Aku dan Pak Reza berjalan menuju parkiran motor. Sudah pukul delapan malam, Pak Reza segera menstater motornya. Menunggu sebentar hingga motor siap untuk digunakan. Hati ini sudah biasa saja sejak beliau mengajakku menjadi teman. Layaknya aku, Fajar, dan Bimo, juga teman laki-lakiku yang lain di sekolah. "Na, ga usah naik motor deh. Kita jalan kaki aja. Kayaknya di dekat sini ada warung makan atau warung tenda." Pak Reza mematikan mesin motor miliknya. "Ya, deh. Lagian ga ada helm. Takut ditangkap polisi," jawabku sambil tersenyum. Ada kelegaan di hati ini ketika beliau mengajakku berteman. Aku dan Pak Reza berjalan beriringan keluar dari gerbang tempat indekos Bang Ghani. Belum ada tanda-tanda jika Papa dan Mama akan pulang. Ponsel ini pun tidak menampakkan adanya balasan pesan dari

