15. Bukan Hal Penting

1407 Words
Matahari hampir copot dari langit, menggantung dengan sisa kekuatan yang tak lama lagi akan tenggelam. Sudah jam setengah lima sore. Waktu yang dijanjikan bagi kelompok Aisu dan Mindy untuk berdiskusi sudah tiba. Tetapi, tak ada tanda-tanda kemunculan bahwa Aisu akan datang. Sementara Mindy, sudah berkali-kali mengiriminya pesan dan belasan panggilan telepon. Ponsel Aisu mati, dan pemiliknya entah ada di mana. Mindy, serta beberapa orang anggota kelompoknya, sudah duduk manis mengisi meja student lounge hampir setengah jam lalu. Namun, ditunggu sampai satu jam kemudian, sampai minuman mereka habis, bahkan sampai diskusi selesai, Aisu tidak datang menghadiri perjumpaan. Mindy juga tidak terlalu dekat dengan anggota kelompoknya; Aisu yang mengikutsertakan dirinya masuk ke dalam kelompok tugas gadis itu—berbaik hati, seperti Aisu yang selalu. Mindy beruntung memiliki Aisu. Mindy tidak terlalu dengan dengan siapa pun. Satu-satunya teman paling dekatnya di kampus, ya hanya Aisu—dan Leo. Orang lain hanya sekadar kenalan, teman sekelas, atau orang asing yang tak sengaja berpapasan saja. Mindy tak benar-benar tahu dan mengenal banyak orang. Maka, satu-satunya orang yang bisa ditanyainya terkait keberadaan Aisu adalah Leo seorang. Tetapi, lelaki itu membalas tidak tahu saat Mindy mengiriminya pesan tentang Aisu. Berniat menanyakan Aisu pada teman sekelompoknya, Mindy merasa lucu. Gimana kalau mereka tertawa? batinnya berkata. Karena, kan, Mindy yang lebih dekat dengan Aisu ketimbang mereka. Jadi, mana tahu mereka soal Aisu? Lalu, ke mana perginya Aisu? Dia tidak biasanya bolos diskusi kelompok. Apalagi ini untuk tugas proyek kelompok yang persentase nilainya sangat memengaruhi IPS mahasiswa. (IPS: Indeks Prestasi Semester) Ke mana Aisu? Pulang? Masa, Aisu yang memiliki ambisi tinggi itu pulang? Tidak mungkin, kan? Aisu bahkan rela bergadang berlaman-malam untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Dan pasti, nilai ini leblih penting daripada segala apa pun yang terjadi di rumah Aisu. Kemudian, ketimbang celingak-celinguk di pintu lobi gedung fakultasnya, Mindy meminta tolong kepada Leo untuk mencari Aisu. Tetapi Leo hanya membaca pesannya saja. Sementara itu, keadaan di student lounge semakin sepi. Anggota kelompoknya sudah bubar dengan wajah sebal, karena Aisu tidak datang, padahal dirinya bertugas membawa bahan diskusi. Karena hari sudah semakin gelap, dan mereka juga memiliki urusan masing-masing, Mindy memberanikan dirinya untuk meminta mereka untuk menunggu sebentar, walau diskusinya sudah berakhir. Mindy beranjak lari dari kursi, segera keluar setelah teman sekelompoknya mengiyakan dengan wajah keberatan. Dia tersenyum cerah, memutuskan untuk mencari Aisu, meninggalkan tasnya di meja. Mindy menari Aisu ke taman di belakang danau fakultas, tapi Aisu tidak ada. Ke kantin di dekat sana, Aisu juga tidak ada. Ke minimarket di dekat kampus, karena siapa tahu Aisu sedang membeli rokok dan keasyikan menghisap sampai berbatang-batang bersama tukang parkir, tetapi Aisu tidak ada di sana. Mindy hampir putus asa, sampai dia mendapatkan satu pesan masuk dari Leo. Aisu gak ada di rumah. Aku sudah tanya mamanya. Mindy berjalan lunglai ke bibir gedung fakultas. Dia kembali tanpa hasil. Apa yang akan dia sampaikan pada teman sekelompoknya? Banyak orang berlalu-lalang masuk dan keluar dari gedung. Kelas reguler sudah berakhir, dan mahasiswa kelas malam untuk karyawan sudah berdatangan ke kampus. Waktunya semakin sedikit. Teman sekelompoknya bisa angkat kaki kapan saja. Mindy harus mencari ke mana lagi? Sebuah panggilan suara mendadak masuk ke ponselnya. "Leo," gumamnya, membaca nama yang tertera—dengan sebuah love di belakangnya. Sebelum menekan tombol hijau, Mindy berdeham berkali-kali, merapikan anak rambutnya meski Leo tak bisa melihat rupanya. "Halo?" sapanya, dengan hati yang berdebar. Tapi tak lama kemudian, Mindy kembali tersadar. Dia harus fokus mencari Aisu. Sekarang bukan waktunya untuk berbunga-bunga karena hal sesepele ditelepon oleh Leo. "Aisu gak ada?" Suara Leo menyahut tanpa basa-basi. Mindy mengangguk, walau tak bisa dilihat oleh Leo. "Tadi pagi ada. Habis dari taman dan masuk ke kelas, Kak Aisu gak kelihatan lagi sampai sekarang. Aku sudah mencari ke mana-mana. Kamu betulan gak lihat, Leo?" Mindy menunggu, kala Leo memberinya jeda sebuah keheningan. "Leo?" panggil Mindy. "Gak lihat. Coba cari di warnet." Mindy tertawa ringan. Rasanya kegelisahannya terangkat sedikit. "Memangnya Kak Aisu itu kamu? Masa, dia sampai gak ikut diskusi kelompok yang sudah ditunggu-tunggu. Kak Aisu, kan, berambisi banget. Gak mungkin, kan, Kak Aisu sampai bolos?" "Aku memang gak lihat. Tapi mungkin aku tahu dia ada di mana." "Serius?!" pekik Mindy tanpa sadar. Dia buru-buru masuk ke gedung, kembali ke lobi dan menghampiri teman sekelompoknya di student lounge. Di lobi yang luas itu, mata Mindy hanya terfokus pada sebuah ruangan kaca di pojok lobi; masuk ke lorong dan agak ramai—student lounge, tempat anggota kelompoknya berada. Mindy terlalu fokus untuk mengabarkan berita itu kepada mereka, terlalu senang karena mendapatkan sebuah harapan, sampai-sampai tidak menyadari kerumunan orang yang masuk dan keluar dari barisan lift di tengah lobi, pada lorong yang lain. "Leo, kamu betulan lihat Kak Aisu, kan?!" pekiknya. "Betulan, kan, Leo?!" Suara yang dibawa tubuh yang berlari lincah menuju ruangan kaca, tak Mindy sadari terdengar oleh hampir semua penghuni lift. Termasuk pula oleh seorang pria berpakaian rapi yang menggendong ransel kulit, yang keluar dari lift bersama dengan sekelompok orang yang tersenyum dan menyapa setiap melihatnya. "Kak Aisu ada di mana?! Tolong kasih tahu aku!" teriak Mindy, setengah antusias, setengah lagi tidak bisa menahan lengkingannya. Dan suaranya itu, membuat pria beransel dengan mata sipit dan rambut yang masih rapi tertata walau sudah seharian bekerja, menoleh begitu melihat Mindy berlari melintas beberapa meter di depannya. Matanya mengikuti Mindy yang berwajah cerah menuju sekumpulan gadis seusianya yang baru saja keluar dari student lounge. "Tu-tunggu dulu! Aku tahu di mana Kak Aisu. Aku mau panggil Kak Aisu sebentar. Kalian mau menunggu, kan?" Mereka saling berpandang, lalu karena tidak ada yang mengajukan suara, salah satu dari mereka berkata, "Sudahlah, Mindy. Kami mau pakai ide yang sudah kami putuskan di awal diskusi." "Lho, tapi… Kak Aisu— aku baru mau menjemputnya." Mindy menatap mereka dengan tatapan memohon. Ponsel miliknya dalam genggaman, masih tersambung dengan Leo. "Buat apa menunggu orang yang tidak bertanggung jawab? Memangnya kami gak sibuk?" Setelah melempar mata ketus, satu per satu dari mereka pergi meninggalkan Mindy. "La-lalu diskusinya gimana?" tanya Mindy dengan suara kecil yang dipaksakan untuk berani. "Cek grup obrolan saja. Kalian tinggal ikuti kami… kalau kalian gak punya muka." Mindy memutar tubuh, berteriak memanggil mereka yang sudah bubar meninggalkannya, "Ta-tapi—!" Mindy mendadak terdiam kaku. Menjadi perhatian semua orang bukanlah hal yang dia suka. Mindy terpaksa mengembus napas berat, melangkah ke dalam student lounge dan mengambil tasnya. Barulah Mindy sadar, bahwa sambungan teleponnya dengan Leo sudah terputus—diputus, lebih tepatnya oleh cowok itu. Pundaknya sudah turun, sedih karena mungkin saja Leo tahu, jika keberadaan Aisu sudah bukan masalah lagi bagi Mindy. Toh, Mindy sudah tidak sedang mencari Aisu lagi, karena teman sekelompoknya sudah pergi. Betul, kan? Mindy menekuk wajah, melangkahkan kaki berat-berat menuju lobi, hendak keluar dan pulang. Sudah tak ada lagi keperluan di sana. Saat Aisu muncul nanti, apa yang akan Mindy katakan? "Kak Aisu, Kakak dan aku ditendang." Begitu? "Kita sudah gak punya kelompok lagi." Macam itu? Nanti, apa yang akan Aisu katakan jika tahu anggota kelompoknya marah padanya? Apa Aisu bahkan akan marah padanya karena tak bisa menghubunginya, atau karena tidak diingatkan lebih awal? Mindy tak tahu. Dia juga bingung sendiri. Nasib proyek ini dan nilainya nanti, Mindy sedang tak ingin memikirkannya—walau harus menyusun rencana untuk membujuk teman sekelompok agak memaafkannya, supaya bisa memenuhi nilai dan lulus mata kuliah tersebut. Sementara Mindy melangkah lesu menuju ke luar, lelaki yang rapi beransel masih mengikuti Mindy dalam diamnya, melalui mata. Tatkala Mindy yang berwajah murung melintas di depannya, di tengah mahasiswa lain, di pintu lobi, tanpa sadar mulutnya terbuka. Akan tetapi, belum sempat mengeluarkan suara dan memanggilnya entah untuk apa, sebuah suara manis dan kencang membuatnya menoleh. "Hideaki-san!" Dan lengannya, sudah tergandeng oleh si pemilik suara—wanita cantik berambut panjang beraroma vanilla, yang tersenyum dan merona padanya. "Camelia," sapa lelaki itu. "Sudah kubilang untuk tidak memanggil nama depanku di depan mahasiswa," peringatnya, saat beberapa anak didiknya mencuri-curi pandang kepada mereka. "Hehe. Maaf," kata si wanita beraroma vanilla, Camelia, tak serius. "Yuk. Jadi makan malam, kan, Hiroki-san?" Hiroki, si lelaki serba rapi, tersenyum. "Iya," aminnya. Diiringi senyuman, Camelia tidak melepaskan lengan Hiroki ketika menariknya keluar gedung fakultas menuju parkiran. Sementara bibir merah mudanya melaporkan ini-itu, Hiroki tak menggubrisnya. Maksudnya, tidak menaruh perhatian pada topik pembicaraannya. Karena, Hiroki masih memandang mahasiswinya yang berdiri menunduk di depan gerbang kampus, menunggu angkutan umum ataupun jemputannya—entah. "Ada apa, Hiroki-san?" tanya Camelia, mendapati wajah teman makan malamnya terbengong pada sesuatu. "Ah, tidak ada." Hiroki menggenapkan seluruh fokusnya untuk Camelia, lalu menuntunnya ke parkiran. "Bukan hal penting."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD