26. Tukar Tubuh!

1445 Words
Hari sudah berganti. Malam menjadi pagi, dan langit gelap berubah diterangi sinar matahari yang menyilaukan wajah Aisu berang-berang. Aisu mengerjap-ngerjap. Dia membuka mata, melirik korden jendela kamarnya yang tersibak. “Hah? Apa semalam lupa ditutup?” Aisu bangkit dan duduk. Kesadaran masih separuh melingkupinya. Setengah mengantuk, Aisu menatap kamarnya yang dirasa mengecil dan jadi sempit. Furniturnya juga berbeda, lemari baju dan rak buku, bahkan meja belajarnya berubah menjadi kayu dan tampak tua. Hawanya pun berbeda dari rumah khas perkompleksannya. Kamarnya berada sekarang terasa seperti di kampung, di rumah kampung halaman, rumah nenek. Segalanya tidak berwarna hitam dan putih modern. Kamar itu lebih dominan warna cokelat tua, cokelat muda, dan putih kusam. Hiasan-hiasan yang menggantung di dinding atau belakang pintu juga tampak berasal dari lima puluh atau tiga puluh tahun lalu, tetapi terlihat autentik dan tidak membosankan. Wangi bunga yang entah apa jenisnya, terasa segar dan menenangkan tercium jelas, sebuah aroma yang belum pernah Aisu hirup di kamarnya sebelumnya. Wangi yang asing, tapi menenangkan. Aisu tak Biasanya hanya tercium bau kopi yang terjebak dalam kamarnya, serta aroma entah apa baunya. Entah masih berada dalam mimpi atau tidak, Aisu tidak merasa mengantuk sama sekali. Kepala dan tubuhnya terasa ringan, seperti sudah puas tidur semalaman—hal yang jarang Aisu lakukan selama menjadi mahasiswi, karena sibuk dengan tumpukan tugas desain rancangan bangunan dan sejenisnya. Ah, tugas. Aisu teringat sesuatu. Dia harus meninjau bahan-bahan materi untuk proyek kelompoknya dengan Mindy. Semalam karena mengobrol dengan Papa, Aisu hampir saja melupakannya. Ketika kesadaran sudah sepenuhnya kembali, Aisu memutuskan untuk bangun dari ranjang. Tetapi Aisu sontak melihat lantai. Ranjangnya hilang. Dia berada di kasur yang tertidur langsung di atas lantai. Hal itu membuat Aisu kebingungan. “Eh, tunggu—” Aisu mengedarkan pandang ke seluruh penjuru kamar yang tidak seberapa besarnya itu “—ini, kan, bukan kamarku! Papa! PAPA!!!” *** Matahari pagi juga bersinar di tempat lain. Sayangnya tidak menembus jendela kamar, karena tertutup korden tebal yang tak pernah dibuka. Deka terbangun dan berteriak, “Arrrrghhhhh!” sebab teringat sesosok hitam bertanduk yang menyeramkan, yang dilihatnya semalam. Namun, menyadari bahwa itu hanya sebuah mimpi, karena dia terbangun dan tidak mendapati apa-apa, Deka sedikit merasa lega. Kemudian, bau menyengat yang sangat mengganggu melintasi penciumannya. Tidak, bukan hanya melintas, tetapi terkurung di dalam kamar. Setelah terbangun, Deka baru menyadari jika kamarnya gelap, dan korden tak biasanya berwarna hitam seperti itu. “Apa diganti kemarin? Apa Bunda yang menggantinya? Ugh! Kenapa kamarnya bau begini?!” Deka sampai harus menjepit hidungnya karena tak tahan pada aroma tak mengenakan itu. Kamar yang bau membuat Deka melabuhkan mata ke sekeliling. Ruangan itu dua kali lebih besar dari kamarnya dalam ingatan Deka. Segalanya berubah. Lemari dan berbagai furnitur di sana lebih modern dan berwarna hitam putih yang ternilai mahal dari betapa elok dan modern desainnya. Bahkan konputer dan tablet gambar yang berada di meja belajarnya itu! “Ko-komputer?! Sejak kapan aku punya komputer?!” Deka merasa antara kaget, antusias, dan janggal. “Apa… apa ini mimpi?” Deka menjawil pipinya, dan tentu saja merasa sakit. “Ini… ini bukan mimpi!” Deka melirik komputer yang dia tahu ternilai mahal itu. “Itu komputerku, ya? Itu milikku?” Rasa antusiasnya menyurut, tergantikan perasaan janggal yang memenuhi hatinya. “Tunggu. Siapa yang beli komputer itu? Siapa yang… membelikanku komputer itu? Bunda? Bunda tidak mungkin—” Deka teralihkan oleh piring dan bekas gelas yang menumpuk di lantai, serta baju-baju kotor yang berserakan di mana-mana, dan tak lupa pula sampah makanan ringan yang bertebaran. “Bekas makan siapa?! kotor banget!” Deka tergerak untuk membersihkan semuanya, tetapi jika diingat-ingat lagi, jika mengabaikan dorongan untuk bersih-bersih, Deka mendadak terdiam dengan pikiran yang melayang ke mana-mana. Deka melihat ke sekeliling. Kamarnya berubah. Furnitur tuanya berubah menjadi benda-benda minimalis yang mahal dan modern. Aroma bunga lavender tak lagi tercium, tergantikan bau tak sedap yang campur aduk dengan bau keringat. Kamarnya berantakan, bau, dan tak layak disebut sebuah kamar. Terlebih lagi, Deka tidak menemukan satu pun foto keluarga yang dipajangnya di meja belajar. Deka lantas terbangun seutuhnya. Dia bangkit dan segera turun dengan perasaan tak nyaman, tetapi malah terjatuh dari kasur yang ternyata memiliki rangka kayu yang tinggi, yang tak pernah Deka ingat ataupun miliki sebelumnya! Deka terbelalak. Kepalanya terasa berat, dan tubuhnya tidak terasa bugar seperti biasanya. Lebih-lebih dari itu, Deka melotot menatap untaian-untaian benang hitam panjang dari kepalanya. Deka memegangi kepala, mengusap dan menyentuh sepanjang untaian itu. Matanya masih tetap melotot, wajahnya berubah pucat tak percaya pada apa yang dipegangnya. “Rambut?!!” pekiknya. “Rambutku kenapa panjang begini?!? Bun-BUNDA!!” *** Aisu sekali lagi menatap seluruh kamar kecil dan harum itu, mencari-cari apa pun yang dapat dikenalnya sebagai kamarnya sendiri. Apa pun! Entah itu komputer mahalnya—tidak ada! Entah lemari, baju, tas, tabung gambar—tidak ada! Maupun ranjang dan kolong ranjangnya, yang tidak ditemukan sama sekali. Semuanya tidak ada! Aisu yakin, dirinya tak sedang berada di kamarnya sendiri! Dia berada di… tak tahu kamar siapa. Rumahnya sekali pun tak memiliki kamar yang seperti itu. “Tunggu— ranjangnya gak ada?!” Aisu menatap kasur yang bersentuhan langsung dengan lantai. Dia semakin panik dan berwajah pias. “Ra-ranjangnya… kolong ranjang… gi-gitar Papa gak ada?!?!” Aisu berkeringat dingin, wajahnya semakin pucat dengan mata yang membeliak. Kejanggalan selanjutnya, bukan hanya kamar yang berbeda itu saja. Melainkan juga kepala Aisu yang terasa lebih ringan daripada kemarin malam. Memang, dia merasa sudah tidur puas dan pulas, kualitas tidur yang sudah lama tidak dirasakannya. Tetapi, kepalanya yang berubah ringan yang tidak seperti biasa, membuat Aisu merasa takut saat mengarahkan telapak ke kepalanya, seperti takut mendapati sesuatu. Ketika ujung jemari mengenai rambutnya, Aisu tersentak dan membeku seketika. Beberapa detik kemudian, Aisu mengusap-usap kepalanya, dan menjadi semakin tak karuan. “Ra-rambutku… rambutku… rambutku ke mana?!” Aisu menjambak rambutnya yang terasa pendek. Rambut hitam panjang yang selalu menghalangi wajah dan pandangannya, yang selalu megar seperti rambut singa setiap bangun tidur, berubah menjadi sangat pendek seperti potongan rambut laki-laki. “Ha-hah?! A-apa? Rambutku— rambutku… siapa yang memotongnya?” Aisu meraba-raba rambutnya. Kemudian, perhatiannya teralihkan lagi oleh suara yang keluar dari mulutnya, yang lebih berat dan tidak seperti suaranya. Aisu menyentuh lehernya, mencoba mengeluarkan suaranya dengan hati-hati, sembari berharap bahwa telinganya salah mengangkap suara, ataupun dirinya tak sepenuhnya terbangun, alias masih bermimpi. Aisu menelan ludah, merasa gugup. “A—” Aisu mengerutkan alis. Masih tak percaya dengan telinganya, Aisu sekali lagi membuka mulut dan bersuara, “A-anak ayam—!!” Aisu membekam mulutnya, melotot lebar. “Su-suaraku kenapa jadi kayak cowok begini?! I-ini pasti mimpi! Ini hanya mimpi, kan? Papa! Aku harus ke Papa! Ini pasti—” Sesaat Aisu ingin berdiri untuk berlari menemui Papa, Aisu kontan terdiam, sekali lagi membeku dengan perasaan tak nyaman. Ada yang mengganjal. Ada yang mengganjal di sana. *** Deka mengacak-acak rambutnya, dia menjambaknya, lantas merasa sakit karena terlalu banyak memakai tenaga. “Ini bukan wig,” bisiknya. “Ini… ini rambutku…. Rambutku… rambutku tumbuh panjang dalam semalam!!” Deka yang frustrasi karena tak tahu apa yang terjadi—mendadak terbangun dalam kamar yang bukan miliknya, sekaligus mendapati rambutnya menjadi panjang seperti perenpuan—Deka memukul-mukul kaki, kepala, dan tangannya untuk memastikan bahwa semua itu hanyalah mimpi. Tetapi semua tempat yang dipukulnya terasa sakit. Belum siap dengan kenyataan bahwa yang tengah dialaminya—kemungkinan—bukan sebuah mimpi, ranjang yang berguncang saat Deka bergerak tak menentu ke sana-kemari membuatnya merasakan ada sesuatu yang ikut bergerak ke sana-sini. Sesuatu yang memberatkan tubuhnya bagian atasnya, sesuatu yang menggumpal di depan wajah ketika Deka menunduk, sesuatu yang bulat dan besar yang membuat wajah Deka memerah malu karena tahu apa itu, dan sesuatu yang selalu bisa menggetarkan iman laki-laki. Melihat itu, Deka merangkak mundur hingga ke kepala ranjang. Dia tersengal setengah malu menundukkan kepalanya. Deka merasa panik dan tidak percaya. Dia hanya bisa berteriak, “D-d-da-da-DAD4KU TUMBUH!!!!!” *** Aisu menyibak selimut perlahan dengan masih menunduk, merasa tak nyaman sekaligus malu atas pikiran terhadap benda yang mengganjal di antara kakinya; sesuatu yang melesak dalam celana, sesuatu yang… tidak sepantasnya berada di antara kedua pahanya. Aisu melotot, wajahnya pias saat selimut tersibak dan jemarinya entah mendapat keberanian dari mana menyentuh benda itu. Aisu lantas berteriak panik, “PA-PAPA! AISU PUNYA TIT—” *** “TIDAAAAAAAAAK! BUNDA!” Deka merasa campur aduk antara panik, tak tahu harus bagaimana, dan malu setengah mati. Dia membungkukkan tubuh, melihat ke tempat yang lebih rendah dari tubuhnya. Kemudian semakin panik dan pias. “HILANG!!!” *** “Hihihihihi.” Akarabahni, menonton kedua manusia itu dari langit dengan suara tawa yang puas dan kering. “Permainan kita dimulai dari sini, Aisu, Deka—dua manusia malang yang tak sabar ingin kurebut energi kalian. Hahaha!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD