk di kursinya, kemudian sibuk mencari sesuatu di dalam laci meja. "Silakan duduk." "Kenapa lu bilang kalo LGBT itu nggak normal padahal lu sendiri psikolog?" Ada sebuah amplop berwarna coklat berdimensi tebal Nana letakkan di atas meja. "Ini uang ganti rugi buat mobil lu, setelahnya silakan keluar dan jangan pernah datang dan ganggu hidup gua lagi." Bara hanya melirik ke arah amplop tersebut kemudian mengalihkan pandangannya ke wajah Nana yang kini menatap dirinya jengah. "Lu belum jawab pertanyaan gua." "Tujuan lu datang kemari buat ambil uang ganti rugi, bukan bertanya soal LGBT, jadi sekarang lu bisa keluar dari ruangan gua." "Tapi kan—" "KELUAR!" Bara mengambil amplop tersebut dan hendak pergi meninggalkan ruangan nyaman ini, namun sebelum hal itu dilakukannya, Bara mendumel dengan volume kecil tetapi dapat didengar oleh Nana dengan sangat jelas. "Psikolog macam apa, perihal LGBT aja gak bisa jawab." "Gua dengar, ya, apa yang lu bilang." "Bagus kalo gitu." Berang dengan perilaku Bara yang seenaknya saja mengotori profesi yang digeluti Nana hanya karena dia tidak menjawab pertanyaan perihal LGBT. Nana menghentakkan tangannya di atas meja. "Tau apa lu soal LGBT dan psikolog?" Bara tersenyum, dia menghentikan langkah kakinya kemudian kembali menghampiri Nana. " Lucu, ya. Baru kali ini pertanyaan dibalas pertanyaan, bukan jawaban." "LGBT hal kontroversi yang melibatkan banyak aspek dan penilaian yang berbeda pula. Tergantung gimana cara lu mandang LGBT, bagi gua—sebagai diri sendiri tidak setuju dengan LGBT, tapi dari ilmu psikologi yang gua pelajari ada hal yang bisa gua tolerir soal LGBT. Jadi lu gak bisa ngestreotip semua orang sesuai dengan sudut pandang lu." Bara menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Gua bingung sama lu, kemarin tolak LGBT, sekarang mentolerir LGBT." "Sekarang lu bisa keluar," ujar Nana pelan. "Tap—" KRING! KRING! Deringan ponsel Nana membungkam Bara, terlihat pada sorot mata keduanya ada sisa-sisa emosi. Bara memilih diam menunggu Nana selesai berbicara. Nana berjalan menjauhi area meja kerja menuju kursi relaksasi. Wanita itu menyingkap sedikit gorden jendela dan menatap lurus ke depan. "Halo, sayang ... apa kabar?" sapa Nana terlebih dahulu. "Aku rasa waktu lima tahun dengan kamu cukup. Aku udah terlalu matang untuk berumah tangga, tetapi kamu bukan orang yang aku cari." Dahi Nana berlipat menjadi beberapa kerutan. "Maksud kamu?" "Aku nggak mau melanjutkan hubungan ini. Terlalu banyak waktu yang udah kita habiskan dan kamu selalu sibuk dengan karirmu sampai lupa kalau kamu perlu berumah tangga. Memiliki sebuah keluarga." "Jadi waktu lima tahun kita berakhir gini aja? Jahat banget." Genangan air mata yang tertampung di pelupuk pecah. Pipi Nana merembah. Setelah bertahun-tahun lamanya merasakan kesedihan yang amat mendalam, kali ini Nana merasakannya kembali. "Maaf." Kemudian panggilan terputus secara sepihak. Mendengar suara tangisan membuat Bara menoleh ke belakang. Ia melihat Nana terkulai lemas. Tubuhnya ia biarkan bersandar pada tembok. Empati Bara lebih besar daripada egonya, ia mendekati Nana. "Kenapa?" "Boleh tinggalkan gua sendiri aja?" Bara semakin mendekati Nana dan membantu wanita itu untuk bangkit dari lantai lalu memapah menuju kursi. Bara mengambil air mineral milik Nana yang terletak di atas meja kerja dan meminta wanita itu untuk minum. "Lu kenapa?" "Gua lagi pengin sendirian, tolong tinggalkan gua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD