13. Hilang Kontrol (2)

2037 Words
Lagi pula, jika Aisu kabur sekarang dan berpura-pura dia tidak mengumpat, mau ditaruh di mana wajahnya saat menghadiri kelas Pak Hiroki nanti? Di p****t? Tidak bisa. p****t Aisu kan, ada dua. Sedang Aisu tidak punya dua muka! Dan lagi, mana mungkin dia berbuat tak tahu malu begitu? Tunggu— Kenapa pula Pak Hiroki tidak turun di lantai satu tadi? Kenapa dia malah ikut naik lagi? Kenapa dia tidak keluar?! Pasti… dia menunggu permintaan maaf dari Aisu! Buah pikiran dalam kepalanya itu melahirkan decakan nyaring yang mengisi ruang petak besi. Tapi, Aisu tak peduli. Dia marah! Karena Aisu adalah orang yang terakhir masuk ke dalam lift, maka dia mesti berdiri di paling luar, persis paling depan. Badan lift yang kinclong pertanda selalu dibersihkan tiap enam jam sekali itu dapat memantulkan bayangan seluruh orang di dalam lift, walau agak buram karena materialnya bukan kaca. Tetapi dari tempat Aisu berdiri, dan karena tubuhnya menjulang tinggi, Aisu dapat melihat sosok Pak Hiroki dari pantulan pintu lift. Pak Hiroki berada di belakang, di pojok kanan. Dia tergerus tubuh-tubuh orang lain hingga terpaksa berdiri di sana. Tatapan dosennya itu memandang lurus ke depan. Entah ke mana; ke arah digit angka di atas tombol-tombol lift, atau ke arah pantulan dirinya sendiri. Aisu melirik Pak Hiroki, sampai tak sadar kalau lima detik sudah berlalu. Dan sampai tak sadar, kalau ternyata Pak Hiroki ikut membelokkan manik mata padanya. Pak Hiroki berbalik menatap pantulan mata Aisu— Ting! —untungnya, Aisu bergegas melarikan matanya ke depan, menonton wajahnya sendiri. Nasib baiknya lagi, pintu lift terbuka. Jadi, Pak Hiroki gagal membuktikan perasaan ada yang mengawasi. "Uwah! Untung gak kepergok!" Aisu bergidik, entah mengapa. Sejak pintu lift terbuka dan mereka tiba di lantai dua, Aisu menyingkir demi memberikan jalan untuk orang yang keluar. Hanya tersisa tiga orang termasuk dirinya, Pak Hiroki, dan orang asing. Ruang sempit tadi mendadak luas dan terasa lebih hening. Aisu bergerak-gerak cemas. Apa dia mesti minta maaf sekarang? Apa waktunya tepat? Tapi masih ada orang lain di dalam lift. Aisu tak ingin orang itu terlibat. Toh, Aisu tak mengenalnya. Dan orang itu tak tahu permasalahan apa yang membuat Aisu sampai harus meminta maaf. Jangan sampai ada kabar burung aneh tentangnya! Berkali-kali mulutnya terkatup dan terbuka, tapi kalimat itu tidak keluar. Aisu tergagap. Kenapa rasanya sulit sekali meminta maaf dan mengakui kesalahan? Ah! Ini pasti karena ada orang asing di antara Aisu dan Pak Hiroki! Iya! Pasti karena itu! Pintu lift menutup, dan badan besinya sudah siap membawa tiga orang itu naik ke lantai tiga. Namun tiba-tiba— "Tunggu! Tahan liftnya!" —ada sebuah tangan yang menepuk-nepuk pintu lift. Orang asing yang berdiri di depan tombol lift itu pun langsung menuruti perintah seseorang di luar lift. Dia menekan tombol buka. Lalu, muncul seorang laki-laki dengan napas terengah begitu pintu terbuka. "Ah, terima kasih." Orang asing itu mengangguk sopan. Namun, Aisu berbeda. Ketika seseorang yang baru masuk itu menoleh padanya untuk mengucapkan hal yang sama, Aisu melotot kaget. Ya ampun. Sudah berapa kali dia melotot hati ini? Semoga sekrup pada matanya tidak kendur. "Eh, Aisu! Hai!" Kenapa semua orang mendadak terasa menyebalkan, sih? *** Pintu lift menutup. Orang asing itu berdiri lebih agak ke pinggir, tak ingin berurusan dengan Aisu, lelaki yang mengobrol dengannya, dan juga seorang pria dewasa yang tak dia ketahui identitasnya. "Hai, Aisu. Apa kabar?" sapa lelaki itu kembali. Aisu tak memberi respons. Dia memilih tuli dan menatap malas ke pantulan wajahnya sendiri. "Kamu gak kangen aku? Kita kan, sudah satu semester gak ketemu." Lelaki itu menggeser kakinya untuk lebih dekat dengan Aisu, lalu memanjangkan leher; mencari wajah Aisu. "Kenapa? Saking kagetnya bertemu denganku, kamu sampai gak bisa berkata-kata, ya? Hihihi. Kamu selalu lucu." Lelaki itu cekikikan sendiri. Lalu tubuh lift tiba di lantai tiga. Pintunya terbuka, dan orang asing itu bergegas keluar. Aisu yakin, itu karena dia muak mendengar suara lelaki yang sok kenal dengan Aisu. Kenapa tidak? Buktinya, Aisu saja sampai ingin muntah! "Oh, tolong geser sedikit." Lelaki berponi menutup dahi itu tak menunggu Aisu bergerak. Dia seperti sengaja untuk mempertemukan bahu keduanya. Tapi, Aisu tak bisa berkutik, karena segerombolan orang memang masuk ke dalam lift dan membuat ruangan kecil itu langsung sesak. Lift ramai. Tak hanya oleh orang, tapi juga oleh percakapan-percakapan kecil yang terjadi di dalamnya. Gerombolan tadi dengan teman bicaranya masing-masing, sedang lelaki di sebelah Aisu dengan tembok. "Sekarang kamu semester berapa, Aisu?" tanyanya yang tak dibalas apa-apa. "Hm, kutebak… semester enam, ya? Eh— apa lima?" Lelaki itu tertawa jenaka. "Hehe. Maaf, maaf. Biasanya aku pandai sekali dalam menebak sesuatu. Tapi karena sudah lama gak bertemu, aku jadi lupa kamu semester berapa." Aisu masih dengan tatapan malas dan bibir rapatnya, membiarkan lelaki sok akrab itu bicara sendirian. Biar saja. Toh, dia tidak malu jadi bisik-bisik gerombolan orang di dalam lift. "Kata orang, manusia itu mengalami perubahan setiap hari, entah sekecil apa pun dan dari segi apa pun. Tapi, selama enam bulan, kamu masih saja sama. Cuek dan dingin. Kamu gak ada niatan untuk berubah?" Aisu melantangkan suaranya supaya orang itu bungkam, "Memangnya aku Power Rangers?!" "Hahahaha!" Lelaki itu tertawa sembari mengucak sudut matanya. "Maksudku bukan gitu. Kamu gak ada niatan untuk bersikap lebih ramah padaku?" "Buat apa?" "Oh, benar." Dia tampak ingat akan sesuatu. "Kamu rupanya masih belum bisa memaafkanku, ya? Maafin, dong. Aku saja sudah berubah lebih baik, masa kamu gak mau maafin aku? Lupakan saja masa lalu. Kita bisa saling bersikap baik mulai sekarang. Ya?" "Ck." Aisu keki. Dia mulai merasakan tatapan-tatapan menusuk tempurung kepalanya. "Siapa pula kau menyuruhku begini-begitu? Urus saja urusanmu sendiri!" Lelaki itu tersenyum lebar. "Tapi, kamu itu urusanku." Aisu buru-buru menoleh dengan wajah yang tampak jijik. Rasanya macam kena déjà vu. "Hahaha! Kamu selalu bereaksi lucu setiap kugoda." Lelaki berpakaian keren itu menoleh ke samping, menunduk tersenyum dan meminta maaf atas suaranya. "Jadi, kamu sudah berubah? Kalau gitu, sekarang mau, dong, jadi pacarku?" "…hah?" Aisu melongo. Dia kesal, sebal, dan marah. Tapi, kalimatnya itu tak ada sangkut pautnya dengan konteks pembicaraan mereka. "Kau sakit jiwa, ya?" "Hahahaha!" Dia tertawa bahak. Sekali lagi, meminta maaf pada orang-orang di sebelahnya. Padahal bisa jadi, semua pendengar percakapan mereka itu sebal karena lift tidak sampai-sampai di lantai yang mereka tuju, agar mereka bisa cepat-cepat pergi dari dua orang berisik itu. "Gimana kuliahmu? UAS semester kemarin dapat nilai A+ seperti yang orang-orang bilang? Kamu gak—" Aisu melirik garang. "Anggaplah apa yang orang-orang katakan itu benar. Lalu, Kak Blu mau apa?" Lelaki itu tampak terkejut, persis seperti reaksi Aisu ketika melihatnya mendadak muncul di depan lift beberapa saat lalu. "Wah, aku gak menyangka kamu mau memanggil namaku lagi. Kukira, kamu benci padaku setelah apa yang terjadi di semester kemarin." Lift terbuka, mereka sampai di lantai empat. Beberapa orang bergegas turun, tapi tak ada yang naik. Lorong di depan sana kosong. Seharusnya, seseorang memencet tombol tutup agar lift cepat-cepat naik ke lantai berikutnya. Namun, telinga mereka terlalu sibuk menguping pembicaraan Aisu dan Blu. Bagaimana tidak? Ini tentang Blu! Mahasiswa semester tujuh yang terlibat dalam berbagai pelanggaran kampus! Dia memang bukan bad boy yang sering berulah, atau bad boy dengan sejuta kenakalan dan kesangarannya. Dia hanya Blu, lelaki manipulatif yang pernah menjerat Aisu ke dalam suatu kasus, tapi dipuja banyak perempuan karena tampang manis dan sikap baiknya. Hanya sebatas itu. Tidak lebih. Tidak ada cerita latar belakang keluarga yang memiliki kekayaan berlimpah, tidak ada cerita tentangnya yang sering gonta-ganti perempuan, tidak ada cerita tentang kebengisannya yang hobi main pukul. Tidak ada. Semua itu tidak ada. Blu hanyalah Blu; kakak tingkat biasa-biasa saja, yang brengseknya, menyematkan nama Aisu pada rumor buruk yang takkan pernah lepas dari Aisu, bahkan sampai dirinya lulus sekali pun. Dan mereka, sungguh lebih tertarik menguping pembicaraan keduanya, ketimbang pergi menuju urusan masing-masing. "Br*ngsek," gumam Aisu sembari membuang muka. "Eh, apa?" Blu, lelaki berkemeja biru laut dan celana hitam bahan itu masih bertindak lucu, dengan wajah semringah karena Aisu mengajaknya bicara. Entahlah. Mungkin dia tidak mendengar gumaman Aisu. Mungkin juga sengaja berlagak tidak mendengar apa-apa. Tapi, pasti laki-laki manipulatif yang Aisu yakin tidak berubah sejak semester kemarin itu mendengar suara Aisu. Gerombolan orang di sana saja sampai melotot menatap Aisu; itu artinya mereka mendengarnya, kan? "Apa, Aisu? Tadi kamu bilang apa?" tanya Blu lagi. Aisu sudah kepalang sebal. Amarah pada Leo yang sengaja dia pendam belum sepenuhnya hilang. Sudah lagi ditambah bertemu Blu, orang yang tak disangka-sangka berani muncul lagi di depan Aisu. Hari ini kenapa banyak sekali hal yang membuat Aisu kesal, sih?! "Ck! Kubilang, Kak Blu itu br*ngsek!" teriak Aisu, melupakan segerombolan orang yang mungkin saja diam-diam sedang merekamnya, pun kehadiran Pak Hiroki. "Kak Blu gak punya malu, ya? Mau kuadukan ke Kepala Prodi, biar di-drop out sekalian?" "Wah, jahat banget. Aku kan, cuma menyapa." Blu mengeluarkan wajah takut. "Kenapa semarah itu? Aku hanya ingin menjalin hubungan baik denganmu untuk ke depannya. Kukira, kamu sudah memaafkanku, tapi itu semua hanya perjanjian di atas kertas, ya? Materainya gak berguna, dong?" Aisu menautkan alisnya dalam-dalam, macam bisa melahap Blu dalam sekali mangap. Sungguh. Kalau bisa, Aisu ingin melempar Blu keluar dari lift sekarang juga. Atau kalau boleh, Aisu ingin mendorong Blu dari lantai sepuluh! Namun, dengan tatapan dan telinga orang-orang, Aisu sadar kalau dirinya, lagi-lagi, mesti menahan emosi. "Semester ini berat ya, untukmu? Kamu kurang tidur, Aisu. Wajahmu berbeda sekali dengan semester kemarin. Kantung matamu semakin tebal dan hitam. Sering bergadang, ya? Semalam sudah tidur, belum?" Rasanya sulit sekali untuk menjaga tangan Aisu agar tetap berada di samping tubuhnya. "Oh, belum, ya? Pantas saja kamu tampak kelelahan. Lebih baik kamu pulang dan tidur, Aisu. Sebelum semuanya tambah kacau." Ya Tuhan! Bisa gak sih, Aisu ledakkan saja emosinya saat ini juga?! Aisu menoleh tak suka. Blu, semakin didiamkan semakin tak karuan! "Dari artikel yang k****a, katanya, orang yang sering bergadang itu emosinya tidak stabil, lho. Katanya, mereka sering kehilangan kendali atas emosi mereka dan sering marah-marah pada sesuatu. Dengan alasan yang tidak jelas, mereka bisa tiba-tiba marah dan mengamuk karena kurang tidur." Ting! Baguslah, lift akhirnya tiba di lantai tujuan Aisu: lantai lima. "Ini lantaimu turun, ya?" Aisu tak buka suara. Begitu lift terbuka dan kaki Aisu melangkah keluar—"Tunggu. Aku mau tanya sesuatu. Malam itu, sehabis pulang janjian denganku, kamu gak pa-pa, kan?"—lagi-lagi Blu mendidihkan darah Aisu. "Bukan urusanmu," kata Aisu seraya pergi menjauh. Dia ingin cepat-cepat hilang dari sana. Dia ingin cepat-cepat pergi dari Blu. Namun, Blu tidak semenyerah itu untuk meninggalkan urusan mereka masing-masing. "Tidak ada yang hilang, kan?" Betul saja. Aisu lantas berbalik menuju lift. Dia sudah siap dengan segala sesuatunya. "Soalnya, teman-temanku agak— oh, kenapa lagi, Aisu? Mau ke lantai sembilan bersamaku? Mau main--" Bughhh!! Aisu tak dapat menahannya lagi. Dia sudah terlalu. Dia sudah sangat. Dadanya naik turun diikuti iringan napas yang masuk-keluar cepat. Aisu melayangkan tatapan gelap pada Blu. Dia merasa tangannnya kebas. Tetapi, jangankan tangan. Dia saja tak bisa mendengar apa-apa yang gerombolan itu ucap dan pekikan. Aisu bahkan tak peduli pada wajah panik, takut, dan kaget mereka. Aisu tak bisa mendengar apa-apa. Matanya hanya nyalang kepada Blu yang tersungkur jatuh dengan pipi yang memerah lebam. Aisu tak tahu apa yang diucapkan Blu dengan wajah jenaka. Telinganya terlalu berdenging. Desiran darah terlalu cepat berkeliaran ke seluruh tubuhnya. Aisu dengan cepat kembali bereaksi. Meski tak dapat mendengar apa-apa, Aisu bisa membaca gerakan bibir sialan itu. Dia angkat tinjunya tinggi-tinggi, dia hujamkan tatapan murka pada Blu, namun tiba-tiba, salah satu saraf otaknya mengirimkan sinyal lain. Aisu berhenti dengan kepalan tangan di udara. Dia melihat gerombolan orang yang menatapnya. Seluruh indranya sudah kembali bersemayam pada tubuhnya, setelah hancur berserakan akibat ledakan barusan. Aisu kembali waras. Apalagi, ketika menemukan tatapan Pak Hiroki yang melekat padanya, yang Aisu sendiri paham, bahwa pria itu marah. Aisu tak berbuat banyak. Dia pergi dengan harga diri yang terluka. Aisu berdecak, menahan emosi yang lagi-lagi memuncak. Dia pergi, meninggalkan semua orang di sana, menuju entah ke mana. Kelas? Sudah tak ada lagi gairah untuk hadir di sana. Biar saja presensi dan nilai tugasnya dapat C. Toh, masih bisa lulus jika Aisu menghadiahkan kain batik tulis Mega Mendung tujuh gradasi pada dosennya. Aisu pergi, meninggalkan Blu yang meneriakkan namanya, lalu tertawa kencang-kencang. Aisu pergi, menyisakan emosi untuk ditumpahkan entah kepada siapa. Aisu pergi dari pandangan, dan dia tak tahu jika Pak Hiroki sempat menatap kedua tangannya yang gemetaran. Sialan itu datang lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD