21. Malam Hening Deka

1912 Words
“Deka?” Sebuah suara terdengar tba-tiba, mengusik ketenangannya. "Deka? Oi!" Terdengar kembali, tapi kali ini lebih kencang, dan Deka masih belum menyahut. "Deka? Deka?" Sebuah guncangan Deka rasakan pada pundaknya. Plak! "OI, DEKA! BANGUN!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Deka, membuat matanya seketika terbuka. Deka mengerjap, melihat dirinya terduduk—tertidur—di salah satu meja kafe. Perhatiannya tertuju pada Irfan dan Iyo yang berdebat. "Lahdalah, Fan! Ora usah ditaboke bocahne! Piye toh!" (Ya ampun, Fan! Gak usah ditabok begitu orangnya! Gimana, sih!) Irfan hanya menggedikkan bahu, bersikap ringan. "Salah Deka sendiri, dibangunin gak bangun-bangun. Kita lagi sibuk beres-beres, dia malah enak tidur di sini. Wah, ini, sih kau laporin saja besok ke Bos, biar uang pesangon miliknya buatku." Irfan beralih pada Deka, "Bangun kau! Aku sama Iyo lagi beres-beres, kau malah tidur di sini. Cepat bangun dan bantu! Aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur!" "Eh?" Deka mengucak mata, melihat ke sekeliling. Sudah malam. Jam di dinding konter kafe menunjukkan pukul sembilang kurang sepuluh menit. Deka menengadah pada Irfan dan Iyo. "Kenapa saya… bisa ada di sini?" "Malah melantur lagi kau!" seru Irfan, hampir memukul meja, kehilangan kesabaran. "Sudahlah, Fan. Kamu bantu buang kantung sampah saja, tuh. Habis itu boleh langsung pulang." Iyo menenangkannya, dan sambil menggerutu Irfan mengerjakan apa yang diperintahkan padanya. "Deka, kamu cuci muka dulu sana, kayaknya kecapekan banget. Setelah ini kita siap-siap pulang." Iyo mengelap bulir keringat pada dahinya. "Biar aku yang mengunci kafe. Kalian berdua pulang duluan saja." Namun, selama Iyo bertitah, Deka tampak linglung dan menatap Irfan yang bolak-balik mengangkut kantung sampah di dekat ruang karyawan ke belakang kafe, tempat pembuangan sampah. Dia seperti orang yang sangat kebingungan melihat kantung-kantung sampah hitam itu dibawa oleh Irfan. Rasanya seakan mengalami déjà vu. Deka merasa pernah mengangkut kantung sampah itu tak beberapa lama sebelumnya. "Eh, kok… saya bisa ketiduran di sini? Bukannya tadi saya sedang…," Deka menoleh ke kantung sampah terakhir yang Irfan bawa, "Tadi saya lagi buang sampah itu, terus kenapa… tiba-tiba saya ada di sini?" "Deka," Iyo terlihat iba, "Maaf membuatmu kecapekan bekerja sampai ketiduran. Lebih baik kamu pulang duluan saja, Deka. Sisanya hanya tinggal membuang sampah dan mengunci pintu. Kamu pulang duluan saja." "Ah, maksud saya bukan gitu, Mas Iyo. Cuma… rasanya saya pernah membuang sampah itu, lalu tiba-tiba Mas Irfan…." Deka mengernyit, tak mengingat peristiwa selanjutnya. "Apa? Aku kenapa?" Irfan muncul dengan gantungan kunci di tangannya. "Nih," Dia menyerahkannya pada Iyo. "Pintu belakang sudah aku kunci. Sampah sudah aku buang. Kalau sudah beres, ayo pulang saja." Irfan lalu meninggalkan mereka berdua ke ruang karyawan untuk mengambil tasnya. "Ayo, kita pulang saja." Iyo melakukan hal yang sama. Dia lalu mengunci ruang karyawan, membawa seluruh kunci pintu kafe di tangannya. Sedangkan Deka, masih terbengong mencoba mengumpulkan teka-teki dalam kepalanya. "Tas dan helm sepedamu." Iyo menyodorkannya pada Deka. "Oh, makasih, Mas Iyo." Iyo mengangguk. "Ayo, pulang. Sudah hampir larut." Tanpa mencuci muka, masih dalam keadaan bingung, Deka mengekori Iyo yang juga mengikuti Irfan yang sudah keluar lebih dulu. Irfan dan Deka tak langsung pulang, mereka menunggu Iyo selesai mengunci pintu kaca kafe. "Semuanya sudah selesai dan bersih," lapor Iyo pada kedua rekan kerjanya. "Huh, menyusahkan. Harusnya malam terakhir kerja begini, kita ditraktir Bos makan-makan. Kenapa malah beres-beres, sih?" Irfan masih terlihat kesal. "Gak bisa. Mungkin nanti. Bos tidak ada di lantai dua," jelas Iyo, memasukkan sekumpulan kunci kafe pada tasnya. "Lho, memang Bos ke mana, Mas Iyo?" tanya Deka, sambil memasang helmnya, sudah tak memusingkan perasaan déjà vu-nya—déjà vu hanyalah déjà vu, yang penting bersih-bersih mereka sudah selesai, waktunya pulang. "Mungkin pulang ke rumahnya." "Rumahnya?" tanya Deka. "Rumah keluarganya," koreksi Iyo. "Yah, pokoknya jangan lupa datang besok pagi." "Ngapain? Bos juga kelihatan gak peduli sama karyawannya, kan? Dia gak kasih kata-kata terakhir seperti terima kasih dan semacamnya ke kita, para karyawan yang sudah bekerja belasan bulan untuk kejayaan kafe Dinolatte miliknya." "Irfan," peringat Iyo, tetapi Irfan sudah berbalik pergi menjauh dari kafe, pulang lebih dulu meninggalkan Iyo dan Deka. "Aku lemah bangun pagi. Kirim saja lewat rekening." Irfan melambai tanpa berbalik lagi. Tindakannya itu sampai membuat Iyo terdiam. "Kenapa dengan anak itu?" "Gak perlu dipikirkan, Mas Iyo. Hari ini Mas Irfan memang bertingkah aneh, gak seperti biasanya." Deka menenteng sepedanya, berjalan di sebelah Iyo. Jalan raya itu masih terlihat ramai oleh kendaraan dan pejalan kaki walau sudah jam sembilan malam. Kios-kios dan restoran masih gandrung oleh pengunjung. "Mungkin stress karena kehilangan pekerjaan," nilai Deka. Meski berkata demikian, Deka tidak merasa seperti orang yang sebaliknya. Dia malah merasa pundung. "Jadi, betulan, ya, Mas Iyo?" tanyanya tiba-tiba. "Opo?" (Apa?) Deka menunduk, menatap roda depan sepeda gunungnya. "Kafenya… betulan bangkrut?" Deka terlalu fokus pada hal lain sampai tak mendengar helaan nafas kecil Iyo—lagi pula suara derum kendaraan terlalu ramai. "Masa, bohongan?" kata Iyo. "Aku hanya… gak menyangka saja." Deka ikut mengembuskan napas. Iyo bertingkah layaknya orang dewasa. Dia menepuk punggung Deka, menyalurkan kekuatan. "Kita hampir satu tahun kerja bersama, menjadi rekan kerja di kafe yang tidak terlalu ramai. Memang waktu yang singkat, tapi aku senang bisa bekerja dengan pekerja keras kayak kamu, Deka. Gak seperti Irfan yang pemalas itu." Iyo tertawa kecil, mencoba terdengar menghibur. Deka hanya tersenyum mendegar itu. Mereka sudah sampai di pertigaan. Deka menunjuk simpang sebelah kanan. "Saya belok sini, Mas Iyo." "Oh, aku lewat sini." Iyo menunjuk arah sebaliknya. "Kalau gitu hati-hati. Besok datang tepat waktu." Iyo mengingatkan lagi. "Ah, kalau dipikir-pikir, gak tepat waktu juga gak apa, Deka. Kafe juga tidak akan buka. Kita cuma akan menerima amplop. Haha." "Haha," tawa kecil Deka. "Iya juga. Bos juga sedang pulang ke rumah keluarganya." "Datang saja jam sepuluh. Biar Irfan datang pagi. Kamu gak usah kasih tahu dia. Hahaha. Sekali-sekali mengerjainya. Selama bekerja dengannya, kita yang terus-terusan dikerjai oleh Irfan, kan?" Deka mengangguk jahil, tertawa lepas. "Kalau butuh bantuan, telepon saja. Nanti aku coba bantu sebisaku. Sampai jumpa besok, Deka!" Setelah melambai, Iyo berbelok pergi menuju halte bus, menunggu kedatangan bus yang mengarah ke rumahnya. Deka mengangguk saja, agak lemas untuk merespons apa pun. Senyuman Deka pun rontok saat Iyo sudah jauh. Deka mengembuskan napas, kembali merasa cemas. Tapi dia menaiki sepedanya, mengayuh dengan wajah yang ditekuk. Deka tak menyangka kalau dirinya diserang ucapannya sendiri. Dia memang bukan dipecat, tapi kafe Dinolatte terlanjur bangkrut karena sepi pelanggan. Meski sudah pamer pada Irfan bahwa dirinya masih bisa bekerja di toko roti Bunda, tetapi uang gaji yang didapatnya tidak berarti apa-apa. Itu artinya, Bunda hanya memberikan gaji sebagai uang saku sekaligus sebagai ganti tenaga yang Deka berikan untuk toko roti bundanya. Kurang lebih seperti itu. Deka pikir, uang yang didapatnya dari toko roti sama saja dengan uang milik keluarganya. Hanya berputar-putar saja, tidak menambah kekayaan. Kalau sudah begini, apanya yang akan baik-baik saja kalau kehilangan pekerjaan di kafe? Deka mengayuh sepedanya lebih lambat dari biasa. Dia menikmati angin malam yang menembus bajunya, menikmati perjalanan tapi tidak ingin cepat-cepat sampai rumah, menikmati perjalanan tapi tidak memandang ke depan. Dia menunduk. Deka merasa pundung. Apa yang akan Deka katakan pada Ayah dan Bunda tentang kafe yang bangkrut ini? Bagaimana dia akan menghadapi ayahnya, yang sudah pasti akan menyuruhnya berhenti bekerja dan fokus belajar saja, sementara… ada hal yang menurut Deka lebih penting ketimbang belajar. Memikirkannya membuat Deka semakin keruh. Dia semakin tak mau cepat-cepat sampai rumah dan mengabarkan berita buruk itu. Di sebuah pertigaan yang terdapat lampu merah, Deka berhenti. Jalan raya tidak terlalu ramai, tidak bisa dibilang sepi juga walau sudah hampir setengah sepuluh. Deka menatap angka yang menghitung mundur di lampu merah. Empat puluh lima detik. Tidak terlalu lama, menurut Deka. Cukup singkat, tetapi cukup untuk memenuhi kepalanya dengan kecemasan-kecemasan dari segala hal yang dia lewati hari ini. Ah, Monalisa. Gadis jelita itu mengisi tiga puluh persen isi kepalanya. Kertas undangan tunangan Monalisa dengan Gahyaksa ada di dalam tas selempangnya, dan entah mengapa tasnya terasa sangat berat menggantung di pundak. Kenapa, ya? Sisa tujuh puluh persen lagi adalah Bunda dan uang, yang cukup ampuh mengganti keruwetan pikirannya saat ini dari Monalisa dan pertunangannya. Yah, walaupun hati Deka tak jauh lebih ringan ketimbang memikirkan itu. Karena nyatanya, memikirkan uang yang mesti Deka kumpulkan sebanyak mungkin, memikirkan Bunda, serta memikirkan Ayah yang menuntutnya untuk belajar, terasa lebih membebani hati dan pikirannya saat ini. Warna merah pada lampu di depan sana tiba-tiba saja menjadi buram. Pandangan Deka menjadi tidak jelas. Segalanya tampak menggenang, dan ketika Deka berkedip, kedua pipinya sontak basah. Deka menangis, air mata turun di kedua pipinya, membasahi malam yang terasa dingin karena semilir angin. Deka terisak tanpa suara. Dia menggigit bibirnya, hanya membiarkan apa yang seharusnya keluar, jatuh dengan sendirinya di kedua sudut mata, tak ingin kalah dengan suara isakannya. Deka kembali mengayuh saat sebuah mobil di belakangnya membunyikan klakson. Lampu sudah berubah hijau rupanya. Deka mengusap wajah, menghilangkan jejak basah agar tak ada siapa pun di rumah mencurigai mata sembabnya. Lantas Deka memacu pedalnya menuju rumah. Dan semakin dekat dirinya dengan rumah, hatinya terasa semakin berat. Kenapa, ya? *** Deka tiba tiga puluh menit setelahnya, karena berlama-lama mengayuh dalam perjalanan. Meski hati berat pulang, tetapi akan ke mana lagi dia selain ke rumah? Rumah bergaya Indonesia klasik, yang batu batanya tidak dilapisi lagi oleh semen dan cat namun terlihat cantik dan estetik persis di depannya tampak hening. Lampu rumahnya masih menyala, tapi tak ada satu pun suara yang terdengar. Deka membuka pagar rumah selebar dua meternya. Dia menuntun stang sepeda dan memasukkannya ke dalam garasi kecil di sebelah rumah. Memeluk helm, Deka melangkah menuju pintu depan. Dia agak was-was karena tiba di rumah malam-malam—jam sepuluh lewat. Walau lebih awal dari kemarin, tetap saja Deka merasa dirinya akan dimarahi oleh Diksi, dikatai ini-itu lagi. Tapi lebih-lebih abangnya, Deka takut ketahuan oleh Ayah, meski mustahil juga menyembunyikan kedatangannya. Deka membuka pintu. Keheningan ruang tamu yang merangkap ruang keluarga menyapanya. Tidak ada orang di sofa, dan TV pun dalam keadaan mati. Deka bernapas lega. Namun, saat baru mengunci pintu dan berjinjit-jinjit melewati ruang tamu, sebuah suara bariton mengagetkannya, "Deka." Deka hampir melompat menjengkit. Dia menoleh ke kiri, ke pintu kamar yang terbuka. "Kenapa baru pulang?" tanya orang itu. Pertanyaan itu…. Deka melengos, mendaratkan tatapan pada kakinya. "Deka lembur, Bang." "Kafenya ramai lagi?" Deka terdiam sejenak, lalu mengangguk lemah. "Ya sudah, masuk. Makan dulu, habis itu baru istirahat." Abang sulungnya, Deril melintas ke dapur. "Biar Abang hangatkan makan malamnya. Kamu mau Abang rebuskan air hangat untuk mandi? Sudah malam gini, jangan mandi air dingin." "Gak usah, Bang. Biar Deka saja yang menyiapkan makanan Deka." "Begitu? Ya sudah." Deril tidak jadi mengobrak-abrik dapur dmei mengurus adiknya. Dia kembali melintas ke dalam kamar. Tetapi, sebelum pintu benar-benar menutup, Deka celingak-celinguk dan bertanya dengan suara pelan, "Bang Deril, Bunda sama Ayah sudah tidur, ya?" Tanpa menoleh lagi, Deril menjawab dengan suara yang sama pelannya, "Iya. Dibereskan lagi piring bekas makan kamu, Deka." Kemudian Deril masuk ke kamar, menutup pintu dengan pelan. Saat itulah Deka betulan mengembuskan napas lega. Setidaknya, malam ini dia aman dari menjelaskan situasi kafenya pada Bunda dan Ayah. Deka aman juga dari pertanyaan-pertanyaan ayahnya, dan juga dari u*****n Diksi—ah, bicara tentang Diksi, ke mana perginya abang Deka yang itu? Tidak kelihatan batang hidungnya. Deka masuk ke kamarnya dan langsung menutup pintu, kembali sibuk dengan perasaannya terkait Monalisa dan pertunangan gadis pujaannya semasa SMA itu. Ah, malam itu, kenapa Deka tak menyadari rumahnya yang terlalu hening itu? Biasanya terdengar suara samar-samar radio pertunjukan wayang yang disetel Ayah di kamarnya, tapi kenapa hari ini tidak terdengar? Sayang, Deka tak terlalu memperhatikan itu, karena terlalu sibuk mengurusi perasaannya sendiri. Keruh. Sesak. Penuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD