25. Pundung, Deka, dan Suara Tawa

2386 Words
Deka duduk terbengong di meja belajarnya. Buku-buku pelajaran sewaktu SMA-nya terbuka dan berserakan di atas meja, tetapi fokus Deka berlarian ke mana-mana. Deka tak bisa fokus pada pelajaran Kimia dan rumus-rumusnya. Dia terus kepikiran soal kebangkrutan kafe Dinolatte. Deka takkan mendapat uang gaji bulanan yang sesungguhnya lagi. Dinolatte sudah bangkrut. Sudah tak ada penghasilan tambahan lagi. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja. Meski tak banyak pel4nggan yang datang—dan memang biasanya begitu—entah mengapa rasanya seharian tadi melelahkan. Deka menggeleng. Bukan waktunya untuk bersedih hati! Dia meraih ponsel, mencari lowongan pekerjaan di berbagai situs. Layar ponsel bergulir, bermacam-macam pekerjaan menarik perhatian Deka. “Apa kerja antar-antar paket dan jadi kurir saja? Tapi apa gak capek, bolak-balik ke berbagai rumah dan daerah? Dan harus pakai motor juga. Aku adanya sepeda, kayaknya gak bakal sanggup mengayuh jauh-jauh.” Deka menarik napas, “Penghasilan di toko roti Bunda bukan uang yang sesungguhnya. Aku harus mencari uang tambahan lain. Harus cari uang yang banyak!” lalu menggulir layar ponselnya lagi. "Waiter restoran?" gumam Deka, membaca satu paragraf iklan lowongan kerja yang menarik perhatian. "Gak buruk. Sepertinya kafe ini ramai pengunjung, dan gajinya pasti lebih besar daripada jadi barista kafe, apalagi di kafe Dinolatte. Hahaha." Deka ingin tahu lebih lanjut soal kualifikasi yang dibutuh restoran tersebut. Dia mengarahkan jempolnya untuk menekan sebuah tautan restoran tersebut. Tetapi begitu ujung jemari menyentuh layar ponsel, mendadak saja ponselnya terpeleset jatuh mengenai batang hidung dan wajahnya. “Apa… melamar di kafe lain saja?” Sedetik kemudian, Deka tertawa. “Kalau Dinolatte gak bangkrut dan aku pindah kerja di kafe lain, Mas Iyo dan Mas Irfan pasti akan memusuhiku. Haha. Apa aku bakal dicap sebagai penghianat? Duh, lucu banget.” Mengingat dua rekan kerjanya itu, Deka mendadak memikirkan soal Irfan. “Oh, iya. Tadi kelakuan Mas Irfan kenapa aneh banget? Apa dia mengalami stress sesaat karena tahu Dinolatte sudah bangkrut? Eh, tapi kalau Mas Irfan, sih, kayaknya bakal beringas dan protes ke Mas Iyo dan Bos, meminta mereka untuk tidak menyerah dan mencari solusinya bersama. Yah, walau peristiwa ini di luar kendalinya.” Deka menatap buku tulisnya. Dia menggerakkan pulpen untuk menulis sesuatu dan membulatkannya. “Jurang. Mas Irfan membahas soal jurang, apa maksudnya? Salah memilih tubuh. Tubuh apa? Apa Mas Irfan bicara soal gim? Dan, siapa Si Cahaya? Hasil instan. Panen. Tidak tertangkap oleh Si Cahaya. Apa itu semua?” Deka tiba-tiba tersentak saat mengingat kalimat lain yang diucapkan Irfan: Hatimu berlubang. Deka melepas pulpen dan menjauhkan diri dari permukaan meja. Dia menyandar pada punggung kursi kayu, menunduk menatap kakinya. Perkataan Irfan selanjutnya mengiang dalam kepala. “Untuk menyelesaikan masalah, kau harus egois. Kau harus mendahulukan dirimu dulu. Egoislah! Pentingkan urusanmu dulu! Obati lubang dalam hatimu!” Ah, entah mengapa, memikirkan kalimat itu, Deka terbayang wajah Monalisa. Deka mendadak teringat Monalisa. Deka mendadak teringat kartu undangan pertunangan Monalisa dengan Gahyaksa. Kartu undangan itu sekarang ada di dalam tas selempangnya yang menyantel di paku belakang pintu kamar. Deka meliriknya, dan ia hanya bisa menekan kedua bibir, pundung. Ah, Monalisa. Perempuan itu masih saja secantik yang Deka ingat setahun belakangan. Atau bisa jadi semakin cantik, meski baru setahun tidak bersua. Mendadak, Deka teringat kalimat tentang; Perempuan akan terlihat makin cantik ketika sedang jatuh cinta. Apa itu artinya Monalisa sungguhan jatuh cinta dengan Gahyaksa, sang calon tunangan? Itu bukan hal yang baru lagi Deka ketahui. Bahkan sudah sejak tahun lalu, ketika Deka masih duduk di bangku kelas dua belas, tahun terakhir SMA-nya. Banyak orang dewasa mengatakan, kalau masa SMA adalah masa-masa terindah dalam hidup mereka yang tak bisa dirasakan dua kali. Masa di mana kau melakukan segala hal untuk pertama kalinya: melakukan hal konyol, melanggar peraturan sekolah beramai-ramai, merokok, bolos sekolah ke warnet atau rumah teman, menertawakan nilai ulangan yang hancur, mendapatkan banyak teman, dan banyak hal lagi, termasuk jatuh cinta. Di antara itu, Deka pernah merasakan jatuh cinta. Kepada Monalisa tentu saja. Deka dan Monalisa, dulu, adalah teman sekelas. Namun keduanya seperti sisi kutub yang berlawanan. Monalisa yang cantik dan ramah, menjadi primadona sekolah yang dikagumi kaum laki-laki. Dia supel, baik, dan cara bicaranya lembut dan kadang pula persuasif, seperti menghipnotismu untuk segera menunaikan seluruh perkataannya. Sementara Deka, adalah cowok cupu yang berteman dengan cowok-cowok cupu lainnya. Tubuhnya yang pendek, dirinya yang jarang bicara, dan kehadirannya yang selalu setipis kertas, membuat Deka tak terjangkau di permukaan orang-orang "spesial" di sekolah mereka. Meski begitu, Deka menyukai Monalisa, teman sekelasnya yang juga disukai oleh semua lelaki, termasuk Gahyaksa, cowok keren, tinggi, tampan, dan sempurna di segala sisi—berbalik dengan Deka. Mungkin, hampir seluruh orang di sekolah tahu, bahwa Gahyaksa menyukai Monalisa, dan begitu pula sebaliknya. Mereka sama-sama saling menyukai, hanya saja belum ada kepastian dari kedua belah pihak. Tetapi, mengetahui kedua orang "spesial" itu memiliki perasaan yang serupa, tentu saja banyak orang patah hati dan menyerah. Mereka, toh, saling menyukai dan cocok bersama. Untuk apa menginterupsi keduanya? Setidaknya, begitu pikir Deka. Deka merasa cukup hanya dengan melihat Monalisa, asal Monalisa tidak benci padanya. Lagi pula, mereka masih SMA. Perasaan yang disimpan Deka hanyalah cinta monyet yang akan cepat luntur dan terlupakan. Untuk apa ingin memilikinya? Untuk apa merasa sedih saat Monalisa bersama Gahyaksa? Untuk apa Deka merasa iri? Untuk apa Deka serakah, hingga suatu hari dirinya memutuskan menulis sebuah surat pernyataan cinta? Itu semua, sungguh apa guna, jika membuat orang yang Deka suka, Monalisa, menjadi bingung atas hubungan serius yang sedang dijalinnya dengan Gahyaksa? Ah, sudahlah. Ini hanya cinta monyet yang akan cepat luntur dan terlupakan— tapi, kenapa Deka merasa berat hati saat tahu, kalau Monalisa dan Gahyaksa akan bertunangan? Kenapa rasanya ada yang aneh saat Deka menggenggam undangan yang diberikan Monalisa? Deka mengusap wajahnya, berharap segala apa pun yang menyangkut di kepalanya segera rontok dan hilang. Lantas Deka memilih tak memusingkan persoalan Monalisa dan pertunangannya lagi. Dia bergeser dari meja belajar ke kasur, lepas tangan soal belajar. Uang lebih penting untuk saat ini. Deka kembali menatap layar ponsel, berselancar dalam internet, mencari lowongan pekerjaan untuk mengisi waktu siang hari hingga malam harinya. Namun, untuk memikirkan uang dan pekerjaan yang secepatnya harus Deka dapatkan, dia menjadi jengah. Pikirannya tidak ada waktu istirahat sama sekali. Sedari pagi sudah pergi ke toko roti Bunda untuk membuka toko dan mengulurkan tangan membantu membuat adonan roti. Beranjak menuju siang pergi ke kafe Dinolatte sampai malam. Dan jika saja tadi Ayah belum tidur, mungkin Ayah akan menyuruh untuk belajar dan berhenti bekerja sambilan. Yah, meski Deka memang mencoba menyempatkan diri untuk singgah di meja belajar sebelum tidur, tapi kepalanya sudah berat dan penuh oleh masalah pekerjaan. Sudah tak bisa dipecah jadi dua, Deka terlalu fokus mencari uang. Belajar, kali ini, hanya sekadar untuk menenangkan hati Ayah, karena Ayah menentang Deka yang longkap tahun kuliah dan malah memilih bekerja mengumpulkan uang. Akan tetapi, tampaknya malam ini terasa lebih berat dan sumpek. Masalah kafe Dinolatte, tempatnya bekerja, yang mengalami kebangkrutan dan terpaksa memberhentikan seluruh pekerja, gulung tikar, adalah masalah yang tak bisa Deka hindari dan memang sesuatu di luar kontrolnya, tak terhindarkan. Ya habis, mau bagaimana lagi? Masalah administrasi dan keuangan kafe itu sepenuhnya berada dalam kuasa bosnya. Usaha kafe itu bukan milik Deka. Deka yang hanya seorang barista-kasir-dan-tukang-pembersih-segala cuma bisa mengikuti semua kebijakan dan keputusan bosnya. Itu sungguh berada di luar kontrol Deka. Lantas… masalah Monalisa, apakah juga berada di luar garis kuasanya? Ah, Monalisa. Gadis itu selalu membawa masalah pada Deka. Tidak satu tahun lalu, tidak pula sampai sekarang. Jika dulu masalahnya hanya sepihak, karena Deka yang diam-diam menyukai Monalisa dan tidak mempunyai keberanian untuk menyatakannya, maka sekarang masalah itu menjadi ulah ketololannya atas kenekatan menulis surat cinta untuk Monalisa, menaruhnya di kolong meja di hari terakhir Ujian Nasional, lalu karena keberanian itu berangsur menghilang, Deka hendak mengambil kembali surat cintanya. Deka menyesal sudah memberikan surat cinta miliknya, karena… siapa Deka di mata Monalisa? Dia tidak memiliki kelebihan apa pun untuk membersamai Monalisa. Deka sadar diri, entah pula menjadi takut dengan apa yang akan terjadi jika Monalisa tahu bahwa Deka, lelaki sekelas remah, menyukai Monalisa yang dipuja banyak orang. Tetapi, ketika Deka kembali ke kelas dengan hati yang resah untuk membatalkan surat cintanya, dari sudut jendela kelas, Deka malah melihat Monalisa yang sedang mengosongkan lokernya ditemani oleh Gahyaksa. Mereka berbincang dengan wajah saling tersenyum merona. Tak perlu mendengar dengan jelas pun Deka tahu mereka sedang kasmaran, dan mungkin Gahyaksa sedang menunggu Monalisa rapi-rapi untuk mengajaknya pulang bersama. Lalu, senyuman mereka tumbang saat Monalisa mengambil sepucuk surat dari dalam kolong mejanya. Deka ingat sekali wajah terkejut Monalisa. Deka ingat sekali wajah tak suka milik Gahyaksa. Dari gerakan bibir keduanya, Deka menebak jika Monalisa bertanya pada Gahyaksa, mungkin seperti “Apa kamu yang menaruhnya?” karena Deka sangat ingat, Gahyaksa langsung merebut surat itu dan meremasnya hingga tak berbentuk. Gahyaksa lalu mengamit tangan Monalisa dan segera keluar kelas. Deka pun berbalik, berlari ke arah tangga dan jatuh terguling di lantai terakhir karena terlalu terburu-buru. Deka pulang mengayuh sepeda dengan perasaan yang kacau. Monalisa bahkan belum membaca surat cintanya! Meski, yah, Deka memang merasa dirinya tak pantas untuk Monalisa. Tetapi setidaknya, atas dasar apa Gahyaksa merebut dan meremas surat cinta anonim itu? Walau begitu, nasib baiknya adalah Deka tidak menjadi bahan tertawaan ketika jatuh waktu berlari dari tangga, karena sekolah sudah sepi dan muridnya sudah pulang sejak lama. Sore itu, peraasan Deka campur aduk antara sedih, kecewa, dan mengutuk dirinya sendiri. Dia begitu bodoh dan naif. Hancur atas pengharapannya sendiri. Ah, lagi pula, apa yang Deka harapkan dari memberi surat cintanya untuk Monalisa? Berharap Monalisa mau menerimanya dan menjalin hubungan romansa? Hah! Itu tidak mungkin, selama Gahyaksa ada di sebelah Monalisa. Dia, Gahyaksa, tak akan terganti untuk Monalisa. Karena Deka tahu, dan Deka sedang berada di posisi itu. Monalisa tak tergantikan. Deka begitu bodoh dan naif. Dam Deka kira, setelah satu tahun berlalu, perasaannya akan surut dan menghilang. Tetapi, tentu itu hanya mitos belaka. Monalisa yang supel dan ramah kepada semua teman sekelas, menanyai kabar mereka satu-satu, mengirim pesan dan menjaga tali pertemanan. Deka adalah salah satu orang yang Monalisa hubungi. Deka bahkan masih menyimpan pesan-pesan dalam ruang obrolan mereka, walau Monalisa dan dirinya hanya berhubungan sebagai teman lama yang sekarang sudah beralih menjadi kenalan waktu SMA. Tapi tetap saja, mendapatkan notifikasi dari Monalisa adalah kebahagiaan tiada tara bagi Deka. Monalisa sungguh-sunguh tak tergantikan bagi Deka. Dan Deka sungguh bodoh dan naif, karena masih menyimpan rasa untuk tunangan orang lain, calon istri orang lain, calon ibu dari anak orang lain! Deka geram. Dia terlalu overthinking, memikirkan hal yang memang pasti akan terjadi di masa depan—pernikahan Monalisa dengan Gahyaksa, sebuah ikatan, teken, tato, tanda, atau apa pun namanya, mereka bersumpah di hadapan Tuhan, dan hanya bisa dilanggar oleh kematian. Artinya, Deka tak punya kesempatan atas sesuatu yang sudah ada pemiliknya. Deka berwajah muram. Dia kabur dari pikirannya lewat game online, beralih sejenak dari website lowongan pekerjaan untuk mengalihkan pikiran negatifnya. Selama lima menit, Deka asyik bermain gim, menghanyutkan fokusnya pada kesenangan sesaat itu. Lalu, saat babak permainan tembak-menembak itu Deka menangkan, sembari menunggu loading ke babak selanjutnya lagi, sebuah banner iklan muncul di bagian bawah layar. Sebuah aplikasi kencan yang tampilannya persuasif. Saat loading telah usai, Deka masih melihat potongan iklan itu tanpa sadar. Ibu jarinya, entah Deka sadari atau tidak, memencet potongan iklan. Deka dialihkan ke aplikasi Browser. Sebuah website sedang berjalan, lalu beralih lagi ke Playstore. Itu sungguhan aplikasi kencan dengan label peringat pertama aplikasi terpopuler. “Aplikasi… kencan?” gumam Deka pada dirinya sendiri. Lama termangu, Deka akhirnya menjatuhkan ujung ibu jari ke atas tombol “Install”. Proses sedang berjalan sampai akhirnya selesai, dan keraguan meliputinya sejenak. Deka berpikir dua kali. Aplikasi kencan? Aku lagi apa, sih? Deka menertawai dirinya sendiri. Sebegini sedihnya sampai ingin berkenalan dengan orang lain? Haha. So pathetic. Walau begitu, Deka yang bodoh dan naif membuka aplikasi kencan yang baru saja diinstalnya. Ubaraga, namanya. “Nama yang tidak biasa,” komentar Deka dengan kernyitan. “Pihak pengembangnya dapat inspirasi nama dari mana, ya? Bahasa Sansekerta? Kesannya seperti bahasa orang zaman dulu, ataupun sebuah… mantra.” Deka yang bermain ponsel sembari tiduran, tak sengaja kehilangan tenaga pada jemarinya dalam menggenggam ponsel. Ponsel itu pun jatuh mengenai hidung. Deka memekik dan tersentak. “Arrgh! Sakit!” Lantas dia bangun dan terduduk, mengusap wajahnya sembari mengaduh. Saat mengambil ponsel di kasur dan ingin mengecek ponselnya untuk melihat dan memutuskan apakah ingin melihat isi aplikasi kencan itu lagi, atau menghapus aplikasi dan menyudahi kebodohannya sebelum hal buruk seperti kejatuhan ponsel terjadi lagi padanya—walau kejadian tadi tak bisa dijadikan bukti pasti juga—mendadak saja layar ponsel Deka berwarna hitam pekat seperti mati. "Eh, kenapa? Masa, rusak?" Deka menekan-nekan layar ponselnya berkali-kali. Tak ada reaksi apa-apa. Dia menekan tombol mati di sisi ponsel, tapi layarnya tidak berganti, masih hitam sempurna. Karena geram dan tak tahu apa yang terjadi pada ponselnya, Deka terus saja memencet-mencet layar ponselnya, berharap semua kembali normal. Namun tiba-tiba, layar ponsel Deka berubah menjadi putih sepenuhnya tanpa teks. Dan karena jarinya masih memukul-mukul layar, Deka tak sengaja memencet tombol-tombol yang muncul. Tombol berbentuk love yang muncul di bawah sebuah foto dua perempuan berambut panjang dan berambut pendek yang… tampak tak asing bagi Deka. Seperti pernah melihat mereka, tetapi tidak yakin juga dengna ingatannya. Jempol Deka terlanjur menekan tombol bentuk love, tetapi karena jemarinya masih memencet-mencet tanpa henti, Deka juga—tanpa sengaja—menekan tombol shuffle; dua panah yang saling bersinggungan arah. “Eh?! Kok kepencet love sendiri?! Aku, kan, gak kenal siapa cewek itu! Arrrgh! Ini kenapa, sih?!” Karena tak tahu apa yang terjadi pada ponselnya, Deka berniat membatalkan semuanya; men-unlove dan unshuffle. Namun, niatnya dipotong oleh sebuah suara tawa yang panjang dan kering, tepat di sebelah telinganya. "Hihihihi." Deka sontak menoleh ke kanan, pada meja dan kursi belajar kayunya yang kosong. Tidak ada siapa-siapa. Deka kemudian kembali pada ponsel yang tahu-tahu sudah tampak seperti biasa lagi, pada tampilan web lowongan kerja. "Hihihi…hihi." Suara itu lagi. Deka menoleh lagi, tetapi tak ada apa-apa lagi. Dengan jantung yang mulai gaduh, dengan napas yang tertahan dan berat, dengan keringat dingin yang mengucur, dengan keberanian yang mulai pergi, Deka menaruh ponselnya, menarik selimut dan hendak tidur, berlagak seperti tidak pernah mendengar apa pun. Deka membanting tubuh menghadap tembok di sebelah kiri, dan saat itulah— "Hihihihihihi!" Sosok hitam bertanduk dan bertaring muncul tepat di depan wajahnya, membuat Deka terkejut setengah mampus dan berteriak, "AAAAAARRRGGGGHHHH!!!" dan kemudian pingsan seketika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD