14. Amarah dan Air Mata

1138 Words
Lantai lima ternyata tidak sesepi yang Aisu kehendaki. Lorong yang ditapakinya lumayan ramai. Beberapa orang saling berkelompok dan mengobrol merapat tembok. Sedangkan beberapa yang lain hanya berlalu lalang, dan tak sengaja saling menabrakkan mata pada Aisu: Si gadis yang berjalan cepat sembari menunduk dan menubrukkan pundaknya dengan pundak-pundak asing. Beberapa mata menatapnya tak suka, tapi Aisu masih berjalan mencari tempat sepi untuk meredakan emosi. Dia sempat gelap sesaat. Tak dia sangka, bahwa dirinya akan menggunakan kepalan tangan untuk mengurus Blu di hadapan sekumpulan orang asing dan juga dosen yang dia benci. Ada apa dengan hari ini? Kesialan tampaknya semakin mudah menemukan Aisu, lalu menamparnya dengan berbagai hal yang dia hindari. Pertama Leo, yang mengungkit hal-hal yang tidak perlu, yang membuatnya tanpa sadar meledak di depan banyak orang. Kedua Blu, kakak tingkat yang tak Aisu kira bahwa mereka akan kembali bertemu. Dan lagi-lagi, kedua orang itu membahas masa lalu. Kenapa laki-laki tidak mudah melupakan hal yang semestinya sudah berlalu? Atau ini hanya Aisu saja yang tidak becus merapikan gulungan takdirnya, sampai masih ada lembaran yang tersangkut pada takdir milik orang lain. Entahlah. Apa pun itu, Aisu tidak mau memikirkannya. Saat ini, dia hanya ingin membawa seluruh amarahnya ke anak tangga di ujung lororng, tempat tersepi di setiap lantai karena mahasiswa tentu lebih memilih naik lift daripada membakar kalori. Seperti yang diduga, anak tangga sepi. Aisu menuruni tangga. Dia berniat ke lantai satu, menghindar dari lift karena tidak ingin bersitatap dengan Blu, Pak Hiroki, pun segerombolan orang tadi. Namun, yang lebih Aisu takuti adalah kabar burung yang akan lebih cepat menyebar, yang malah akan menyusahkan kehidupan kampusnya di semester ini, lagi. Aisu mengentak tak sabaran. Amarah sudah naik ke pucuk kepalanya. Dia menuruni anak tangga satu per satu. Seluruh masalahnya menutupi kepala, seperti kabut tebal yang bergerumul membentuk awan kumulonimbus yang dapat melahirkan petir dan hujan badai, hingga akhirnya semua itu luruh dan memporak-porandakan pikiran Aisu. Sampai Aisu dikalahkan oleh pikirannya sendiri, langkahnya terhenti. Kakinya lemas. Tubuhnya bergetar. Aisu jatuh terduduk dengan tangan yang susah payah berpegangan pada tangkai besi anak tangga. Amarah yang tak terbendung lagi, yang tak dapat diluapkan seluruhnya, bergerombol membentuk gumpalan-gumpalan awan hitam dan petir. Ketika pada akhirnya langit tak dapat lagi menahan berat, hujan badai diturunkannya. Aisu menangis. Pundaknya bergetar. Dia terisak menenggelamkan wajah pada lutut yang ditekuk. "Kenapa dia masuk lagi?" *** Aisu tampak jelek. Meski tak melihat cermin sekali pun, dia tahu kalau matanya bengkak dan hidungnya merah--kebiasaannya setelah menangis. Aisu sudah lebih tenang setelah badai menumpahkan seluruh hujannya. Mendung di langitnya juga hampir hilang, tetapi Aisu masih harus membereskan sisa-sisa prahara barusan, agar tak satu pun orang yang melihatnya sadar kalau Aisu habis menangis. Tas ransel beratnya dia sampirkan di sebelah bahu. Aisu bergerak menuruni tangga pelan-pelan dengan wajah yang dia tundukkan setiap kali melihat orang. Turun dari lantai lima ke lantai satu, sekaligus sambil menyembunyikan wajahnya itu ternyata cukup mudah. Selain karena tangga sepi pengguna, orang-orang lebih mementingkan urusan sendiri dan tidak tertarik dengan Aisu yang terus menunduk macam mahasiswa introver. Orang-orang hanya akan mengira Aisu adalah satu dari sekian banyak penyendiri yang benci bertatapan dengan orang lain. Setelah kakinya menyentuh anak tangga terakhir dan sampai di lantai satu—untungnya sepi—Aisu buru-buru menuju UKK di lorong ketiga, persis agak di ujung. (UKK: Unit Kesehatan Kampus) Dia membuka pintu, sepi. Tidak ada satu pun mahasiswa yang melakukan akting di sana, hanya ada seorang perawat yang mengangkat wajahnya begitu Aisu tiba. Sebelum ditanyakan dan diperiksa apa-apa, Aisu lantas menuju ranjang paling ujung, lalu melepas sepatunya, menaruh ranselnya di bawah, kemudian naik dan berbaring. "Permisi, Kak." Perawat itu langsung saja menghampiri Aisu. "Sakit apa? Ada keluhan apa? Sini saya periksa biar Kakak bisa langsung minum obat dan baikan." Aisu tak menjawah apa-apa. Dia bahkan malah menghadap tembok, saat perawat itu terus memaksa ingin memeriksa keadaan Aisu. "Kak? Pusing, ya?" Perawat ini tak menyerah. Dia mencari sebuah obat di rak kaca, lalu menyerahkan sebutir obat dan air mineral di nakas sebelah Aisu. "Sudah makan siang belum? Kalau sudah, ini obatnya langsung diminum." Aisu tak menurut. "Kak, bangun dulu, yuk, diminum. Atau belum makan? Mau saya belikan makanan dari kantin dulu? Kak?" Perawat itu mengembuskan napas tipis, mencoba sabar. Mungkin mahasiswa di depannya sama seperti banyak mahasiswa yang ingin menumpang tidur setelah bergadang mengerjakan banyak tugas, menggunakan alasan klasik seperti—pura-pura—sakit. Ceklek "Lho? Ada mahasiswa yang sakit?" Seorang perawat lain, yang berusia pertengahan abad memasuki UKK, membawa beberapa dokumen di tangannya. "Iya, Bu, tapi kayaknya…," Perawat muda itu bergeser ke pintu, mendekat pada seniornya, "Cuma pura-pura sakit. Kayaknya mau bolos kelas, Bu," tukasnya setengah berbisik. "Masa, sih?" balasnya tak percaya, mengintip gadis yang terlentang menghadap tembok di sana. "Coba saya periksa." "Menurut aturan, mahasiswa yang mangkir ke Unit Kesehatan Kampus akan kena poin pelanggaran, kan, Bu Dwi?" Ibu perawat setengah tua bernama Dwi itu mengangguk. "Ambil buku itu. Biara saya yang minta KTM-nya." Setelah menaruh dokumen di meja, ia menghampiri Aisu, orang yang diduga mangkir dari kelas ke UKK untuk tidur—kasus yang sering mereka hadapi. (KTM: Kartu Tanda Mahasiswa) Perawat yang jauh lebih muda mengamini perintah Bu Dwi. Dia mengambil buku besar bersampul keras yang berisi nama-nama mahasiswa pelanggar aturan UKK di laci meja. Sementara itu, Bu Dwi berdiri di sebelah ranjang Aisu, ia mengguncang lengannya. "Nak, bangun. Tidurnya jangan di sini, ya. Ayo, bangun. Siapa namamu? Coba Ibu lihat KTM-mu." Aisu membuka mata, mengucak seluruh kelopaknya, lalu menoleh dengan mata sembab. "Ibu Dwi…," panggilnya lirih, membuat Bu Dwi tertegun sementara waktu. "Bu, ini bukunya." Suara si perawat muda akhirnya mengembalikan kesadarannya. "Lho, Bu?" heran si perawat muda saat Bu Dwi malah menggerakkan tangannya menarik ujung selimut, menutupi tubuh mahasiswa mangkir, bukannya menerima buku ditangannya. Kemudian Bu Dwi menutup tirai pemisah ranjang, mengajak juniornya menjauh dari si mahasiswa pelanggar aturan. "Kenapa gak jadi, Bu?" tanyanya. "Ssstt. Sudah gak apa. Kamu lakukan yang lain saja. Biarkan dia tidur," katanya, mengambil buku pendosa dari tangan juniornya. "Memang kenapa, Bu?" Dia masih penasaran. "Kenapa gak jadi ditulis namanya? Kan, sudah aturan dari kampus untuk mencatat—" Bu Dwi menggeleng lebih dulu, menghentikan si junior untuk bertanya lebih jauh. Menyadari juniornya berwajah penasaran, Bu Dwi melirik tirai yang menutupi Aisu sebelum berkata dengan suara pelan, "Kamu baru masuk dua bulan, jadi tidak tahu tentang anak itu. Besok, kalau dia ke sini lagi, biarkan saja tidur di sana lagi." "Kenapa, Bu?" tanyanya lagi dengan suara yang sama pelannya. Bu Dwi berwajah sendu sebelum menjawab, "Sudah lama dia gak ke sini. Terakhir kali sepertinya semester kemarin. Ibu kira dia tidak akan kesulitan lagi." Si perawat junior mengernyit, rasa penasarannya mengganda. "Maksa Ibu?" Bu Dwi menatap wajahnya sebentar, lalu menoleh ke ranjang Aisu yang tertutup tirai, tak surut pula perasaan iba yang dia rasa ketika mengatakan, "Ketika kita tidak bisa mengerti masalah yang sedang dihadapi seseorang, satu-satunya jalan untuk berpihak padanya adalah memaklumi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD