Aisu kembali ke kamar setelah Papa berkata, bahwa tidak ada maksud apa pun perihal obrolan barusan. Papa menyuruh Aisu untuk menganggap perbincangan barusan bukan apa-apa. Maka, setelah tersenyum teduh, Papa membawa anak sulungnya pergi keluar ruang kerja. Papa untuk tidur, sedang Aisu kembali mengerjakan tugas di depan komputer.
Sekembalinya Aisu ke kamar, Aisu duduk berhadapan dengan desain rancangan proyeknya tanpa membawa segelas es kopi instan, melainkan sebuah perasaan gelisah yang membuat hatinya menjadi tak nyaman. Tatapannya terpaku pada layar komputer, tetapi kesadarannya entah menyangkut di mana. Aisu tak bisa fokus sama sekali.
Selama hampir satu jam mengotak-atik rancangan desan dengan kesadaran seperti zombie, Aisu mendapatkan sebuah pesan suara di ponsel. Dari Papa. "Mau bergadang sampai jam berapa, Kak Aisu? Kemarin mamamu bilang, kamu gak tidur sama sekali. Sudahi untuk malam ini. Cepat tidur, Kak Aisu."
Aisu menyengir dibuatnya. Dia tak membalas apa-apa lagi. Lalu sekilas melihat kontak Mama di Wh*tsapp yang masih belum dibaca sama sekali. Aisu semakin gelisah. Apa perkataan Papa soal Mama dan Ami yang pergi menginap ke rumah Oma—mamanya Papa—itu benar?
Tapi, dipikirkan pergi ke lain tempat selain ke rumah Oma pun, sepertinya tidak mungkin. Memang, Mama akan membawa Ami ke mana lagi jika sampai menginap?
Aisu menggeleng. Bukan saatnya memikirkan masalah ini. Aisu memilih memasang headset dan mendengarkan lagu dengan volume keras untuk mengalihkan fokus sepenuhnya pada tugas kuliah.
Namun, Aisu tak bisa menyingkirkan perasaannya. Dia sungguh merasa terganggu. Entah dorongan dari mana, Aisu pergi keluar kamarnya. Dia mengendap, mengintip dari pucuk anak tangga ke lantai satu yang gelap dan sepi.
Ayah sudah tidur, pikirnya.
Setelahnya, Aisu mengendap lagi, tapi kali ini menuju kamar kerja Papa. Aisu menarik gagang pintu pelan-pelan, mengecek lebih dulu apakah Papa menguncinya. Tapi untungnya, pintu tidak terkunci. Aisu hati-hati mendorong pintu agar suara deritnya tidak terlalu nyaring.
Kamar kerja Papa masih sama seperti beberapa waktu lalu. Aisu masuk ke dalam tanpa menutup pintu, mengganjalnya dengan sebuah buku supaya dapat segera pergi jika Papa diam-diam naik dan memergokinya.
Tempat yang pertama Aisu hampiri adalah meja kerja Papa. Lembaran kertas cetak biru baru yang hanya terdapat beberapa garis dasar yang saling membentang. Kemudian Aisu teringat omongan Papa, "Desainmu tidak boleh sama dengan milik Papa."
Aisu berpaling dari meja kerja. Dia mengerti, sebagai calon arsitek yang baik, mencuri desain rancangan milik orang lain, apalagi sesama arsitek, adalah sebuah kejahatan yang pantas dihukum mati. Yah, meski tidak perlu sampai separah itu, sih.
Lantas kepalanya menoleh ke sembarang arah, tanpa sadar tertuju pada gitar tua milik Papa yang ada di sudut lemari buku. Aisu berjalan mendekat. Gitar tua berwarna cokelat muda yang polos, bersih, dan minim goresan. Cukup terawat dan awet untuk ukuran sebuah gitar berumur hampir dua puluh tahun.
Aisu menjangkau senar-senar gitar, memetiknya asal untuk merasakan sesuatu. Memang benar kata Papa, senarnya perlu diganti dengan yang baru. Suara yang dihasilkan terlalu ngebass dan ada yang melengking, tanda tak pernah dipetik selama beberapa dekade.
Tatapan mata Aisu tahu-tahu berlabuh pada lemari buku, pada sebuah buku tebal dan besar bersampul putih di paling bawah. Aisu menariknya. Sebuah album lama.
Aisu menoleh ke arah pintu, memeriksa suara dan kehadiran sesuatu. Nihil. Tak ada tanda-tanda Papa naik lagi karena mengetahui Aisu yang menerobos ruang kerjanya.
Aisu duduk bersila di lantai. Dia memangku album. Membukanya, dan menemukan sebuah foto lelaki berjas dan perempuan dengan gaun pengantin yang tersenyum gembira ke arah kamera, dengan latar belakang sebuah pelaminan. Dari wajah mereka, Aisu bisa tahu jika keduanya adalah Papa dan Mama waktu muda.
Foto-foto di lembar berikutnya masih menunjukkan situasi yang sama. Acara pesta pernikahan Papa dan Mama. Tidak terlalu mewah dan megah. Bisa dibilang cukup sederhana, tetapi Aisu menemukan binar kebahagiaan yang menyelimuti acara itu. Namun, Aisu hanya menemukan dua tokoh saja di dalamnya. Hanya Papa dan Mama.
Lembar berikutnya ada seorang bayi merah dalam dekapan seorang perempuan—Mama menggendong Aisu di ranjang rumah sakit dengan wajah lelah sehabis melahirkan.
Ada foto-foto pertumbuhan bayi perempuan itu hingga menjadi murid TK dengan seragam kecil dan imutnya, menjadi murid SD hingga SMP, pun foto-foto Aisu dengan Papa dan Mama di tempat-tempat rekreasi.
Melihat foto-foto dalam album itu membuat Aisu merasa kembali ke masa lalu, walau ingatan sewaktu dirinya kecil tidak terlalu jelas. Tetapi segalanya seperti sebuah fragmen kehidupan sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Hingga matanya menemukan dirinya dengan seragam SMP, menggendong seorang bayi merah dengan wajah gugup tetapi penuh kasih sayang—Aisu menggendong Ami yang baru saja lahir.
Senyuman terpampang di wajah Aisu, kemudian berangsur melebar hingga menjadi sebuah cengiran. Matanya mendadak buram, Aisu menjadi sentimental.
Ketika Aisu membalikkan albom, lembar berikutnya kosong. Aisu mengernyit. Tak ada foto pertumbuhan Ami seperti dirinya waktu kecil. Aisu tetap membalikkan lembar demi lembar. Satu lembar. Dua lembar. Tiga lembar. Empat lembar. Dan tepat pada ke lembar lima, barulah terisi oleh foto-foto lagi. Tetapi, bukan foto pertumbuhan Ami, melainkan foto sejumlah anak-anak SMA di kelas, keseruan mereka, kekonyolan yang dilakukan bersama, hingga foto di sebuah acara yang terdapat banner bertuliskan “Festival SMA X Tahun 199X”.
Dari foto-foto yang Aisu lihat, Aisu dapat menyimpulkan beberapa hal, seperti Papa dan Mama ternyata teman sekelas—dilihat dari mereka berdua yang selalu terlihat dalam satu foto—, Mama ternyata seorang primadona sekolah yang sering mendapat pengakuan cinta, Papa menyukai Mama diam-diam dan sering diledek oleh teman-teman mereka, sampai pada sebuah foto yang menunjukkan Papa duduk di atas panggung festival sekolah mereka, membawa gitar tuanya, tengah menyanyi di hadapan semua orang, lalu di foto berikutnya, Mama didesak naik ke panggung dari kerumunan penonton, dan berakhir pada Papa yang berlutut dengan sebuah bunga yang disembunyikannya di punggung.
Aisu, dengan merona, menyimpulkan jika ucapan Papa tentang dirinya pernah memakai gitar tua itu untuk menyanyikan lagu Wonderwall demi menembak Mama ternyata benar. Tetapi Papa tak pernah bilang, jika Papa menyatakan cinta secara jantan di depan semua orang ketika festival sekolah berlangsung.
Aisu yang datang dari masa depan, yang hanya melihat dari foto saja rasanya sampai malu, jika membayangkan dirinya benar-benar berada di antara para penonton itu.
Aisu merasa seperti menjadi saksi hubungan percintaan Papa dan Mama. Siapa sangka, dirinya akan menemukan foto yang menggemaskan itu, kan? Habis, cerita kekasih masa SMA yang menikah hingga punya anak dan terus langgung seperti sebuah serial TV saja, seperti kisah yang keluar dari novel romansa.
Melihat foto-foto berisi kenangan kedua orang tuanya waktu SMA itu, Aisu seperti habis mengintip kehidupan seseorang. Dan bukan perasaan bersalah yang sekarang dia rasa, melainkan sebuah rasa penasaran terhadap gitar tua milik papanya.
Aisu merapikan album milik Papa kembali ke lemari buku. Dia berpaling pada gitar tua yang sekarang gitar itu lebih Aisu hormati dan sayangi. Rasanya, gitar tua itu seperti sebuah benda dengan suatu sihir ajaib yang menyatukan Papa dan Mama.
Aisu meraih badan gitar, memeluknya dengan hati-hati, menempatkannya di pangkuan seolah akan memainkannya, padahal tidak bisa sama sekali. Dia memetik senar asal-asalan. Bunyi yang tadinya ngebass dan melengking, seolah menjadi indah di telinganya.
Seakan tak puas dan kebetulan teringat dengan lagu Wonderwall milik Oasis yang tadi papanya sebut, Aisu penasaran dengan tutorial chord gitarnya. Aisu merogoh saku, mengeluarkan ponselnya.
Berniat ingin masuk ke aplikasi Y*utube dan menonton sedikit tutorial, ketika kunci layar dibuka dan Aisu memencet aplikasi Y*utube, tapi tiba-tiba saja layar ponselnya menjadi glitch dan tanpak berubah, masuk dengan sendirinya ke sebuah aplikasi yang tak pernah Aisu unduh sebelumnya.
UBARAGA namanya.
Aisu mengernyit. “UBARAGA? Memang ada, ya, aplikasi yang namanya UBARAGA?”
Aisu menunggu beberapa saat untuk sesuatu, apa pun itu yang berasal dari aplikasi UBARAGA. Entah informasi seperti selamat datang ataupun menyuruh log in. Tetapi, layar ponselnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan apa pun, dan masih berwarna hitam pekat seperti mati.
Aisu mengguncang ponsel, berpikir sinyal kartunya jelek, tapi nihil.
Aisu menekan-nekan tombol kunci berkali-kali, tapi nihil, tak bergerak sedikit pun.
Aisu menekan tombol kunci, hendak mematikan ponselnya yang mendadak hang, tapi nihil.
Melakukan apa pun, layar ponselnya masih tetap hitam dan tak mau berubah. Aisu yang geram dan tak tahu mengapa ponselnya mendadak mengadat, memencet asal layar ponsel bertubi-tubi.
Kemudian tiba-tiba, layar ponselnya berubah menjadi putih sepenuhnya tanpa teks. Dan karena jarinya masih memukul-mukul layar, Aisu tak sengaja memencet tombol-tombol yang muncul. Tombol berbentuk love yang muncul di bawah sebuah foto seorang lelaki muda yang… tampak tak asing bagi Aisu.
“Hah? Siapa, ya? Kayak pernah lihat, deh?” Aisu mendekatkan layar ponselnya ke wajah, mengingat-ingat si empunya wajah yang dirasanya menyebalkan itu.
“Ah! Aku ingat!” Aisu mendadak berdiri.
“Ah—!!” Lalu tanpa sadar, ketika ingin mengotak-atik aplikasi UBARAGA dan membatalkan love itu, fokus dan emosi Aisu sudah terenggut oleh ponselnya, hingga Aisu kehilangan cengkraman pada gitar tua milik Papa.
Brakk!!
Gitar tua itu jatuh menghantam lantai. Aisu melotot, jantungnya berdegup kencang, dan darah seolah berdesir hebat di ubun-ubun. Gitar tua milik Papa yang berharga itu jatuh!
Aisu sudah tidak memusingkan ponselnya, dia membuang ponselnya ke sofa. Tangannya segera menyambar gitar tua milik Papa yang tertelengkup di lantai.
Ketika dibalikkan, senar-senarnya putus dan mengeriting tak karuan, permukaannya juga tergores-gores.
Jantung Aisu seperti jatuh ke tanah. Aisu lemas.
Dia merusak gitar tua Papa yang sudah seperti sihir ajaib yang menyatukan Papa dan Mama!
Sekarang bagaimana?!