Mungkin apa yang Deka duga atas tingkah Irfan seharian ini salah. Buktinya, Irfan masih tetap bermalas-malasan seperti biasanya! Huh! Harusnya dia tak usah berpikir panjang-panjang soal tingkah aneh Irfan! Mungkin, rekan kerjanya itu memang tidak normal! Pasti efek skripsi yang ditolak terus! Deka yakin!
Deka sudah siap menyambut pel4nggan. Dia memakai apron dan menaruh kopinya, memasang senyum ramah di belakang kasir, menyapa dua gadis yang masuk ke dalam kafe.
Deka menunggu bersama senyuman yang belum lunturnya, memperhatikan salah satu pel4nggan memaksa temannya yang lain untuk duduk. Melihat gelagat keduanya, Deka berasumsi bahwa mereka sedang memutuskan ingin memesan minuman yang mana, atau mungkin siapa yang akan membayar seluruh pesanan—mendengar sayup perdebatan mereka.
Senyum Deka bertambah lebar saat seorang gadis menghampirinya. Tetapi, saat mereka sudah berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja kasir, senyuman formalitas itu melorot.
Deka terdiam. Matanya terpaku pada gadis tinggi di depannya. Dia bahkan tak berkedip, benar-benar menatapnya lurus-lurus—maksudnya, agak mendongak karena perbedaan tinggi mereka.
"Di sini boleh merokok?"
Gadis itu bertanya saat fokus Deka sedang terbang entah ke mana. Akibatnya, Deka gelagapan. Dia tergeragap, tak sempat menjawabnya. Selama itu pula, mata keduanya saling memaut.
Mungkin karena tidak nyaman dan tidak pula diberi jawaban, si gadis, setengah melotot berkata, "Kenapa lihat-lihat? Karena aku tinggi walau perempuan? Karena rambutku bau? Atau karena aku perempuan tapi merokok?"
Deka berkedip berkali-kali setelah meraih kesadaran. Dia bingung harus menjawab apa terhadap pertanyaan bertubi itu. "A-a- itu— maksudnya—"
"Ck. Sudahlah." Gadis itu tampak merasa terganggu. "Iced americano satu, dan strawberry milkshake satu. Ukuran besar."
Deka terdiam dengan mulut terbuka beberapa saat. "Tidak dengar?" tanya gadis itu.
"E-eh, maaf." Deka memencet layar monitor, mencatat pesanan si gadis. Lalu menyebut jumlah yang mesti dibayar. Si gadis memberikan sebuah kartu tanpa berwajah ramah.
"Kar-kartu kredit?!" pikir Deka saat kartu itu berada di tangannya. Dia tak kuasa untuk melirik si gadis kembali.
"Kenapa? Kartunya diblokir?" tanya gadis itu jutek. "Ck. Coba pakai yang ini."
Deka semakin membelalak, tak percaya bahwa seorang gadis yang tampaknya belum memiliki pekerjaan, sudah memiliki dua kartu kredit dalam dompetnya.
Melihat tampang sebal si gadis, Deka tak punya banyak pilihan selain bergegas menyelesaikan transaksi dan segera meracik dua pesanan tersebut.
"Terima kasih, silakan tunggu sebentar." Deka mengembalikan kartunya bersama dengan struk belanja, tak lupa dengan senyuman formalitasnya.
"Ck. Sudah kopinya gak enak, lelet pula." Deka terdiam, kali ini tanpa berbinar karena kagum pada tubuh tinggi gadis itu.
Dia sedikit sakit hati. Walau Deka tahu apa yang gadis itu katakan adalah sebuah fakta yang benar adanya, tetapi gadis itu tidak sopan. Apa dia tidak bisa menghargai pekerjaan orang lain? Lelet? Memangnya Deka siput? Memangnya Deka kukang? Kecepatan pelayanannya itu standar!
"Selamat sore." Irfan mendadak datang dengan senyuman panjang. "Mohon maaf atas kendalanya. Silakan tunggu sebentar. Kalau sudah jadi, nanti Kakak akan dipanggil."
Tak menunggu respons siapa pun, Irfan mengambil salinan struk yang dipegang Deka.
"Mas Irfan," panggil Deka. "Saya saja yang bikin. Mas Irfan kan, gak tahu takaran-takarannya."
Tetapi, dengan percaya diri, Irfan meraba segala perkakas di atas meja, menyiapkan pesanan si gadis, tak menuruti perkataan Deka.
"Aku lebih jago dari yang kaupikir."
"Tetap gak boleh. Sini, saya saja yang bikin." Deka bersikeras.
"Memang kalau kau yang bikin, atau aku yang bikin, apa bedanya? Pasti sama-sama gak enak, karena resepnya bosmu yang bikin." Irfan mengibaskan tangan, menyuruh Deka menyingkir. "Bantu Iyo saja sana. Kau mengganggu. Hus, hus."
Hah?! Deka membatin, tak beranjak. Dengan perasaan sebal, Deka mengawasi Irfan, melihatnya mencampurkan bahan-bahan ini-itu ke dalam dua gelas plastik, lalu mengoreksinya jika ada kesalahan menakar.
"Kubilang, minggir. Kau mengganggu." Sekali lagi, Irfan membuat Deka kesal. "Aku tahu cara membuat pesanan. Kau lap saja b****g Iyo sana."
"Mas Irfan!!" Desisan Deka tak dihiraukan oleh Irfan. Dia masih fokus pada pesanan yang dibuatnya.
Setelah dua gelas minuman itu jadi, Irfan memberikannya pada si gadis yang berdiri tak jauh dari konter; sama dengan Deka, mengawasi. "Semoga harimu menyenangkan!" teriak Irfan ketika si gadis tinggi itu sudah pergi menuju temannya.
Dan sewaktu tatapan Irfan tak juga tinggal landas, matanya bertemu dengan mata teman si gadis tinggi itu. Irfan lebih dulu tersenyum, lalu dibalas oleh lawannya.
Kalau saja Iyo tak memanggil dari ruang karyawan, siku Deka bisa saja lebih dulu menghantam perutnya, demi menyadarkan Irfan agar tidak bertingkah aneh-aneh.
"Mas Irfan," bisik Deka, hampir berteriak karena emosi. "Ayo! Mas Iyo manggil, tuh."
Deka sudah beranjak lebih dulu, tak tahu jika Irfan menyeringai dengan mata yang berkilat hitam.
"Seluruh pemain sudah berkumpul. Ah, aku tidak sabar melihat mereka hancur."
***
Ruang karyawan yang tak lumayan luas itu terasa tegang, karena setelah berpuluh detik berkumpul, tak ada satu pun yang membuka obrolan.
Mungkin, setelah menyiapkan mental, Iyo menarik napas sebelum mengembuskannya lagi. "Aku wis ngomong karo Bos," jelasnya tak utuh.
Iyo berdiri menyandar papan tulis dalam ruang karyawan di sana, yang biasa dipakai untuk briefing singkat pagi hari. Dia melipat kedua tangam dan wajah medoknya tampak serius memandang kedua rekannya.
"Oke. Terus?" Berbeda dengan Iyo, Irfan duduk di kursi yang sengaja dipakai terbalik; bagian belakang kursi menjadi depan. Tingkahnya itu dinilai tak serius oleh Deka.
Irfan juga mengunyah chips, yang entah dia dapat dari mana. Bagi Deka yang duduk rapi, tingkah Irfan benar-benar seolah menganggap atmosfer serius Iyo remeh.
Mas Irfan kenapa berubah aneh begitu?! Batin Deka.
Iyo menatap kedua rekan juniornya bergantian; mempelajari ekspresi mereka, atau mungkin sedang mengolah kalimat yang ingin dia sampaikan supaya tidak terdengar terlalu menyurutkan semangat keduanya.
"Mau ngomong tentang nasib kafe ini, ya?" tanya Irfan yang disambut tatapan peringat dari Deka. "Apa? Aku benar, kan?" sanggahnya. "Kafe ini memang sudah di ujung tanduk. Buat apa lagi dipertahankan?"
"Kose. Ben aku sing ngomong," ucap Iyo datar. (Bentar. Biar aku yang ngomong.)
Iyo mengubah posisi tubuhnya. Dia berdiri tegak, lalu menghela napas setelah mendapati tatapan kedua rekannya yang masih menempel pada wajahnya; menunggu sesuatu.
"Deka, di luar masih ada pel4nggan?"
Deka mengangguk. "Dua orang."
"Oke. Kalau gitu, kita singkat saja." Iyo menarik salah satu kursi, lalu duduk di depan mereka.
Dan Deka tahu, bahwa percakapan itu akan menjadi sangat serius, karena Iyo sudah menanggalkan bahasa Jawa-nya. Maka, dia merekatkan telinganya, memasang fokus erat-erat.
"Besok datang pagi. Bos ingin bicara dengan kalian. Bawa sekalian seragam kerja yang sekiranya masih ada di rumah."
"Lho, memang kenapa, Mas Iyo?" Deka tak mau mempercayai dugaannya.
Iyo mengembuskan napas. Deka melihat pundaknya semakin turun. "Dinolatte gulung tikar. Bos bangkrut."
Sementara Deka tertegun tak percaya, diam-diam Irfan menyeringai. "Waktunya memulai permainan."