Haruna tersenyum menatap wajah Sopian yang dia yakini tengah berpura-pura tidur. Tangan Haruna mengelus kembali rahangnya sambil sesekali usil mencabut bulu di rahang tersebut. Nampak Sopian kaget karena merasakan sakit akibat bulu yang dicabut, tapi matanya enggan terbuka. Perlahan tangan Haruna bergerak menuju mata dan membukanya seketika dengan jempol dan telunjuknya. “Mimisan atau bau jengkol, kambing?” oceh Haruna ketika bola mata Sopian menatap matanya yang begitu dekat. Namun, bukannya merasa terciduk, tangan kanan Sopian dengan cepat menarik kepala Haruna semakin dekat, hingga bibir mereka bersentuhan satu sama lain. Hening sesaat, mata Haruna membulat ketika merasakan bibirnya berlabuh pada sesuatu yang empuk dan bergerak perlahan. Haruna sadar jika itu adalah bibir Sopian dan m

