"Pak, kiri." Bara turun dari dalam angkot dengan terburu-buru. Setelah memberi ongkos, ia langsung berlari secepat mungkin ke dalam area kantor.
Tadi sepulang dari klinik, Jojo menelepon Bara dan meminta dirinya untuk segera sampai kantor dalam waktu lima menit atas perintah Ragil, jika tidak maka akan ada sanksi yang diterima.
Sesampainya di lobi, Bara berhenti sejenak untuk mengambil napas. Kedua tangannya bertumpu pada dengkul, kemudian ia melihat arloji dan ternyata sudah telat empat menit dari waktu yang dijanjikan.
"Pak Bara ini ada titipan dar—"
Bara memotong ucapan Resepsionis kantor, Chacalia. "Maaf, Cha. Saya sedang sibuk." Tidak sempat mengontrol pernapasan, Bara diharuskan bergerak cepat sebelum pintu lift tertutup.
Seluruh sorot mata mengalihkan pandangan mereka ke arah Bara yang bersandar pada dinding lift seraya mengambil napas. Suara tersengal memenuhi kubik aluminium ini. Bulir-bulir keringat mulai membasahi wajah dan kemejanya.
"HU ... HA ... HU ...." Deru napas semakin membesar, detak jantungnya tiga kali lebih cepat bekerja, siapa pun akan menilai perawakan Bara seperti baru saja berlari sepanjang 10 kilometer.
Satu per satu orang-orang keluar dari dalam lift. Tinggal Bara seorang diri yang ditemani kesialan. Ia melihat monitor kecil yang terpanjang di atas pintu lift, satu lantai lagi ia akan sampai di tempat tujuan. Ketika pintu terbuka—tanpa permisi atau sekedar menyapa Jayanti yang sudah menunggu kehadirannya—Bara langsung berlari menuju ruangan Ragil.
Ia membuka pintu, dan melihat Ragil sedang memunggunginya—menatap hiruk pikuk kota Jakarta dari jendela kaca super besar.
"Selamat siang, Pak." Bara terdiam sejenak untuk memulihkan napas yang tersengal. "Apakah, hm ..., ada yang bisa saya bantu?"
Ragil memutar kursinya menghadap Bara setelah mendengar suara lemah dengan deru napas yang terengah-engah. Ia memperhatikan tampilan Bara yang lusuh, rambut basah acak-acakan, kemeja kusut tak karuan dan wajah yang berminyak.
Sedetik kemudian ia menilik arloji, seulas senyum menghiasi wajah antagonisnya. "Lu telat 10 menit, dua detik. Angka yang bagus," ujar Ragil bernada menyindir.
"Maaf, Pak. Saya tadi, hm ... naik angkot dan jalanan di Jakarta selalu macet di siang hari seperti ini, Pak."
"Gua enggak terima alasan apapun." Ragil kembali memutar kursinya menghadap jendela. "Karena lu gak tepati janji temu yang udah gua tentukan, maka konsekuensinya lu silakan pulang. Gua gak suka pegawai lelet dan gak disiplin."
"Tapi, Pak? Saya sudah menguras tenaga dan uang saya demi bertemu dengan Anda." Bara mencoba membela dirinya.
"Silakan pulang, pintu keluar ada di belakang," sahut Ragil bernada meledek.
Kesal, kecewa, marah, ketiganya bercampur aduk menjadi satu. Emosi Bara yang sulit dikendalikan kembali mewabah dirinya. Dengan berat hati ia melangkah menuju pintu keluar. Hari yang sulit untuk dijalani.
"Sia-sia semuanya dan begonya gua segala nurut lagi padahal udah bisa nebak tujuan utama Ragil itu apa," gerutu Bara bervolume pelan, tidak memungkinkan orang lain dapat mendengarnya. "Belum aja lu ngerasain hukum alam. Semoga, secepatnya."
"Berhenti lu," tegas Ragil membuat langkah kaki Bara terhenti. Ia memutar kembali kursinya dan memandang Bara sengit. "Lu bilang apa tadi?"
"Tidak ada, Pak."
"Gua dengar ya, lu bilang apa tadi?"
Bara melintir ujung kemejanya. "Tidak, Pak, saya hanya kelelahan saja. Mungkin tadi suara napas saya yang Bapak dengar."
Kulit wajahnya memerah, urat-urat halus di permukaan wajah dan leher ikut menegang, tanda emosi menguasai Ragil. Air muka itu masih sama kejamnya ketika Ragil menyiksa Bara saat SMA dulu.
"Karena lu udah telat dan bohong sama gua, sebagai sanksinya lu harus lembur sampai jam 10 malam." Ragil melihat bola mata Bara membulat sempurna, hal itu semakin menggugah hasrat Ragil untuk bertingkah anarkis. "Kerjakan seluruh pekerjaan anak divisi penyuntingan, sebab khusus hari ini mereka hanya bekerja setengah hari saja."
Kerutan dahi Bara berlipat banyak. Itu adalah perbuatan yang tidak adil, lagi pula malam ini ia ada janji temu dengan Praha untuk menghadiri acara makan malam bersama. Bara menghembuskan napas panjang. "Saya tidak bisa, Pak."
"Tapi gua gak terima penolakan."
"Malam ini saya ada acara istimewa. Tidak mungkin saya lewatkan."
"Lantas saya peduli?" Jari-jarinya melambai seperti mengusir kehadiran Bara. "Silakan keluar dan kerjakan tugas."
Memelas, satu kata menggambarkan mimik wajah Bara. Dengan kelopak mata yang sayup, bibir sedikit mengerucut, garis alis yang melengkung ke bawah. "Pak, saya mohon ...."
"KELUAR!"
~oOo~
19.34 WIB
Waktu yang telah ia sepakati dengan Praha untuk makan malam bersama telah Bara lewati 30 menit yang lalu dan sekarang ia masih berada di dalam kantor. Hanya sendirian, gelap dan senyap.
Keringat yang sudah mengering menimbulkan efek bau tidak sedap, tidak hanya datang dari kemeja yang dikenakannya namun juga dari tubuh. Bara benar-benar merasa tidak nyaman untuk bekerja dengan kondisi seperti ini.
Bara melihat tumpukan dokumen di atas keranjang, masih ada sekitar 15 dokumen berukuran tebal yang harus disunting malam ini. Pikiran melayang jauh tentang apa yang sedang dilakukan Praha di kediamannya, Bara semakin gelisah karena ia memiliki firasat kalau Praha pasti sedang menanti kehadirannya dengan cemas.
Alhasil dokumen digenggamannya berakhir di atas meja. Bara tidak memiliki semangat untuk mengerjakan penyuntingan dokumen tersebut. Kegelisahan merebut semua pikiran jernih dan kobaran semangat dari jiwa Bara.
Ia memindai ruangan divisi penyuntingan, tidak ada satu pun penerangan selain cahaya jalanan kota dan monitor komputer.
"Ah ... sial!" teriak Bara sembari mengacak rambut frustrasi. Ia memukuli kepalanya karena tidak bisa mengambil keputusan. Terlalu takut untuk melakukan sesuatu di luar zona nyaman membuat Bara terjebak dalam kehidupan membosankan.
KRING! KRING!
Dering ponsel membuat Bara mendongakkan kepala. Ia melihat layar ponselnya dengan mata berbinar.
Pak Praha
Nama pemanggil itu membuat kerongkongan Bara tersendat. Suasana semakin tegang, keberanian untuk mengangkat panggilan memudar secara berangsur.
"Mati dah ... Pak Praha segala nelepon lagi."
KRING! KRING!
Setelah panggilan pertama tidak ia jawab, Praha memutuskan untuk menelepon kembali. Dalam sekejap emosi Bara berubah secara drastis, ia merasa tidak enak kalau menolak panggilan Praha untuk kedua kali.
Mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Bara mengangkat panggilan telepon, kemudian meletakkan ponselnya pada daun telinga sembari memejamkan mata.
"Kamu sudah di mana?"
Jari-jarinya dengan spontan menggaruk tengkuk belakang. "Hm ... anu, Pak, itu ...."
"Gimana? Gimana? Suara kamu tidak jelas."
Jujur, nggak, jujur, nggak, jujur? Yaudah jujur aja deh, biar Ragil diomelin bapaknya. Bara kembali mengatur pernapasan, mencoba menenangkan getaran suaranya. "Sa-saya masih di kantor, Pak."
"Di kantor? Jam segini?"
"Iya, Pak. Saya terpaksa lembur karena ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan sampai jam 10 malam nanti," ujar Bara. Meski Praha tidak dapat melihat bagaimana ekspresi penyesalan Bara, setidaknya sudah diwakilkan dengan intonasi suara. "Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Mohon maafkan saya. Ini terjadi secara mendadak."
"Sudah-sudah, tinggalkan pekerjaan itu. Sekarang kamu bersiap-siap karena saya akan menyuruh sopir untuk menjemput kamu."
"Tapi, Pak, ini tugas yang—"
"Jangan membuat saya kecewa," sambung Praja.
Bara menghela napas lega setelah selesai menjawab panggilan dari Praha, ia mengambil gelas berisikan kopi yang sudah dingin, hendak menyesap namun tumpah mengenai kemeja.
"SIAAAAAAL!"