Dari dua hal antara mengecek stok atau beres-beres kafe, Deka tak melakukan satu pun kegiatan itu di sela-sela menunggu ruangan luas itu ramai. Yah, ditunggu sampai jenggot tumbuh di dagunya pun, kafe Dinolatte takkan ramai jika menu kopinya tidak diganti.
Deka sibuk dengan pikirannya sendiri. Di balik meja kasir, Deka mengawang dengan telapak yang menumpu dagu. Setengah sadar, Deka mendengar sayup-sayup langkah kaki dan percakapan yang turun dari anak tangga.
Lamunannya tentang sosok Monalisa di depan wajahnya beberapa waktu lalu langsung buyar, ketika Iyo datang dengan dua tumpuk kardus pada tangannya.
"Eh, bawa apa itu, Mas?" tanyanya dengan postur yang langsung ditegakkan. Dia tak boleh kelihatan malas, meski tak ada pelanggan sekali pun; salah satu etika kerja yang Bunda ajarkan.
"Gowo dokumen dan gelas plastik sing ora dipake meneh." Iyo tampak lelah. (Bawa dokumen dan gelas plastik yang gak dipakai lagi.)
"Jaluk tulung, Deka. Pindahin kardus lain yang ada di lantai dua ke ruang karyawan. Sing abot ben aku sing gowo." (Minta tolong, Deka. Pindahin kardus lain yang ada di lantai dua ke ruang karyawan. Yang berat biar aku yang bawa.)
"Oh, oke, Mas."
Deka, setelah melihat raut wajah Iyo tak seadem biasanya, langsung sigap naik ke lantai dua tanpa bertanya lebih banyak.
Deka juga tak masalah jika acara lamun-lamun galaunya dialihgantikan dengan memindahkan barang-barang. Karena siapa tahu, perasaan nyeri yang hatinya rasa dapat lenyap dan terlupakan—meski untuk sementara.
Dia melepas apron hitamnya, menyampirkannya di pintu konter, lalu menaiki anak tangga ke lantai dua. Tangga besi kokoh itu, saat Deka baru menjejak empat anak tangga, sudah penuh dengan tumpukan-tumpukan kardus berbagai stok gelas, sedotan, dan berang persediaan lainnya.
Deka memilih kardus yang paling dekat dari matanya, gelas. Ternyata tak seberat yang Deka pikir. Maka, Deka membawa tiga tumpuk sekaligus. Dia bersiap. Tiga tumpuk kardus berisi gelas berada dalam tangannya. Dia berhati-hati menuruni tangga, lalu berbelok setelah menyentuh lantai dasar.
Namun, tiga kardus itu terlalu tinggi, bahkan sampai menghalangi jarak pandangnya. Dan Deka tak sadar jika di depan, ada Irfan yang menghalangi jalannya. "Oops, hampir saja kardusnya jatuh."
"Duh, Mas Irfan! Misi, dong!" Deka menyamping, agak sebal saat tahu Irfan sengaja meletakkan tangannya di atas kardus. "Jangan ditekan begitu, Mas Irfan!"
"Kenapa? Berat?"
Deka tak mau meladeni Irfan. Dia mesti menaruh kardus itu ke ruang karyawan dan membantu Iyo. Ada yang lebih penting baginya, daripada menanggapi Irfan yang hari ini entah mengapa… sedikit aneh.
"Mas Irfan minggir saja! Jangan menghalangi jalan!"
"Eh, masa, aku harus diam? Oh! Sini kubukakan pintunya!" Irfan meraih gagang pintu, membukanya agar Deka bisa masuk dan menaruh bawaannya.
Deka menaruh tumpukannya ke pojok ruangan, di sebelah Iyo yang tengah mengecek sesuatu dan mencatatnya. "Mas Iyo, semua kardus yang ada di tangga mau dipindahkan ke sini?" tanya Deka.
"Iya, bawa semuanya turun. Irfan, kamu bantu Deka."
"Terus, kau ngapain? Gak ikut bantu?"
Iyo menatap Irfan aneh, sedang Deka langsung menyikutnya. "Sudah, Mas Iyo mengecek kelengkapan stok saja. Barang-barangnya biar saya dan Mas Irfan yang bawa turun. Mas Irfan!"
Deka menyeret Irfan keluar dengan tatapan aneh Iyo yang mengiringi mereka. Setelah keduanya berdiri di depan meja konter, Deka bersungut pada Irfan.
"Mas Irfan hari ini kenapa aneh begitu, sih? Sudah tahu Mas Iyo lagi sensitif habis debat sama Bos. Jangan mengeruk luka yang masih basah!"
"Pfftt— bahasamu!" Irfan tertawa, meninggalkan Deka menuju anak tangga.
"Mas Irfan! Saya serius!" Deka menyusul Irfan.
"Ya sudah, nih, cepat kalau memang serius." Irfan memberikan dua tumpuk kardus pada Deka. "Kenapa?" tanya Irfan. "Katanya serius? Cepat kerjakan."
"Eh— o-oke."
Deka menurut. Dia mengambil kardus itu, membawanya menuruni tangga menuju Iyo. Sesekali, Deka akan menoleh ke belakang dengan tatapan bingung.
Ada apa dengan Mas Irfan hari ini? begitu pikirnya.
Tadi siang, Irfan memberikan nasihat nyeleneh tentang, ehem… d**a—yang Irfan cakap di luar topik. Apa dia terlalu banyak menonton yang biru-biru?
Jangankan berbicara sejalur dengan topik. Irfan, dari awal mengembuskan kalimatnya saja sudah meleset dari pembahasan awal: mencegah Iyo dari pergi menemui Bos agar keduanya tidak adu jotos.
Topik yang dibawa Irfan betulan tidak bisa Deka ikuti. Lelaki yang belum juga menyelesaikan skripsinya itu, mula-mula membahas tentang kesalahannya memilih tubuh, pengalaman pertamanya memilih wadah, membahas soal Si Cahaya yang tak Deka tahu identitasnya, lalu mengangkat topik soal lubang dalam hati Deka, dan terakhir soal… jurang.
Oh, jangan lupakan tentang nasihatnya yang menyuruh Deka untuk egois. Juga tentang… ehem, d**a.
Deka tak tahu apa inti dari semuanya. Pun, maksud Irfan membahas topik-topik yang Deka tak tahu intinya. Apa dia hanya main-main dengan Deka? Apa dia sedang membual?
Sepertinya begitu, menilai bagaimana kepribadian Irfan selama ini. Habis, rasanya tidak mungkin jika Irfan yang penuh rasa malas dan prokrastinasi, mendadak begitu serius dan ingin membantu masalah Deka.
Lagi pula, mana ada orang yang berubah drastis dalam waktu sehari? Ya, kecuali kalau Irfan terbentur sesuatu.
—atau kerasukan sesuatu!
"Nih, sudah semuanya." Irfan datang dengan tumpukan kardus terakhir. "Kafenya mau langsung ditutup, Yo?"
Deka buru-buru menoleh pada Irfan. "Yo…?! Betulan ada yang aneh dengan Mas Irfan! Dia pasti kejedot sesuatu sampai berani memanggil Mas Iyo hanya dengan namanya!" pikirnya.
Iyo menyelidik Irfan yang terus menyengir kepada kedua rekannya. "Kose. Tesek ono sing kudu didelok." (Sebentar. Masih ada yang harus diperiksa.)
"Oke. Aku mau bikin kopi. Gak masalah, kan?" Irfan melepas kemeja putih seragamnya, hanya menyisakan dalaman kaus berwarna hitam.
"Gawe telu, Fan. Kanggo aku, koe, karo Deka." (Bikin tiga, Fan. Buat aku, kamu, sama Deka.)
"Beres, Yo."
Seraya Irfan pergi ke konter untuk meracik kopi, dengan Iyo yang kembali sibuk mencatat, Deka lain sendiri. Dia melongo menatap kedua rekan seniornya, terutama pada Iyo.
"Kenapa Mas Iyo kelihatan gak masalah dipanggil tanpa sebutan 'Mas'?!" Deka juga cepat-cepat menatap punggung Irfan. "Dan juga… benaran, deh! Sejak kapan Mas Irfan bisa bikin kopi?!"
Mencurigakan! Benar-benar mencurigakan!
Deka tak bisa berkata-kata. Dalam kepalanya, sudah tak ada lagi secercah pikiran tentang Monalisa dan acara pertunangannya. Dia sibukkan dengan tingkah aneh Irfan!
Sungguh! Bukan hanya perkataannya tadi siang saja yang membuat kepala Deka dipenuhi kabut! Melainkan juga tingkah lelaki itu tadi pagi, sewaktu Deka baru datang!
Ketika Deka dengan rasa pundung memarkirkan sepedanya di depan halaman kafe, dia tak menyangka akan menemukan Irfan melambai di tengah kegiatannya menyapu lantai. Itu memang hal bagus, karena Irfan menepati janji mereka semalam: bahwa dirinya akan mengambil alih piket Deka selama satu bulan penuh.
Tetapi, bagi Deka, justru hal itulah yang membuat Irfan tampak mencurigakan! Irfan itu bukan lelaki yang memegang janjinya! Dia tak mungkin akan datang pagi dan langsung melaksanakan piket dan bersih-bersih!
Sebab, kebiasaannya setiap baru datang, adalah leha-leha di sofa ruang karyawan sambil bermain game online! Makanya, melihat Irfan bertingkah normal dengan menepati janji mereka, malah membuat Irfan tampak tidak normal!
Pagi tadi, Deka dikagetkan dengan tingkah Irfan. Siang hari, Deka dibuat malu dengan perkataan ambigu. Dan sekarang, sore hari, Deka tak habis pikir pada Irfan yang mau-maunya bersusah payah membantu mengangkut kardus, meracik kopi, dan memanggil Iyo tanpa sapaan 'Mas'!
"Kenapa menatapku begitu?"
Deka langsung menetralkan ekspresi wajahnya. "Oh— enggak."
"Nih, kopi bagianmu." Irfan memberinya segelas cairan cokelat yang diapungi es batu berbentuk tabung. "Gak ada racunnya," kata Irfan menjawab tatapan Deka.
"Memangnya kopi sianida?" Deka mencoba mencairkan suasana.
"Haha! Meski aku menaruh racun di kopimu, itu gak ada gunanya. Sia-sia."
Deka mengendus kopinya, mencari aroma aneh yang mungkin saja bersembunyi di balik harum biji kopi yang menguar di sana. Sedangkan Irfan, masih fokus menyelesaikan gelas milik Iyo—tentu dengan Deka yang mengawasi.
"Tenang saja," kata Irfan. "Aku gak mungkin membunuhmu ataupun Iyo. Kalian masih berguna untuk rencanaku."
"Apa?" sahut Deka, yang hanya dibalas senyuman miring oleh Irfan.
"Bukan apa-apa." Irfan selesai dengan gelas terakhir. Dia menyecap kopi miliknya, lantas menuntaskan rasa penasarannya. "Gimana dengan Monalisa barusan?"
"Kok…," Deka menatap curiga. "Mas Irfan… tahu nama perempuan tadi?"
"Gimana gak tahu? Kau terus menggumamkan namanya dengan wajah sedih dari tadi. Hahaha."
Deka melengos. Setengah malu, setengah canggung. "Itu bukan sesuatu yang lucu."
"Memang. Makanya aku menyuruhmu untuk egois, bukan?"
Deka menoleh pada Irfan. Dia merasakan sesuatu yang dirasanya pada Irfan tadi siang.
"Dasar, manusia putus asa." Irfan menenggak kopinya, tak mengindahkan mata Deka yang tampak menyadari sesuatu.
"Aura ini lagi…!"
"Kalau tadi kau egois, mungkin saja ceritanya akan berbeda. Kau akan berakhir dengannya, dan kalian akan hidup bahagia selamanya."
Deka menatap permukaan kopinya nanar. "Hidup saya bukan cerita dongeng, Mas Irfan. Lagi pula, "bahagia selamanya" bukan sebuah akhir. Siapa tahu, Monalisa malah akan sengsara kalau bersama saya."
Irfan melirik lelaki pendek di sebelahnya. Tatapannya datar. Dia diam beberapa saat. "Ah, gak seru. Aku gak suka mendengar penyesalan dan omong kosong semacamnya. Tidak enak. Rasanya hambar."
"Kan Mas Irfan yang lebih dulu bertanya!" Deka mendadak tersipu karena sudah mengatakan hal-hal yang tidak perlu.
Irfan menatap ke arah lain. Dia berbisik, "Kau terlalu cepat bangkit. Gak seru."
"Apa?"
Irfan menoleh. "Enggak." Irfan mendadak terdiam menatap satu titik, entah apa; entah berbuat apa. Kemudian, dia membawa gelas milik Iyo dan pergi dari konter.
"Gak masalah kalau saat ini kau mengalah. Tapi coba bayangkan…," Irfan menatap ke arah pintu kafe, dia berhenti di sebelah Deka untuk berbisik, "Coba bayangkan. Kalau tadi kau memilih egois, mungkin kau takkan pernah mengalami mimpi buruk lainnya. Mungkin juga kau takkan pernah bertemu dengan sebuah jurang. Dan kau juga… takkan pernah bertemu dengan makhluk jahat dari jurang itu. Ah, sayang sekali, Deka."
Irfan berjalan melewatinya, sedang Deka menatap punggungnya dengan tatapan tak mengerti. "Jurang itu?"
"Mas Irfan!" panggil Deka.
Ting!
"Oh, ada pelanggan. Gantikan kasir sebentar. Aku mau ke toilet."
"Mas Irfan!"
Namun, teriakan Deka hanya dibalas lambaian tangan saja. Irfan kabur, masuk ke ruang karyawan dengan gelas kopi bagian Iyo.
Entahlah. Mungkin apa yang Deka duga atas tingkah Irfan seharian ini salah. Buktinya, Irfan masih tetap bermalas-malasan seperti biasanya!
Huh! Harusnya dia tak usah berpikir panjang-panjang soal tingkah aneh Irfan!
Mungkin, rekan kerjanya itu memang tidak normal! Pasti efek skripsi yang ditolak terus! Deka yakin!